Pejuang Move On

Pejuang Move On
Jealous Egi


__ADS_3

Pagi hari telah tiba. Annisa dan Egi telah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian dengan pakaian yang tersedia di lemari kamar, meskipun annisa masih di infus, ia tetap mandi dan berwudu untuk melaksanakan shalat subuh. Dan kini kedua nya baru selesai melaksanakan shalat subuh. Setelahnya, kedua nya kedatangan tamu yang di undang oleh Jhon untuk memeriksa keadaan Annisa.


"Terimakasih dok," ucapan Annisa, karena baru saja selang infusan di tangan nya, di lepas oleh asisten dokter yang menangani nya sewaktu kemarin.


Mengangguk dan tersenyum ramah, dokter laki laki sebaya Arga itu menanggapi ucapan Annisa.


"Ekhem...," dehem Egi memutus tatapan dokter laki laki tersebut dengan Annisa.


"Nona Annisa, obat vitamin untuk pemulihan nya saya letakkan kembali di atas nakas. Semoga hari hari nona menyenangkan di sini, selamat pagi. Saya permisi," tutur nya untuk berpamitan.


Membalas senyuman ramah dokter laki laki itu. "Ah, iya dok," timpal Annisa.


Kedua orang berseragam medis itu pun berjalan ke arah pintu keluar kamar. Hingga menyisakan Annisa dan Egi di dalam kamar.


Egi yang sedari tadi berdiri di ujung ranjang memperhatikan. Dia mendekat dan duduk di kursi kecil sisi ranjang. Menatap lamat ke annisa.


Annisa yang tengah mengusap bekas infusan di punggung tangan nya, menoleh ke arah egi. "Kenapa Egi?" Heran nya karena di tatap seperti itu oleh Egi.


"Kau tidak mengingat ucapan penegasan ku sewaktu di mobil," ucap Egi.


Alis Annisa menaut bingung. "Apa egi?" tanyanya lalu menggelengkan kepala, sebagai jawaban tidak ingat. Menghela napas pelan. "Oh iya, kapan kita pulang? Siang ini kan aku ada dinas, aku tidak mau bolos lagi dari dinas, bisa di double dong tugas ku," tanya Annisa mengalihkan topik.


Bangkit dari duduk nya dan mensedekapkan tangan di depan, menatap Annisa. "Turunlah untuk sarapan. Hari ini kau tidak ikut dinas, dan tenang saja aku telah mengatur itu semua," ucap Egi dengan nada suara dingin.


Ada apa dengan nada suara nya? Aneh.


Annisa menurunkan kaki nya dari ranjang, hendak mengikuti perintah egi. Namun belum juga kaki nya menapak ke lantai untuk melangkah tiba tiba...


Brukk.


Dengan gerakan cepat Egi mendorong tubuh Annisa hingga terbaring kembali ke kasur.


"Egi!" Pekik Annisa terkejut dengan gerakan tiba tiba nya egi.


Tersenyum misterius dan merunduk memegang kedua tangan Annisa agar berada di setiap sisi kepala. Kemudian Egi mengungkung dan memerangkap tubuh Annisa agar berada di bawahnya.

__ADS_1


Apa arti senyuman nya itu?


Seketika tubuh annisa memanas bergetar, dan menatap kedua sorot mata Egi yang sudah sulit di artikan olehnya lagi. "Ka-kau mau apa? Lepaskan aku Egi! Buk-bukannya kita akan sarapan ke bawah," gugup Annisa bertanya dengan nada sedikit bergetar dan pelan.


Tanpa menjawab pertanyaan Annisa. Egi menunduk dan perlahan mendekatkan wajah nya dengan wajah Annisa, yang akhirnya melabuhkan bibir nya ke bibir Annisa.


Dia melakukannya lagi... ada apa dengannya?


Mata Annisa melotot kaget dengan tindakan Egi, dan mencoba memejamkan mata rapat rapat ketika Egi melakukan nya cukup lama.


Huh... Egi melepaskan pagutan nya karena annisa telah megap megap kehabisan napas, namun masih mendekatkan wajah nya dengan annisa dan menangkup kedua sisi wajah annisa yang berada di bawah nya. "Itu hukuman mu, karena telah melanggar nya," ucap Egi dengan nada rendah. Kemudian mengusap lembut bibir annisa yang basah akibat ulah nya. "Sudah ku peringatkan jangan menunjukkan senyuman pesona mu pada laki laki lain, jika tidak ingin hal ini terjadi lagi," tegasnya.


Melihat tangannya telah terlepas dari cengkraman egi. Annisa mendorong dada Egi agar menciptakan jarak di antaranya. "Tapi... tapi kau jangan seperti ini juga secara tiba-tiba Egi, membuatku jantungan saja," oceh Annisa masih mendorong tubuh egi yang tidak bergerak sama sekali dari atas nya.


