
Annisa memegang tangan Putra dan mencari pembuluh darah nya untuk menusukkan jarum infusan.
Egi yang baru memasuki ruangan, alis nya terangkat sebelah karena melihat Annisa tengah memegang tangan dan sedikit mengurut punggung tangan putra hendak menginfus nya.
menghampiri Annisa."Apa yang kau lakukan?" tanya Egi.
Annisa menoleh menghentikan kegiatan nya sejenak.
Lalu Annisa kembali melanjutkan kegiatan nya.
"Kau tidak lihat, aku sedang apa," jawab Annisa ketus.
"Ya aku tahu kau sedang memeriksa, tp apakah ayah ku tidak akan tambah parah jika di tangani oleh mu," ejek Egi.
Kenapa ini anak selalu membuat ku kesal. Ah abaikan saja.
Menatap geram ke Egi lalu annisa mengabaikan ucapan nya.
Annisa hendak menusukkan jarum infusan ke tangan putra namun egi dengan sigap menangkis tangan Annisa.
"Kau sudah gila, maen tusuk tusuk saja. Sedang dokter saja belum memeriksa nya," teriak Egi.
"Kau ini kenapa bukannya tadi kau yang menyuruh ku untuk memeriksa ayah mu hah," ucap Annisa dengan nada kesal.
"Aku menyuruh mu memeriksa nya, bukan menginfus nya. Ngerti" tegas Egi.
"Tapi ayah mu butuh cairan egi. Lihat saja bibir ayah mu sedikit pucat dan badan nya lemah."
"Biar di periksa dokter dulu. Aku tidak percaya dengan kemampuan medis mu, kau kan wanita gila mana mungkin akan menangani ayah ku dengan benar," ledek Egi mencibir Annisa.
Annisa yang masih memegang tangan putra, Annisa merasakan ada pergerakan dari jemari putra.
Lalu Annisa melirik tangan putra dan terlihat jemari putra bergerak gerak pelan.
"Kau meremehkan ku hah. Lihat saja, Ayah mu sudah sadar," ucap Annisa sewot sambil melirik ke putra.
Egi menatap wajah putra yang masih memejamkan mata nya rapat dan tidak ada pergerakan sama sekali.
"Dasar wanita gila. Ayah ku masih pingsan kau katakan sudah sadar. Sudahlah kau keluar saja, sebentar lagi dokter profesional akan menangani ayah ku. Di tangani oleh wanita gila seperti mu, membuat ayah ku tambah parah," tegas Egi mengusir annisa.
Annisa menaruh jarum infusan ke atas nakas lalu bangkit dari duduk nya dan menatap sinis ke arah egi.
"Kau yang sinting. Anak songong. Huh!!" dengus Annisa lalu berlalu meninggalkan egi.
__ADS_1
"Wanita brandal gila," gumam Egi lalu duduk di kursi bekas annisa dan menatap ayah putra.
Dan tidak berselang lama setelah kepergian annisa, 2 orang dokter yang biasa menangani putra telah datang dan langsung memeriksa keadaan putra dengan teliti.
Di luar ruangan.
Annisa duduk di kursi tunggu, annisa masih bingung apa harus yang di lakukan nya lagi karena telah di usir oleh egi dari ruangan.
"Pria sinting.. sudah di tolongi masih saja berpikir negatif pada ku. Memang benar kemampuan medis ku masih kurang karena aku masih mahasiswi. Tapi soal memeriksa hal dasar kan aku tidak pernah salah. Dan tadi aku melihat jelas kalau jemari tuan putra itu bergerak atau mungkin hanya ilusi ku saja karena setress berhadapan dengan pria sinting," oceh Annisa sebal.
Arga dan Sekertaris Tang memasuki ruangan kedokteran dan dengan langkah tergesa menghampiri Annisa yang tengah terduduk.
"Dimana ayah?" panik Arga yang baru sampai langsung bertanya pada annisa.
Annisa mendongak menatap Arga.
"Tu..Tuan ada di dalam," gagap Annisa sambil menunjuk pintu ruangan ayah putra berada.
Arga langsung memasuki ruangan yang di tunjuk annisa dan meninggalkan annisa dengan Sekertaris Tang.
Tang ikut duduk di samping kiri annisa dan menjaga jarak dengan terhalang dua kursi dari duduk nya Annisa.
"Nona Annisa, apakah kau sedang membuat keributan lagi sehingga tuan besar berada dalam keadaan seperti ini," tutur Tang membuat annisa menoleh sejenak lalu mengalihkan pandangan nya ke arah lain.
Keributan..keributan apa tang linggis. Kenapa di saat hati ku kesal harus di hadapkan dengan pria es dan kejam ini lagi sih.
