
"Jojo, si Ray sampai emosi begitu, apa yang kamu lakukan padanya?" Rika bertanya dan melirik pria yang tengah fokus mengemudi.
Jhon tersenyum melirik sekilas pada gadis manis itu. "Aku tak melakukan apa pun."
Mata Rika menyipit curiga. "Benarkah tidak melakukan apa pun? Tapi bisa membuat dia sampai murka berteriak begitu."
Tertawa pelan, Jhon membelokkan stir mobil untuk memasuki area perumahan tempat tinggalnya Rika. "Kau tugas malam?" tanyanya mengalihkan topik.
Rika mendesah sebal, ia menundukkan kepala untuk merapihkan isi tas selempang yang sedikit sumbrawut. "Iya, maka nya bisa belanja dulu."
"Hemm." Gumam Jhon melambatkan laju mobil untuk parkir di depan rumah minimalis lantai dua. "Kemarikan tangan mu." Menengadahkan sebelah telapak tangan setelah menghentikan mobil.
Rika yang masih sibuk merapihkan isi tas, ia melirik tanya sejenak. "Buat apa?"
Menggerakkan telapak tangan yang masih menengadah. "Buat di gigit." Guyon Jhon terkekeh kembali saat melihat Rika semakin menatapnya aneh.
Dia kenapa? Aneh Rika menatap tanya dengan alis tertaut bingung.
Jhon menarik tangan Rika yang tergenggam di atas tas. "Kau memang susah di ajak becanda jika dengan ku."
Seketika semburat rona merah muncul di kedua pipi gadis manis itu. "So-soalnya Jojo kalau bicara nggak pernah terlihat becanda, serius banget nada suaranya nggak kayak si Ray." Tutur Rika kembali sibuk mengobrak abrik isi tas dengan sebelah tangan yang bebas.
"Humph... si bocah tengik yah, kau begitu sangat dekat dengannya." Jhon memeriksa setiap jemari lentik gadis manis itu dengan mengusap dan mengapitnya.
Gerakan tangan Rika yang tengah merapihkan terhenti, ia menatap Jhon. "Iya," sahutnya rendah dan kembali mengalihkan pandangan juga menggerakkan tangannya.
Jhon tersenyum kecil menghembuskan napas pelan. Ia mengangkat wajahnya beralih menatap wajah gadis manis yang terlihat sibuk itu. "Besok sebelum pukul 9 pagi jangan keluar rumah sakit."
"Eh, kenapa? Jam 6 juga kan sudah selesai tugas ku." Rika menarik tangannya untuk meresleting tas lalu mengaitkan tas selempang ke sebelah pundak.
Mengusap puncuk kepala gadis manis itu dengan gemas. "Turuti saja apa yang ku katakan." Kemudian Jhon mengedikkan dagu ke arah pintu samping tubuh Rika. "Segeralah turun, aku takut Papa mu menegur lagi jika kelamaan di dalam mobil."
Rika tertawa geli melepaskan seat belt. "Ternyata Jojo takut sama Papa juga yah, padahal Papa jam segini masih ngantor. Tapi yakin nggak mampir dulu, aku buatkan kopi atau teh?"
"Nggak, aku harus balik lagi ke Mall." Jhon mengusap pipi kemerahan yang lembut bersuhu panas itu dengan pelan. "Untuk sekarang aku menolak tawaran mu, tapi suatu hari, kau harus menyeduhkan kopi setiap hari untuk ku."
Degh... Rika mengalihkan wajah ke arah lain untuk menyembunyikan kegugupan juga degup jantungnya yang sudah tak karuan. Kenapa akhir-akhir ini dia selalu berkata yang membuat hati ku tak bisa mengontrolnya lagi.
Dia mengepalkan sebelah tangan di depan dada nya yang terus mengeluarkan suara degupan keras jantungnya, sejenak Rika menghela napas dalam dan memejamkan matanya sekilas. Ia melirik Jhon yang tengah memperhatikannya. "J-Jojo, aku... aku-" gagap Rika tercekat dan tak mampu meneruskan kalimatnya.
Tersenyum hangat, Jhon kembali mengusap puncuk kepala gadis manis itu. "Gadis bodoh, segeralah masuk."
"Ah i-iya ba-baiklah, hati-hati di jalannya Jojo. Assalamualaikum." Salam Rika dengan cepat membuka pintu dan keluar mobil.
"Walaikumsalam." Jhon tersenyum geli menurunkan kaca mobil saat Rika masih berdiri melambaikan sebelah tangan dengan senyuman manis mengembang namun terlihat kikuk. Hingga ia melajukan mobil meninggalkan gadis manis itu yang masih menatap kepergiannya.
Hah... Rika menghembuskan napas dalam masih menatap mobil hitam yang sudah menjauh hilang. Ia menepuk-nepuk dada nya yang jantungnya terus berdegup tak karuan. "Apa-apaan sih aku, kenapa harus sampai salting di depannya sih. Memalukan." Gumam Rika sebal.
