Pejuang Move On

Pejuang Move On
Rencana ke-2 Ayah Putra


__ADS_3

Setelah pergi kencan dan melaksanakan shalat Dzuhur yang di lanjut shalat Ashar. Egi dan Annisa langsung berkemas dan bersiap siap untuk berangkat pulang.


Dan pada pukul setengah enam sore. Annisa dan Egi telah sampai di kota tinggal nya. Kini kedua nya tengah dalam mobil untuk perjalanan ke rumah putra dengan di supiri oleh Jhon.


Egi melirik ke kursi samping, yang dimana Annisa duduk di sebelah nya. Tersenyum melihat Annisa tertidur lelap sambil menyender ke jendela pintu. Egi melepaskan mantel di tubuh nya dan menyelimuti ke tubuh Annisa. Kemudian dengan gerakan kehati hatian egi merangkul bahu dan menghalau kepala annisa agar tidur dalam pelukan nya.


Jhon yang tengah mengemudi, melihat kaca depan untuk memastikan keadaan di kursi belakang. Karena tidak mendengar ocehan Annisa lagi.


Tersenyum tipis. "Sepertinya nona Annisa kelelahan karena sehabis jalan jalan bersama tuan Egi, langsung berangkat pulang dan menempuh perjalanan panjang," tutur Jhon memecah keheningan.


Egi menatap tajam ke arah depan. "Jangan terlalu perhatian terhadap istri ku. Fokus ke depan!" tegas Egi dengan nada menekan.


Terkekeh pelan melihat reaksi Egi. "Sudah seharusnya saya mencurahkan perhatian pada nona Annisa, karena tuan besar menugaskan saya seperti itu. Dan lagi nona sudah menganggap saya sebagai kakak nya," ucap Jhon dengan nada tenang, mengompori Egi.


Membelai kepala Annisa dengan lembut dan mempererat pelukan di bahu Annisa. "Dia memanggil mu kakak, karena menghargai mu yang umur nya lebih tua dari nya, bukan berarti memanggil kakak adalah menganggap mu sebagai kakak nya," ucap Egi menegaskan.


"Itu penilaian tuan Egi, tapi bagi saya. Yang memanggil kakak berarti menganggap saya kakak nya, termasuk nona Annisa," jawab Jhon dan tersenyum kecil dengan pandangan fokus ke jalanan.


"Jika begitu, aku akan melarang istri ku memanggil mu begitu," ucap Egi telak.


"Silahkan tuan Egi. Meskipun tidak di panggil begitu, perasaan saya tidak akan berubah terhadap Nona Annisa."


"Jhon!" Seru Egi dengan nada sedikit meninggi, membuat Annisa yang ada dalam pelukan nya sedikit terusik.


"Hemm...," igau Annisa mendusel dusel kepala nya ke dada Egi untuk mencari kenyamanan.


Egi kembali membelai lembut kepala annisa untuk menenangkan nya agar tetap tertidur.


Sementara Jhon yang ada di kursi kemudi. Tersenyum senang karena berhasil memprovokasi Egi.


Selang beberapa lama.


Mobil yang di tumpangi telah memasuki area rumah putra. Dan terparkir rapih di depan pintu utama masuk.


Jhon turun dari mobil dan membuka kan pintu penumpang belakang. "Tuan besar telah menunggu tuan Egi di ruang santai," ucap Jhon setelah membuka pintu mobil.


Egi mengangguk kecil dan melirik Annisa yang masih memejamkan mata dalam pelukan nya. "Aku akan mengantarkan istri ku ke kamar dulu, nanti menyusul," jawab Egi.


"Perlu bantuan tuan Egi?" tawar Jhon, kembali membuat egi geram.


Seketika Egi mendelik tajam ke Jhon dan tersenyum kecut. "Jangan mimpi bisa menyentuh istri ku," ucap nya sarkas. Lalu egi menyelipkan sebelah lengan ke tengkuk bawah lutut dan memangku tubuh Annisa dengan gerakan pelan dan kehati hatian agar tidak membangunkan tidur annisa.


