Pejuang Move On

Pejuang Move On
Membiasakan diri


__ADS_3

3 hari telah berlalu, Annisa mulai membiasakan diri dengan kesehariannya tanpa Egi di sisi nya. Pada pagi hari ini, setelah sarapan dengan keluarga besar putra, Annisa sudah mempersiapkan diri untuk ke rumah sakit menjalani hipnoterapi yang sudah di jadwalkan oleh dokter Erika untuk nya. Ia memakai rok rempel berwarna navy dan atasan kemeja biru langit senada dengan kerudungnya.


"Kakak ipar kedua, Syila ikut," seru Syila, berlari menghampiri Annisa yang tengah berjalan di sekitar ruangan utama menuju keluar rumah.


Annisa menoleh, menghentikan langkah kaki. "Syila nggak ke sekolah?"


"Kakak ipar lupa yah, kan syila sudah ujian Akhir semester dan sekarang libur panjang nya syila." Ucap Syila, lalu menarik tali tas selempang yang di pakai Annisa.


Annisa melirik apa yang di lakukan Syila. "Ada apa syila?" Bingung Annisa.


"Lepasin dulu tas nya kakak ipar kedua," titah Syila masih menarik tali tas.


Annisa menghela napas pelan, kemudian menurut melepaskan tas selempang nya.


Segera Syila melebarkan mantel panjang yang di bawa nya, untuk di pakaikan ke tubuh Annisa. "Di luar itu dingin loh kakak ipar kedua. Kenapa sampai lupa pakai mantel," oceh Syila sambil memakaikan mantel.


Annisa menurut memakai mantel berwarna abu gelap itu, dan termenung menatap Syila.


Biasanya Egi yang mengingatkan aku untuk selalu memakai mantel ketika hendak berpergian keluar.


Syila tersenyum, merapihkan kerah mantel Annisa dan menatap. "hangat kan?" tanya Syila menyadarkan lamunan Annisa.


Mengangguk kecil, dan tersenyum. "Hemm, makasih Syila."


"Nona Annisa," panggil seorang pria berjas rapih dari belakang.


Annisa dan syila serentak menoleh ke arah suara. "Iya?" Heran Annisa.


Pria itu menggerakkan tangan sebagai tanda menunjuk jalan yang berlawanan. "Silahkan ke basement, kami akan mengantar nona Annisa dan nona Asyìla ke rumah sakit." Instruksi pria berjas.


Annisa menatap bingung, dengan alis tertaut. "Tapi kami bisa naik taksi," tolak Annisa.


Syila memegang lengan Annisa, membuat Annisa menoleh ke arahnya. "Pasti perintah dari Ayah," gumam Syila. Kemudian menarik tangan Annisa agar mengikuti yang di isyaratkan pria itu. "Yuk kakak ipar kedua, kita kesana."


Perintah? Ayah mertua?


Annisa terbengong mengikuti langkah kaki Asyila yang membawa nya ke tempat parkiran mobil, di ikuti beberapa orang berjas rapih dari belakang.


Sesampainya di basement.


Annisa di buat kaget oleh beberapa bodyguard yang berjejer rapih juga seorang pria tadi yang ternyata memperkenalkan diri sebagai supir nya untuk mengantar.

__ADS_1


Apa maksudnya ini?


Annisa mencolek Syila yang ada di sampingnya. "Syi..syila, ke..kenapa mereka begitu banyak? Dan kenapa kakak harus di kawal begini? Bisakah hanya supir saja yang mengantar kita?" gagap Annisa.


Syila tersenyum merangkul lengan Annisa untuk di giring agar masuk ke dalam mobil yang sudah di buka kan pintu nya oleh supir. "Jika kakak ipar ingin protes, bilang pada ayah. Syila nggak berani bilang," ucap Syila.


Syila saja tidak berani bilang, apalagi aku yang sebagai menantu.


Annisa berhenti tepat di dekat kursi mobil. Masih melirik ke bodyguard yang berdiri berjejer. "Tapi syila...," sangkal Annisa namun terhenti.


"Silahkan nona Annisa, waktu jadwal terapi 30 menit lagi," instruksi pria tadi.


Annisa beralih menatap pria itu, dan menghela napas pasrah. Baiklah, turuti saja...


Kemudian Annisa masuk ke dalam mobil duduk di kursi di ikuti Syila yang duduk di samping kursi nya.


Di dalam mobil.


"Kakak ipar kedua pakailah seat belt nya," Syila memasangkan seat belt di kursi yang Annisa duduki.


Annisa tersenyum, memperhatikan Syila. Jadi teringat si Egi lagi yang selalu memasangkan seat belt untuk ku.


Syila menatap ke Annisa setelah memasang seat belt di kursi yang di duduki nya. "Kakak ipar kedua, setelah terapi kakak ipar selesai, kita pergi jenguk kafe brandal Egg yuk! Syila sudah lama nggak mengunjungi kafe itu," Ajak Syila.


