
Mobil yang di kendarai Jhon telah sampai tepat di depan pagar rumah Rika.
Jhon mematikan mesin mobil, dan setelahnya melepaskan seat belt lalu melirik ke arah samping karena selama perjalanan tadi ia tidak mendengar ocehan gadis di samping nya itu. "Tertidur," pria itu tersenyum jahil melihat Rika tertidur pulas di kursi nya.
Pandangan mata Jhon tak lepas menatap wajah gadis yang terlihat damai dalam tidurnya, dan tangannya bergerak menekan sebuah tombol.
Tin...tin.
Dia dengan sengaja menekan klakson yang nyaring secara beruntun.
"Eh Mama, Eh Papa!" Gelagap Rika langsung terlonjak kaget ia terbangun dari tidurnya.
Jhon tertawa puas menyentil kening gadis manis yang terlihat setengah sadar itu.
Pletak.
"Aww," Rika meringis mengusap keningnya yang terasa panas. "Jojo, bisa nggak sih bangunin nya nggak pake kekerasan."
Jhon terkekeh pelan. "Kau tidur bagai kebo, dan lihat itu." Jhon menunjuk di sudut bibir dan sebelah pipi Rika. "Iler, kau tidur sampai membuat pulau di pipi mu."
Hah masa... segera Rika mengusap pipi yang memang benar ada cairan di sudut bibirnya. Seketika pipi nya memerah malu, ia tersenyum cengengesan. "Udah sampai yah Joe." Rika melihat keluar jendela untuk mengalihkan perasaan malunya.
"Hemm," Jhon mengangguk kecil kemudian membuka kunci pintu mobil dan menurunkan kaca jendela pintu samping Rika.
Rika membuka seat belt, bersiap untuk keluar mobil. "Jojo nggak mampir dulu?"
"Nggak." Sahutnya cepat.
"Hmm," Rika mengangguk kecil mengambil paper bag isi sepatu lalu membuka pintu untuk keluar mobil. "Makasih tumpangan nya Jojo, hati-hati di jalan. Assalamualaikum." Ucap gadis manis itu, menapakkan kaki ke tanah dengan kaki yang tidak terluka.
"Walaikumsalam." Sahut Jhon tidak menoleh atau melirik.
Jhon menaikkan kembali kaca jendela, setelah melihat gadis manis itu berbalik melangkah.
Saat Rika baru beberapa langkah mendekati pagar rumah, tiba-tiba sebuah mobil berwarna putih berhenti tepat di belakang mobil Jhon yang masih terparkir.
Langkah kaki gadis manis itu terhenti, ia menoleh ke arah mobil yang sudah tidak terdengar suara deru mesin nya.
Kayak pernah lihat mobil ini, tapi dimana yah?
Dari sebuah mobil tersebut turunlah seorang pria yang tampan, berkulit putih dan berkemeja biru langit dengan di lapisi mantel panjang berwarna abu tua. Pria itu tersenyum ramah menatap Rika. "Siang Dek Rika, baru pulang yah?"
"Ah," Rika membalas tersenyum ramah. "Iya, kak Farhan kan?"
"Iya, aku Farhan anaknya Mama Roselly." Pria tampan itu, mendekat hingga berdiri di hadapan Rika.
Sementara Jhon yang tadi nya hendak melajukan mobil, ia mengurungkan niatannya dan mematikan kembali mesin mobil. Pandangan mata Jhon begitu awas nan tajam menatap pada dua insan dari balik spion luar. "Siapa laki-laki itu?" Gumamnya penasaran.
Rika masih memasang senyuman ramahnya. "Kak Farhan ada perlu sama Papa yah? Mari masuk ke dalam, tapi mungkin Papa belum pulang kalau jam segini," Ajaknya sopan.
"Ah, nggak. Kakak kemari ingin bertemu dengan adek. Dan benar kata tante jika kamu terluka," Farhan menunjuk telapak tangan Rika yang terbalut perban kemudian melirik ke bawah. "Bahkan kaki mu juga terluka. Sebenarnya kenapa bisa seperti ini dek?"
"Tidak apa. Lagian hanya luka kecil saja," ucap Rika sembari kembali hendak melangkah.
Farhan dengan refleks langsung memegang lengan gadis manis itu untuk di papah berjalan.
"Tid-tidak perlu kak, saya bisa sendiri."
__ADS_1
"Nggak apa, anggap saja kakak adalah dokter yang ingin merawat adek." Kekeh Farhan malah mempererat pegangan tangannya di lengan.
