
Annisa terduduk sendiri termenung di atas ranjang nya memainkan seprei bantal.
Sudah cukup lama Ia melamun menatap kosong menunduk ke seprei kasur. Pada saat annisa datang ke kamar asrama. Keadaan kamar nya lengang kosong tidak ada rika, sepertinya rika tengah berkunjung ke rumah orang tua nya karena setiap hari libur, rika akan berkunjung ke rumah nya.
Ting..ting..
Notifikasi bunyi ponsel annisa menandakan ada sebuah pesan masuk.
Dengan malas annisa meraih ponsel di samping nya. Dan menyalakan layar ponsel untuk melihat siapa yang mengirim pesan pada nya.
"Kak Alan." Gumam annisa pelan, lalu tanpa membuka pesan tersebut annisa menaruh kembali ponsel nya.
Drrt..drrt..
Bunyi ponsel annisa menandakan ada panggilan masuk.
Annisa melirik layar ponsel untuk membaca siapa yang menelpon nya.
Menghela napas pelan lalu dengan malas annisa mengangkat panggilan telpon tersebut.
"Assalamualaikum dek Annisa." Salam Alan di sebrang telpon.
"Walaikumsalam."
"Adek kembali lagi ke asrama yah? Tadi kakak lihat adek turun dari taxi membawa koper."
"Iya kak."
"Dek annisa sudah makan belum?"
"Belum."
"Maukah adek menemani kakak makan di caffe samping kampus. Tenang saja kakak yang traktir deh."
Menghela napas pelan. "Tidak kak, rika nya lagi nggak ada di asrama." Ucap annisa menunduk.
Mendesah kecewa. "Baiklah. Dek annisa bisakah ke bawah sebentar?"
"Ke bawah? Maksud nya ke mana kak?" Heran annisa.
"Ke depan asrama, kakak ada di depan asrama adek. Ada sesuatu yang ingin kakak kasih."
"Kenapa kak Alan sampai masuk kampus, apa nggak malu?"
__ADS_1
"Nggak lah. Cepat wajah kakak udah merah nih di lihatin banyak cewek yang naksir."
"Dih PD nyaa. Ya sudah annis ke bawah, sebentar. Assalamualaikum." Salam annisa lalu menutup panggilan telpon.
"Walaikumsalam." Menatap layar ponsel.
Annisa segera beranjak dari kasur hendak menghampiri Alan yang kata nya telah menunggu di depan asrama.
Sesampai nya annisa di depan asrama, benar saja. Alan sudah menunggu nya dengan menenteng sebuah paper bag di tangan nya.
Tersenyum manis karena melihat yang di tunggu telah menuju ke arah nya. "Hai, dek annisa." Sapa alan setelah melihat annisa berada tidak jauh di hadapan nya.
"Kak Alan ada apa? Kenapa sampai masuk ke sini?" Menautkan alis heran.
Mengacungkan paper bag di tangan nya. "Kakak hanya ingin memberikan ini. Kamu kan belum makan dek. Di ajak makan bareng pasti adek akan nolak, jadi kakak insiatip deh bungkusin buat adek. Di terima yah." Menyodorkan paper bag ke arah annisa.
Annisa melirik paper bag lalu menatap Alan lagi. "Tapi kak Alan kan dapet uang nya itu susah sampe harus ngojek dulu, kenapa sampai harus membelikan annisa makanan segala. Kan annis bisa beli sendiri." Ucap annisa masih belum menerima paper bag.
Menggerakkan tangan yang tengah menyodorkan paper bag. "Sudah terima aja dek annis. Kakak dapet hasil ngojek nya cukup lumayan hari ini jadi bisa jajanin adek. Terima dong, tangan kakak udah pegel nih." Celoteh Alan dengan nada merajuk manja.
Terkekeh pelan. "Kak Alan kok ikut ikutan gaya annis sih. Ya sudah annis terima tapi di bayar yah. Semua nya berapa kak, yaa itung itung di orderin gitu." Ucap Annisa sambil menerima paper bag.
Alan melihat jam tangan yang melekat di pergelangan tangan nya. "Ah, kakak ada kelas. Di makan yah dek annisa makanan nya. Dah Assalamualaikum." Salam Alan untuk mengalihkan pembicaraan lalu berbalik meninggalkan annisa yang tertawa pelan.
"Memang sih aku belum makan jadi lapar. Makan dulu ah." Gumam annisa lalu berbalik untuk kembali ke kamar nya.
------
Di rumah putra di ruangan santai ayah putra.
Ayah putra tengah terduduk di kursi putar menatap ke jendela kaca besar yang mengarah ke taman samping rumah.
"Tuan besar ini rekaman cctv lorong kamar tuan egi yang tuan besar minta, dan maaf soal penyadap suara di kamar tuan egi. Saya sudah mencabut nya setelah tuan besar memerintahkan saya untuk melepas penyadap sewaktu itu." Tutur jhon.
Jhon meletakkan laptop di atas meja depan kursi ayah putra dan mengarahkan layar nya ke ayah putra.
"Putar." Titah ayah putra yang sudah memutar posisi nya ke arah laptop.
