
Pagi hari. Annisa bangun dari tidurnya, dan langsung membersihkan diri setelahnya Ia membangunkan Fatih yang masih lelap tidur.
"Dek Fatih," mengusap lembut rambut Fatih.
Bocah kecil itu, menggeliatkan tubuhnya ke kiri dan kanan lalu mengucek mata nya dengan kedua punggung tangan.
Annisa tersenyum manis menyambut Fatih yang baru membuka mata. "Bangun, kita subuh dulu, tapi Fatih mau subuh di sini apa di mama?" tanya Annisa lembut.
"Di Ateu cantik aja," saut Fatih dengan suara serak khas bangun tidur.
Annisa masih mengusap pelan permukaan wajah mungil Fatih. "Ya sudah, sekarang dek Fatih mandi dulu terus ambil wudu yah," ucap Annisa, yang di balas Anggukkan patuh dari Fatih.
Fatih bangun dari tidurnya, dan bergerak merangkak untuk turun dari ranjang di bantu Annisa.
"Handuk nya dan air hangatnya udah Ateu siapkan, mau Ateu bantu lepas pakaiannya?" tanya Annisa yang mengikuti langkah Fatih menuju pintu kamar mandi.
Fatih berbalik menatap Annisa, kemudian menggelengkan kepala. "Tidak usah, kata mama jangan memperlihatkan badan telanjang Atih pada siapa pun kecuali sama mama," tutur Fatih polos, lalu kembali melangkah ke kamar mandi.
Annisa tergugu, menggeleng beberapa kali. "Memangnya Dek Fatih bisa melepaskan pakaian nya?" tanya Annisa yang penasaran, masih mengikuti langkah Fatih.
Di depan pintu kamar mandi fatih berdiri di ambang pintu. "Bisa, mama uda ngajarin Atih caranya," mengulurkan kedua tangan mendorong kaki Annisa. "Ateu cantik tunggu di luar jangan ikut Atih ke dalam, kata mama nanti dosa kalau intip orang mandi. Atih nggak mau Ateu cantik kena dosa."
Bahkan tahu dosa segala, mbak misa sebenarnya sudah sampai mana mbak mengajari Fatih sampai bisa pintar seperti ini. Jadi gemes...
Lagi lagi Annisa terkekeh geli, mengangguk mengiyakan. "Iya iya Ateu tunggu di depan pintu, dek Fatih mandi nya cepetan yah, dan jangan lupa wudu juga, untuk shalat subuh."
Fatih mengangguk lalu...
Brak.
Menutup pintu kamar mandi cukup keras membuat Annisa terperanjat dan tertawa.
Annisa menggelengkan kepala beberapa kali. "Semoga saja dia bisa melakukan nya sendiri, karena biasanya kalau udah nginap di kamar ku dia langsung menuju kamar mbak misa untuk shalat subuh jamaah, tapi ini kok tumben langsung patuh mau di sini," gumam Annisa berbalik, melangkah menuju lemari tempat perlengkapan alat shalat.
--------------------------------
Annisa tengah membereskan makanan hasil memasaknya di atas meja makan untuk sarapan. Setelah shalat subuh bersama Fatih, Annisa langsung terjun ke dapur membuat sarapan, sementara Fatih sudah di jemput pengasuhnya, kembali ke kamar nya untuk bersiap siap sekolah TK.
"An an, semalam pasti fatih tidur di kamar mu lagi yah?" tanya Romisa yang baru memasuki ruang makan di susul Arga.
Annisa tersenyum, dan sibuk mengambil dua teko jus dari ujung meja. "Iya mbak, jangan bilang mau menghukumnya lagi," Annisa berucap sambil mengambil nampan berisi gelas jus yang kosong untuk menuangkan jus ke beberapa gelas.
__ADS_1
"Makhluk kecil nakal sepertinya memang pantas di hukum jika dia salah, adik ipar," Arga bersuara.
