Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 63


__ADS_3

Orang-orang dari dalam ruangan privat itu, baru saja keluar secara bersamaan melangkah pergi berpencar ke arah yang berbeda.


"Nak Farhan." Panggil Pak Adi saat melihat pria berjas kedokteran berjalan ke arah lift.


Farhan menoleh dan menghentikan langkah kaki nya. "Iya Om." Sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku jas.


Pak Adi menghampiri untuk lebih dekat. "Bisa ikut dengan saya ke rumah."


"Sekarang Om?"


"Tahun gajah, jelas sekarang lah."


Sejenak Farhan tampak berpikir, ia melirik tas kotak yang di tenteng pria di hadapannya. Dia tahu isi tas itu berisi berkas juga dokumen yang di bahasnya tadi, alisnya sedikit terangkat menatap curiga. "Apa Om berencana untuk mengungkapkan, pada tante?"


Pak Adi mengangguk tipis sambil melangkah ke depan pintu lift. Dia menekan tombol di panel lift, agar pintu itu terbuka. "Sudah saatnya, dan kamu sebagai dokter istri saya, harus sedia di saat darurat di butuhkan kan?"


Huft. Berakhir begini sajakah? Terbesit senyuman kecut nan pahit dari bibir pria tampan berjas putih itu, ia menundukkan kepala untuk menyembunyikannya.


Ting.


Pintu lift terbuka lebar, dan Farhan melangkah lebar dengan kaki panjangnya memasuki lift di susul pria berjas kantor itu berdiri di sampingnya.


Dia menekan tombol di panel menuju lantai dasar, terdengar helaan napas panjang dari bibir Farhan sebelum berucap. "Sebenarnya hati saya sudah benar-benar tertambat oleh Dek Rika, dan tak rela mengakhiri sandiwara ini, tapi...," Terjeda sejenak, menunduk lemah. "Aku sedari awal sudah kalah, oleh kakak Jhon yang berhasil mendapatkan hatinya."


Pak Adi melirik, dan tersenyum tenang. Ternyata perasaannya nyata terhadap si Neng...


Puk...puk.


Pria berjas kantor yang berdiri di sampingnya itu menepuk pundak Farhan dengan pelan. "Jangan bersedih, meskipun kau tak kejadian jadi mantu kami. Tapi tetap saya akan menganggap mu sebagai anak kami."


Wajah pria berjas kedokteran itu terangkat menatap sayu dengan senyuman yang menyiratkan kesedihan terulas di bibir tipisnya. "Terimakasih Om, tapi... sepertinya saya harus mengasingkan diri terlebih dahulu, untuk menenangkan hati saya."


Pak Adi terkekeh pelan. "Kau benar-benar patah hati ternyata."


Farhan mendengus, memalingkan wajah. "Karena ini cinta pertama saya Om, tapi malah gagal."


"Tak apa, masih ada cinta kedua, ketiga, atau bahkan bisa lebih."


"Cinta pertama saja gagal, bagaimana dengan cinta yang lainnya?"


Puk...puk.


Pak Adi kembali menepuk bahunya hingga membuat pria tampan itu melirik. "Cinta pertama gagal itu hal wajar, saya juga dengan Mama nya si Neng itu cinta kedua baru jadi dan langgeng sampe sekarang."


"Ternyata Om juga pernah merasakan patah hati."


"Oh jelas, pahit manisnya cinta saya sudah merasakannya."


Farhan tersenyum, menatap lurus ke pintu lift yang tertutup rapat. "Kalau Dek Rika terhadap Kak Jhon?"


"Oh, soal itu... Nak Jhonathan adalah cinta keduanya dan mudah-mudahan yang terakhir juga."


"Hemm." Farhan menundukkan kepalanya kembali dan tersenyum kecil.


--------------------

__ADS_1


Di ruang rawat.


Ceklek.


Pintu terbuka lebar seiring dua orang memasuki kamar. Jhon melangkahkan kaki ke arah ranjang dengan senyuman terus mengembang di bibirnya. Di atas ranjang itu, gadis manis terbaring tenang dalam tidur lelap.


