Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 62


__ADS_3

Jhon naik ke atas kasur untuk duduk di sisi ranjang agar bisa berhadap-hadapan secara dekat dengan gadis manis itu. Tangannya kembali menyentuh untuk menangkup sebelah sisi wajah Rika, dengan pandangan hangat yang lekat tak lepas terus memandangi wajah manis gadis di hadapannya.


"J-Jojo...," lirih Rika dengan mata merah berkaca-kaca.


Jemari tangan Jhon terasa dingin dan lembut saat bersentuhan dengan pipi mulus gadis manis itu. "Aku merindukan mu," ucapnya di selingi desah napas yang berat.


"Aku juga merindukan mu, Joe." Sahut Rika menatap sendu.


Senyuman bahagia bercampur kelegaan dari bibir Jhon, ia merunduk menjatuhkan kepalanya di bahu Rika sehingga keningnya tertempel di bahu. "Bodoh, jangan terluka lagi."


"J-Jojo...," tubuh Rika sedikit gemetar akibat jantungnya sudah berdetak cepat, tangannya gemetar terangkat berlabuh di rambut hitam legam Jhon. Lalu ia mengelusnya dengan pelan penuh kasih sayang.


Terdengar helaan napas yang di atur dari pria yang sedang bersender di bahunya. "Maafkan aku." Jhon berucap serak setengah berbisik.


Gerakan tangan Rika yang tangah mengusap terhenti, alisnya berkerut. "Ke-kenapa kamu meminta maaf?"


"Karena aku pria tak baik untuk mu."


Sontak Rika melirik dalam. "Kamu... kamu pria terbaik untuk ku, Jojo."


"Aku pria tak becus menjaga mu," tambah Jhon.


Jojo... apa hal ini yang membuat mu takut menemuiku selama koma?


Rika menghela napas pelan, mengelus rambut hitam itu hingga turun ke bahu Jhon. "Aku sudah baik-baik saja Jojo, dan seharusnya aku yang meminta maaf karena tidak mendengarkan mu kala itu agar tidak mengendarai mobil... Maafkan aku telah membuat mu khawatir sampai seperti ini, tapi mulai sekarang aku janji. Aku akan mendengarkan dan menuruti semua kata mu."


Terbesit senyuman di bibir Jhon. "Baguslah." Ujarnya sambil menegakkan kembali tubuhnya. Kemudian ia menangkup sisi wajah Rika mengelus pelan pipinya dengan ibu jari. "Gadis bodoh," tercekat dan menundukkan pandangan untuk menyembunyikan mata nya yang masih memerah.


"Hiks... hiks... Jojo," suara isak tangis berasal dari bibir Rika yang sudah tak terbendung lagi perasaan haru bercampur senang karena melihat pria yang amat di rindukannya ada di hadapannya sekarang, bahkan bersikap sangat lembut terhadapnya.


Sontak Jhon mengangkat wajahnya, menatap heran. "Bodoh, kenapa kau menangis?"


Rika menggeleng pelan dengan bibir memberenggut oleh isak tangis. Aku senang melihat mu Jojo...


"Apa yang salah dengan mu, bodoh?" Jhon menangkup kedua sisi wajah Rika dan mengusap air mata yang sudah mengalir di pipi.


"Sudah tiga." Suara pria dari arah sofa, yang sedari tadi memperhatikan keduanya.


Seketika Jhon dan Rika melirik ke arah suara.


"Om." Kagetnya baru menyadari ada orang lain selain dirinya dan Rika di ruangan itu.


Pak Adi mengibaskan sebelah tangan. "Teruskan, Om melihatnya untuk di pertanggung jawabkan."


"Ma-maksud Papa?" Bingung Rika dengan suara serak sehabis menangis.


"Tak usah pedulikan Papa, teruskan temu kangen kalian," timpal Pak Adi.


"Papa." Rengek Rika yang wajahnya sudah bersemu merah malu.


Pak Adi mengibaskan kembali tangannya, dengan kepala tertunduk dan sebelah tangan yang lain sibuk memainkan ponsel.


Hah... Jhon menghela napas pelan, kembali beralih menatap gadis manis yang masih di tangkup wajahnya itu. "Jangan menangis, wajah mu tambah jelek ketika menangis." Dia mengusap pelan pipi Rika dengan ibu jarinya.


Rika menatap sendu, tangannya yang tak cedera terangkat memegang jemari yang ada di pipinya untuk di usap. "Jojo... kamu terlihat kurus sekali."