Egi keluar turun dari mobil dengan menggendong tubuh annisa ala bridal style. "Minggir," ujar Egi ketus ke Jhon yang ada berdiri di samping mobil. Dan tanpa mendengar sahutan dari jhon. Egi melangkah kan kaki memasuki rumah putra.


Sedang Jhon tertawa pelan melihat tingkah Egi yang menurut nya sangat jarang jika egi bersikap seperti itu pada orang hanya karena perempuan. "Ternyata sudah benar menyukai nona Annisa. Syukurlah, rencana tuan besar dan kerja keras ku selama ini tidak sia sia," gumam Jhon pelan.


Di dalam kamar Egi.


Egi menurunkan dan membaringkan Annisa ke atas kasur dengan pelan. Lalu menyelimuti tubuh annisa sampai bahu. Ia duduk di sisi ranjang menatap wajah lelap Annisa cukup lama.


"Sebaiknya aku setel alarm untuk shalat magrib, takutnya saja dia kelepasan sampai malam sehingga lupa kewajiban," ucap Egi sembari mengutak atik jam weker yang ada di meja nakas.

__ADS_1


Setelahnya Egi kembali memandangi wajah annisa. Mengusap pelan pipi annisa dan merunduk mendekatkan wajah nya ke wajah annisa, lalu melabuhkan bibir nya ke bibir lembab annisa cukup lama.


Tersenyum tipis dan menegakkan kembali punggung nya karena melihat alis annisa berkerut terusik dengan apa yang di lakukan nya. "Aku bertemu ayah dulu, annisa ku," ucap Egi. Kemudian beranjak dari duduk nya dan melangkah menuju pintu keluar kamar.


Kembali melihat ke arah ranjang, sebelum benar benar menutup pintu kamar dan keluar.


Di ruangan santai Ayah Putra.


Egi memasuki ruangan Ayah Putra setelah Jhon membuka kan pintu nya.


"Duduklah Nak," sapa Ayah putra begitu melihat anak nya masuk.


Egi duduk di sofa hadapan Ayah nya dengan sikap elegan dan santai.


"Apa yang akan ayah sampai kan pada egi, sehingga terburu buru menyuruh egi kemari?" tanya Egi dengan nada suara tenang.


Tersenyum, "jhon bisakah kau menunjukkan sesuatu yang berkaitan dengan hal yang akan ku sampaikan," titah Ayah putra mengisyarat dengan jemari pada Jhon.


Jhon mengangguk kecil, lalu berjalan ke arah meja yang ada di tengah tengah Egi dan ayah putra. Dan meletakkan dua map ke hadapan Egi. Setelahnya, Jhon kembali berdiri di samping ayah putra.


"Lihatlah, kau akan tahu maksud ayah setelah membaca dan melihat nya," titah Ayah putra dengan tenang.


Alis Egi terangkat sebelah melirik berkas di atas meja, lalu menengadah menatap ayah nya yang tersenyum penuh arti. Menghela napas pelan, egi mengambil map map itu dan mulai membuka nya untuk melihat isi nya.


Seketika mata Egi sedikit membulat, dan alis nya berkerut ketika melihat isi map pertama yang di buka nya. "Apa maksud nya ayah?" tanya Egi meminta kejelasan atas apa yang di lihat dari map pertama.


Ayah putra menautkan jemari tangan dan menyilangkan kaki dengan elegan. Menatap lurus ke Egi. "Tidak ada maksud apa apa, ayah memberikan perusahaan di bagian barat dan memindahkan nya atas nama mu, memang nya apa salah ayah? Kau kan anak ayah," jawab Ayah putra.