Sedang wanita paruh baya yang bersamaan masuk dengannya, melangkah ke arah sofa untuk meletakkan tas pakaian dan kotak makanan berukuran besar ke atas meja.


"Gadis bodoh, kau tak menunggu ku?" Jhon berdiri di sisi ranjang, memandangi wajah manis gadis yang terlelap itu. Ia mengusap lembut bulu mata lentik di mata terpejam lalu turun menyentuh pipi mulus Rika.


"Emmh," igau Rika merasa sedikit terusik dalam mimpinya.


Jhon terkekeh pelan, menutup bibirnya. Lalu ia merunduk untuk mendekatkan wajahnya ke wajah gadis manis itu.


"Atan. Kamu mau apa?" Tegur Ibu Lily dari arah sofa.


Namun tak di gubris oleh anaknya, yang semakin merundukkan kepala untuk lebih mendekatkan wajahnya ke wajah yang terlelap itu.


"Atan. Jangan macam-macam kamu, Nak. Pak Adi sudah memperingati mu. Jangan menyentuh Nak Rika secara berlebihan, kalian belum sah."


Dan tetap tak di dengar oleh Jhon yang masih melanjutkan aksinya.


Hah... menghembuskan napas panjang dan menggeleng beberapa kali. "Anak ini susah di bilangi nya." Ibu Lily melanjutkan mengeluarkan makanan dari dalam kotak besar untuk di tata ke atas meja.


Wajah Jhon sudah sangat dekat di wajah lelap gadis manis itu, ia tersenyum menempelkan sebelah telapak tangan ke kening Rika lalu melabuhkan bibir ke punggung tangannya sendiri untuk menjadi penghalang bibirnya dengan kening Rika. Bisa di bilang ciuman tidak langsung.


"Bodoh, hari ini aku sangat bahagia." Bisiknya serak ke telinga Rika.


"Mmgh...," Rika mengigau, dahi nya berkerut dengan kulit sekitar mata sedikit berkerut, karena merasa terusik. "J-Jojo," gumamnya serak khas orang tidur.


Mata Rika mengerjap perlahan mulai terbuka, sebelah tangannya yang tidak cedera terangkat hendak mengucek matanya. Namun...


Jhon dengan sigap menahan tangan Rika untuk di turunkan kembali. "Tangan mu ada jarum infusnya bodoh, biar aku saja." Dia mengusap lembut kedua mata yang terbuka menyipit itu.


"Jojo... sejak kapan kamu disini?" Heran Rika saat kedua mata nya sudah terbuka lebar.


"Sepuluh menit yang lalu." Jawab Jhon terjeda sejenak, jemari tangannya turun mengusap lengkukan hidung gadis manis tersebut. "Kau sudah makan?"


Bibir Rika memberenggut, ia menggeleng pelan. "Mau ngambil buah anggur dari keranjangnya saja susah, kaki dan tangan ku di bebat susah turun dari ranjang."


Tersenyum geli, "bangunlah, kita makan bersama."


Sebelah tangan yang bebas itu terulur ke atas. "Bangunin." Rengeknya manja.


Membuat Jhon terkekeh geli. "Kau jadi manja gini, gadis bodoh ku."


Rika mencebikkan bibirnya menahan senyuman dengan pipi yang sudah merah merona. "Aku kan lagi sakit, Jojo."


Jhon mengambil botol infusan dari tiang di letakkannya ke atas perut Rika. Lalu ia beralih menyelipkan tangan ke bawah bahu juga tengkuk lutut.


"Eh, ini... ini mau apa Jojo?" Kaget Rika dengan mata melebar.


"Diamlah, bukannya kau ingin makan kan?"


"Tapi... tapi-"

__ADS_1


Grep... srret.


Jhon memangku tubuh mungil gadis manis itu ke dalam gendongannya ala bridal style. Sehingga Rika reflkes menyilangkan tangan di depan dada dengan mata melebar terkejut.


Dia menggendong ku lagi? Aaah... Jojo, hati ku itu tak kuat tahu, jika kamu bersikap kayak gini. Jantungnya sudah berdegup cepat dengan rasa panas menjalar di sekujur tubuh Rika hingga menciptakan warna merah padam di kedua pipinya.


