Pejuang Move On

Pejuang Move On
Keinginan


__ADS_3

Di ruangan putra.


Egi duduk di sofa tunggal bersebrangan dengan ayah putra.


Dengan kaki menyilang mentap egi intens, "ada apa egi, kau pagi buta datang ke kamar ayah. Apa yang hendak kau bicarakan?"


Membalas tatapan ayah putra, "egi ingin membicarakan soal kuliah." Ucap egi.


"Kuliah? Ada apa dengan soal kuliah, apa kau sudah mendengarkan ayah dan berniat untuk kuliah di london?" Tanya ayah putra serius.


Egi menggeleng kecil sebagai jawaban tidak, "egi hanya ingin kuliah di kampus yang bersebrangan dengan kampus Annisa," tutur nya.


Mengusap dagu nya dengan jemari dan mengangguk kecil, "apa yang membuat mu ingin melanjutkan pendidikan di kampus itu?" Tanya ayah putra.


Egi terdiam hanya menatap serius ke ayah putra.


Dan ayah putra yang seakan mengerti arti tatapan mata egi, Ia terkekeh pelan sejenak. "Baiklah, ayah akan mendaftarkan pendidikan mu di kampus itu, memang pasangan muda sulit di pisahkan." Ucap ayah putra kemudian tersenyum.


Egi tersenyum kecil dan menundukkan pandangan sejenak, kemudian kembali menatap ayah putra.


"Ekhem.." dehem ayah putra.


"Nak, ayah ada permintaan. Bisakah kau memenuhi nya, ini demi kebaikan rumah tangga mu dengan nak annisa," tutur ayah putra lamat lamat menatap egi.


Alis egi berkerut, "apa itu ayah?" Penasaran egi.


"Ayah ingin kalian berdua pindah dari rumah ini," ucap ayah putra.


Sejenak egi sempat tertegun menatap ayah putra, "kenapa harus pindah ayah? Apakah ayah mengusir kami, dengan cara halus seperti ini?"


Menggeleng pelan, "tidak, ayah tidak punya niatan seperti itu terhadap mu dan menantu kedua ayah. Hanya saja, ayah masih ragu terhadap mu egi. Karena ayah tahu meskipun kau bilang telah melupakan nak romisa, pasti saat ini di hati mu masih ada nama nak romisa, ayah tidak mau nak annisa sampai tahu jika kau mempunyai perasaan terhadap kakak ipar mu sendiri. Ingat egi, kau sudah mempunyai istri yang harus kau jaga seluruh jiwa dan raga nya, jadi sebelum nak annisa mengetahui nya lebih baik kau belajar melupakan perasaan itu dengan cara menjauhkan kalian berdua dari rumah ini. Dan tata hatimu sebaik mungkin untuk nak annisa yang jelas jelas sudah menjadi istri sah mu," tutur ayah putra panjang.


Egi termenung menatap ke atas meja, memikirkan apa yang ayah putra katakan pada nya.


Benar kata ayah, jika aku berada di sini terus pasti perasaan ku terhadap s brandal akan terkecoh kembali, karena keberadaan nya misa di sini. Memang dulu aku menginginkan untuk tetap di samping misa, tp sekarang perasaan ku berbeda, yang ku inginkan sekarang hanya ingin selalu dekat dengan annisa wanita brandal ku.


Menghela napas pelan lalu menatap ayah putra, "baiklah ayah, egi menyetujui permintaan ayah." Mantap nya.


"Syukurlah, ayah melakukan ini demi kebaikan mu dan nak annisa, jadi jagalah hubungan kalian dan bina rumah tangga dengan sebaik baik nya nak, terutama jaga nak annisa.. karena dia wanita yang sangat baik," ucap ayah putra.


Mengangguk kecil, "itu pasti ayah." Jawab egi.

__ADS_1


"Dan soal tempat tinggal kalian nanti, ayah sudah menyiapkan nya, kalian tinggal tempati saja kapan pun kalian mau," ucap ayah putra yang di balas anggukkan kepala oleh egi.


"Baik ayah, egi akan memberitahukan nya dahulu pada annisa, untuk kapan nya nanti egi kabari lagi," ucap egi lalu Ia berdiri dari duduk nya.


"Ayah, mari kita sarapan, annisa pasti telah menunggu kita di meja makan," sambung egi yang di balas anggukkan kepala oleh ayah putra, kemudian egi berjalan melangkah hendak ke pintu keluar.


"Egi.." panggil ayah putra menghentikan egi yang hendak memutar kenop pintu.


Menoleh ke belakang, "iya ayah." Sahut nya.


"Kau jangan memanggil menantu kedua ku dengan sebutan brandal, ayah tak suka menantu sebaik dan secantik nak annisa kau namai brandal. Apa kau tidak merasa terlalu buruk dan jelek dengan sebutan seperti itu," seloroh ayah putra dengan nada tegas.


Tersenyum kecil, "menurut egi tidak buruk bahkan sangat pas untuk nya, dan juga hanya egi yang boleh memanggil nya seperti itu, karena itu panggilan sayang egi pada nya." Jawab egi kemudian memutar kenop pintu dan keluar dari ruangan ayah putra.


Menghela napas panjang. "Panggilan sayang... panggilan sayang.. panggilan sayang kok aneh gitu, ada ada saja anak itu. Huh..." gumam ayah putra dan ikut beranjak dari duduk nya untuk menuju ruang makan menyusul egi.


