
Annisa dan Egi memasuki kamar. Saat pertama Annisa memasuki kamar, Ia langsung di sambut oleh dekorasi hiasan ranjang yang di dekor sangat indah dengan bunga mawar merah menghiasi setiap sisi dan kepala ranjang juga kelopak mawar berwarna merah muda di sepanjang lantai kamar. Sehingga kamar itu di penuhi oleh semerbak harum bunga mawar.
Mata Annisa berbinar bahagia melihat sekeliling kamar nya. Dia menyiapkan ini...
Egi mendekat ke arah Annisa, dan dengan gerakan pelan memeluk tubuh Annisa dari belakang. Ia mengecup lembut bahu Annisa sebelum berucap. "Aku sangat merindukan mu sayang, 4 tahun kurang, bagi ku bagaikan 100 tahun tak bertemu dengan mu," ucap Egi mengendus di sekitar lekuk leher Annisa yang masih terbungkus kerudung.
Annisa menepuk pelan punggung tangan Egi yang melingkar di perutnya. "Aku juga, tapi Egi..." ucapan Annisa terjeda sejenak, menghela napas pelan. "Aku tidak suka dengan cara mu waktu itu, yang meninggalkan aku tanpa pamit. Kau tahu, aku sampai berpikir jika kamu sudah tidak menganggap ku istri mu lagi, sehingga meninggalkan aku dengan cara seperti itu."
Egi mempererat pelukannya di tubuh Annisa dan menyembunyikan Wajahnya di lekukan leher Annisa. "Saat itu aku takut melihat air mata mu, jadi...maafkanlah aku sayang," tutur Egi.
Annisa tersenyum, mengusap lembut rambut Egi yang ada di bahu nya. "Aku sudah memaafkan mu sedari dulu, hanya jangan mengulanginya lagi."
"Hemm...," gumam Egi, kemudian mengecup pipi Annisa. "Sayang, bisakah malam ini kau memberikannya dan menyerahkannya secara sukarela pada ku?" Bisik Egi di telinga Annisa.
Seketika wajah Annisa merona, tubuhnya kaku, menundukkan pandangan. Dia meminta nya sekarang.
Seperkian detik keheningan membentang, hanya suara detak jantung yang saling bersahutan dari kedua nya.
Melihat Annisa tidak menjawab, atau pun memberikannya pergerakan kepala. Egi menghela napas panjang, melepaskan pelukannya di tubuh Annisa. "Baiklah, tidak apa jika kau tidak bisa merelakannya malam ini. Kita akan tidur seperti biasanya," ucap Egi ada nada kekecewaan dari kata katanya.
Annisa masih berdiri mematung di tempat, dengan menundukkan pandangan.
Dia marah? Aku harus bagaimana? Padahal aku tidak mengatakan tidak.
Egi kembali menghembuskan napas, dan mengusap kasar wajahnya. Kemudian melangkah melewati Annisa hendak ke pintu kamar mandi. "Aku akan mandi duluan, kau siapkan pakaian tidurnya sayang," ucap Egi, yang baru melangkah beberapa langkah.
"Eg..egi," seru Annisa, dan berhambur menubruk tubuh Egi dengan memeluknya dari belakang.
Terlintas senyuman bahagia dari bibir Egi, mendapat respon tak terduga dari Annisa. Egi memilih berdiri diam tak merespon pelukan Annisa, dan tak berkata, menunggu Annisa mengucapkan kalimat yang di harapkannya.
Annisa menempelkan pipi nya di punggung Egi. Ia memejamkan mata nya rapat rapat. "Aku... aku merelakan tubuh jiwa ragaku untuk mu malam ini dan seterusnya," ucap Annisa cepat karena jantung nya sudah berdetak tak karuan juga pipi nya sudah memanas.
Egi menahan senyuman bahagia nya, melepaskan lingkaran tangan Annisa di perutnya, dan berbalik. "Sayang, kau tahu apa yang kau katakan tadi?" tanya Egi lembut.
Annisa menundukkan kepala tak berani berkata, Ia menggigit bibirnya untuk menghilangkan ke gugup an yang tengah melanda jiwa nya, namun tak berhasil.
Aku tahu... Aku tahu Egi...
Dengan pelan, egi menangkup wajah Annisa dengan kedua tangannya agar terarah padanya. "Ucapan mu jangan kau menyesali nya, karena sekarang aku akan mengambil hak ku malam ini," Egi berucap serak, sambil mendekatkan wajah nya ke wajah Annisa dan akhirnya mendaratkan bibirnya di bibir Annisa untuk meneguk madu yang sudah lama di tahan nya selama bertahun tahun lama nya.
Annisa melingkarkan tangannya ke leher Egi, saat ciuman Egi berlangsung lama.
Beberapa menit kemudian.
Annisa memukul pelan dada Egi saat sudah mulai kehabisan napas.
Egi dengan enggan, melepaskan pagutannya, dan menempelkan dahi nya ke dahi Annisa.
Kedua nya saling mengambil napas dalam dalam untuk menghirup udara sebanyak banyaknya.