"Saya juga korban Sekertaris Tang. Saya tidak pernah punya niatan jahat sehingga membuat Tuan Putra sampai seperti ini," ucap Annisa dengan nada lemah.
"Jika kau tidak punya niatan jahat. Nggak mungkin kau akan menarik dan berbuat seperti itu terhadap ku," ucap Egi yang baru datang masih berdiri di ambang pintu.
Kenapa pria sinting ini ada di sini sih. Bukannya harus menemani ayah nya di dalam sana. Hah menambah kekesalan hati ku saja.
Annisa menoleh ke arah Egi yang sudah duduk di kursi sebelah kanan Annisa yang kosong sehingga tampak terduduk berdampingan.
"Kau masih tidak percaya kah pada ku. Itu kejadian yang tidak di sengaja. Lagian siapa juga yang mau berdekatan dan jatuh seperti itu dengan mu, pria sinting," sanggah Annisa dengan nada cukup tinggi karena mulai tersulut emosi nya.
Egi tersenyum miring dan mendengus.
"Kau wanita gila yang mesum."
"Kau bilang apa tadi, mesum!! Kau yang mesum dan sinting, sengaja mendempetkan tubuh mu pada ku," ucap Annisa sewot.
"Siapa yang mendempetkan. Kau yang menarik dasi ku, jadi kau yang mesum wanita gila.." geram Egi.
__ADS_1
"Kalau kau tidak terus melangkah mendekati ku. Aku tidak akan terjatuh sinting," celah Annisa dengan nada cukup tinggi.
"Kau..benar benar.." geram Egi mengepalkan tangan nya.
"Benar benar apa..hah!!" tantang Annisa menatap tajam ke Egi.
"Tuan Egi," ucap Tang.
"Diam kau," serempak Annisa dan Egi pada tang membuat tang terperanjat.
Melihat kedua nya menatap ke arah nya dengan tatapan amarah.
"Ekhem.." dehem Tang yang sedari tadi memperhatikan perdebatan kedua nya.
Seketika annisa dan Egi terdiam membisu.
Sial kenapa nggak bisa kontrol emosi. Seperti nya s Tang akan curiga mengenai hubungan ku dengan wanita gila ini gumam Egi dalam hati.
"Kenapa kalian harus bertengkar seperti ini. Saya jadi curiga, bukannya kalian ini adalah pasangan kekasih kenapa sampai bertengkar hebat begitu hanya masalah berdekatan diri saja," tanya Tang membuat Annisa salah tingkah dan Egi gugup.
Tuh kan benar dia mulai curiga, aku harus meluruskan nya Sebelum terlihat semakin mencurigakan, dan melaporkan nya pada ayah juga kakak gumam Egi dalam hati.
Annisa melirik Egi yang sama sama sedang melirik nya. Lalu kedua nya menatap Tang.
"Kita tidak bertengkar ya kan.." ucap Egi sambil melirik Annisa memberikan isyarat lewat lirikan nya.
Alis Annisa berkerut bingung dan menggerak gerakkan alis nya meminta kejelasan isyarat yang di berikan Egi. Namun Egi menatap nya tajam.
Apa sih yang di isyaratkan oleh nih anak. Apa mengenai hubungan bayangan itu, jadi dia memperingati ku. Hah...baiklah, baiklah karena aku sudah sepakat dengan nya jadi turuti sajalah alur cerita nya.
Annisa menoleh ke Sekertaris Tang lalu tersenyum canggung.
"Ah, i...iya benar, kita tidak bertengkar kok memang cara kita menyelesaikan masalah itu seperti ini sekertaris Tang. hanya saja untuk sekarang karena ulah kita tadi jadi membuat ayah putra sampai seperti itu. Biasanya kalau kita melakukan hal lain tidak sampai membuat kita berdebat hebat seperti ini.." tutur Annisa menyenggol lengan Egi.
Lalu Annisa menatap egi dengan melototkan mata nya.
"Iya kan sayang," ucap Annisa lembut namun gigi nya menggertak karena geram.
Muak aku memanggil mu sayang, pantas nya kau di panggil pria sinting,tuli, bisu, songong tapi demi sandiwara yang sudah di sepakati aku harus mau merendah.
Egi gelagapan."I..iya" gagap Egi dan tersenyum palsu ke Annisa.
Sekertaris Tang mengangguk kecil dan bersedekap tangan di depan dada.
__ADS_1
Benarkah, tapi rasa nya sikap mereka sangat tidak natural dan melihat senyuman yang di lontarkan mereka satu sama lain tadi, sangat terlihat jelas jika itu senyuman terpaksa dan palsu.
BERSAMBUNG...