
Beberapa tahun kemudian.
Keluarga Arga & Romisa.
Mereka tengah memakan sarapan di meja makan dengan menu yang mereka sukai masing-masing. Seorang remaja berseragam SMP terduduk di sebrang kursi orang tua nya.
"Pah." Panggil Fatih.
Arga mengangkat wajahnya menatap lurus pada pria tampan di sebrang meja nya. Dia memberikan tatapan tanpa menjawab panggilan tersebut. 'Kenapa?' Arti tatapannya itu.
Fatih sama-sama membalas tatapan sang Papa tanpa bicara. 'Katakan sama Mama, izinkan aku tidur di rumah Mama yang lama.'
Arga kembali berbicara lewat tatapan. 'Bicara saja sana sendiri.'
Alis Fatih sedikit berkerut masih menatap tanpa bicara. 'Ayolah Paah, jika tidak aku bakal ganggu kalian malam ini.'
"Ck," Arga berdecak sudut bibirnya berkedut. Ia membeliak menundukkan pandangan pada makanan yang sedang di potong nya.
Hah... Fatih mendesah kecewa dengan kepala tertunduk lesu. Papa nggak membantu sama sekali.
Romisa yang sedari tadi memperhatikan tingkah keduanya, tersenyum menggeleng pelan. Dia merogoh suatu benda dari saku dress. "Percuma kalian berbicara dengan isyarat mata, Mama tetap ngerti maksud kamu, Fatih anak Mama paling tampan."
"Aku yang paling tampan, Romisa." Sela Arga tak terima.
Romisa mencolek dagu suaminya dan mengedipkan sebelah mata. "Iya, suamiku yang paling tampan."
Sontak senyuman lebar tercetak di bibir pria tampan itu, Arga mendekat dan mengecup sebelah pipi Romisa. "Kau paling tercantik, Romisa."
Prang... sreet.
Fatih meletakkan alat makan, garfu dan sendok ke piring. Lalu bangkit dari duduknya. "Papa, Mama. Aku masih ada di sini, hentikan tingkah tak beradab kalian." Jengahnya keluar dari area meja makan.
"Fatih sayang," Romisa memanggil sambil meletakkan kunci rumah ke atas meja. "Katanya mau ke rumah lama Mama."
Mendengar hal itu, seketika Fatih menoleh cepat dengan mata berbinar dan tersenyum senang. "Mama tahu apa yang aku inginkan?"
Romisa mengangguk mengiyakan. "Asal jangan lupa dengan tugas-tugas sekolah dan satu lagi, jangan macam-macam."
Sret.
Fatih segera menyambar kunci rumah itu dengan girang. Lalu...
Cup.
Mengecup sebelah pipi Romisa secara kilas membuat Arga menatapnya tajam. "Makasih Mama, kalo gitu Aku berangkat sekolah dulu. Assalamualaikum Mama." Pamitnya sambil lalu menenteng tas ransel.
"Walaikumsalam." Jawab Romisa.
"Hey, makhluk. Kau berani mencium Mama lagi. Papa larang kau keluar rumah!" Teriak Arga.
Fatih yang sudah berjalan beberapa langkah berbalik, mengedipkan sebelah mata. "Ah, terimakasih Papa atas pujiannya. Aku akan mencium Mama lagi."
"Coba saja kalo kau berani, Papa hukum dengan tugas perusahaan!"
Tertawa pelan Fatih berbalik melangkah pergi.
Romisa menahan senyuman geli, mengusap punggung tangan suami nya. "Jangan begitu pada anak mu, suamiku."
Arga merangkul bahu Romisa. "Kau hanya milik ku, dan hanya aku yang boleh menyentuh mu."
"Hemm."
Melepaskan rangkulannya. Arga menatap menyelidik. "Kau tahu dia ingin ke rumah lama mu darimana? Apa kau sudah bisa membaca isyarat mata kami?"
Romisa tersenyum memegang sendoknya kembali. "Tentu saja dari Pak Willi, kemarin dia memberitahukan kalo Fatih akan mengadakan BBQ sama Asha juga yang lainnya di sana."
Arga mengusap pipi wanita cantik itu dengan lembut, dan tatapan misterius. "Malam ini kita habiskan malam panjang tanpa gangguan si makhluk pengganggu itu."
Romisa tersipu memalingkan wajahnya yang merona merah. "Sua-suamiku, sarapannya cepat tuntaskan." Gugupnya mengalihkan topik.
Di Rumah Egi & Annisa.
Seorang wanita cantik baru saja menyelesaikan membuat masakan sarapan untuk keluarga kecilnya. Annisa melepaskan apron di tubuh, lalu beralih membawa beberapa mangkuk dan piring yang berada di meja pantry ke meja makan yang jaraknya tidak jauh dari sana. Dia tersenyum lebar senang, saat melihat hasil karya nya tertata indah di atas meja makan.
"Selanjutnya tinggal memanggil dua pangeran ku." Gumam Annisa berbalik melangkah keluar ruang makan.
Dirinya telah sampai di batas ujung tangga, ia mendongakkan kepala ke atas. "Egii, Rafaa. Sarapan sudah siap, cepat turun!" Teriaknya.
Dan hening membatasi selama beberapa detik, tak mendapat jawaban dari keduanya. Ia kembali berteriak.
"Egii. Rafa. Sarapan sudah siap!"
Ceklek.
Dua pintu di lantai atas terbuka yang memunculkan dua pria tampan berbeda pakaian, berbeda usia, yang satu berpakaian SD dan yang satunya lagi berjas kantoran rapih.
"Kenapa sayang? Jangan berteriak seperti itu lagi. Malu di dengar tetangga." Tegur Egi sembari melangkah menuruni anak tangga di ikuti remaja pria di belakangnya yang berjalan sambil merapihkan dasi.
Mata Annisa menajam melihat anak remaja itu. "Rafa, kalo jalan lihat jalan jangan berjalan sambil memakai dasi."
"Iya Mah." Sahutnya masih sibuk memakai dasi.
"Egi, tuntun anak mu. Jangan sampai terjatuh lagi kayak kemarin."
Hah... Egi menghela napas panjang, mencekal lengan Rafa dan berjalan cepat. Sedang yang di tarik tampak tenang mengikuti langkah kakinya tanpa memberontak.
Sesampainya di lantai dasar Egi langsung merangkul pinggang istrinya. "Kamu memanggil ku apa tadi?"
"Egi, Pah." Sahut Rafa menimpali.
Annisa melirik sebal ke arah anak remaja itu.
"Apa hukumannya jika memanggil Papa dengan sebutan nama?" tanya Egi mencengkram dagu Annisa agar terarah hanya padanya.
"Libur nanti Mama sendirian yang bersih-bersih rumah." Jawab Rafa lagi yang berdiri bersedekap tangan di antara keduanya.
Egi tersenyum mengangguk. "Anak pintar, bonus untuk mu Papa tambah uang jajan."
"Wah. Makasih Papa." Girang Rafa.
"Ck," Annisa melepaskan pegangan jemari Egi di dagu nya. Kemudian ia membuang muka melipat kedua tangan di depan. "Oke, kalo gitu cara nya. Malam ini, Papa tidur di luar."
"Kok gitu sayang." Rengek Egi memeluk pinggang Annisa.
"Yaa emang gitu." Ketus Annisa.
"Ekhem... Pah soal ini, Afa nggak bisa bantu. Afa duluan ke meja makan yah." Rafa mengangkat kedua tangannya dan berlalu meninggalkan pasangan suami istri itu.
"Oke... maafin aku sayang, tapi jangan sekali-kali lagi kau memanggilku dengan panggilan Nama." Memeluk tubuh Annisa di sertai kecupan di pipi dan bahu.
"Hemm."
Di meja makan.
Egi menarik kursi untuk di duduki istrinya juga untuk dirinya.
__ADS_1
"Sayang pancake nya hanya satu porsi?" tanya Egi saat melihat Annisa meletakkan sandwich ke piringnya.
"Bahannya habis sayang. Hanya muat buat satu porsi saja."
"Udah selesai merajuknya Pah." Sindir Rafa memotong pancake dan menyuapkannya.
Egi melirik sejenak. "Uang jajan mu Papa potong 20% karena memakan pancake itu."
"Hah! Lah kok gitu sih Pah." Kaget pria tampan berseragam sekolah itu, bibirnya memberenggut sebal. "Gak bisa jajanin Asha lagi dong."
Annisa tersenyum, memotong omelet di piringnya. "Emang Asha suka minta jajan sama kamu?"
Rafa menggeleng pelan. "Afa sendiri yang ingin jajanin Asha, dia kan rakus makannya, Mah."
Egi dan Annisa terkekeh geli.
"Papa potong jadi 30% uang jajan mu, karena mengatai anak orang."
"Yaaah... Papa." Rafa mendesah sebal, dengan wajah tertekuk muram.
Di Rumah Asyila & Rayhan.
Asyila tampak sedang menata masakan di atas meja makan, senyuman juga senandung terus keluar dari bibirnya dengan ceria.
Dari balik tembok, ada dua orang pria tampan mengawasi dengan tatapan gusar dan enggan.
"Pah, kalo Mama kasih kita racun lagi gimana dong? Levin nggak mau mati muda." Keluh anak remaja berseragam SD di samping pria berjas kantoran.
"Kau sudah siapkan kantung kresek kan?" Rayhan, merunduk ke dekat anak remaja itu.
Levin mengacungkan sebuah kantung kresek berwarna hitam ke hadapan wajah sang Papa. "Sesuai permintaan Papa, Levin sudah siapkan."
"Bagus." Mengangkat jempol dan merampas kantung kresek itu.
"Emang buat apa, Pah kreseknya?"
"Lihat saja nanti, kamu akan tahu." Ray tersenyum misterius menatap wanita cantik di ujung sana.
"Papah sayang, Levin. Kemari. Sarapannya sudah siap!" Seru Asyila berteriak.
Seketika raut wajah kedua pria itu terlihat tegang, keduanya menghembuskan napas panjang bersamaan. Lalu saling tatap.
"Papa sudah siap?" tanya Levin dengan wajah serius.
"Hemm." Mengangguk mengiyakan.
"Oke, let's go." Ujar Levin berjalan maju.
Namun Ray masih diam di tempat mematung.
Eh, tersadar sang Papa tak ikut. Levin menoleh ke belakang, dia menarik sebelah lengan Ray. "Papa ayok, temani Levin mati."
"Iya, iya dah." Dengan malas Ray melangkahkan kaki nya.
Di meja makan.
Asyila menyambut kedua pria itu dengan senyuman lebar dan tatapan berbinar senang.
"Ayok Pah, duduk. Hari ini Mama memasak bubur kacang merah. Kalian harus coba, pasti ketagihan."
Ray dan Levin menurut duduk di kursinya masing-masing, tersenyum kepaksa. Di susul Asyila ikut duduk di sebrang meja keduanya, wanita cantik itu mulai menyendokkan bubur kacang merah ke dalam mangkuk makan dan menyodorkan ke kedua pria di hadapannya.
"Dimakan Pah, Levin."
"Ini apaan Pah, kok bentuknya item dan encer." Bisik Levin.
"Lumpur lapindo." Timpal Ray, setengah berbisik.
"Emang bisa di makan Pah?"
"Coba aja, kalo mati berarti kagak bisa di makan."
"Paah. Levin. Ayok dimakan. Kenapa diem aja?" Suara Asyila menghentikan perbincangan keduanya.
"I-iya Mah." Serempak anak dan bapak, meraih sendok.
Rayhan masih pura-pura mengaduk dan meniup bubur itu dengan mata melirik ke arah samping dimana anaknya sudah bersiap menyuapkan bubur. Dan...
Hap.
Levin menyuapkan satu sendok bubur ke mulutnya, ia terdiam membatu dengan wajah merah padam melotot tak berkedip.
"Gimana? Enak kan bubur buatan Mama? tanya Asyila menatap harap ingin di puji.
Mampus, anak gue keracunan. Rayhan dengan cepat meletakkan sendok ke atas mangkuk dan beralih menatap sang istri yang berada di sebrang meja.
"L-Lala aku... aku lupa nggak pakai dasi, tolong... tolong ambilkan dasi." Gagap Ray, dengan pandangan panik melihat ekspresi anaknya yang membatu.
"Ah Papa suka kebiasaan deh penyakit lupa nya, yaudah Mama tinggal dulu yah. Di habiskan makanannya." Ujar Asyila bangkit dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan meja makan.
Sepeninggalan Asyila.
Segera Ray mengeluarkan kantung kresek hitam tadi membukanya lebar. "Muntahkan, cepat!" Titahnya.
Levin menurut memuntahkan isi dalam mulutnya. "Uhuk...uhuk... ugh."
Ray menepuk pelan tengkuk leher anak remaja itu dan menyodorkan segelas air putih. "Minum."
Levin menenggak habis air putih tersebut tanpa tersisa. Dan...
Brak.
Meletakkan dengan kasar gelas kosong ke atas meja. Ia mengusap bibirnya yang basah dan menghembuskan napas panjang. "Pah, Apa Mama benar-benar ingin meracuni kita?"
"Mungkin bisa jadi." Timpal Ray yang sedang memasukkan bubur dari mangkuk ke dalam kantung kresek.
Levin melirik sebal pada pria di sampingnya. "Kalo di biarin terus, bisa-bisa kita mati Pah."
"Ya terus kita harus bagaimana? Pilih Mama yang menangis terus seharian atau membiarkannya saja?" Ujar Ray.
"Membiarkannya saja, kalo Mama nangis seharian. Levin nggak bisa maen game dan tidur nyenyak."
"Nah kamu tahu." Sahut Ray bernajak dari duduknya. Ia menepuk bahu Levin sejenak. "Kalo Mama tanya Papa kemana, bilang aja. Lagi boker."
"Emang Papa mau kemana?"
"Cari Mama baru." Jawab Ray ngasal, sambil lalu keluar rumah.
"Cari yang bisa masak yah Pah." Ujar Levin, lalu menatap pada mangkuknya yang ternyata sudah kosong. "Eh, kemana lumpur lapindo nya? Kan belum aku foto untuk di tunjukkan ke Asha."
Di Rumah Rika & Jhonathan.
Seorang wanita manis tengah sibuk bergulat dengan alat dapur membuat masakan untuk sarapan keluarga nya. Ia terlihat fokus mengaduk sup dalam panci.
"Sweety." Panggil Jhon dari lantai atas.
__ADS_1
Tangan Rika yang tengah bergerak mengaduk terhenti ia menoleh. "Iya, sayang." Sahutnya.
"Aku kesulitan. Kemarilah." Ujar Jhon masih berteriak.
"Iya, iya bentar." Rika mengecilkan api kompor lalu berbalik berjalan ke arah tangga.
Di dalam kamar.
Tampak Jhon sedang terduduk di sisi ranjang, dengan kemeja terbuka bagian atasnya dan dasi mengalung belum tertalikan.
"Ada apa sayang? Apa yang membuat mu kesulitan?" Rika menghampiri pria tampan itu hingga berdiri di hadapannya.
Grep.
Dengan gerakan cepat, Jhon menarik tangan gadis manis itu hingga jatuh dan duduk di pangkuannya.
"Sayang!" Pekik Rika hendak bangkit untuk berdiri.
Namun tangan Jhon melingkar memerangkap tubuhnya agar tidak bisa bergerak dan tetap terduduk di pangkuan. "Pakai kan aku dasi."
Hingga akhrinya Rika mengalah diam tak memberontak lagi. "Kamu kan punya tangan, sayang."
"Tidak bisa, tangan ku sedang sibuk." Menunjuk dengan lirikkan mata ke arah kedua tangannya.
Hah... Rika menghela napas pelan. "Sibuk ngapain? Tangan mu nganggur gitu." Ocehnya, meraih tali dasi untuk di bentuk.
Jhon terkekeh, mendekatkan wajah nya ke wajah Rika. "Kau semakin cantik sweety." Godanya.
Pandangan mata Rika teralihkan menatap Jhon dengan pipi yang sudah merona merah. "Jangan merayu ku, masih pagi."
Pelukan di pinggang Rika semakin erat agar tubuh mereka merapat. Dengan sebelah tangan lainnya meraih dagu gadis manis dalam pangkuannya itu. "Memang kenapa jika masih pagi sweety," gumam Jhon sambil melabuhkan bibirnya di bibir Rika, meraup memperdalam ciumannya.
Rika dengan pasrah menerima, ia merangkul leher Jhon.
Sementara di dapur.
Gadis remaja berseragam SD bermata silver itu baru saja keluar dari dalam kamarnya, ia berjalan ke arah dapur sambil merapihkan kerudung.
"Mah, jam tangan Asha yang warna putih dimana yah? Asha cari-cari kok nggak ada di tempatnya." Celoteh Natasha.
Namun tak mendapat jawaban dari yang di tanya, Asha mengangkat wajahnya melihat sekitar dapur yang kosong tak ada seorang pun hanya suara air mendidih dari atas kompor.
"Hah... Pasti ulah Papa lagi, yang menahan Mama." Gerutu Natasha menghampiri kompor dan melihat isi nya. Ada senyuman misterius dari bibir tipisnya.
Selang beberapa lama.
