
Kriing...kriing. bunyi jam weker di atas nakas sangat nyaring, membuat Annisa harus secara paksa ketarik ke alam sadar nya.
Annisa mengusek mata nya sebelum mengerjap perlahan untuk terbuka.
"Hoaam...," menguap menutupi mulut terbuka dengan telapak tangan, dan sambil bangkit dari tidur nya lalu meregangkan otot otot tangan dan punggung.
"Eh, kapan aku sampai di kamar si egi? Bukannya tadi masih di dalam mobil?" Bingung Annisa setelah membuka mata dan melihat sekitar nya.
"Apa si Egi yang membawa ku ke kamar?" Oceh Annisa kemudian menyingkap selimut dan menurunkan kedua kaki dari ranjang. "Haish... berisik amat jam weker ini, siapa yang menyetel nya sih," gerutu Annisa memukul jam weker sehingga terhenti berbunyi lagi.
Melihat jarum jam di dalam jam weker yang di pukul nya tadi. "Ternyata sudah lewat adzan magrib. Hah sebaiknya aku mandi dan bersiap shalat," gumam nya beranjak dari ranjang dan melangkah menuju pintu kamar mandi.
Beberapa waktu kemudian.
Annisa telah selesai membersihkan diri dan melaksanakan shalat magrib di lanjut shalat isya.
"Kemana si bocah mesum itu? Sudah lewat isya pun dia masih belum kembali ke kamar. Hah lebih baik aku bertemu mbak misa sajalah, sekalian lihat si dedek fatih," gumam Annisa dan berjalan ke arah pintu keluar untuk menuju kamar Romisa.
-----------------------
Di kamar Romisa.
"Suamiku, aku hanya ingin mencurahkan kasih sayang terhadap anak kita. Agar tidak ke kurangan kasih sayang orang tua, jadi izinkan aku untuk merawat dan mengasuh segala nya tanpa bantuan babysitter," ucap Romisa sembari menggendong bayi dalam pelukan nya dan merajuk memelas ke arga yang tengah duduk di sofa tv.
Arga diam tanpa kata, dia tetap fokus menatap layar laptop di hadapan nya dan tidak menoleh sedikit pun pada Romisa yang duduk di samping nya.
Menghela napas pelan, dan mengusap kepala fatih yang ada dalam gendongan nya. "Apa kau ingin anak kita kekurangan kasih sayang orang tua, dan nanti nya malah sayang dan bahkan bisa menganggap pengasuh nya itu adalah ibu nya, bukan aku yang telah melahirkan," tutur Romisa dengan nada sedih.
Mendengar nada suara Romisa yang berubah. Arga melirik dan mengulurkan tangan untuk mengusap puncuk rambut Romisa. "Aku melarang mu, merawat dia karena tidak mau kau kelelahan, apalagi sampai kau sakit," jawab Arga dengan nada tegas dan tenang.
Romisa menengadahkan wajah nya untuk menatap langsung ke Arga. "Baiklah, aku akan menerima pengasuh itu..," ucap Romisa lalu menunduk mengusap pipi merah fatih dengan lembut. "Tapi aku akan tetap memberikan ASI untuk nya juga soal menidurkan dan mengajak bermain dia. Hanya aku yang boleh melakukan nya, selebihnya biar pengasuh yang melakukan nya," tutur Romisa.
Arga mendekat dan mengecup lembut kening Romisa, lalu tersenyum. "Asal kau tidak kelelahan, dan tidak melupakan kewajiban atas suami mu. Aku akan mengizinkan nya," ucap Arga membuat Romisa mengulas senyuman senang.
Tok... tok... tok.
Pintu kamar Romisa di ketuk dari luar. Seketika kedua nya menoleh ke arah suara.
"Biar aku lihat siapa yang datang, pakailah kerudung mu romisa," titah Arga, beranjak dari duduk nya dan berjalan menuju pintu tunggal di ruangan luar.
Ceklek.
Arga membuka pintu tunggal itu yang menampilkan Annisa tersenyum ramah dari balik pintu tersebut.
"Assalamualaikum, kak Arga," sapa Annisa masih mengulas senyuman ramah.
"Walaikumsalam. Masuklah!" Jawab Arga dan mempersilahkan Annisa untuk masuk ke dalam.
Annisa melangkah kan kaki nya ke kedalaman kamar romisa.
"Mbak nya ada di dalam?" tanya nya sedikit canggung.
"Ada. Kapan kau kembali? Kau tidak di lukai laki laki gila itu kan?" tanya Arga membalikkan badan menatap Annisa.
Menggelengkan kepala cepat dan tersenyum tenang. "Aku baik baik saja kak Arga. Dan Egi dengan tepat menyelamatkan aku sebelum hal buruk terjadi," ucap Annisa.
