
Setelah makan malam. Annisa dan Egi tengah berjalan hendak kembali ke kamar nya.
"Egi," panggil Ayah putra.
Menoleh ke arah suara yang memanggil dan menghentikan langkah kaki, begitu pun dengan annisa. "Iya Ayah," sahut Egi.
Tersenyum penuh arti. "Kau harus ingat apa yang di bicarakan tadi sore. Malam ini Ayah mengizinkan nya sebagai malam terakhir, namun kau jangan ambil kesempatan untuk berbuat di luar batas," tegas Ayah putra memperingati.
"Hemm...," gumam Egi mengiyakan, lalu tanpa menunggu ucapan dari ayah Putra lagi. Egi langsung merangkul bahu Annisa yang tampak menatap bingung ke arah nya, dan berjalan sembari menghalau annisa agar mengikuti langkah kaki nya.
Ayah putra menggeleng beberapa kali, melihat tingkah Egi yang menurut nya tidak sopan. "Dasar anak bodoh, orang tua belum selesai bicara langsung di abaikan, benar benar," ucap nya.
Di dalam kamar Egi.
Annisa melepaskan rangkulan tangan Egi yang ada di bahu nya, kemudian memegang kedua pundak Egi agar saling berhadap hadapan. "Apa maksud yang di bicarakan ayah tadi? Malam terakhir, apa maksud nya itu?" tanya Annisa dengan tatapan mengintimidasi.
"Bukan urusan mu," jawab Egi dan melepaskan cengkraman Annisa di kedua pundak nya. Lalu melengos berjalan ke arah sofa tv.
Membuntuti langkah kaki Egi. "Bocah, kau ini kan suami ku. Kenapa setiap kali aku bertanya tentang kau, pasti jawaban nya bukan urusan mu. Bukan urusan mu. Kau ini tidak menganggap aku ini sebagai istri mu hah! Atau kau masih menganggap aku sebagai orang lain di hidup mu!" cerocos Annisa dengan nada suara cukup tinggi.
Egi menghentikan langkah nya, dan berbalik menatap dingin ke Annisa, namun masih tidak membuka suara. Annisa yang tengah membuntuti ikut berhenti dan mendongak membalas tatapan mata Egi.
"Dan seperti ini, jika tidak menjawab bukan urusan mu. Kau pasti akan menatap ku seperti ini. Apa kau masih susah melupakan mbak misa? Dan kau masih menganggap ku sebagai orang asing?" tanya Annisa menatap sedikit memicing geram ke egi. Dan menghela napas panjang, menunduk kan pandangan setelah tidak mendapat jawaban dari lawan bicara nya, karena egi hanya diam dan menatap nya dengan tatapan dingin. "Sudah ku duga kau masih menganggap ku orang asing," ucapan Annisa dengan nada rendah dan berbalik hendak melangkah.
Namun belum kaki annisa melangkah menjauh, egi dengan gerakan cepat menarik dan memeluk tubuh annisa dari belakang.
"Egii!" Pekik Annisa kaget dengan nada sedikit meninggi.
Egi memerangkap dan memeluk erat tubuh annisa. "Sudah selesai bicara," ucap Egi menundukkan kepala ke pundak annisa agar lebih dekat dengan wajah Annisa. "Semua pertanyaan mu masih sama seperti sebelumnya, bukannya aku telah menjawab semua pertanyaan mu sewaktu di villa, kenapa kau masih banyak bertanya dan mengoceh gak jelas!" ucap Egi dengan nada rendah dan tegas di telinga Annisa.
Mendelik ke arah Egi yang ada di sisi wajah nya. "Jelas aku mengoceh, karena sikap mu masih begini terhadap ku meskipun pengakuan mu kemarin terlihat tulus, tapi sikap mu tidak berubah pada ku," sahut Annisa dengan nada sebal.