Rika sedikit menarik lengannya merasa risih, dan tersenyum kepaksa. "Memang kak Farhan dokter kan? Tapi saya beneran bisa sendiri kak."
"Kaki mu sakit seperti ini jadi biarkan kakak memap...,"
"Lepaskan tangan anda!" Suara pria yang terdengar tajam nan dingin menghentikan ucapan Farhan.
Sontak kedua nya menoleh ke arah belakang.
"Jojo," celetuk Rika.
"Jojo?" Farhan ikut berbicara menatap pada pria yang ber-raut wajah dingin itu tengah menatap nya tajam.
"Lepaskan tangan anda! Gadis ini tidak mau di sentuh oleh anda." Jhon menarik sebelah lengan Rika sehingga berdirinya Rika berpindah ke samping Jhon.
"Eh," Kaget Rika yang di tarik secara tiba-tiba, ia mendongak menatap heran pada pria yang menariknya. Dia belum pulang ternyata.
Alis Farhan terangkat sebelah, ia membalas menatap tak terbaca pada Jhon. "Ekhem, siapa dia dek?" tanyanya tanpa mengalihkan tatapan mata nya.
Rika yang semula menatap Jhon beralih menoleh pada pria yang bertanya tadi. "Di-dia Pak Jhon."
"Pak Jhon? Bukannya tadi kamu memanggilnya Jojo? Siapa dia Dek, katakan yang jelas?" Farhan mendesak ingin kebenaran.
Rika menatap bingung dengan alis tertaut. Kenapa dia maksa sekali ingin tahu si Jojo.
Jhon melirik pada gadis di samping nya. "Adek? Siapa yang anda panggil adek? Dan sebenarnya dia siapa, gadis bodoh, sehingga memanggil mu adek?"
"Eh," Rika beralih menatap Jhon. Ia terlihat melirik ke sana kemari menatap kedua pasang mata yang sedang menatap nya meminta kejelasan. gadis manis itu, sedikit gemetar ketakutan hendak menjawab pertanyaan kedua nya namun lidahnya terasa kelu dan seakan semua kata-kata nya tercekat di tenggorokan.
"Anda mau tahu siapa saya." Farhan mencekal lengan Rika dan menariknya agar berada di sampingnya. Namun Jhon yang sama-sama masih memegang lengan Rika membuat gadis manis itu terlihat berada di tengah-tengah kedua pria yang saling memegang di setiap tangannya.
"Hey, kenapa ini?" Bingung Rika melihat kedua lengan di kedua lengannya.
Jhon tersenyum miring. "Siapa anda, tidak penting bagi nya juga bagi saya."
"Benarkah?" Farhan tampak tersenyum menantang.
Rika mendongak menatap kedua nya. "Bi-bisakah kalian melepaskan tangan ku dulu."
"Diam!" Serempak kedua pria menatap sejenak pada gadis manis tersebut.
Membuat Rika menunduk menghela napas panjang. Nggak sama si Ray nggak sama kak Farhan. Jojo ini suka sekali mencari ribut.
"Pak Jhonathan ivander sang pewaris perusahaan Eco, dan sekaligus wakil direktur di perusahaan Putra," Farhan berucap dengan di akhiri seringaian karena melihat raut wajah Jhon sedikit berubah kaget namun kembali tenang. "Apakah saya benar, dalam menebak anda pak Jhonathan?"
Jhon mendengus tersenyum kecut. "Seterkenal itukah saya sampai tikus kecil seperti anda bisa mengetahui nya. Tapi sayangnya saya tidak mengenal anda, dan tolong lepaskan tangan anda yang kotor itu dari gadis ini," tuturnya mendekat maju, dan mencekal lengan Farhan yang tengah memegang lengan Rika.
Farhan melirik ke arah cekalan tangan Jhon di tangannya. "Anda salah, seharusnya anda lah yang melepaskan tangan anda dari gadis yang sebentar lagi akan jadi milik saya selama nya."
Mendengar kata terakhir dari kalimat yang di ucapkan Farhan, seketika mata Jhon sedikit melebar, alisnya tertaut menajam. "Milik anda? Maksudnya?"
Dengan halus dan pelan. Farhan melepaskan cekalan tangan Jhon di lengannya, lalu menarik pegangan tangannya di lengan Rika sehingga gadis itu sekarang berada di sampingnya. "Dia akan menjadi istri saya, dan kami akan menikah."
"Hah!" Serempak Jhon dan Rika menatap pada Farhan dengan mata melebar terkejut dan terpaku.
"Me-menikah?" Beo Rika gagap tak percaya.