"Sayang, mari kita lakukan. Tapi kita shalat isya juga shalat sunnah dua rakaat dulu sebelum melakukannya," tutur Egi dengan pandangan teduh dan suara serak pelan.
Annisa mengangguk kecil, membalas tatapan mata Egi.
"Baiklah, mau kau atau aku dulu yang mandi?" Egi bertanya setelah menjauhkan wajahnya dari wajah Annisa.
"Kamu dulu Egi, aku mau melepaskan gaun ku yang berdobel ini."
Egi tersenyum penuh arti. "Mau aku bantu sayang?"
Segera Annisa memalingkan wajah ke arah lain. "Ti..tidak perlu, kau..kau cepatlah ke kamar mandi."
__ADS_1
Egi terkekeh senang, sambil berbalik dan melangkah menuju pintu kamar mandi.
Sepeninggalan Egi.
Annisa menghembuskan napas panjang beberapa kali, dan terduduk lemas ke atas kasur. "Apa aku siap melakukannya sekarang? Hah... siap gak siap, aku adalah istrinya dan harus melayaninya," gumam Annisa.
Beberapa saat kemudian.
Annisa dan Egi telah selesai melaksanakan shalat isya dan shalat sunnah secara berjamaah.
Annisa melipat alat shalat dan memasukkannya kembali ke tempat nya. Sedang Egi sudah terduduk setengah terbaring di atas kasur dengan tatapan terus mengawasi gerak gerik Annisa.
"Annisa," panggil Egi.
Annisa menoleh, berbalik. "I..iya," sahutnya.
"Kemarilah," menepuk sebelah kasur yang kosong.
Tenanglah Annisa...tenanglah. Dengan canggung Annisa melangkah mendekat ke arah ranjang dan naik ke atas kasur duduk di samping Egi.
"Kenapa kau gugup begitu sayang? Bukannya kau sudah bilang ikhlas tadi?" tanya Egi mengangkat dagu Annisa.
"Aku.. aku tidak gugup," sangkal Annisa mengalihkan tatapan ke arah lain.
Egi mengusap bibir merah Annisa dengan lembut. "Sebelum melakukan, aku akan bertanya untuk persetujuan," ucap Egi.
"Tanya Apa?" Sahut Annisa dengan cepat menatap wajah Egi.
"Kau ingin langsung mengandung anak ku atau menunda nya?" tanya Egi, menatap serius.
Glek. Annisa menelan ludahnya kasar. "Aku...," menundukkan pandangan menghela napas pelan. "Menginginkan cepat punya anak dari mu, tapi jika kau belum siap menjadi ayah dari anak kita nanti, aku akan menunda nya."
"Aku bilang aku siap punya anak dari mu Egi!" Sanggah Annisa cepat.
Terkekeh senang, mengusap sisi wajah Annisa dengan lembut. "Jadi itu artinya sekarang sudah boleh mulai sayang?"
Annisa menatap lekat wajah Egi, dan mengangguk pelan. "Hemm...,"
Tenangkan diri mu Annisa. Harus siap...
Egi tersenyum hangat, mengecup lama kening Annisa. Kemudian, sedikit menundukkan kepala Annisa untuk membacakan, basmallah, surah al-ikhlas, takbir dan tahlil lalu terakhir doa sebelum melakukan hubungan intim ke ubun ubun kepala Annisa.
"Bismillahil ‘aliyyil ‘azhim. Allahummaj‘alhu dzurriyyatan thayyibah in qaddarta an takhruja min shulbi. Allahumma jannibnis syaithana wa jannibis syaithana ma razaqtanî." Egi meniupkan lembut ke rambut kepala Annisa, dan kembali menatap lekat wajah Annisa.
"Annisa, aku sangat mencintai mu, terimakasih telah mengizinkan aku untuk memiliki mu seutuh nya," ucap Egi menatap penuh minat, dan bibir sudah tidak bisa di kondisikan mengendus ke sekitar leher Annisa.
"Egi..Egi..," gagap Annisa serak bergetar.
Egi tersenyum menatap Annisa. "Aku akan melakukannya dengan lembut sayang. Panggil terus nama ku, aku senang mendengarnya," Perlahan Egi merebahkan tubuh Annisa dengan hati hati ke atas kasur, Ia menarik tali gaun tidur yang melilit di pinggang Annisa untuk mengekspos bagian atas, dan mulai menciumi sekitar permukaan kulit Annisa tanpa tersisa.
Sedang Annisa yang sudah pasrah, tubuh nya bergetar hebat, memejamkan mata menerima sentuhan lembut yang Egi lakukan pada nya. Dan melenguh, bergumam terus menyebutkan nama Egi seperti yang Egi inginkan.
Beberapa saat kemudian.
Bibir Kedua nya bergerak membaca kan doa setelah melakukan senggama. "Alhamdulillahilladzi khalaqa minal ma’i basyara, faja‘lahu nasaban wa shahra, wa kana rabbuka qadira."
Kedua nya telah terbaring di bawah selimut, tanpa sehelai pakaian pun.
Annisa, dengan manja menyembunyikan tubuhnya dalam pelukan dan bersandar di dada Egi, berniat untuk tertidur karena merasa lelah.
