
Annisa tengah memberikan asuhan untuk keperawatan pada bayi yang baru lahir di sebuah ruangan VIP lantai kedua paling atas gedung rumah sakit itu, karena kebetulan pasien yang melakukan persalinan adalah orang terpandang sehingga di tempatkan di ruangan VIP rumah sakit tersebut. Rumah sakit yang menjadikan Annisa tempat dinas, memiliki bangunan 10 lantai dan annisa belum mengetahui jika rumah sakit tersebut adalah salah satu RS milik keluarga Putra.
Annisa melakukan tugas di temani dengan salah satu rekan dinas yang satu tim. Setelah selesai dengan tugas nya, Annisa berpamitan undur diri pada ibu sang bayi juga keluarga si bayi, dan keluar kamar itu bersama teman dinas nya.
"Bayi tadi sangat tampan yah. Nisa?" ucap rekan dinas nya memulai obrolan saat tengah berjalan di koridor.
Annisa mengangguk mengiyakan. "Benar, sangat tampan." Jawabnya sambil berjalan ke arah elevator terdekat yang masih tertutup.
Rekan dinas itu, tersenyum sinis melirik annisa dan menarik sebelah lengan annisa. "Kita naik lift itu saja, Nis. Yang ini kan masih lama nunggu nya." Ajak nya.
Annisa menurut mengikuti langkah kaki rekan nya menuju elevator yang lain.
Sesampainya di depan elevator yang di maksud. Rekan dinas nya menekan tombol untuk membuka pintu elevator agar terbuka. Sementara annisa berdiri tak acuh menundukkan pandangan menunggu pintu itu terbuka.
Dugh.
Rekan dinas annisa dengan kasar mendorong annisa, saat pintu elevator sudah terbuka lebar.
"Hey! Windi kenapa kau mendorong ku!" Ujar Annisa kaget berbalik, dan ketika pintu itu tertutup perlahan windi masih belum masuk dan berdiri menatap tajam penuh kebencian ke annisa.
Alis annisa menaut bingung.
Kenapa dia menatap ku seperti itu?
"Kau tidak masuk windi? Cepat pintu nya akan tertutup," ucap Annisa yang melihat windi masih berdiri menatap nya.
Memberikan senyuman jahat ke annisa di sela gerakan pintu elevator yang tinggal dua jengkal lagi akan tertutup. "Aku menyingkirkan tulisan peringatan itu, jika lift ini bermasalah. Jadi aku akan ke lift yang lain, selamat tinggal Annisa, kali ini kau tidak akan selamat," ucap nya dan berbalik meninggalkan Annisa yang terpaku mencerna ucapan windi.
Perlahan pintu elevator tertutup rapat, seiring annisa tersadar dari keterpakuan nya.
"Dia bilang apa tadi? Lift ini bermasalah. Dia bohong kan?" Annisa menekan tombol di panel elevator untuk berhenti dan membuka pintu nya.
Namun elevator benar tidak berhenti dan tetap pintu nya tertutup rapat.
"Hah... ternyata benar yang di katakan nya." Annisa memukul pintu lift yang masih tertutup rapat dengan keras. "Tolong!" Seru Annisa berteriak.
Setelah melewati beberapa lantai elevator itu tiba tiba...
Kreeet...sreeet...Dugh..blam..
Guncangan yang keras di dalam lift membuat annisa terpelanting dan terbentur keras ke dinding.
"Ah, haish...," Mengusap kepala nya yang sakit akibat benturan keras.
Annisa segera bangkit dan menekan kembali tombol untuk memberhentikan, membuka lift namun hasil nya nihil, pintu itu tetap tertutup rapat. Lalu Ia menekan tombol panggilan yang ada di panel elevator, untuk terhubung dengan staf pemeliharaan gedung atau teknisi, namun tidak ada jawaban sama sekali.
__ADS_1
Annisa semakin panik karena goncangan di dalam lift semakin keras. "Aku harus bagaimana? Tidak ada jawaban dari mereka." Lalu kembali menekan tombol alarm beberapa kali. Seiring menekan tombol di panel elevator, tiba tiba...
Bam...brak..Sreeet.
Lift itu menurun dengan kecepatan yang sangat cepat dan kembali berguncang keras membuat annisa kembali terbentur ke dinding. Dan Klik.. lampu di dalam nya ikut padam.
Annisa terjerembab jatuh terperosok ke bawah, badan dan kepala nya terbentur beberapa kali membuatnya sulit untuk berdiri lagi karena lemas, dan memilih duduk meringkuk meringis merasakan rasa sakit nyeri di kepala dan di sekujur tubuh nya. "Haish...sss," desis Annisa memegang di bagian kepala nya yang nyeri dan berdenyut.
Ada cairan lengket pekat di telapak tangan annisa saat mengusap kepala nya. "Apa ini darah?" kaget nya mencium cairan lengket itu yang berbau anyir, karena tidak terlihat oleh pandangan annisa akibat suasana di dalam lift sudah gelap temaram.
Mengetahui diri nya terluka, dan keadaan ruangan yang gelap. Napas annisa mulai sesak terengah karena Nyctophobia nya kembali kambuh, tubuh annisa bergetar hebat dan dengan segala kekuatan yang tersisa. Annisa meraba raba sekitar untuk mendudukkan diri nya agar menyender ke dinding, dan membuka jas almamater yang di pakai untuk merogoh ponsel yang ada di dalam saku, untuk menghubungi orang luar...
----------------------
Di perusahaan Putra Grup.
Egi tampak fokus membolak balikkan dokumen di hadapan nya, dan sesekali alis nya terangkat saat membaca setiap tulisan yang tertera di dalam dokumen. Jhon sudah kembali pada pekerjaan nya dan tidak lagi membimbing Egi, karena egi dengan mudah dan cepat telah menguasai apa yang di ajarkan Jhon pada nya dalam beberapa hari lalu.