Syila mengangguk. "Iya brandal Egg, kafe kak Egi."


Setau ku kafe si Egi itu bernama brandal saja.


"Bukannya hanya brandal saja nama kafe nya, Syila?" tanya Annisa.


"Itu sih kafe utama, kalau kafe yang akan kita kunjungi itu kafe cabang nya yang dekat dengan taman mutiara," jawab Syila, lalu memicingkan mata curiga. "Apa kak Egi tidak bercerita juga ke kakak ipar kedua soal kafe nya yang beranak pinak?"


Annisa menggelengkan kepala sebagai jawaban tidak. Dia hanya mengatakan kafe brandal saja, tidak menceritakan ada beberapa cabang.


Syila mendengus kesal, menggelengkan kepala beberapa kali. "Sungguh terlalu kak Egi ini, kenapa banyak yang di rahasiakan dari kakak ipar kedua sih! kakak macam apa itu, mencontoh yang tidak benar! Syila jadi malu mengakui kakak lagi," sebal Syila.


Annisa menyentuh punggung tangan Syila dengan lembut. "Mungkin dia hanya belum siap menyampaikannya, jangan mengumpat kakak mu lagi syila."


Menatap Annisa, dan mencebikkan bibir sebal. "Kakak menyebalkan seperti itu memang pantas di umpat kakak ipar," saut syila.


Annisa tersenyum mencubit pipi Syila. Dia sangat imut sekali kalau lagi marah gini, seperti si Egi.

__ADS_1


Kemudian Annisa mengalihkan pandangan merenung menatap kosong ke arah jendela mobil samping syila.


Sudah 3 hari aku menonaktifkan ponsel ku memberinya pelajaran pada si Egi, rasa nya sudah cukup. Karena bagaimana pun akan sangat berdosa aku, jika marah dan tak bertegur sapa terhadapnya sampai melewati 3 hari.


Syila melambaikan tangan di depan wajah Annisa. "Kakak ipar kedua, kakak ipar," seru Syila.


Annisa tersadar dari lamunan nya, dan tersenyum canggung. "Maaf kakak jadi tidak fokus."


"Kakak ipar kedua lamunin siapa?" Menyipit menatap menyelidik ke Annisa. "Jangan bilang ada seorang pria di pikiran kakak ipar?"


Annisa tersenyum dan mengangguk mengiyakan. "Ada, bahkan pria itu selalu ada dalam pikiran juga hati kakak."


Grep... Syila mencekal lengan Annisa. "Kakak ipar kedua jangan memikirkan pria lain selain kak Egi, nggak boleh pokok nya nggak boleh, hanya boleh nama dan wajah kak Egi yang harus ada di pikiran kakak ipar," seru Syila.


Annisa tertawa mengusap pipi syila. "Syila bahkan tidak bertanya siapa pria itu, kenapa harus merasa gelisah kakak memikirkan pria lain."


Syila melepaskan seat belt, mencondongkan tubuh ke depan mendekati wajah Annisa dan menatap fokus ke sorot mata Annisa tanpa berkedip, membuat Annisa menelan saliva nya dan memundurkan kepala hingga mentok pada senderan kursi.


Di..dia sedang apa sih?


Syila menghela napas lega. "Syukurlah, ternyata kak Egi yang ada di mata kakak ipar kedua," ucap Syila dan membenarkan posisi duduk nya kembali.


"Eh...," Annisa tersenyum gugup melirik syila.


Anak ini, apa dia pembaca pikiran? Ternyata sikapnya sama juga kayak si Egi.


Pikiran ku kenapa dari tadi si Egi terus yang muncul.


---------------------------------


Di sebuah taman rumah belakang Putra.


Ayah putra tampak sedang santai terduduk di kursi panjang menyenderkan punggung, dan di temani beberapa bodyguard yang mengelilingi nya.


Seorang pria berjas rapih mendekat maju beberapa langkah, menundukkan kepala. "Tuan besar, nona Annisa telah berangkat bersama nona Asyila."


Ayah putra yang memejamkan mata menikmati udara sekitar, menghembuskan napas panjang sebelum berucap. "Jangan sampai kalian lengah meskipun sedetik saja dalam mengawasi nya...Aku tidak mau mendengar lagi jika kalian lalai dalam tugas, kalian akan tahu akibatnya jika sampai Nak Annisa terluka lagi."


"Sesuai yang tuan besar perintahkan, beberapa bodyguard yang handal dalam seni bela diri telah di perintahkan untuk mengkawal nona dari dekat sedang beberapa bodyguard si penembak jitu mengkawal dari jarak jauh," jelas pria berjas itu.


Ayah putra mengangguk pelan. "Hemm... baguslah," gumamnya. Kemudian menggerakkan jemari sebagai isyarat agar pria itu mundur untuk tidak mengganggu nya dalam ketenangan.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


Sempatkan klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaa...


__ADS_2