__ADS_1
Farhan menoleh pada gadis di sampingnya dan tersenyum manis. "Iya, kita akan menikah Dek. Karena kita telah di jodohkan oleh orang tua kita. Dan kakak telah menyetujui itu."
"Tap-tapi, saya... saya belum-"
Heh... Pegangan tangan Jhon di lengan Rika terlepas ia menunduk tersenyum kecut. "Sungguh bodoh," celetuknya lemah. Lalu tanpa berkata lagi, Jhon membalikkan badan melangkah ke arah mobil nya.
"Jojo," Rika hendak melangkah menghampiri Jhon namun tangannya yang masih di cekal Farhan membuatnya tidak bisa melangkah lebih.
"Kak lepasin tangan saya." Menatap lengannya dan mengibaskan agar terlepas.
Farhan menghembuskan napas kasar, dan menuruti melepaskan pegangannya di tangan Rika.
Dengan kaki terseret Rika mendekat dan berdiri di belakang Jhon hanya berjarak dua langkah dari nya. "Jojo, ini semua bukan seperti yang kamu dengar. Aku, aku belum menerima perjodohan ini. Jadi... jadi Jojo-"
"Buat apa kau menjelaskannya pada ku. Tapi bagaimana pun, selamat untuk mu, gadis bodoh." Ucap Jhon tanpa menoleh memasuki mobil nya dan...
Brak.
Menutup pintu mobil dengan keras, membuat Rika sedikit terlonjak.
"Jojo tolong dengarkan aku dulu," panggil Rika melas.
Namun tak di gubris Jhon, mobil hitam itu telah melaju dengan perlahan meninggalkan Rika yang menatap kepergiannya dengan tatapan sedih.
Rika masih menatap mobil hitam yang melaju menjauh hilang dari pandangannya. Ia menghela napas panjang, menundukkan kepala kecewa. "Di saat kita mulai dekat. Kenapa malah jadi begini?" Gumamnya pelan.
"Dek Rika." Panggil Farhan menghampiri Rika.
Orang ini dalangnya... Gadis manis itu tak memperdulikan panggilannya, masih menunduk diam di tempat.
Farhan menyentuh sebelah bahu Rika dengan lembut. "Segera masuk ke dalam. Kakak periksa keadaan kaki mu."
Rika mengedikkan bahu nya sehingga sentuhan tangan Farhan menjauh dari bahu nya. "Saya bisa sendiri, jangan sentuh saya." Gadis manis itu, dengan jalan tertatih gontai berbalik melangkah untuk memasuki rumahnya.
Farhan menghembuskan napas pelan. Menurut terdiam, hanya membuntuti Rika dari belakang untuk memastikan keselamatan nya saat melangkah.
"Kenapa? Kenapa kak Farhan lakukan ini pada saya?" Di sela langkah kaki nya Rika bertanya tanpa menoleh ke belakang.
"Adek bertanya kenapa? Yaa karena memang benar kan kita telah di jodohkan dan akan menikah." Jawab Farhan tenang.
"Tapi saya belum menyetujui perjodohan ini! Jadi kak Farhan tidak ada berhak berkata seperti tadi pada nya, dan tidak ada berhak mencampuri urusan saya!" Kali ini langkah kaki Rika yang sudah di depan teras rumah terhenti.
"Kenapa? Apa kamu menyukai laki-laki itu? Sehingga berbicara seperti ini."
Seketika Rika terdiam membisu. Dia melangkah kan kembali kaki nya memasuki teras dan kini berada di depan pintu. "Terimakasih atas jengukkan nya. Saya mau istirahat dulu."
"Dek," Farhan memegang lengan baju Rika. Sehingga pergerakan tangan Rika yang hendak membuka pintu terhenti. "Jadi benar adek mencintai nya?"
"Kak," Rika menarik lengannya agar terlepas pegangan tangan itu di baju nya. "Saya capek sudah perjalanan jauh. Tolong mengerti."
Farhan tersenyum kecil menunduk dan menghembuskan napas pelan. "Aku sudah mempunyai jawaban nya." Pria itu berbalik, melangkah pelan. "Sebaiknya adek berpikir lagi mengenai perasaan itu, karena bagaimana pun akhirnya adek akan menjadi milik kakak." Lanjutnya sambil lalu.
"Milik dia?" Gumam Rika tersenyum pahit. "Mimpi saja." Kemudian dengan sekali dorongan, pintu rumahnya terbuka dan gadis manis itu melangkah masuk ke dalam di iringi ucapan salam dari bibirnya.
BERSAMBUNG...
Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...
__ADS_1