__ADS_1
Bernapas lega dan masih menatap datar. "Jangan bahas soal ini di depan romisa, dia tidak mengetahui soal kau hilang. Karena kau tahu sendiri kondisi nya, dan maaf kakak tidak bisa membantu mu saat itu, lagian telah ada ayah dan egi menyelamatkan mu," tutur Arga masih berdiri di ambang pintu kembar yang tertutup.
"Baik kak Arga, aku mengerti," sahut Annisa mengangguk kecil.
"Sebaiknya kau lebih berhati hati lagi soal mengenal orang. Jangan di lihat dari casing nya saja kalau menilai orang. Buktinya laki laki gila itu terlihat baik padahal dalam nya jauh lebih busuk dari casing orang yang terlihat kejam," nasihat Arga, kemudian berbalik maju membuat pintu kembar otomatis bergeser, lalu Ia masuk ke dalam kamar meninggalkan annisa yang masih berdiri mematung terbengong.
Benar kata kak Arga, aku pun tidak menyangka jika kak Alan akan berbuat seperti itu pada ku. Padahal selama aku mengenal nya, dia sangat menghormati ku dan terlihat ramah, sopan.
"Adik ipar!" Panggil Arga dengan suara cukup tinggi dari dalam kamar, membuyarkan lamunan Annisa.
"Eh, iya..," sahut Annisa dan melangkah masuk ke dalam kamar romisa.
"An an," sapa Romisa yang duduk di sofa ruangan sambil memangku fatih.
Annisa berjalan menghampiri Romisa dan duduk di samping nya. "Apa kabar dedek fatih, keponakan nya Ateu?" celoteh Annisa mengusap usap pipi fatih.
"Aku sangat sehat Ateu cantik," sahut romisa seakan menirukan suara Fatih.
"Tidak dinas An?" tanya Romisa menatap Annisa.
Menggelengkan kepala pelan. "Kebagian shift pagi. Dan pulang dinas langsung kemari karena kangen dedek Fatih," jawab Annisa menghindari kontak mata dengan romisa karena takut ketahuan berbohong.
"Tapi dedek fatih tidak kangen Ateu," ucap romisa dan tertawa pelan.
Annisa ikut terkekeh dan kembali memainkan pipi merah fatih.
Arga yang ada di sofa tv, berjalan menghampiri romisa dan Annisa yang ada di sofa ruangan. Dan bersamaan dengan itu, pintu kembar kamar nya terbuka yang memunculkan Egi, memasuki kamar dengan tatapan fokus ke Annisa.
Sontak Annisa mengalihkan pandangan nya menatap ke arah pintu yang terdengar berderet menggeser.
Arga yang telah menyender di lengan sofa samping Romisa. Mensedekapkan tangan di depan dan menatap tajam ke Egi. "Kau tidak punya tangan dan mulut, sehingga sulit hanya untuk mengucapkan salam atau mengetuk pintu!" Sarkase Arga dengan nada suara mengejek.
Egi ikut berdiri menyender di samping sofa yang di duduki Annisa dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana. Membalas tatapan tajam Arga dan tersenyum miring. "Buat apa aku harus melakukan hal itu, bukannya ini rumah keluarga," ucap Egi menanggapi Arga.
"Memang benar ini rumah keluarga, dan di dalam keluarga ini ada aturan nya. Yaitu salah satu nya, harus sopan ketika akan memasuki kamar salah satu anggota keluarga. Apa kau benar benar telah melupakan aturan yang tertera dalam keluarga kita!" tegas Arga yang tidak mau kalah.
"Hemm...," gumam Egi yang malas menanggapi perdebatan dengan Arga.
"Cih!" Decih Arga dan tersenyum miring lalu melirik Romisa.
Annisa menarik lengan kemeja yang Egi pakai. "Kau jangan begitu, tidak sopan tau sama kak arga," tegur nya dengan setengah berbisik.
Tersenyum kecil, "kalau kau tidak suka aku berbuat onar di sini, lebih baik kita kembali ke kamar saja," jawab Egi dengan suara berbisik ke telinga Annisa.
Menautkan alis sebal. "Aku baru saja bertemu dengan dedek fatih, kau mau memisahkan kita," ucap Annisa dengan nada sebal.
"Ekhem...," dehem Arga membuat kedua nya teralih menoleh ke arah nya. "Romisa jika fatih sudah tidur, tempatkan dia ke box nya untuk tidur, jangan kau gendong terus. Apa kau tidak pegal?" tutur Arga memerintah pada romisa yang tengah mengelus mengayun ambing bayi dalam gendongan nya.
"Sebentar suamiku, dia masih belum lelap sekali tidur nya," sangkal Romisa.
"Jika mbak merasa pegal, biar Annisa yang gantikan mbak. Annisa ingin gendong fatih tampan ku," tawar Annisa mengulurkan kedua tangan ke arah Romisa.
Romisa semakin merapatkan pelukan nya di tubuh Fatih dan menjauhkan dari uluran tangan Annisa. "Tidak perlu An an, mbak nggak terasa pegal kok. Malah mbak sangat senang menggendong nya seperti ini," tolak nya halus dan tersenyum.