"Mbak."
Plakk.
"Mama Papa." Rika berbalik dan langsung mengibaskan tas selempangnya hingga mengenai wajah orang yang memanggilnya itu.
Pria berkemeja hitam dengan porsi badan setengah gendut tersebut, mengusap pipinya yang kerasa sakit, ia menatap Rika. "Kenapa Mbak memukul saya?"
__ADS_1
Segera Rika maju memiringkan kepala untuk memeriksa bagian pipi yang di pukul oleh tas nya itu, dengan tatapan bersalah bercampur malu, tangannya terulur sedikit. "Ma-maaf Pak, tadi-tadi saya sedang melamun. Saya kira bapak penjahat yang mau nyopet."
"Ya kali copet ganteng kayak gini." Masih mengusap pipinya yang memang lecet dan merah.
sudut bibir atas Rika terangkat mengerut di sekitar hidung dan menatap geli pada pria di hadapannya. Ganteng dari sudut mana nya? Hanya wajah kinclong aja di bilang ganteng.
Pria bertubuh besar itu menengok ke arah belakang ke arah mobil box warna hitam. "Barangnya mau di angkut ke mana?"
Rika melirik ke arah mobil dan tersenyum cengengesan. "Ke rumah ini pak." Mengedikkan dagu ke arah rumahnya Kemudian ia menunjuk pipi bapak itu dengan telunjuknya. "Itu pak, emm... pipinya berdarah, saya ada plester untuk menutupi luka nya."
Mendelik sebal dan mengusap pipinya melihat telapak tangan yang benar terdapat darahnya. "Huh," dengus pria itu membuang muka dengan mata membeliak kesal. "Wajah ganteng ku jadi rusak kan, jadinya harus oplas lagi." Lalu dia berbalik pergi untuk berbicara pada rekannya yang berada di dalam mobil.
Hah... Rika terlongo menatap punggung besar itu dengan tatapan bengong dan aneh. "Dia oplas, pantas saja wajahnya glowing."
------------------------------
Waktu sudah menunjukkan pukul. 6 menuju malam. Rika setelah melaksanakan shalat magrib segera berangkat ke rumah sakit, dan saat ini ia telah berada di antara lorong rumah sakit berjalan hendak menuju ruangannya.
Namun saat berjalan sambil menundukkan kepala dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku jas, tiba-tiba sepasang sepatu pria berwarna hitam, mengkilap menghadang langkahnya, sehingga Rika ikut menghentikan langkah kaki kemudian mengangkat wajahnya untuk melihat siapa pemilik sepasang kaki itu.
"K-kak Farhan." Kagetnya dengan mata sedikit melebar dan terdiam mematung.
Kenapa dia? Apa dia sakit? Karena melihat raut wajah Farhan yang kusut dengan bibir sedikit pucat dan ada cekungan hitam di kedua bola matanya yang menandakan orang tersebut kekurangan istirahat.
"Mau?" Farhan menyodorkan sebotol minuman kemasan yang berisi jus melon.
"Ah," Rika terhenyak, dan dengan sedikit ragu melirik cemas pada orang di hadapannya ia menerima botol minuman itu.
"Hah...," Farhan menghembuskan napas panjang, memasukkan kedua tangan ke dalam saku jas kedokterannya kemudian beralih melangkah ke arah samping tubuh gadis manis itu.
Gadis manis itu melirik penampilan pria di sampingnya. Pantas saja dia terlihat kusut layu.
"Ehehe. Sa-saya kan bidan yang tugasnya membantu orang lahiran bukan menyembuhkan penyakit orang, macam kak Farhan yang seorang dokter." Rika menimpali dengan tawa kepaksa sembari berjalan kembali dan memainkan botol minuman dalam pegangan tangannya.
Farhan tersenyum, menatap lekat wajah cantik gadis manis tersebut sembari mengimbangi langkah kakinya. "Dek."
"Hemm." Rika menyahuti dan berbelok ke kanan ketika sampai di pertigaan lorong.
"Soal kemarin malam, kejadian di resto. Kakak minta maaf, karena telah membuat adek malu sekaligus tidak merasa puas dengan makan malamnya."
Rika mengangguk kecil, melirik dan tersenyum. "Tidak apa kak." Karena itu adalah ulah si Jojo, jadi seharusnya si Jojo yang minta maaf ke kak Farhan.
Farhan berdehem sejenak sebelum berucap kembali. "Dan soal cincin lamaran itu, sebenarnya kakak memang berniat melamar mu... dan Apa adek mau mener-"
"Bidan Rika." Teriakan seorang wanita berseragam medis menghentikan ucapan Farhan.
Rika menoleh dan tersenyum ramah saat wanita itu berjalan setengah berlari tergesa menghampiri keduanya. "Ada apa Len? Kayak yang gawat gitu."
"Hosh...hosh..." napas Leni terengah saat telah sampai di depan Rika.