Annisa memberikan jus apel dan jus melon ke Romisa juga Arga. "Kesalahan anak kecil jangan di hukum seperti kemarin yang harus berdiri beberapa jam di pojokan, tapi di giring untuk di benarkan ke jalan yang benar secara halus kakak ipar, karena bagaimana pun anak kecil masih terlalu bersih pikiran dan hati nya, sehingga kita harus hati hati dalam menggambarkan setiap sikap yang benar untuk bisa di contohnya," tutur Annisa,
"Benar, dengan apa yang di katakan menantu kedua," sahut Ayah putra yang baru bergabung di susul Asyila dan Fatih yang di gandeng Ayah putra.
"Ayah pun tak setuju dengan hukuman yang selalu kau terapkan untuk cucu ku, biar bagaimana pun ayah tidak pernah menghukum keras pada kalian," Ayah Putra melanjutkan ucapannya sambil duduk dan mengangkat tubuh mungil Fatih untuk di duduk kan.
Arga tersenyum kecil. "Tidak pernah menghukum keras, tapi ayah selalu menjewer telinga anak anak Ayah sampai merah, bukannya itu terlalu keras." Arga yang tak mau kalah, menatap Ayah putra.
Ayah Putra mengambil omlete untuk sarapannya. "Ayah menerapkan hukuman seperti itu, saat usia kalian telah menginjak 10 tahun ke atas, tapi Fatih masih terlalu kecil untuk di hukum keras, Arga," Sangkal Ayah putra kekeh dengan pendapatnya.
Romisa mengusap punggung tangan Arga. "Iya, ada benarnya juga yang di katakan An an, suamiku jangan terlalu keras terhadap Fatih, kadang mbak juga tak tega saat Fatih di hukum oleh papa nya seperti itu," Romisa membenarkan, lalu melirik Arga untuk bertanya akan memakan menu sarapan apa.
Arga diam dan menunjuk menu sarapan yang di inginkannya.
Annisa tersenyum, setelah meletakkan gelas jus yang sudah di isi nya ke anggota keluarga yang lain, kemudian Ia duduk di kursi nya.
Syila membalikkan piring di hadapannya. "Lagi ngomongin apa kakak ipar kedua, kakak ipar kesatu?" Bingung Syila melihat Annisa dan Romisa secara bergantian.
"Tentang mendidik Fatih yang nakal yang suka menyelinap kamar kakak ipar kedua," jawab Romisa, sambil mengambilkan waffle untuk di taruhnya ke piring Arga, juga Roti bakar selai kacang untuk nya.
Asyila tertawa, mengambil sandwich untuk sarapannya. "Memang dek Fatih nakal kakak ipar kesatu, bagai hantu ketika malam hari, suka menyelinap kamar dan tak kasat mata," Asyila menanggapi dengan guyon.
Annisa mengusap kepala Fatih yang kebetulan duduk nya di kursi biasa Egi duduk, di samping Annisa. "Iya tidak nakal, dek Fatih anak baik. Mau makan apa biar Ateu mabilkan?" Annisa bertanya dengan lembut.
Fatih menunjuk roti bakar dengan selai strawberry yang langsung di ambilkan Annisa. Begitu pun untuk diri nya mengambil pancake.
"Jangan terlalu lembut terhadapnya adik ipar, saya bosan mendengar keluhan si Egi yang manja, dia tiap hari meminta saya untuk merantai makhluk kecil ini," ucap Arga, di sela kunyahan nya.
Annisa menoleh alis nya tertaut.
Manja? Si Egi nggak manja.
"Si Egi itu memang terlalu bodoh, sampai anak kecil saja di cemburui." Ayah putra menyahuti sambil menyuapkan potongan omlete ke mulutnya.
Annisa beralih melirik Ayah putra, alis nya bertambah tertaut.
Bodoh? Si Egi di bilang bodoh?
"Iya benar kakak ipar kedua, bahkan Syila saja di suruh harus bisa menjauhkan kakak ipar kedua dari dek Fatih. Kak Egi memang terlalu aneh, sok ngatur dan ngekang terhadap kakak ipar kedua," Asyila menanggapi membahas Egi.