Jhon berbalik melangkahkan kaki hendak ke arah sofa dengan pandangan mata terus menatap wajah merah gadis manis di gendongannya.


"Atan. Apa-apaan kamu ini? Kan Ibu sudah mengingatkan jangan menyentuh Nak Rika secara berlebih, ini malah menggendongnya." Tegur Ibu Lily.


"Aku hanya mengajaknya untuk makan bersama, Ibu." Sahut Jhon santai.


Ibu?


Dengan gerakan pelan nan kaku Rika menolehkan kepala ke arah suara, kedua bola mata nya semakin membulat melebar dengan mulut menganga. "Ta-ta-tante," gagapnya terkejut.


"Ada apa dengan raut wajah mu itu, bodoh?" Ucap Jhon tenang, sambil membungkuk untuk mendudukkan tubuh Rika ke atas sofa panjang. Lalu ia mengaitkan botol infusan ke gantungan yang menempel di dinding dekat sofa.


Gadis manis itu, menyembunyikan wajahnya malu bercampur takut lalu ia menarik-narik lengan baju Jhon agar mendekat. "Jojo, se-sejak kapan Ib-Ibu mu, ada di sana?" Bisiknya.


Jhon menggenggam jemari tangan Rika yang masih menarik lengan bajunya. Lalu ia ikut duduk di sampingnya. "Ibu ku sudah sejak tadi ada di sana. Jangan takut, dia tidak akan melaporkannya pada Papa mu."


Rika masih memalingkan wajah bersembunyi di balik bahu Jhon. "Aku malu, Jojo. Aku malu."


Ibu Lily tersenyum geli melihat tingkah malu-malu gadis manis di sebrang sofa yang di dudukinya. "Jangan merasa malu seperti itu Nak Rika, tenang saja. Ibu juga pernah muda kok, jadi tak usah malu atau takut. Dan biasakan panggil saya Ibu yah jangan tante."


"Kau dengar itu, bodoh." Jhon mengusap puncuk kepala yang terbalut kerudung itu, sedang sebelah tangan lainnya masih menggenggam jemari tangan Rika.


"I-iya Ibu," cicit Rika, dengan kepala tertunduk masih di liputi rasa malu juga jantungnya yang semakin berdegup kencang. Ia memberanikan diri duduk dengan benar menghadap.


Pasti tante menganggap ku cewek manja yang gampangan, haduuh rusaklah image ku di depan camer.


"Atan. Sampai kapan tangan mu menggenggam tangan Nak Rika? Nih, cepatlah makan sup nya keburu dingin. Dan suapi Nak Rika." Ibu Lily menyodorkan dua mangkuk sup ke hadapan mereka.


"Su-suapi? Tid-tidak usah, Jojo. Aku... aku bisa sendiri." Terbata Rika menolaknya, ia hendak mengambil mangkuk di atas meja itu. Namun...


Sreet.


Dengan gerakan cepat, Jhon mengambil mangkuk tersebut sebelum tangan Rika terulur menyentuhnya. "Tangan mu cedera begitu, bagaimana bisa menggunakannya. Biar aku saja."


Rika menggerakkan tangan yang bebas. "Tapi... tapi yang ini-"


"Benar apa kata anak Ibu Nak, sudah turuti saja. Lagian tangan kiri mu sangat tidak bagus jika di gunakan untuk menyuapkan makanan." Ujar Ibu Lily, yang sedang mengambil menu makanan lainnya ke piring kosong.


"Ah, i-iya." Pasrah Rika, melirik pria tampan di sampingnya.


Jhon menyendok sup, di dekatkannya terlebih dahulu ke bibir untuk mengecek suhunya. Lalu menyuapkan ke bibir Rika. "Buka mulut mu."


Rika menurut membuka mulutnya hingga cairan itu menyentuh lidahnya yang kering. Jojo... aku sangat bahagia, walau aku sedang sakit.


Pandangan mata Rika terus melekat menatap wajah tampan Jhon.


BERSAMBUNG...


Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...

__ADS_1


__ADS_2