"Minum dulu, kamu sampai ngos-ngosan gitu." Rika memberikan botol minuman yang sempat di berikan Farhan tadi ke Leni yang langsung di terima dengan senang hati oleh asistennya itu.
"Eh," tangan Farhan terulur sedikit, menatap tidak rela saat minuman itu telah di buka segel tutupnya oleh Leni bersiap untuk di minum.
Yah padahal itu tinggal tersisa satu di kotak jus, dan sengaja memisahkan untuk Dek Rika.
__ADS_1
"Ahh...," Leni mengusap bibirnya yang basah akibat cairan jus. Lalu menatap Rika dengan serius. "Di ruang bersalin sudah ada pasien yang siap melahirkan, dia sudah memasuki pembukaan 10."
"Hah!" Mata nya sedikit melebar. "Kamu kok nggak bilang dari tadi sih Len. Ayo cepat kesana!" Kemudian Rika tanpa memperdulikan sekitar, ia berjalan cepat melewati asistennya begitu saja juga meninggalkan Farhan yang terlongo menatap kepergiannya.
"Dek Rika," panggil Farhan dengan tangan terulur. Menghembuskan napas panjang dan menundukkan kepala.
"Dia pergi lagi, aku belum mendengar jawabannya. Padahal aku sudah memaksakan masuk tugas meskipun keadaan tubuhku seperti ini, hanya ingin mendengar jawaban dan memberikan cincin ini. Tapi dia...," Gumamnya pelan mengeluarkan sekotak hitam yang berisi cincin. Farhan mendesah kecewa.
Growook... growook.
Perutnya berbunyi di sertai mules dan nyeri. "Hah sial, perutku." Ucap Farhan memasukkan kotak hitam itu kedalam saku dan memegang perutnya. Kemudian ia berbalik melangkah ke arah lain.
"Dokter Farhan." Wanita cantik berseragam medis mendekatinya dengan membawa sebuah buku putih.
Farhan menoleh, masih mengernyitkan hidung merasakan mules di perut. "Sudah di kerjakan tugas mu, Sisca?" tanyanya dengan suara rendah tertahan.
Alis wanita itu tertaut menatap heran. Dia menyodorkan sebuah buku data pasien. "Semuanya sudah saya periksa sesuai yang di instruksikan oleh dokter. Tapi...," Celingak celinguk melihat sekitar. Kemudian menatap pria di hadapannya. "Dokter sudah melamar bidan Rika nya? Gimana? Di terima nggak?"
Farhan mengibaskan tangan menepis buku itu. "Jangan kepo urusan orang, dan kau taruh data itu di meja ku." Dan ia kembali melangkah dengan sedikit tertatih memegang perutnya.
"Lah dokter kok gitu, bawahaan kepo dengan masa depan atasannya kan wajar." Membuntuti langkah kaki Farhan.
Menoleh cepat dan sedikit menyentak. "Sisca-"
Broot... Tuut.
Suara kentut yang cukup keras berasal dari bokong Farhan, seketika membuat suasana hening, keduanya membeku di tempat dan terdiam saling tatap, beberapa saat sampai sebuah aroma berbau tak sedap menyapa hidung kedua nya.
Sisca menutup hidungnya dengan telunjuk dan memalingkan wajah ke arah lain, menahan senyuman geli. "Itu... itu suara apa dok?"
"Tikus kejepit pintu." Farhan segera berbalik menyembunyikan wajahnya yang memerah padam oleh rasa malu. Dia melirik sekitar yang untungnya keadaan lorong sepi hanya mereka berdua.
Sisca membungkam bibirnya agar tidak tertawa terbahak. Dengan hidung masih di sumbat oleh telunjuk.
Grwook...grwook.
Suara perutnya kembali mengeluarkan suara di sertai mulas menusuk di kulit perut.
"Sekarang suara apa lagi dok?" Sisca sengaja bertanya kembali sambil menahan tawa nya agar tidak keluar.
"Kau ambilkan obat diare, sekaligus alat infus." Titah Farhan tanpa menjawab pertanyaan sisca. Kemudian ia berjalan setengah berlari tergesa sambil memegang perut yang terus mengeluarkan bunyi.
Sepeninggalan Farhan.
"Hahaha...," Seketika Sisca mengeluarkan tawanya yang sudah tertahan, ia mengeluarkan dengan puas tawa itu hingga menggema di lorong kosong tersebut.
Brak... Brak.
Suara kursi besi yang berjejer menempel di tembok tiba-tiba mengeluarkan suara seperti di gebrak, dan sontak menghentikan tawa Sisca.
"Eh, apa itu?" Paniknya dengan lirikan waspada ke sekitar lorong. Sisca mengusap tengkuk lehernya yang tiba-tiba merinding dingin. "Kok bulu kuduk ku merinding yah, hiiih takuut." Bergidik dan berjalan terbirit.
BERSAMBUNG...
Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...
__ADS_1