"Kakak mu sudah ada bagian nya." sahut ayah putra terjeda sejenak, dan membenarkan kembali posisi duduk nya. "Dan itu bagian mu. Ayah tahu kau belum mengerti masalah apa yang harus di kerjakan soal perusahaan, tenang saja Jhon akan mengajari mu sambil kau kuliah. Dan... bacalah map berikutnya," titah Ayah putra dengan gerakan tangan agar egi membuka map selanjutnya.


Menghela napas panjang lalu dengan gerakan malas Egi membuka map berikut nya. Lagi lagi mata egi melebar terkejut dengan isi map yang di pegang nya. "Ja-jadi ayah telah mengetahui se-sedari awal?" tanya Egi terbata akibat sedikit syok.


"Iya," sahut ayah putra, dan tertawa pelan. "Pernikahan mu adalah rencana ayah agar kau bisa melupakan nak Romisa... sejauh ini sepertinya rencana ayah berhasil," jawab ayah putra.


Egi masih menunduk mencerna ucapan ayah nya dan kembali memperhatikan kedua map yang ada di hadapan nya. Kemudian Ia mengangkat kepala menatap tidak percaya terhadap ayah Putra. "Yang ayah sakit itu sebenarnya...," ucapan egi menggantung.


"Iya, ayah pura pura. Dan mengenai nak annisa memasuki kamar mu, itu pun rencana ayah," sela Ayah putra menjelaskan.


Meletakkan map yang di pegang ke atas meja namun tatapan masih menatap dingin ke ayah nya. "Jadi apa rencana ayah selanjut nya? Setelah rencana ini berhasil." Egi memicingkan mata menatap curiga ke ayah putra. "Apa jangan jangan ayah berencana memisahkan Egi dengan annisa!" tanya Egi dengan nada suara sedikit meninggi satu oktaf.


Cetak.


Ayah putra menjentikkan jemari sebagai jawaban iya. "Tebakan mu benar sekali nak," ucap nya santai.


Sontak Egi menatap tajam dan mengepal kuat kedua tangan nya, kemudian bangkit dari duduk nya. "Kenapa ayah mempermainkan perasaan Egi! Dahulu memang Egi membenci Annisa tapi sekarang setelah perasaan cinta tumbuh dalam hati Egi terhadap Annisa. Ayah dengan seenaknya akan memisahkan kita! Itu tidak akan terjadi!" tegas Egi menggeram karena amarah.


Anak bodoh ku tidak sadar jika dia sudah mengakui ke kalahan nya.


Terkekeh pelan melihat reaksi Egi.


Semakin mengepal kuat karena merasa di remehkan perasaan nya oleh ayah putra. "Kenapa ayah tertawa! Aku tahu maksud ayah dengan memberikan kedua map ini. Ayah ingin aku memilih antara harta dan Annisa kan? Sekalipun ayah memberikan seluruh harta ayah agar aku meninggalkan annisa, lebih baik aku melepaskan harta mu ayah dari pada melepaskan annisa!" ujar Egi dengan suara tegas dan menekan.

__ADS_1


Prok... prokk. Ayah putra bertepuk tangan dan tertawa senang.


"Kau benar benar telah menyukai nak annisa ternyata," ucap nya bangga.


Menautkan alis bingung dan mendengus kesal. "Maksud ayah apa?" tanya Egi masih belum mengerti.


"Duduklah dahulu, ayah akan menjelaskan maksud dari kedua map itu," titah Ayah putra setelah menetralkan sikap nya akibat terlalu senang dengan perubahan Egi.


Egi menuruti perintah ayah nya. Dan duduk kembali ke sofa. "Jelaskan ayah!" pinta nya yang tidak sabaran.


"Jhon kau jelaskan pada anak bodoh ku, mengenai rencana selanjutnya," titah Ayah putra pada jhon yang tengah menahan tawa sedari tadi.


"Baik tuan besar." Jhon maju mendekat dan duduk di sofa tunggal tanpa sandaran samping sofa Egi. Lalu mulai menjelaskan maksud ayah putra dari kedua map tersebut.