Tok...tok...tok.
Pintu ruangan egi di ketuk.
"Masuk!" Seru Egi tanpa mengalihkan pandangan nya dari berkas yang tengah di geluti.
Orang yang mengetuk pintu itu, memasuki ruangan dan berjalan dengan gaya elegan berlenggak lenggok yang kebetulan memakai rok selutut. Ia membawa nampan berisi cangkir kopi ke arah meja Egi. "Tuan, saya buatkan kopi," ucap lembut wanita tersebut di sertai senyuman menatap Egi.
Seketika pergerakkan tangan wanita itu terhenti. "Saya berinsiatif sendiri tuan, sebagai sekertaris sudah sewajarnya saya membuatkan kopi untuk tuan," ucap nya dengan suara mendayu sambil meletakkan cangkir kopi ke atas meja Egi.
"Singkirkan!" tegas Egi mengibaskan sebelah tangan agar cangkir kopi itu di ambil kembali.
"Apa tuan tidak suka meminum kopi? Biar saya buatkan minuman yang lain." Mengambil kembali cangkir kopi itu dan meletakkan atas nampan.
Ceklek.
Pintu ruangan Egi kembali terbuka.
Jhon memasuki ruangan Egi sambil menenteng beberapa dokumen di tangan nya.
"Wah, sekertaris Lia. Sedang apa anda di mari? Bukankah saya sedang menyuruh anda untuk membuat dokumen untuk project besok," sapa Jhon tersenyum kecil dan melirik Egi yang tampak mengabaikan sekertaris Lia yang ada di samping meja.
Selertaris Lia menoleh dan menghadapkan diri ke Jhon. "Saya hanya mengantarkan kopi untuk tuan Egi, tapi tampak nya tuan Egi tidak menyukai kopi," tutur nya menunduk.
Tersenyum miring mendekat ke arah meja Egi. "Simpan saja di atas meja kopi nya, kebetulan saya lagi pengen minum kopi." Menunjuk ke arah sofa. Lalu Jhon sedikit mendekat ke arah Lia. "Dan saya peringatkan, anda terakhir kali nya membuatkan kopi untuk tuan Egi. Jika ingin masih bekerja di sini," ucap nya setengah berbisik.
Sekertaris Lia menelan ludah nya kasar, dan menunduk salam. "Ba...baik," gagap nya. Lalu melangkah menuju sofa untuk meletakkan nampan berisi secangkir kopi. Kemudian melangkah pergi dari ruangan Egi setelah menunduk hormat ke arah egi.
__ADS_1
Sepeninggalan sekertaris Lia.
Jhon menggelengkan kepala beberapa kali menatap kepergian Lia lalu melihat Egi yang tampak sibuk dengan pekerjaan nya. "Jika nona Annisa tahu tuan Egi sempat satu ruangan dengan wanita, bagaimana reaksi nya yaah," ucap Jhon mulai menyindir.
Mendelik tajam. "Diam kau Jhon!" Egi menghentikan pergerakan nya menatap Jhon. "Ada apa kau kemari?" tanya nya.
Jhon berjalan ke arah sofa dan membanting tubuh nya ke atas sofa panjang. "Mau main. Suntuk saya di ruangan terus, kali aja di sini ada mainan yang menarik."
Mendengus kesal, dan kembali memeriksa dokumen.
Kriing... kriing...
Suara ponsel Egi berdering cukup keras.
Egi melirik siapa yang menelpon nya, terurai senyuman di bibir Egi saat melihat nama Annisa yang tertera di layar. Segera Egi mengangkat panggilan telpon tersebut.
"Assalamualaikum, Annisa." Salam nya menyapa duluan.
"Eg... egi." Suara Annisa terdengar lemah serak dan bergetar di sebrang sana.
Sontak alis Egi menaut tajam. "Annisa, apa yang terjadi? Kenapa suara mu terdengar aneh?" tanya nya mulai cemas karena tidak biasanya annisa tidak menjawab salam dan bahkan langsung memanggil nama nya dengan nada suara yang bergetar.
Jhon yang mendengar kata aneh, segera mengalihkan perhatian nya dari.setumpuk dokumen ke arah Egi.
"Eg...egi to-long ak-u," jawab Annisa masih dengan nada suara lemah dan tersendat.
Mendengar kata tolong, seketika Egi bangkit dari duduk nya dan langsung berjalan mengambil jas kantor di gantungan dekat meja. "Kau dimana Annisa? Katakan apa yang terjadi padamu?" Seru Egi panik.
"Ak..aku terper-angkap di dalam li-ft," dan tidak terdengar lagi suara Annisa.
Tangan Egi mengepal menggenggam ponsel nya kuat, rahang nya mengeras dan sorot mata sudah di penuhi kecemasan dan amarah. "Annisa! Kau masih mendengarku! Sayang!" Seru Egi yang sudah di penuhi kecemasan.
Namun tidak terdengar lagi jawaban dari Annisa di sebrang sana.
Egi mengepal kuat dan...
Brak.
Menggebrak meja dengan keras lalu dengan gerakan cepat memakai jas kantor.
Jhon yang ikut panik melihat reaksi Egi, beranjak dari duduk nya dan menghampiri Egi. "Apa yang terjadi pada nona Annisa?" tanya nya.
Egi berjalan tergesa menuju pintu keluar. "Jhon kita kerumah sakit sekarang juga! Annisa dalam bahaya!" titah nya sebelum hilang dari balik pintu.
"Bahaya?" Jhon ikut berjalan menyusul Egi yang sudah keluar ruangan.
__ADS_1
BERSAMBUNG....
Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK yaaa..