Pejuang Move On

Pejuang Move On
Titipan Alan


__ADS_3

Annisa tengah berjalan di sekitar lorong dengan menggendong tas ransel. Ia telah selesai dinas hari ini karena kebagian shift pagi, jadi Annisa pulang lebih cepat dari biasanya yang biasa pulang malam kini pukul. 04:30 sore telah bisa pulang, yang meskipun harus mengerjakan beberapa laporan team juga tugas lainnya terlebih dahulu, sebelum benar benar di perbolehkan pulang oleh pembimbing.


Kriing...kriing. Ponsel Annisa yang ada di dalam saku jas almamater berbunyi keras.


Annisa merogoh ponsel dari saku, dan langsung menempelkan benda pipih itu ke telinga setelah melihat nama siapa yang menelpon nya.


"Assalamualaikum, rika," sapa Annisa pada orang di sebrang sana.


"Walaikumsalam, Umi Annisa. Umi hari ini kebagian shift pagi kan?" Suara ceria Rika menyambut sapaan Annisa.


"Iya, ada apa? Tumben bertanya," tanya Annisa yang menelpon sambil berjalan untuk menuju pintu keluar rumah sakit.


"Rika kangen umii. Bisakah bertemu sekarang? Nanti tempat dan waktu nya rika akan kirimkan lokasi nya," ucap Rika dengan nada merajuk manja.


Terkekeh geli sembari melangkah melewati pintu kaca geser otomatis. "Boleh, share Lok saja tempat nya. Kebetulan, sudah lama juga nggak jalan bareng kamu Rik," ucap Annisa menyetujui.


"Oke umi. Aku kirim sekarang lokasi nya, Assalamualaikum," girang Rika dengan suara cempreng.


"Walaikumsalam," jawab Annisa dan mematikan panggilan.


Annisa yang telah berdiri di pelataran rumah sakit. Memegang ponsel nya untuk mencari kontak Egi.


"Aku harus kabari Egi dulu jika hari ini tidak perlu menjemput ku. Sekaligus aku izin juga karena bagaimana pun dia adalah suami ku," gumam Annisa sembari mengetik pesan di layar ponsel nya.


Annisa mengirim pesan ke Egi.


Annisa :


"Egi hari ini kau tidak perlu menjemput ku. Lagian kau pasti lagi sibuk belajar di perusahaan, dan aku izin untuk keluar bersama teman jadi pulang ke rumah agak sedikit terlambat."


Tidak berapa lama ponsel annisa bergetar.


Egi :


"Cewek/cowok."


Annisa mengetik kembali untuk membalas.


Annisa :


"Nama nya Rika. Kau sudah pasti bisa menebak nya."


Egi kembali membalas dengan cepat.

__ADS_1


Egi :


"Maghrib sudah di rumah."


Annisa :


"Iya bocah."


Annisa mengkerutkan alis melihat balasan pesan dari Egi dan menghembuskan napas panjang. "Dia selalu bersikap gini, padahal aku mengetik cukup panjang, yang jadi fokus dia hanya satu kata. Apa dia masih marah pada ku? Tapi setelah di pikir pikir aku salah apa yah pada bocah ini, hah... bikin pusing kalau mikirin si Egi," oceh Annisa lalu kembali melihat layar ponsel nya karena mendapat pesan dari rika.


Lagi lagi alis annisa menaut melihat nama kafe tempat pertemuan yang di kirim Rika. "Kafe Brandal, seperti tidak asing kata brandal nya." Menghela napas pelan sambil memencet aplikasi untuk memesan taksi online.


Beberapa menit kemudian.


Taksi online yang annisa pesan telah berhenti tepat di depan gerbang rumah sakit yang di mana annisa pun berdiri.


Annisa langsung memasuki mobil dan duduk di kursi penumpang. Kini taksi itu telah melaju di jalanan ke tempat yang annisa tuju. Hening suasana dalam mobil taksi, karena annisa memilih menyibukkan mata nya memperhatikan jalanan dan trotoar lewat kaca jendela mobil.