Jhon menekan tombol untuk memutar video yang ada di layar laptop dan setelah gambar dalam layar bergerak, ayah putra fokus melihat adegan annisa yang keluar dari kamar egi yang memperlihatkan wajah sedih annisa dengan langkah yang gontai menyeret koper.
"Jelaskan jhon." Pinta ayah putra meminta kejelasan atas rekaman cctv yang di lihat nya.
"Seperti yang tuan besar lihat, nona annisa keluar dari kamar tuan egi dalam keadaan sedih dengan membawa koper, dan setelah saya menyelidiki ke kampus nona annisa. Seorang dosen pembimbing nya mengatakan jika di kampus tidak ada kegiatan apa pun yang akan menyita waktu sampai malam hari, selain itu saya juga sudah menanyakan pada penjaga rumah, para pelayan yang melihat nona annisa ketika keluar rumah, mereka mengatakan jika nona sempat menunduk kan pandangan menangis di taman. Jadi menurut kesimpulan saya, nona annisa telah di sakiti tuan egi sehingga membuat nya pergi dari rumah ini atau bisa juga tuan egi telah mengusir nona annisa." Jelas jhon panjang.
__ADS_1
Menghembuskan napas panjang dan mengetuk ngetukkan jemari ke lengan sofa.
"Kau sudah selidiki kegiatan mereka berdua setelah pernikahan di langsungkan? dan bagaimana sikap egi terhadap nak annisa?" Tanya putra dengan pandangan tetap fokus ke layar laptop.
Klik. Jhon memindahkan rekaman video yang menampilkan pelataran parkir.
"Tuan besar bisa lihat sendiri. Satu bulan yang lalu tuan egi dengan sengaja mempermainkan nona annisa di basement parkiran mobil dengan membiarkan nona berlari mengejar mobil nya. Dari sini tuan besar bisa menyimpulkan jika tuan egi benar benar sering bersikap seperti itu terhadap nona." Jelas jhon.
"Bersikap seperti itu, maksud nya?"
"Masih dugaan saya tuan besar, bersikap kasar."
Mengangguk paham. "Memang anak bodoh itu sepertinya tidak memperlakukan nak annisa dengan baik. Padahal di lihat dari tanggung jawab nya, nak annisa sebagai istri menurut ku sangat baik. Meskipun aku tahu jika dia juga menikahi egi karena terpaksa akibat kejadian di kamar sewaktu itu. Hmm... sebaiknya aku harus bagaimana jhon menurut mu. Apa aku harus membiarkan nak annisa pergi sejenak dulu atau menjemput nya pulang sekarang juga?"
"Menurut saya, bagaimana jika tuan besar membiarkan saja dahulu nona annisa berdiam beberapa hari di asrama kampus untuk menenangkan diri nya. Dan setelah situasi mulai membaik, tenang, baru tuan besar menjemput nona annisa." Usul Jhon.
Mengangguk kecil. "Kau ada benar nya juga. Kita biarkan saja s anak bodoh ku untuk menyadari kesalahan nya terhadap nak annisa. Bisa bisa nya dia bersikap seperti itu terhadap wanita yang sudah menjadi istri nya, benar benar memalukan sekali. Dimana sikap pria sejati nya itu, hah ngidam apa istriku dulu waktu mengandung nya." Ucap ayah putra membuat jhon menahan tawa nya.
Melirik jhon. "Jhon terus awasi nak annisa selama di kampus nya, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada menantu kedua ku itu. Dan laporkan setiap kegiatan nya pada ku." Titah ayah putra.
"Baik tuan besar."
"Tuan besar, jika tuan egi masih saja tidak menyadari kesalahan nya, apa tuan besar akan membiarkan nona annisa terus berdiam di asrama kampus?" Sambung jhon.
Mengusap dagu dengan jemari nya. "Aku akan menjemputnya meskipun s anak bodoh itu tidak mau menyadari kesalahan nya. Dan untuk menghindari sikap kasar anak ku pada nak annisa, mungkin aku akan memisahkan mereka berdua."
Mengerutkan alis. "Memisahkan!! Tuan tidak berencana membuat mereka berpisah menjadi duda dan janda kan?"
Kepala putra menggeleng pelan. "Tidak jhon, susah payah aku menyatukan mereka berdua agar bisa menikah. Dan lagian perceraian itu sangat tidak di sukai oleh Tuhan."
"Lalu memisahkan seperti apa yang tuan besar maksud?"
"Nanti juga kau akan tahu. Sekarang kita lihat dulu perubahan dari anak bodoh ku itu, setelah kepergian nak annisa dari rumah ini."
Mengangguk paham. "Baiklah tuan besar. Saya hanya menjalankan tugas yang tuan besar perintahkan."
"Baiklah. Kau boleh keluar, aku ingin sendiri dulu di sini." Titah ayah putra.
"Baik tuan besar." Menunduk hormat lalu berbalik berlalu meninggalkan ruangan putra.
Dasar anak bodoh. Apa dia masih saja belum membuka hati nya untuk nak annisa, kenapa sesulit itu dia melupakan nak romisa. hah, benar benar keras kepala.
BERSAMBUNG...
__ADS_1