Egi mengendus di sekitar pundak annisa sebelum berucap kembali. "Aku harus bersikap seperti apa?" tanya nya.
Annisa melonggarkan pelukan tangan Egi yang ada di perut dan leher nya. Kemudian berbalik agar berhadap hadapan, namun tangan egi masih bertengger merangkul pinggang nya.
Annisa melirik ke bawah memegang kedua lengan Egi. "Bisakah kau lepaskan tangan mu, aku serasa tidak leluasa mengobrol nya," tegur Annisa.
Menggeleng kecil, dan semakin merapatkan pelukan nya di pinggang annisa.
"Hey! Aku tak leluasa jika begini, lepaskan tangan mu!" Omel Annisa mencekal lengan Egi.
"Tidak mau," tegas Egi.
Menatap tajam ke Egi. "Egiii," geram Annisa.
Egi tersenyum kecil, lalu menghalau tubuh annisa untuk di peluk nya. "Begini lebih baik," ucap nya.
__ADS_1
Annisa yang memberontak dari pelukan egi, akhirnya menyerah pasrah dan menghela napas panjang, setelah Egi menekan tubuh annisa agar tidak bisa bergerak melawan. "Dasar suami bocah, keras kepala," gerutu Annisa kesal.
Mengusap kepala Annisa yang ada dalam pelukan nya. "Jangan mengumpat seperti itu, suami mu mendengar nya," ucap Egi kemudian tersenyum kecil.
"Aku juga tidak akan mengumpat jika kau tidak membuat ku kesal terus," sahut Annisa ketus.
"Hemm...," gumam Egi sambil mempererat pelukan nya. "Katakanlah apa yang membuat mu kesal terhadap ku, annisa," titah Egi.
Menghembuskan napas pelan. Dan melingkarkan tangan ke punggung Egi. "Aku hanya ingin tahu semua tentang mu egi, dan tidak ada yang di tutup tutupi dari ku lagi," ucap Annisa.
"Apa yang ingin kau ketahui tentang ku lagi? Semua nya kau sudah mengetahui nya," jawab Egi dengan nada tenang sambil mengusap punggung annisa.
Annisa mendorong dada Egi agar memberi nya jarak untuk bisa menatap wajah Egi. "Semua nya, Aku ingin mengetahui nya. Termasuk tadi, yang ayah katakan pada mu. Apa yang di maksud malam terakhir?" tanya Annisa menatap kedua manik mata hazel Egi.
Tersenyum kecil dan meraih dagu Annisa dengan jemari agar fokus mengarah pada nya. "Beberapa tahun ke depan Ayah meminta ku agar tidak tidur sekamar dengan mu lagi. Untuk memfokuskan pada karir dan pendidikan," tutur Egi jujur.
Itu artinya, aku tidak akan di sentuh oleh nya. Dan si egi tidak akan menagih atau bersikap mesum terus dong terhadap ku. Ayah mertua memang is the best deh. Tahu saja jika aku belum siap dengan hal ini.
Seketika raut wajah annisa berubah senang, dan mata nya melebar berbinar bahagia. "Jadi maksud nya pisah ranjang?" tanya Annisa meminta kejelasan.
Mengangguk mengiyakan, kemudian Egi menunduk mendekatkan wajah nya ke wajah annisa sehingga deru napas kedua nya bertemu. Sontak pipi annisa bersemu merona, dan mengalihkan tatapan ke arah lain agar tidak bertemu tatap dengan Egi.
Dia selalu bersikap seperti ini. Tidak tahu kah sikap nya ini, selalu membuat jantung ku seakan keluar, dan tubuh ku lemas pasrah seakan tak bertenaga dan sulit menolak nya.
"Kenapa kau terlihat sangat senang annisa? Apa kau pikir dengan pisah ranjang, itu akan membuat mu bebas dengan kewajiban mu sebagai istri ku...," tutur Egi lalu melepaskan kerudung di kepala Annisa dan melemparkan ke sofa ruangan. "Itu tidak mungkin, kewajiban tetap kewajiban," tegas nya setengah berbisik di telinga annisa.