Namun tidak dengan Egi. Ia merunduk dengan pelan untuk mulai menggerayangi lagi tubuh Annisa. "Kau membangunkan ku lagi sayang," ucap nya dengan terus menghujani kecupan di permukaan kulit Annisa dan bahu.
__ADS_1
"Egi, bisakah bibir mu berhenti sejenak... aku tidak bisa tidur jika kau seperti ini terus," gumam Annisa di ambang kantuk nya yang sudah lima watt.
Egi terkekeh, melanjutkan menggoda Annisa. "Aku menginginkannya lagi, bolehkah mengulang lagi sayang?"
Annisa membuka mata nya, menatap dan tangannya terulur menyentuh pipi Egi. "Hemm... tapi kita harus berwudu dulu atau membersihkan diri baru melanjutkan apa yang kau inginkan," tutur Annisa pelan.
"Terimakasih sayang," girang Egi mengambil piama nya yang tertumpuk di atas karpet lalu memakai nya di bawah selimut.
Sedang Annisa memperhatikan wajah Egi. Dia sangat tampan... tersenyum pesona.
"Sayang biar ku bantu ke kamar mandi, ku tahu kau pasti susah berjalan," ucap Egi sembari membungkus tubuh Annisa dengan selimut sampai leher.
"Egi kau membungkus ku seperti mumi, bagaimana wudu nya nanti?" Omel Annisa melihat diri nya.
Egi tersenyum, menyelipkan tangannya di antara punggung dan bawah lutut Annisa, kemudian menggendong ala bridal style menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi.
Egi berlutut memangku tubuh annisa untuk di dudukkan nya dalam pangkuan dan menghadapkan ke keran air tempat berwudu. "Kau dulu yang berwudu, biar aku menyusul," titah Egi sambil menyisir rambut panjang Annisa untuk di genggamnya agar tidak menghalangi Annisa saat berwudu.
"Eg...Egi bisakah kau memalingkan wajah mu jangan melihat ke depan." Gugup Annisa.
Egi tertawa geli, memaju kan wajah nya menaruh dagu di bahu Annisa. "Aku sudah melihat semua nya Annisa. Apa yang membuat mu menjadi malu?" Bisik nya di telinga Annisa.
Seketika wajah Annisa yang sudah merah semakin merah padam. Dia membuatku mati kutu.
Dan dengan gerakan yang bergetar, Annisa membuka air keran, menyingkap selimut bagian bawah nya untuk membasuh, membersihkan bagian kewanitaannya dan setelah nya Ia mengambil wudu.
Melihat Annisa telah selesai mengambil wudu, Egi menggendong kembali tubuh Annisa ke atas kasur dan berganti diri nya untuk membersihkan diri seperti yang di lakukan Annisa.
--------------------------------------------
Sementara di kamar lain.
Arga tampak terbaring terlentang, dengan dua orang yang tengah memijit tubuhnya.
"Papa kapan hukumannya selesai Atih Antuk," oceh Fatih yang memijit kepala Arga.
Arga yang semula memejamkan mata, membuka mata mendelik menatap wajah mungil tampan Fatih. "Hukuman mu masih setengah jam, teruskan dan pijit yang benar kepala Papa," Sahut Arga.
Romisa yang tengah memijit bagian kaki Arga, Ia melirik sebal ke Arga. "Kau tidak kasihan pada anak mu suamiku, biar aku yang meneruskan hukumannya, jangan menyiksa Fatih."
"Atih tidak mau mama di hukum lama sama papa, biar Atih yang melakukan semua nya, mama tidurlah," jawab Fatih mendahului Arga yang hendak bersuara.
"Kau dengar itu Romisa, lagian siapa juga yang akan melepaskan dan membiarkan mu tidur tenang malam ini, setelah makhluk kecil ini tidur kau masih harus ku hukum dengan hukuman yang sebenarnya," tutur Arga tersenyum penuh arti.
Romisa mendengus sebal, menekan kuat untuk memijit kaki Arga. "Suamiku masih saja seperti itu."
"Atih tak suka papa dan mama bertengkar malam malam, jangan hukum mama lagi dengan mengunci pintu kamar, papa," Omel Fatih menjambak rambut Arga.
Arga memberontak dari siksaan kedua orang yang di sayangi nya. "Hey kalian kenapa menyiksa Papa! Lakukan dengan lembut! Atau papa benar benar akan menghukum kalian dengan berat!" teriak Arga melepaskan diri, namun Fatih masih kuat menjambak rambut Arga dan Romisa mencekal menindih kaki Arga.
"Mama, terus hukum Papa, jangan biarkan papa menghukum mama malam ini, Atih akan melindungi mama!" Seru Fatih terus menjambak rambut Arga.
Romisa tersenyum menahan tawa nya, dan melakukan apa yang di perintah Fatih. "Jangan kasih ampun Fatih."
"Kaliaan! Awas saja, Papa tidak akan melepaskan kalian!" teriak Arga melepaskan diri dari tangan brutal istri dan anak nya.
END.
Jangan lupa Klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa...
__ADS_1