Terkekeh pelan lalu kembali menghadiahkan kecupan kilas di bibir annisa, sebelum akhirnya bangkit dan berdiri. "Cepatlah turun untuk sarapan, kita akan lihat-lihat pulau ini sejenak," titah Egi kemudian dengan santai berbalik menuju pintu keluar, dan melangkah pergi meninggalkan annisa yang masih terbaring dengan tatapan bengong.


"Dasar salegi... bocah nakal! Senang sekali membuat jantung ku berontak," gerutu Annisa dan bangkit dari tiduran nya.


Di lantai bawah ruang makan.


Egi duduk di kursi yang sudah di tarik oleh salah satu pelayan. Begitu duduk, egi melirik ke arah para pelayan yang berdiri. Alisnya terangkat sebelah dan menatap Jhon.


"Pelayan yang mana, yang telah mencelaka kan istriku?" tanyanya.


Jhon berjalan dan berdiri di dekat Egi. "Tuan Egi, mengenai ini. Tuan besar telah memperingatkan bahwa masalah kemarin telah di selesaikan dengan jalur damai," jelas Jhon.


"Jalur damai! Kau tidak lihat betapa ketakutannya annisa, dan bahkan meninggalkan jejak memar di tubuhnya akibat perbuatan pria gila itu! Dan kau bilang dengan santainya masalah ini telah selesai. Tidak semudah itu, pria sialan terbebas!" tegas Egi dengan nada suara menekan.


Jhon menengadahkan pandangan sejenak menatap Egi, kemudian menghela napas pelan. "Maaf tuan Egi, tapi ini perintah tuan besar, agar tuan Egi tidak memperpanjang masalah nya. Karena bagaimana pun tuan besar sebelumnya telah merundingkan untuk menjamin kejadian ini tidak akan terulang kembali," tutur Jhon.


Menghembuskan napas kasar dan mengepalkan kuat sebelah tangan. "Baiklah," pasrah Egi sembari mengalihkan pandangan ke arah tangga.


Jika saja kekuatan ku telah kuat seperti kakak. Mungkin aku akan lebih mudah menjatuhkan hukuman apa yang pantas, untuk laki laki gila yang telah menyakiti Annisa. Dan melindungi Annisa ku, agar tidak ada celah untuk siapa pun melirik menyakiti nya.


Tersenyum tipis. "Dan sepulang dari sini, tuan besar meminta agar tuan Egi dan nona Annisa pulang sejenak ke rumah keluarga. karena ada hal penting yang akan di sampaikan tuan besar pada tuan Egi. Itu pesan yang di sampaikan tuan besar tadi pagi," ucap Jhon menyampaikan amanah Ayah Putra.

__ADS_1


Mengangguk kecil sebagai jawaban iya. Dan bersamaan dengan itu, annisa muncul menuruni anak tangga dan berjalan menghampiri tempat dimana egi terduduk.


Seketika senyuman terbit di bibir egi dan pandangan nya berubah hangat menatap lurus ke arah Annisa yang tengah mendekat ke arahnya.


Annisa duduk di kursi samping kanan egi. "Kau belum mulai sarapan?" tanyanya melirik piring kosong yang ada di hadapan Egi.


Menggelengkan kepala sebagai jawaban belum.


Melirik ke arah Jhon yang berdiri tidak jauh dari meja makan, samping Egi. "Pak... Kak atau Abang?" Bingung Annisa untuk memanggil Jhon.


Tersenyum geli. "Kakak saja Nona. Jika di panggil bapak, kesannya saya sudah tua," ucap Jhon menanggapi.


"Hemm, baiklah. Kakak...," ucapan Annisa menggantung karena tidak tahu nama Jhon.


"Jhon," ucap jhon menambahkan.


"Ah, iya. Kak Jhon nggak ikut sarapan?" tanya Annisa yang tidak menyadari jika percakapan nya telah di awasi dan menciptakan wajah muram Egi.


Melirik ke arah Egi. Jhon tersenyum canggung dan menggelengkan kepala. "Tidak perlu, saya sudah sarapan tadi bersama yang lainnya," tolaknya mencari aman.


Mengangguk sambil ber-oh ria. Kemudian kembali menoleh ke Egi yang sudah memasang wajah dingin.


Eh, kenapa dia? Apa aku salah lagi? Aku kan tidak menunjukkan senyuman pesona pada kak Jhon.


"Egi, mau sarapan apa? Biar aku ambilkan," tanya Annisa mencoba menetralkan suasana yang canggung.


"Sama seperti mu," jawabnya singkat.


Annisa mengambil dua porsi omelet sayur dan meletakkan nya ke piring egi juga piringnya.


Lalu kedua nya sarapan, tanpa ada percakapan lagi dia antara nya. Hanya fokus sarapan dan sesekali annisa melirik egi yang tampak fokus memakan sarapan tanpa berbicara sepatah kata atau menoleh ke arah nya.


Kenapa suasana nya jadi canggung dan aneh gini? Jadi bingung aku, menuruti keinginan si egi.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Setelah Membaca Budayakan Tekan Tombol LIKE dan Tinggalkan JEJAK yaaa. Biar tambah semangat Author nya.


__ADS_2