Annisa yang memejamkan mata nya rapat rapat, sontak terbuka lebar saat memdengar kalimat terakhir yang di ucapkan Egi. "Aku... aku tahu kewajiban ku," ucap Annisa gugup dan kembali mendorong dada Egi agar rangkulan tangan egi di pinggang nya terlepas. "Tapi bisakah lepaskan aku. Jangan bicara terlalu dekat seperti ini."
"Hey! Aku bilang lepaskan! Bukan meminta mu menggendong ku!" Teriak annisa memberontak dalam gendongan Egi.
Tersenyum misterius dan semakin mempererat cengkraman di bahu juga kaki annisa. Lalu berjalan ke arah ranjang.
Annisa terdiam menatap seringaian bibir dan tatapan dari mata Egi yang sulit di artikan oleh nya.
Seperti familiar senyuman nya ini... pasti dia akan melakukan hal tak terduga lagi. Hah kenapa si Egi berkembang pesat seperti ini.
Bruk.
Egi menghempaskan Annisa ke atas kasur. Serentak Annisa langsung menghadangkan kedua tangan di depan dada sebagai pertahanan. "Ka..ka..kau mau apa Egi?" tanya Annisa yang sudah memasang wajah waspada.
Egi melepaskan kedua kancing atas kemeja nya. Dengan tatapan tidak lepas ke annisa dan tersenyum misterius. "Kita habiskan malam ini dengan penuh cinta, annisa. Karena mulai besok kita akan terpisah ranjang," ucap Egi dengan nada rendah dan menggoda.
Annisa semakin panik, dan menggeliatkan tubuh untuk menjauh dari perangkap kaki egi yang telah memerangkap tubuh bagian bawah nya.
Apa maksud nya malam penuh cinta? Dia... dia tidak akan melakukan hal itu kan? Aku benar benar belum siap... oh mama papa.
Egi membungkuk dan menyiku kan kedua tangan di setiap sisi kepala annisa dan merapatkan tubuh nya dengan tubuh annisa, sehingga tampak diri nya di atas annisa. "Jangan lari dari tanggung jawab mu sebagai istri ku, annisa ku sayang...," bisik Egi di sisi wajah Annisa.
__ADS_1
Seketika tubuh annisa bergetar dan memanas sampai menjalar ke pipi nya memerah merona. Soal jantung jangan di tanya, sudah berdegup sangat cepat seakan keluar. "Eg..eg..egi... ja..jangan lakukan ini sekarang. Aku...aku..," terbata Annisa dengan memalingkan wajah ke arah lain.
Dia benar benar membuat ku.. sulit berkata lagi.
"Kau jangan berkata belum siap lagi annisa. Aku tidak akan mengasihani mu kali ini. Sudah seharusnya sedari dulu aku meminta hak ku sebagai suami mu, annisa ku sayang." Tutur Egi setengah berbisik masih di telinga sisi wajah Annisa.
Tubuh annisa semakin gemetar dan memejamkan mata rapat rapat berpaling wajah dari Egi.
Aku harus bagaimana, apa kali ini aku tidak bisa menolak nya lagi... semoga saja kemauan nya bisa batal.. aku belum siap.
Egi tertawa pelan kemudian menangkup wajah annisa dengan sebelah tangan, agar menghadap pada nya. "Annisa, aku hanya bercanda. Kenapa kau sampai bergetar seperti ini? Apa kau memang telah merelakan kehormatan mu untuk ku malam ini?" ucap Egi tersenyum geli sambil mengusap pipi annisa dengan ibu jari.
Mendengar penuturan dan tawa Egi. Dengan gerakan mengintip, annisa membuka mata nya sehingga kini tatapan nya langsung bersirobok dengan mata Egi, dan sambutan senyuman jahil dari bibir egi. "Kau mengerjai ku!" Ujar Annisa dengan nada ketus kemudian mendorong dada Egi namun tak bergeming.