Jhon tersenyum. "Tak apa, asal aku masih terlihat tampan."


"Jojo...," cicit Rika tertunduk malu di sertai senyuman geli.


"Bodoh." Panggil Jhon dengan suara lembut.

__ADS_1


"Iya." Rika mengangkat wajahnya.


Jhon menarik tangannya dari pipi Rika. Ia mengalihkan wajahnya ke arah lain dan menghembuskan napas pelan sebelum berucap. "Bolehkah aku memeluk mu?"


"Hah!" Rika tertegun dengan mata terpaku tak berkedip. Harus jawab apa aku? Mana ada Papa lagi di sini.


Pria itu menundukkan kepala dan tersenyum kecil. "Tak apa jika kau tak memp-"


"Boleh." Ujar Rika cepat.


Seketika kepala Jhon terangkat, matanya sedikit melebar dengan lengkungan senyuman terulas di bibirnya, ia memegang kedua bahu Rika. "Benarkah boleh?"


Rika mengangguk mantap, "bo-boleh."


Segera Jhon menggerakkan tangannya hendak menarik tubuh gadis manis itu untuk di rengkuh ke dalam pelukannya. Namun tiba-tiba...


"Tidak boleh!" Suara tegas pria yang terduduk di sofa menghentikan pergerakan keduanya yang tubuh mereka tinggal menempel beberapa cm lagi.


"Eh, Papa." Celetuk Rika lemah.


Jhon mendesah kecewa dengan kepala tertunduk sembari mendorong pelan tubuh gadis manis itu, namun kedua tangan masih memegang bahunya. "Jika mencium pipi dan kening bagaimana, boleh kan?"


"Apalagi itu, tidak boleh!" Pak Adi dengan tegas menolak.


Ck, Papa nyebelin deh. Rika melirik sebal dengan bibir mengerucut.


"Baiklah," Jhon melepaskan pegangannya di bahu Rika, beralih mengelus puncuk kepala yang terbungkus kerudung. "Kalo begini pasti boleh."


Rika tersenyum senang, menatap hangat. "Aaah Jojo." Manisnya... menyembunyikan wajahnya yang sudah panas bersemu merah merona.


"Sudah cukup." Pak Adi beranjak dari duduknya, berjalan menghampiri ke arah ranjang.


Tangan Jhon masih bertengger bergerak mengelus di puncuk kepala Rika. "Apa begini saja tidak boleh?"


Pak Adi menepuk sebelah bahu pria tampan yang terduduk di sisi ranjang itu. "Pertanggung jawabkan dengan tiga sentuhan tadi, jadi jangan berbuat dosa lagi."


Rika menatap dengan alis tertaut sebal. "Papa, kok bilangnya gitu sih?"


Melirik sejenak ke arah Rika, lalu kembali menepuk bahu Jhon. "Diam kamu Neng, ini urusan pria."


"Tapi Pah-"


Jhon mengusap punggung tangan gadis manis itu membuat sang empunya tangan meliriknya tanya. "Aku tak apa, diamlah bodoh."


Mencebikkan bibir sebal, Rika menundukkan pandangan menurut diam.


Jhon beralih menatap ke arah pria paruh baya yang berdiri di sampingnya. "Apa yang harus saya lakukan untuk mempertanggung jawabkannya?"


Pak Adi tersenyum penuh arti. "Ikutlah dengan saya keluar."


Alis Jhon terangkat sebelah. "Hanya itu?"


Hah... membuang napas pelan seiring memutar setengah tubuh. "Kamu akan tahu setelah di luar nanti." Pak Adi berjalan ke arah pintu keluar.


"Lah, Papah. Mau apa sih? Jangan macam-macam sama Jojo lagi." Sembur Rika.


"Neng istirahat saja, Papa pinjem dulu tunangan mu," ucapnya sambil lalu hilang di balik pintu.


Tunangan... Jhon tersenyum senang masih menatap pintu yang sudah tertutup rapat itu.


Rika melirik pria tampan yang masih berada di dekatnya. "Jojo, kamu yakin mau ikut keluar? Kelihatannya Papa ku lagi marah deh."

__ADS_1


Jhon masih mengulas senyuman di bibirnya, beranjak dari duduknya. Dia mengusap pipi gadis manis itu. "Bodoh, jangan terlalu khawatir. Aku keluar, kau istirahatlah."


Rika menatap ragu penuh harap. "Kamu akan kesini lagi kan?"