__ADS_1
Annisa menundukkan pandangan nya, memegang garfu dan pisau di masing masing tangan nya.
Aneh? Sok ngatur? Kenapa semua nya memanggil si Egi dengan sebutan yang jelek.
Annisa menggenggam kuat garpu dan pisau yang di pegang nya, wajahnya telah merah padam karena kesal mendengar umpatan jelek tentang Egi.
"Egi bukan bodoh, bukan aneh, dan bukan manja, dia suami Annisa yang sempurna...," ucapan Annisa terjeda sejenak. "Jangan menjelekkan suami ku!" Geram Annisa sedikit meninggikan suara nya.
Seketika suasana di meja makan menjadi hening, semua nya menatap terlongo tak berkedip ke Annisa, pegangan alat makan di masing masing tangan terjatuh dan tanpa ada gerakan lagi dari sekeliling nya kecuali Fatih.
Annisa melirik ke sekitarnya, dan...
Glek... Ia menelan saliva nya dengan kasar, kemudian tersenyum canggung ke orang orang yang tengah menatap bengong ke arah nya.
Gawat, aku kekerasan suara nya. Kenapa bisa kelepasan marah gini sih? Kan malu di depan ayah mertua.
Dengan Ragu Annisa menggerakkan kepala nya untuk menatap."Ay...ayah, Ka..kak Arga, Syi..syila, m..mbak, ke..kenapa kalian menatap Annisa seperti itu?" gugup Annisa melirik satu persatu.
Seperkian detik suasana masih tetap hening.
Ayah putra berdehem menetralkan keterkejutannya, lalu mengambil garfu dan pisau yang baru karena yang sebelumnya sudah terjatuh di luar piring. "Tidak apa Nak, membela suami memang itu keharusan istri."
Romisa tersenyum mengambilkan garfu dan pisau untuk arga juga dirinya. "Iya, mbak juga pasti bakal begitu jika ada yang menjelekkan suami mbak," Romisa menyahuti dan menyenggol lengan Arga. "Iya kan suamiku?" tanya nya yang di balas anggukkan kecil oleh Arga.
Syila menaruh satu porsi sandwich menumpukkan dengan pancake yang di piring Annisa. "Kakak ipar kedua, cobain sandwich ini deh, rasanya enak banget." Ucap Syila mengalihkan pembicaraan.
Wajah Annisa merah padam, Ia memasang senyuman lebar, menatap piring nya tidak berani mengangkat kepala nya lagi karena malu.
Oh, mama papa. Annisa malu sekali, ingin rasanya Annisa bersembunyi di saku doraemon sekarang juga.
Fatih menatap wajah Annisa yang menunduk, dan mengusap sebelah tangan Annisa. "Ateu cantik terimakasih sudah membela Atih di depan mama, papa, juga kakek," celetuk Fatih.
"Dia bukan membela mu makhluk kecil tapi suami nya, Om Egi," jawab Arga yang sudah melanjutkan sarapannya kembali.
"Atih suami Ateu cantik, bukan Om Egi!" Seru fatih menatap sengit ke Arga.
"Ck," Arga berdecak menatap sebal ke Fatih. "Jika adik ku yang man...," ucapan Arga terhenti melirik Annisa sejenak. Kemudian kembali melanjutkan ucapannya. "Maksudnya si Egi itu tahu mungkin sudah habis kau makhluk kecil."
"Sudah, jangan ribut lagi. Habiskan sarapan kalian, Fatih kan harus berangkat sekolah lebih cepat." Instruksi Ayah putra menghentikan perdebatan yang tak akan ada ujung nya jika di lanjutkan.
Hening seketika, semua nya fokus pada sarapan masing masing, namun tidak dengan Annisa yang masih memikirkan kejadian tadi saat diri nya berteriak membela Egi di depan keluarga juga para pelayan. Annisa memakan sarapan nya dengan terus merutuki kebodohannya dalam hati.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Sempatkan klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa...