
"Nak Farhan, mari kita bersiap magrib dulu," ujar Ibu Asih yang baru muncul dari ruangan lain.
"Ba-baik tante," sahut Farhan, dengan pandangan mata masih menatap pada Jhon.
"Eh, Neng udah pulang." Sapa Ibu Asih melihat putri nya. Rika yang di sapa, segera menyalami tangan sang ibu.
"Kak Farhan magrib-magrib kemari ada apa ya, Mah?"
"Mama mengundangnya untuk makan malam di sini." Kemudian Ibu Asih beralih melihat seorang pria yang berdiri di belakang anaknya. "Nak Jhonathan," panggilnya.
Jhon tersenyum ramah. "Malam tante."
"Malam juga, ini anak tante habis dari mana. Kenapa nggak ngasih kabar kalau mau pulang telat."
Jhon sejenak melirik ke Rika dengan alis tertaut. Apa dia tidak memberitahukan pada orang tua nya, ketika hendak main?
Kemudian beralih kembali menatap Ibu Asih dan tersenyum tenang. "Maaf tante, sebenarnya dia habis dari-"
"Mama," Rika memotong ucapan Jhon. "Aku dari kafe Annisa, jadi jangan menyalahkan Jojo."
Ibu Asih menatap Anaknya dengan selidik. "Bener? Tapi biasanya Neng di antar Nak Ray jika habis dari kafe."
"Anak itu lagi sibuk, dan kebetulan Jojo ada di kafe. Jadi sekalian di anterin pulang."
Menghela napas lega. Lalu mengusap ujung hidung gadis manis di hadapannya. "Baiklah, sekarang Neng bersih-bersih gih, habis itu kita shalat jamaah di mushola rumah."
Rika mengangguk mengiyakan. Kemudian ia melirik Jhon. "Jojo, aku ke atas dulu yah." Yang di balas anggukkan kecil darinya.
Rika berjalan ke arah tangga meninggalkan ketiga orang di ruang utama itu.
Ibu Asih kembali menatap Jhon. "Nak Jhonathan sekalian magrib dan makan malam di sini aja."
Sejenak Jhon tampak terdiam berpikir, ia melirik Farhan dan akhirnya mengangguk kecil. "Boleh tante, tapi untuk makan malam maaf, saya sepertinya tidak bisa."
"Tante, sepertinya saya juga tidak bisa ikut makan malam di sini." Farhan ikut bersuara.
Alis Ibu Asih terkerut heran. "Kenapa, dua-dua nya tidak bisa? Dan bukannya Nak Farhan sudah mengiyakan dengan datangnya ke sini."
"Barusan saya mendapat kabar darurat dari rumah sakit, jadi setelah magrib mungkin saya akan langsung kembali ke RS lagi."
"Begitu pun dengan saya, ada pertemuan dengan client untuk makan malam." Jhon ikut menyahuti.
Ibu Asih menghela napas kecewa, ia manggut manggut mengerti. "Baiklah memang pekerjaan jika penting, jangan di tinggalkan. Kalau gitu sambil menunggu adzan magrib 10 menit lagi, kalian duduk dulu mengobrol yah. Tante tinggal sebentar, mau siapin keperluan Om."
"Iya tante," serempak Jhon dan Farhan.
Membuat Ibu Asih terkekeh geli, sambil lalu pergi meninggalkan kedua nya.
Farhan tersenyum sinis, menatap tajam pada orang yang terduduk di sebrangnya. "Hebat sekali, membawa pulang malam-malam calon orang."
"Hemph...," dengus Jhon ikut tersenyum sinis, dan mengabaikan tatapan itu dengan mengalihkannya ke layar ponsel, tanpa menjawab sindiran dari Farhan.
"Huh...," Farhan tersenyum kecut, membuang muka. "Jhonathan ivander, ternyata seperti ini cara anda mendapatkan wanita yang jelas sudah di tetapkan akan menjadi milik pria lain?"
__ADS_1
"Hemm," Jhon menggumam malas, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
"Ck," decak kesal Farhan menatap sebal. "Jangan terlalu meluangkan waktu anda yang berharga itu, untuk wanita yang akhirnya bukan menjadi milik anda."
Jhon mendelik tajam. "Dia masih belum menentukan siapa yang akan memiliki nya. Jadi anda... jangan terlalu percaya diri. Kita lihat saja nanti, siapa yang akhirnya akan di pilih olehnya."
Seketika Farhan terdiam, tatapannya berubah menjadi dingin dan mendesah kesal. "Kau benar," gumamnya pelan. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Bahkan akhirnya sudah... hah.
Jhon tersenyum miring penuh kemenangan, dengan tatapan meremehkan. Kemudian ia kembali menatap layar ponsel nya.
Setelah shalat magrib.
Rika mengantar dua pria tampan itu ke depan, untuk mengantarkan kepulangannya sambil memegang mantel panjang tersampir di lengan.
"Cukup sampai di sini saja mengantarnya," ucap Jhon menghentikan langkah ketiga nya di teras rumah batas tangga terakhir teras.
Rika tersenyum manis, ia menyodorkan mantel panjang ke arah Jhon. "Sudah di cuci, makasih sudah meminjamkan. Dan soal sandal, aku sudah simpan kartu di saku nya lengkap dengan nomer pin nya."
Jhon mengambil mantel itu dengan tatapan tak lepas menatap gadis manis di depannya. Lalu memakaikannya pada tubuh gadis manis tersebut membuat Rika menatap tanya.
Kenapa dia memakaikan kembali pada ku?
"Bayar hutang mu dengan Rerry."
"Rerry? Maksudnya?"
"Aku menginginkan Rerry tinggal dengan ku selama sebulan. Dan selama dia tinggal dengan ku, hutang mu lunas."
"Ck, dasar pelit. Mantel saja cuman di pinjemin. Bahkan meminta imbalan untuk di bayar atas pinjemannya. Anda membuat malu saya yang sebagai pria. Dan bukannya anda seorang pengusaha juga seorang direktur, masa membeli kan mantel baru selembar saja untuk sorang gadis tidak mampu." Sarkase Farhan yang berada di sampingnya.
"Kak Farhan," Rika melirik dengan alis menyatu menatapnya sebal.
"Kenapa Dek? Kakak berkata benar kan? Jika itu kakak, sudah pasti akan membelikan mu apa saja. Bahkan barang mewah apa pun akan kakak turuti. Jadi mulai besok kalau Adek butuh apa pun, atau suka apa pun tinggal bilang pada kakak yang sebagai calon mu."
Tatapan mata gadis manis itu berubah menjadi kekesalan, dengan sebelah tangan mencengkram geram mantel panjang yang di pakainya. "Ka-kak Farhan, ke-"
"Cih," decih Jhon memotong ucapan Rika. Dia beralih menatap dingin pada pria di sampingnya. "Dia bukan gadis bensin yang sedia di belikan barang mewah oleh pria. Jadi... jangan menilai dia serendah itu, yang mudah di beli atau di bujuk oleh barang."
"Saya tidak bermaksud merendahkan, tapi memang kebanyakannya gadis seperti itu kan-"
"Cukup kak!" Sentak Rika sembari menundukkan pandangan. Membuat kedua pria itu menoleh ke arahnya dan menatap diam. "Bukannya kakak ada pasien darurat, terimakasih atas kunjungannya dan saya berharap tak perlu di kunjungi lagi, saya tidak merasa senang dengan kunjungan kakak." Kemudian Rika mengangkat kepala nya menatap Jhon. "Jojo, soal Rerry aku sepakat dengan mau mu. Nanti akan aku paketkan ke alamat rumah mu."
Setelah mengucapkan kalimat itu, tanpa menunggu respon dari kedua nya. Rika berbalik melangkah masuk ke dalam rumah, meninggalkan kedua nya yang masih menatap diam.
Sepeninggalan Rika.
Jhon berdehem kecil, ia melirik sinis pada pria di sampingnya. "Sungguh memalukan." Sarkase nya, Lalu berbalik melangkah untuk keluar dari halaman rumah itu, menuju mobil hitamnya.
Farhan ikut berbalik mendahului langkah kaki Jhon. Dia dengan perasaan kesal membuka kasar slot pagar, lalu melangkah ke mobil putihnya. "Sekalipun dia berkata seperti itu, tapi saya telah mendapatkan kartu As dari Mama nya. Jadi... anda jangan berharap saya akan menyerah," tutur Farhan sambil membuka pintu mobil. Lalu...
Brak.
__ADS_1
Masuk dan menutup dengan keras pintu mobilnya.