"Hemm." Mengangguk mengiyakan, tangan Jhon naik beralih mengusap puncuk kepala Rika. Lalu setelahnya, ia berbalik melangkah pergi ke arah pintu keluar meninggalkan Rika sendirian.


Klik.


Jhon menutup pintu itu dengan rapat, kemudian ia berbalik hendak melangkah yang langsung di sambut oleh pria paruh baya yang terduduk di sofa luar ruangan.


"Om." Dia menghampiri Pak Adi yang tampak sibuk dengan sebuah benda berbentuk pipih dalam genggamannya.


Pak Adi menoleh, kemudian ia bangkit berdiri sambil memasukkan ponsel ke saku jas. "Mari bicara di tempat yang sedikit tenang." Ajaknya, melangkah ke arah lorong.


Jhon mengangguk dan ikut membuntuti dengan mengimbangi langkah kaki pria paruh baya itu.


Keduanya berjalan di lorong tanpa ada percakapan, melewati beberapa bodyguard yang berjaga di sekitar.


Langkah kaki kedua pria itu, terhenti tepat di sebuah pintu tunggal bercat putih. Pak Adi meraih cengkraman pada daun pintu untuk memutarnya.


Ceklek.


Pintu itu terbuka lebar, pria paruh baya tersebut melangkah masuk. "Nak Jhonathan," panggilnya karena melihat Jhon masih di luar tertunduk.


"Hemm." Jhon ikut menyusul melangkah maju beberapa langkah untuk masuk.


Ketika kepalanya terangkat menatap lurus, mata Jhon membulat. "Ayah, Ibu." Kagetnya saat melihat di dalam ruangan itu telah terkumpul keluarganya, Egi, dan Farhan yang duduk di sofa.


"Atan, kemari Nak." Ibu Lily tersenyum melambaikan sebelah tangan agar mendekat.


Namun Jhon masih mematung di ambang pintu menatap bingung pada semua orang di hadapannya. "Ada apa ini sebenarnya? Dan kenapa laki-laki itu ada di sini?" tunjuknya pada Farhan.


Puk...puk.


Pak Adi menepuk bahu Jhon. "Kamu akan tahu Nak, jadi menurut saja. Duduk dengan Ibu mu di sana." Lalu ia melangkah maju untuk mengambil posisi duduk di sofa sebrang keluarga Kusuma.


Jhon dengan langkah pelan, mendekat ke arah sofa panjang dimana sang Ibu dan Ayahnya berada. Lalu duduk di antara mereka.


"Kamu tahu Roselly, anak mu sekarang sudah berani menyentuh anak gadis ku dengan seenaknya. Aku minta pertanggung jawaban dari mu," ujar Pak Adi.


Ibu Lily terkekeh, menutup bibirnya. "Tenang saja Adi, kita bahas sekarang. Atan orang yang bertanggung jawab kok, dia hanya sedikit pengecut saja dalam mengungkapkan rasa."


Jhon melirik orang-orang di sekitarnya dengan tatapan bingung. "Ibu kenal dengan Om Adi?"


Seketika Pak Kusuma tertawa ringan. "Baiklah, baiklah, sekarang langsung saja Nak Egi ke intinya. Sepertinya anak saya sudah kebingungan."


Egi tersenyum melirik untuk memberikan isyarat mata pada sekertaris Leon yang berdiri tidak jauh darinya.


Pria berjas itu melangkah maju, ia meletakkan beberapa berkas dan dokumen di atas meja hingga membuat mata Jhon lagi-lagi membelalak tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"Ini... apa maksudnya?" Bingung Jhon tangannya terulur meraih dokumen itu lalu membuka bagian awal yang berbahan paper dengan warna cukup mencolok. "Kapan kalian merencanakannya?"


"Sejak lama, sebelum kau dekat dengan Nona Rika." Egi menyahuti dengan suara tegas nan dingin.


Jhon melirik orang tua nya dengan sedikit linglung. "Ibu, Ayah... kalian."


Keduanya mengangguk mengiyakan. "Kami semua, bukan ibu dan Ayah saja yang merencanakannya," timpal Pak Kusuma.


Kemudian Jhon melirik pada pria berjas kedokteran yang tampak tenang. "Dan kau Ezi, kenapa kau mengelabuhi ku."


Farhan tersenyum lebar dengan mata nya menyipit. "Maaf kakak."

__ADS_1


BERSAMBUNG...


Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...


__ADS_2