
Rumah sakit ternama di kota itu pun seketika ramai oleh kedatangan dua pasien wanita yang di dorong di ranjang brankar dengan di giring oleh para pekerja medis dan para bodyguard berjas rapih mencolok sehingga memancing keramaian sekitar.
Kedua pasien itu langsung di bawa ke ruang IGD di lantai khusus dan langsung di tangani oleh beberapa dokter yang handal sekaligus pekerja medis lainnya.
Sementara Ray terduduk di sofa luar ruangan dengan kepala menunduk di kelilingi para bodyguard yang berjaga di sekitar, kemeja putih yang di kenakan Ray telah penuh oleh bercak darah Rika. Air mata nya sudah tak sadar lolos merembes mengalir di kedua pipinya. Dengan bibir bergetar ia terus menggumamkan nama 'Rika' dengan harapan semoga wanita itu selamat.
"Tuan Rayhan. Apakah tuan Jhon harus di kabari sekarang?" Suara salah satu pria berjas rapih menghadap berdiri di depannya.
Ray menggeleng pelan. "Biar gue sendiri, lo kabari si Egi aja."
"Sudah saya kabari tuan, dan tuan muda kedua tengah menuju kemari."
"Hn." Gumam Ray mengiyakan.
Pria berjas rapih itu berbalik melangkah pergi setelah melihat isyarat gerakan tangan dari Ray.
Harusnya gue nggak ngebiarin lo sendiri ke ruangan kerja, mungkin gue masih sempat cegah kalian keluar. Dan lo nggak bakal ngalamin hal ini.
Dengan gerakan lemas dan pelan, Ray merogoh ponsel yang berada di saku celana jeans. Ia menatap layar ponsel untuk mencari nama kontak yang akan di teleponnya. Gerakannya terhenti, ia menatap nanar pada layar yang terdapat sederet angka.
Hah... beberapa kali ia menghembuskan napas kasar dengan kepala menunduk. Ray mengusap air mata nya yang sudah beranak pinak di sudut mata.
"Bang Jhon... Gue gak bisa, bagaimana perasaan bang Jhon jika tahu si Mak kecelakaan. Gue gak sanggup kejadian lalu terulang lagi, gue harus bagaimana? Maaak... napa lo harus seperti ini."
Seperkian detik Ray terdiam masih menundukkan kepala untuk menetralkan napasnya. Lalu ia menatap layar ponsel kembali. Sebaiknya aku panggil Om Adi dulu untuk mengabari anaknya ada di mari.
Tangannya bergerak menempelkan benda pipih ke telinga saat nada sambung telah terdengar.
"Assalamualaikum," salam suara pria dari sebrang telepon terdengar tenang.
Ray menghela napas pelan, mengangkat wajahnya. "Wa-walaikumsalam, Om." Ucapnya serak tercekat.
"Iya Nak Ray, ada apa? Tumben telepon Om."
Terlihat keraguan dari sorot mata Ray. "Om... Rika... Rika di rumah sakit."
"Sepertinya si Neng nggak tugas deh hari ini karena ikutan amal di kafe Nak Annisa. Apa dia nggak bertemu Nak Ray?"
"Dia... dia ada di sini Om."
"Lah, terus. Kenapa telepon Om? Mau ajak Om ikutan acara amal yah? Tapi bukannya acara inti tasyakuran nya nanti malam di rumah Nak Annisa?"
Ray mendesah panjang sebelum berucap kembali. "Buk-bukan itu maksud ku, Om." Terjeda sejenak menghembuskan napas pelan.
"Terus ada apa Nak Ray? Om lagi kerja loh, katakan yang jelas."
"Om Rika kecelakaan."
"Apa! Si Neng?" Suara meninggi dari sebrang telepon terdengar jelas ke telinga Ray hampir memekakkan telinga.
Prang... brak.
Terdengar suara benda jatuh dan pecah dari sebrang telepon menandakan orang yang di telepon mengalami keterkejutan.
"Om... Om masih disana kan?" Ray bersuara menannyakan dengan suara berat nan serak.
__ADS_1
"Dimana? Dirumah sakit mana?"
Ray memberitahukan rumah sakit tempat Rika di tangani.
"Jangan telepon rumah. Jangan beritahukan pada tante. Om kesana sekarang, Assalamualaikum." Pak Adi mematikan panggilan secara sepihak.
"Walaikumsalam." Melihat layar ponsel yang meredup, Ray mengusap wajahnya dengan sebelah tangan.
Tinggal bang Jhon yang belum di kabari. Gue harus mengabarinya walau berat mengatakannya karena bagaimana pun dia adalah tunangan Abang.
Drap...drap.
Suara sepatu dari kejauhan yang berlari semakin mendekat ke arah Ray berada.