Dia berjalan keluar area dapur menuju ruang utama dan berdiri di ujung tangga.
Asha menghembuskan napas beberapa kali untuk mengatur napasnya sebelum berteriak.
"Kebakaran! Kebakaran! Kebakaran!"
Di dalam kamar.
Dugh...
"Hah!" Rika terlonjak menggigit bibir yang menempel itu dan mendorong dada Jhon lalu meloncat dari pangkuan.
"Aku lupa lagi masak sup." Ucap Rika sambil lalu berlari keluar kamar.
Jhon menghembuskan napas kasar, mengusap bibirnya yang terasa perih berdarah. "Pasti anak itu lagi bikin ulah lagi."
Di lantai bawah.
"Mana kebakaran? Mana?" Panik Rika menuruni anak tangga dengan tergesa.
"Itu Mah, di dapur, ada api." Sahut Asha bersikap panik seakan beneran iya terjadi kebakaran.
"Mana, mana. Ayok kita padamkan." Rika berlari ke arah belokan menuju dapur.
"Haha...," Natasha tertawa geli menutup bibirnya. "Mama ucul banget sih kalo lagi panik."
"Seru yah mengerjai Mama." Suara pria dari arah belakang terdengar dingin nan berat menghentikan tawa Natasha.
Dengan gerakan pelan dan kaku. Natasha menengok ke belakang, ia tersenyum cengengesan menampilkan gigi rapihnya. "Eh, Papa. Sejak kapan Papa ada di sini?"
"Sejak kamu menertawai Mama mu?" Jhon melangkah agar berhadapan dengan putrinya, ia bersedekap tangan di depan menatap tajam.
"Maaf Pah, Asha kan hanya becanda." Gadis cantik itu menunduk merasa bersalah.
Pletak.
Jhon menyentil kening putih Asha, membuat gadis itu mengerjap cepat dan mengusap keningnya.
"Hafalkan nada yang kemarin Papa mainkan, nanti besok pagi Papa akan uji permainan piano mu."
Mengangkat wajahnya cepat. "Tapi Pah-"
"Nggak ada tapi-tapi an. Itu hukuman mu akibat mengerjai Mama lagi." Jhon berbalik melangkah ke arah ruang makan.
"Yah Papa. Besok kan hari libur." Rengek Natasha mengekori langkah kaki Papa nya.
"Benar hari libur, kalo gitu 2 jam kau harus terus memainkan piano."
"Yaah Papa... nyebelin deh."
"Asha kamu mengerjai Mama lagi. Katanya ada kebakaran di dapur tapi Mama lihat nggak ada tuh." Ujar Rika sambil mengangkat panci sup untuk di bawa ke meja makan.
"Asha nggak bohong kalo ada api di dapur." Duduk di kursi meja makan.
"Iya ada api kompor." Timpal Rika, menyendokkan sup ke mangkuk.
Natasha memberenggut dengan kepala tertunduk lesu tak menyahuti ucapan Rika lagi.
Rika menyenggol lengan Jhon sembari meletakkan mangkuk sup ke hadapannya. "Ada apa dengannya?"
"Lagi pusing mikirin tugas mungkin." Tanggap Jhon menyendok sup untuk di suapkan ke mulutnya.
Saat cairan itu menyentuh lidahnya, seketika Jhon terdiam dengan bibir rapat menatap tajam ke arah depan. Dan...
"Uhuk...uhuk." Dia terbatuk merasakan asin yang pekat dan rasa pedas terbakar di lidahnya dari cairan sup itu.
"Sayang kamu kenapa?" Cemas Rika menyodorkan air putih.
Jhon meminum air yang di sodorkan sampai habis setengah, wajahnya berubah merah padam dengan mata merah berair. "Sup nya... uhuk... uhuk. " menunjuk ke arah panci sup.
"Hahaha...," tawa menggelegar dari gadis cantik di sebrang meja membuat pasangan suami istri itu langsung menoleh cepat dan menatap geram.
"Ashaa...," ucap keduanya menggeram kesal.
Hai Readers, terimakasih yaah kalian sudah membaca novel ku dari kisah Romisa sampai akhirnya kisah Annisa. Rencana aku akan melanjutkan kembali kisah anak-anak mereka di lapak baru.
Jadi jangan lupa kunjungi juga novel kisah Natasha anaknya Jhonathan yang diperebutkan oleh tiga pria dari keluarga Putra yaaah. Judulnya 'My Protective Father'.
__ADS_1