Tidak memakan waktu lama, taksi yang annisa tumpangi telah terparkir tepat di depan kafe. Annisa keluar dari mobil taksi setelah membayar ongkos, dan berdiri sedikit mendongakkan kepala menatap tulisan yang cukup besar di atas bangunan yang bertingkat dua itu. "Kafe Brandal, ada juga nama kafe yang aneh begini. Apa tidak ada nama lain, terinspirasi dari mana orang menamai kafe seperti itu," gumam Annisa dan melangkah kan kaki nya menuju pintu masuk kafe.


Annisa memasuki kafe itu, yang suasana nya cukup ramai oleh pengunjung yang rata rata pengunjung sepantaran usia nya juga anak remaja SMA. Ia mengedarkan pandangan mata nya untuk mencari keberadaan Rika.


"Annisa," panggil Rika dengan suara cukup tinggi.


"Sudah lama nunggu nya?" tanya Annisa sambil duduk di kursi dekat Rika.


Mengibaskan sebelah tangan. "Nggak lah, hanya telat beberapa menit saja," jawab Rika.


Annisa mengangguk lalu melihat meja yang masih kosong. "Belum pesan minuman rik?" tanya Annisa lagi.


"Udah tapi belum di anterin kemari. Umi masih jus melon kan kesukaan nya?" tanya Rika yang di balas anggukkan kepala oleh Annisa.


"Ekhem...," dehem rika menetralkan tenggorokan nya yang kering, kemudian mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam dengan di beri pita pink dari dalam paper bag, lalu meletakkan ke atas meja. "Kado titipan untuk mu," ucap Rika menggeser kotak itu ke hadapan annisa.


Dahi annisa berkerut bingung dengan melirik kotak hitam itu juga menatap Rika. "Kado? Aku kan tidak ulang tahun hari ini."


"Kak Alan memberikan itu pada ku, sebelum kepergian nya ke inggris. Ia menitipkan pada ku, karena dia bilang tidak sanggup bertemu dengan mu lagi, akibat kesalahan yang telah di perbuat nya pasti telah membuat mu membenci kak Alan," tutur Rika menatap serius ke annisa, lalu memegang sebelah tangan annisa yang kebetulan ada di atas meja.


Annisa tertegun dan menatap terpaku ke kotak hitam yang ada di hadapan nya.


Ke inggris? Jadi orang itu telah pergi, itu jauh lebih baik sehingga aku tidak akan bertemu lagi dengan nya. Memang aku masih sangat sulit melupakan wajah dan senyuman jahat nya itu dari kepala ku, tapi bukan berarti aku membenci kak Alan, hanya benci dengan sifat kepura puraan nya saja.


"Annisa kok bengong," ucap Rika membuyarkan lamunan Annisa.

__ADS_1


Tersadar dan tersenyum tipis. "Eh, nggak kok Rik. Terus kapan dia berangkat nya?" tanya Annisa.


"Kemarin," jawab Rika dan menatap memicingkan mata curiga ke Annisa. "Memang nya ada apa sebenarnya antara kamu dan kak Alan, Nis? Dan kenapa kak Alan tiba tiba pindah kuliah ke inggris? Bahkan aku melihat kondisi wajah nya kemarin yang seperti nya banyak bekas tinju," pertanyaan beruntun dari Rika memberondong annisa karena penasaran.


Annisa diam dan menggigit bibir nya menahan gejolak amarah dalam diri karena mengingat kembali, percakapan Alan dengan nya sewaktu di villa pulau cemara.


Melihat Annisa diam dan terlihat ada emosi dari sorot mata nya. Rika yang sudah mengenal cukup lama Annisa merasa aneh dan terbesit rasa bersalah karena seakan akan mengusik hal yang pribadi dari Annisa. Rika menggenggam dan mengusap lembut punggung tangan Annisa. "Tidak apa jika kamu tidak mau cerita Nis, aku tidak akan memaksa jika itu mengenai hal yang cukup pribadi antara kamu dengan kak Alan. Aku hanya menyampaikan titipan saja...," tutur Rika dan tergantung.


"Aku membenci nya Rik," celetuk Annisa membuat penuturan Rika terpotong.