"Ck, ke kanakkan sekali." Cibir Jhon tersenyum miring, dan ikut memasuki mobilnya. Setelah melihat mobil Farhan perlahan melaju maju.
-----------------------------------
Saat Makan Malam.
Cukup lama suasana makan malam di meja itu tampak hening hanya suara sendok dan garpu saling beradu mewakilkan suara sekitar.
Terlihat seorang gadis manis termenung diam menundukkan pandangan, dengan tangan memainkan makanan di piringnya.
Aku harus bicara sama Mama, kalau aku nggak suka kak Farhan. Tapi harus bagaimana mengawali nya? Aku takut terjadi sesuatu dengan jantung Mama, jika aku tidak menerima kak Farhan yang sebagai pilihan Mama.
"Ekhem," dehem Ibu Asih membuat suami nya yang malah menoleh. "Neng, kenapa makanannya cuman di mainin saja? Dimakan Neng, Mama udah hampir habis nih makannya."
"Eh," tersadar Rika dan tersenyum cengengesan. "Iya Mah, mungkin gara-gara di kafe makan banyak jadi agak kurang berselera makannya."
"Di kafe paling makan dessert doang, habiskan makanan mu Neng," ucap Ibu Asih sambil menyuapkan sesendok Nasi ke mulut.
"Iya Mah." Jawab Rika lesu, dan menyendokkan nasi.
Ibu Asih tersenyum tenang, lalu beralih melirik sang suami. "Pah, Kalau melihat Nak Farhan. Itu bawaannya seneng banget karena sikap sopan dan wajah tampannya. Menurut Papa gimana? Bukannya dia sangat cocok dengan anak kita, selain usia nya yang hanya terpaut 4 tahun dengan si Neng, juga karir nya bagus, mapan."
Seketika pergerakan tangan Rika yang tengah mengaduk sup di mangkuk terhenti. Dia mengangkat wajahnya melirik sang Mama.
Mama sikap dia terhadap Ika, nggak seperti yang Mama katakan.
Pak Adi berdehem sejenak, melirik putri nya. Kemudian mengambil sepotong tempe dari tengah meja yang berada di antara menu makanan lain. "Nak Jhonathan juga jauh lebih dewasa dan mapan dari dia, Mah. Kalau Papa cocok nya Putri kita di sandingkan dengan dia yang dewasa sehingga bisa melengkapi sikap si Neng yang selalu kekanakkan."
Rika tersenyum merona, menundukkan pandangan sambil menggigit ujung sendok. Akhirnya Papa tahu isi hati anaknya.
Ibu Asih memanyunkan bibirnya sebal. "Nak Jhonathan itu memang iya, dia lebih tampan, dan mapan. Hanya saja usia nya cukup tua Pah, masa anak kita di nikahkan pada pria yang usia nya beda 10 tahun. Nggak cocok ah, Mama setuju nya sama Nak Farhan."
Perlahan senyuman di bibir Rika memudar, ia menatap protes ke sang Mama. Namun tak mampu berucap. Aku tak masalah dengan usia yang terpaut jauh, Mah.
"Soal usia tak masalah, Mah. Lagian Nak Jhonathan tidak kelihatan tua, dia bahkan lebih tampan dan terlihat muda dari Nak Farhan."
"Tapi Pah, tetap saja. Usia nggak bisa di bohongi, tua ya tua aja. Mama tetap pilih Nak Farhan. Iya kan Neng? Neng juga setuju dengan pilihan Mama?"
"Hah!" Terhenyak Rika, terdiam menatap kedua nya.
Kemudian ia menundukkan kepala, meletakkan garpu juga sendok ke piringnya yang masih penuh dengan makanan. Mama kenapa Mama nggak ngerti perasaan hati Ika?
"Mama Ika sudah kenyang. Ika duluan ke kamar," ucapnya bangkit dari duduknya dan berbalik meninggalkan ruang makan.
Pak Adi dan Ibu Asih menatap bingung pada kepergian Rika. Lalu saling pandang.
"Ada apa dengan si Neng, Pah?"
Pak Adi menghembuskan napas pelan, ia menyuapkan nasi ke mulutnya. "Tanya sama anaknya. Bukannya Mama ibu nya, harus tahu isi hati dan pikiran anaknya."
Ibu Asih menyenggol sebal lengan suami nya. "Ih Papa, kalau Mama tahu nggak bakal nanya Papa."
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...