----------


Egi telah memasuki ruang makan, dan begitu sampai mata nya langsung bersirobok dengan sesosok wanita yang tengah membereskan masakan di atas meja makan, bibir egi langsung membentuk simpul senyuman yang tidak terlihat oleh wanita itu karena belum menyadari kehadiran nya.


Berjalan mendekat dan berdiri di samping annisa.


Annisa mengalihkan pandangan nya dari masakan yang tengah di tata, "egi. Duduk lah, aku mau mengambil jus dulu sebentar," ucap annisa menarik kursi makan untuk egi.


Menoleh ke egi, "kenapa?" Tanya annisa heran.


"Tidak perlu ke dapur lagi, biar pelayan bawakan kemari jus nya. Kau duduklah," tegas egi kemudian menarik kursi di samping kiri nya.


Annisa terdiam sejenak dan menatap egi, "tapi egi dapur nya kan cukup dekat, tidak apalah biar aku saja yang mengambil. Sebentar yah," sanggah annisa yang masih berdiri.


"Tidak. Duduk!!" Tegas egi lagi menatap dingin ke annisa.


Menghela napas pelan, "baiklah..baiklah. jangan menatap ku seperti itu bocah, menakutkan tahu." Pasrah annisa kemudian duduk di kursi nya.


"Maka nya kau harus nurut pada ku brandal, aku tak suka kau membantah perintah ku," ucap egi.


Annisa mengangguk angguk beberapa kali, "iya.. iya deh. Eh, keluarga yang lain pada kemana yah, kok belum pada muncul. Padahal kan udah jam segini," heran annisa sembari celingak celinguk melihat ke arah pintu masuk ruang makan.


"Jangan tunggu mereka, aku sudah lapar. Ambilkan makanan untuk sarapan ku," pinta egi.


Beralih menoleh ke egi, dan mengambilkan menu yang di masak nya, "aku memasakkan waffle saus strawberry untuk mu, makanlah." Menaruh satu porsi waffle ke piring egi.

__ADS_1


Egi menatap makanan di piring nya lalu mulai memegang garpu dan pisau.


"Kakak ipar kedua, pagi.." sapa syila yang baru datang dan duduk di kursi samping annisa.


Tersenyum. "Pagi syila.." balas nya.


"Syila, kakak sulung dan kakak ipar ke satu kemana. Kenapa mereka berdua belum kemari?" Tanya ayah putra yang baru datang juga dan langsung duduk di kursi nya.


Annisa ikut menatap ke arah syila, menunggu jawaban dari bibir syila. Sementara egi, tampak acuh dan sudah sibuk memakan sarapan nya.


"Kakak ipar ke satu lagi di periksa dokter. Di kamar nya ada dokter yang datang pagi pagi sekali, dan sekertaris Tang juga sudah datang dari subuh tadi." Tutur syila sembari mengambil menu sarapan nya.


Seketika mata annisa membulat kaget, "periksa dokter!!" Ulang annisa karena kaget.


Mengangguk mengiyakan, "iya kaka ipar kedua," jawab syila.


"Mbak misa tidak apa apa kan syila, kenapa sampai harus di periksa, aku.. aku.. ingin melihat nya," cerocos annisa dan hendak bangkit dari duduk nya.


Namun, tangan annisa di cekal oleh egi sehingga mengurungkan niatan annisa yang hendak beranjak.


"Dengarkan dahulu penjelasan syila," tegas egi.


"Tapi syila bilang ada dokter, pasti mbak misa kenapa napa egi, aku ingin melihat nya." ucap annisa.


egi masih mencekal lengan annisa dan hendak berucap namun ayah putra lebih dulu berucap pada annisa.


"Nak annisa apa yang di kata egi itu benar, ada dokter belum tentu nak romisa kenapa napa. Jadi mari kita dengarkan dahulu dari penjelasan syila yang sudah melihat nak romisa," tutur Ayah putra.


Annisa menurut diam kemudian Ia menatap kembali ke syila, meminta kejelasan lebih dari nya.


"Jelaskan selebih nya syila," pinta ayah putra menengahi.


"Kakak ipar kedua jangan ke sana dahulu, percuma. Soalnya syila aja tadi di larang masuk oleh kak arga, sampe sampe di bentak. Lagian, kelihatan nya juga kakak ipar ke satu tidak sakit parah, malahan terlihat baik baik saja. Mungkin, hanya check up kandungan kali," tutur syila membuat annisa bernapas lega.


"Syukurlah, aku sangat mencemaskan mbak misa." Ucap annisa lega.


"Tenanglah nak annisa, nanti kau bisa memastikannya sendiri. Sekarang kau sarapanlah," ucap ayah putra menenangkan yang di balas anggukan kepala oleh annisa.


Kemudian annisa beralih mengambil menu makanan yang sama seperti egi, untuk di makan nya.


"Jika terjadi sesuatu pada mbak misa, aku tidak mampu hidup lagi.. syukurlah mbak tidak apa apa," gumam annisa pelan yang hanya terdengar oleh egi yang ada di samping nya.

__ADS_1


Seketika egi melirik tajam ke arah annisa, sedang yang di beri lirikan seperti itu tidak menyadari nya.


BERSAMBUNG...


__ADS_2