"Membenci? Siapa? Kak Alan? Tapi kenapa kamu membenci nya Nis, padahal dia sangat baik pada mu?" Seru Rika yang terkejut dengan ucapan Annisa.


Annisa menengadah menatap Rika. "Aku membenci sifat munafik nya yang selama ini dia sembunyikan dari kita. Bahkan dia...," ucap Annisa dengan nada tegas dan terhenti lalu menghembuskan napas kesal. "Hah... aku tidak bisa menceritakan seluruh nya pada mu rika. Namun yang jelas, kak Alan bukan orang baik seperti yang kita kenal, dia bagaikan rubah bermuka dua dan ular yang siap mematuk kita ketika lengah," lanjut Annisa.


Rika menautkan alis bingung dan menatap annisa seakan tidak percaya dengan penuturan Annisa. "Benarkah dia seperti itu Nis? Tapi kenapa dia seperti itu? Padahal mengenal selama beberapa tahun ini, dia tidak pernah bersikap jahat pada kita," tanya Rika yang masih penasaran.


Annisa membalik tangan Rika untuk ia genggam. "Orang yang terlihat baik, belum tentu baik dalam nya. Begitu pun orang yang terlihat judes dan kaku belum tentu kejam dalam nya. Dan aku baru saja membuktikan itu semua dari kedua pria yang aku kenal," jawab Annisa dengan nada lembut setelah menguasai diri nya.


Menghela napas pelan dan membalas tatapan Annisa. Lalu mengangguk. "Benar kata mu Nis. Aku memang tidak tahu soal permasalahan apa yang terjadi di antara kamu dengan kak Alan, tapi setelah melihat reaksi mu tadi sepertinya kesalahan kak Alan sudah sangat mengecewakan mu. Jadi aku tidak akan ikut campur, dan ikut waspada mengenal orang dengan nasihat mu sekarang," ucap Rika dan tersenyum.


"Makasih rik, selalu mengerti aku."


Mengangguk mengiyakan. "Oh iya, pria yang satu nya lagi siapa Nis? Kan yang terlihat baik tapi busuk itu kan kak Alan, nah yang terlihat kaku tapi baik itu siapa Nis? Suami mu?" tanya Rika. Yang di balas angguk kan kepala oleh Annisa.


"Bisa dong kenalin ke aku Nis suami mu," ucap Rika.


"Nanti jika ada waktu, soal nya dia sibuk terus Rik."


"Iya deh, tak tunggu waktu yang tepat," ucap Rika, lalu melihat meja nya yang masih kosong. "Eh, ngomong ngomong minuman kita kok kagak dateng sih. Padahal kan udah pesen dari tadi, wah minta di tegur tuh bartender," oceh Rika menoleh ke arah bar kafe. "Apa aku samperin aja kali yah," hendak bangkit dari duduk nya.


Annisa menahan tangan Rika agar tidak berdiri. "Sebentar, kali aja banyak yang antri rik," ucap Annisa membuat pergerakan Rika terhenti.


Duduk kembali dengan benar. "Oh, iya terus kotak ini mau di apain Nis?" tanya Rika melirik kotak hitam.


Annisa ikut melihat kotak itu. "Di bungkus saja lagi ke paper bag nya, nanti di buka sama sama dengan si Egi. Soalnya, serasa gak pantas saja aku yang sudah jadi istri orang menerima kado tanpa sepengatahuan suami," ucap Annisa menggeser kotak hitam itu ke tengah tengah meja.


"Iya juga sih, itu jauh lebih bagus Nis biar nggak ada kesalah pahaman antara kamu dengan suami mu itu. Lagian kak Alan nya juga tidak mengatakan apa apa ketika memberikan kado nya, hanya memberikan kado udah deh langsung kabur ," ucap Rika mengambil paper bag dan memasuk kan kotak itu ke dalam nya.


Mengangguk mengiyakan. "Iya Rika, itu yang ku maksud, agar tidak terjadi kesalah pahaman."


BERSAMBUNG...


Setelah Membaca Budayakan Tekan Tombol LIKE dan Tinggalkan JEJAK yaaa. Biar tambah semangat Author nya.

__ADS_1


__ADS_2