Egi yang mendengarkan dengan cermat dan memperhatikan setiap apa yang di tunjukkan oleh Jhon. Alis nya kembali terangkat sebelah dan menatap sebal terhadap ayah nya.


"Jadi maksud ayah memisahkan Egi dengan annisa itu adalah pisah ranjang! bukan pisah cerai?" tanya Egi memastikan.


Mengangguk mengiyakan. "Benar, meskipun kau sudah sah dengan nak annisa. Ayah tidak mengizinkan mu untuk menyentuh nak Annisa saat kau masih harus kuliah dan berjuang untuk pengalihan perusahaan, untuk menjaga konsentrasi masa depan kalian berdua. Jadi selama beberapa tahun ini kau harus bersabar nak, kau setuju? Kalau soal nak annisa, ayah pikir dia akan setuju setuju saja dengan ide ayah," jelas ayah putra.


Mengusak rambut dengan kedua tangan dan mendengus kesal. "Kenapa harus pisah ranjang ayah! Egi janji tidak akan menyentuh Annisa. Tapi jangan pisah ranjang," ucap Egi setengah memelas.


"Ayah tidak percaya dengan ucapan mu, seorang laki laki yang sangat tergila mencintai wanita apalagi telah halal mana mungkin meninggalkan kesempatan untuk tidak menyentuh nya," ucap tegas Ayah putra tetap kekeh dengan ide nya.


Egi menyipitkan mata nya menatap ayah putra. "Lalu kenapa dulu ayah membiarkan bahkan mengharuskan egi berdua sekamar dengan annisa, padahal Egi dan annisa masih sama sama sekolah?" tanya nya meminta kejelasan.


"Karena dulu kau masih tidak memiliki perasaan terhadap nak annisa, jadi mustahil dengan sikap mu seperti itu untuk menyentuh nya. Dan sekarang kasus nya berbeda, kau yang sebaliknya akan sulit di kendalikan," tutur Ayah putra.


"Haruskah begini ayah?" Melas Egi menatap ayah putra.


Mengangguk mengiyakan. "Demi masa depan dan anak anak kalian berdua. Kau harus punya karir yang kuat dulu, agar bisa melindungi dan memayungi nak annisa juga anak kalian kelak dengan sangat layak," ucap Ayah putra memberikan pencerahan.


Huft..., menghembuskan napas kasar, menatap ayah putra dan melirik map di hadapan nya. "Baiklah. Tidak apa pisah kamar asal masih satu rumah," ucap Egi menyanggupi.


"Tentu saja. Nak annisa masih seperti biasa melaksanakan kewajiban nya sebagai istri. Hanya satu, soal kewajiban itu saja ia tunda sampai tiba waktu nya, setelah kau sukses meraih yang ayah rencanakan...," jelas ayah putra.


"Hemm...," gumam Egi yang sudah pasrah dan malas menanggapi lagi.


"Mulai besok kau belajar soal perusahaan, biar jhon membimbing mu."


"Hemm...," gumam Egi lagi.


Menghela napas panjang dan menatap egi dengan senyuman terulas di bibir nya. "Baiklah, kita shalat magrib dulu nak, sudah waktu nya shalat. Nanti kita lanjutkan lagi," ucap Ayah putra dan beranjak dari duduk nya, melangkah ke pintu keluar yang telah di buka kan Jhon.


Egi ikut beranjak dengan malas, dan hendak mengikuti langkah kaki Ayah putra dari belakang di susul Jhon di samping nya.


Tersenyum miring dan mendekati Egi. "Selamat berjuang tuan Egi. Dan salam untuk nona Annisa adek manis saya," ucap Jhon setengah berbisik, kemudian menyusul ayah putra yang sudah keluar ruangan dan melewati Egi begitu saja.


"Jhon!" Teriak Egi menggeram.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Setelah Membaca Budayakan Tekan Tombol LIKE dan Tinggalkan JEJAK yaaa. Biar tambah semangat Author nya.


__ADS_2