Mencebikkan bibir sebal dan menatap memelas ke Romisa. "Annisa ingin menggendong nya sebentaar saja mbak, boleh yah... boleh yaah," ucap Annisa memohon.
__ADS_1
Romisa menggelengkan kepala kuat. "Tidak Annisa, nanti saja. Fatih baru saja tertidur, jika dia terbangun akan sulit di tenang kan."
"Mbak, kok gitu sih. Annisa bisa kok menenangkan nya, jadi sini biar annisa gendong." Kekeh Annisa yang ingin menggendong fatih.
Sementara Arga dan Egi yang sudah berdiri di hadapan kedua nya. Dan melihat pemandangan Annisa dan Romisa yang saling berebut, menatap sebal ke arah fatih.
Masih mensedekapkan tangan di depan dan berdiri di samping Egi. "Makhluk kecil, baru beberapa hari kau lahir. Sudah membuat kedua wanita saling berebut," gumam Arga pelan.
Berdiri santai dengan tangan di saku celana. "Kakak kenapa harus melahirkan anak laki laki, sehingga ketampanan kita terkalahkan oleh makhluk kecil itu," sahut Egi menanggapi gumaman Arga.
"Aku tidak merasa ketampanan ku terkalahkan oleh makhluk kecil itu," ucap Arga menatap Egi dengan sombong.
Tersenyum mengejek. "Benarkah? Mari kita lihat, seberapa tampankah kakak di antara aku, makhluk kecil itu, dan ayah. Kita coba dengan mengalihkan perhatian mereka saat ini dari si kecil, jika teralihkan berarti memang harus di akui," tantang Egi.
Mengangguk mengiyakan lalu kedua nya kembali menatap Romisa dan Annisa yang masih berdebat saling berebut ingin menggendong Fatih. "Kau duluan," titah Arga.
Tersenyum kecil sembari menatap lurus ke arah kedua nya. "Annisa," panggil Egi dengan nada suara tegas dan jelas.
Namun di abaikan oleh Annisa yang masih asyik berdebat dengan Romisa.
Cih! Ternyata dia berani mengabaikan ku.
Arga terkekeh pelan menertawai Egi yang sudah memasang wajah tanpa ekspresi. "Bagaimana mungkin wajah seperti mu ingin bertanding ketampanan dengan ku, sedangkan adik ipar saja sama sekali tidak menoleh pada mu," ejek Arga.
Menoleh dan menatap sebal ke Arga. "Coba saja apa kakak bisa mengalihkan perhatian mereka berdua, jika berhasil aku akan mengakui nya kalau kakak lebih tampan dari ku, si kecil itu atau bahkan dari semua laki laki di rumah ini," ucap Egi menantang arga.
"Baiklah, kau lihat saja." Tersenyum percaya diri dan berdehem sejenak sebelum menatap kedua wanita yang masih asyik berebut mendapatkan fatih.
"Romisa," panggil Arga dengan nada tegas dan jelas.
Sreet.
Pintu kembar kamar terbuka memunculkan seorang gadis masuk ke dalam nya. Membuat Annisa dan Romisa serentak menoleh ke arah pintu yang terhalang oleh badan Egi dan Arga.
Tersenyum senang. "Kau lihat, bukan romisa saja yang menoleh tetapi adik ipar pun sama menoleh ke arah ku, itu artinya aku yang paling tampan dari kau dan makhluk kecil itu, kau harus mengakui nya," ucap Arga bangga.
Mendelik menatap nya mencemooh ke Arga. "Kakak kau jangan merasa bangga, mereka menoleh bukan karena panggilan mu, tapi Asyila memasuki kamar ini," ucap Egi mengejek.
Eh, benarkah?
Membuat Arga seketika melirik ke arah pintu dengan gerakan pelan, dan memang benar Asyila tengah berjalan menghampiri ke arah nya.
"Hah... rupa nya kita memang telah kalah oleh makhluk kecil itu," gumam Arga kecewa membuat Egi menahan tawa nya dan tersenyum miring lalu kembali memperhatikan Annisa.
"Kakak ipar ke satu, kakak ipar kedua juga ada di sini. Bagaimana dedek fatih udah tidur kah? Yaah... padahal syila ingin menggendong nya," cerocos Asyila yang sudah duduk di sofa di antara Romisa dan Annisa.
Dan terlibatlah percakapan antara Annisa, Romisa dan Asyila.
Sementara arga dan Egi yang masih mengawasi mereka hanya menghela napas panjang. "Bahkan adik kita pun sama, telah mengakui ketampanan makhluk kecil itu, sehingga ikut berebut dengan mereka," gumam Arga.
"Hemm...," gumam Egi mengiyakan perkataan Arga.
BERSAMBUNG...
Setelah Membaca Budayakan Tekan Tombol LIKE dan Tinggalkan JEJAK yaaa. Biar tambah semangat Author nya.
__ADS_1