"Hey kenapa kau marah? Apa kau benar benar mengharapkan malam ini adalah malam penuh cinta kita?" ucap Egi kembali menggoda annisa.
Membuang muka ke arah kepala ranjang. "Jangan mimpi! Aku... aku tidak pernah mengharapkan hal seperti itu!" Ketus annisa. Lalu mendelik tajam. "Dan minggirlah dari tubuh ku, membuat ku sesak saja."
Egi mengusap bibir annisa dengan jemari nya. "Aku tidak akan minggir dari tubuh mu, sebelum kau membiarkan aku mencicipi ini sampai puas, dan jangan ada kata penolakan atau berontak dari mu, sampai aku berhenti," tutur Egi menatap intens ke Annisa meminta persetujuan.
Seketika annisa speechless tak berkedip dan diam menatap tak percaya ke Egi.
"Buat apa kau berkata seakan meminta izin dari ku! Jika akhir dari kalimat mu itu sama saja ini merujuk ke penekanan terhadap ku! Dasar bocah...," ucapan Annisa menggantung tersumpal oleh Egi. Yang tiba tiba mencium dan membungkam bibir Annisa dengan bibir nya.
Dasar bocah mesum... sekian kali nya, salegi melakukan ini secara tiba tiba lagi tanpa mau mendengar penolakan dari ku.
-----------
Annisa terdiam dengan hati dongkol dan tidur membelakangi Egi yang tampak tersenyum menang.
Memegang bibir nya yang bengakak merah akibat ulah Egi, dan mencengkram kuat selimut yang menutupi nya hanya sebatas pinggang. "Kenapa kau sampai menggigit bibir ku segala hingga bengkak seperti ini, seperti di gigit tawon saja, salegii sebenarnya berapa lama kau melakukan nya! Awas saja jika sampai besok bibir ku tidak kembali ke semula, jangan harap kau bisa melakukan nya lebih lama seperti tadi," cerocos Annisa kesal.
Terkekeh senang kemudian Egi mendekati annisa dan menyangga kepala dengan sebelah tangan, kemudian membenarkan selimut agar menutupi annisa sampai bahu. "Memang aku tawon besar yang berburu madu menggiurkan di bibir mu. Tapi tenang saja, akan ku pastikan besok pagi bibir mu kembali normal, dan aku bisa...," ucap Egi terhenti.
Annisa melirik tajam ke arah Egi yang ada di atas kepala nya. "Dan aku apa! Jangan harap, karena mulai besok kita pisah ranjang!" Sanggah Annisa kemudian menarik selimut dan menutupi sampai ke kepala.
Egi tertawa geli, dan mendaratkan kecupan di puncuk kepala annisa sebelum berbaring di samping tubuh annisa dan menarik selimut yang sama. "Kau sangat menggemaskan sekali annisa ku, semakin sulit aku melupakan kejadian tadi yang penuh cinta," gumam Egi.
Annisa menendang kaki Egi yang ada dalam selimut, ketika mendengar gumaman kata 'penuh cinta' membuat annisa semakin dongkol dengan kejadian barusan yang di alami nya. "Diam bocah mesum!" Teriak Annisa kesal.
Menoleh ke arah annisa dan tersenyum tipis. "Penuh cinta annisa ku," goda Egi.
"Aku bilang diam! Dasar mesum!" Sanggah Annisa di balik selimut dan menumpangkan kaki di kaki Egi.
"Kau mau menggoda ku lagi annisa, mari kita lakukan lagi hal penuh cinta," ucap Egi semakin menjadi.
"Salegiii," teriak Annisa geram.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Setelah Membaca Budayakan Tekan Tombol LIKE dan Tinggalkan JEJAK yaaa. Biar tambah semangat Author nya.