"Hosh... hosh... sa-saya Farhan Alfarezi kusuma dokter jantung." Pria berjas kedokteran yang baru datang langsung menunjukkan kartu pengenal ke bodyguard yang berjaga di kedua sisi pintu IGD.
"Maaf dok. Di dalam sudah ada dokter wanita spesialis jantung, jadi anda tidak perlu masuk ke dalam." Cegah salah satu bodyguard.
"Tapi saya dokter jantung terbaik di rumah sakit ini, izinkan saya masuk!"
Farhan Alfarezi kusuma?... Saat mendengar nama itu, Ray mengalihkan pandangannya ke arah keributan yang di buat oleh pria berjas kedokteran itu, seketika matanya melebar. "Bang Ezi." Panggilnya meninggi.
Farhan menoleh, terlihat napasnya terengah akibat berlari. "Rayhan, bantu aku agar bisa masuk ke dalam."
Ray melihat penampilan Farhan dari atas sampai bawah. "Ma-maksud Abang? Tapi benarkah lo bang Ezi?"
"Iya ini aku."
"Bag-bagaimana bisa?" Kedua bola mata Ray semakin melebar terkejut saat melihat tatapan mata Farhan yang memerah dan memelas penuh harap.
Rayhan terdiam masih mencerna keterkejutannya menatap terpaku. Dia kenal si Mak juga? Bagaimana bisa?
"Ray!" Sentak Farhan, kemudian mendesah pasrah karena tak mendapat tanggapan, ia berbalik kembali menatap pintu kembar yang tertutup rapat itu.
"Tak perlu ke dalam. Gue butuh penjelasan semuanya...," Ray masih menatap bingung. "Bagaimana bisa Bang Ezi kenal dengannya, dan bahkan datang ke negara ini setelah 7 tahun menghilang. Dan..." Melihat penampilan Farhan dari atas sampai bawah.
"Bagaimana bisa badan beruang Abang berubah jadi kurus gini?"
Farhan berjalan pelan ke arah Ray dan duduk di sampingnya. Ia menghembuskan napas panjang sebelum berucap. "Egi... dia yang akan menjelaskan semuanya."
Alis Ray berkerut dalam menatap tanya. "Egi?"
"Iya, dia yang mengundang ku datang ke negara ini." Tanpa menoleh, Farhan menatap lurus pada pintu kembar tertutup.
"Bang Jhon? Apa dia tahu?"
"Tidak. Bahkan tidak mengenali ku."
----------------------------------
Sementara di sebuah ruangan VVIP Restoran mewah.
Jhon bersama beberapa orang pria asing tengah menikmati makan siang sambil membahas pekerjaan. Ia tak sendiri dari perusahaannya, namun di temani seorang wanita yaitu sekertaris Lia dan seorang pria sebagai asisten. Di saat mereka fokus membicarakan perihal proyek tiba-tiba...
Drrrt...Drrt.
__ADS_1
Ponsel Jhon yang berada di saku jas bergetar menandakan ada seseorang yang menelponnya. Ia merogoh ponselnya, melihat layar nama siapa yang tertera di layar. Alisnya berkerut saat melihat nama siapa yang tertera.
Mau apa bocah tengik itu menelpon ku.
Jhon sedikit memiringkan kepala ke arah Lia untuk membisikkan sesuatu yang di balas anggukkan kepala. Lalu ia berbicara sopan pada tamu nya untuk undur diri menjauh mencari tempat aman untuk mengangkat telepon.
Setelah berbasa basi akhirnya Jhon keluar ruangan VVIP di ikuti asistennya, ia berjalan di sekitar taman dekat koridor restoran. Dan menjawab panggilan telepon yang terus bergetar itu.
"Langsung katakan. Ada maksud apa kau mengganggu waktu ku, bocah tengik?" Jhon berucap dengan nada dingin nan tajam setelah menempelkan benda pipih ke telinganya.
"Bang Jhon." Ucap Ray rendah serak.
"Katakan."
Keheningan sejenak hanya suara tarikan napas panjang dari sebrang telepon. "Bang." Ray bersuara lemah seakan ragu-ragu.
"Cepat katakan bocah, waktu ku sangat berharga hanya untuk mendengar ucapan mu yang tak jel-"
"Rika kecelakaan." Ucap Ray jelas sedikit meninggi memotong ocehan Jhon.
Degh... seketika Jhon mematung membeku di tempat, jantungnya berdetak sangat cepat ia meremas kuat ponsel yang di genggamnya. Rahangnya mengetat dengan sorot mata melebar mulai memerah tak berkedip. Tidak mungkin...
Napas Jhon seakan sesak hampa oleh udara, lidahnya kelu untuk bersuara hingga akhirnya hanya diam membisu kaku.
Ray yang sudah tahu akan seperti itu. Ia bersuara kembali. "Dia sekarang di rumah sakit XX masih di ruang IGD... dia kecelakaan mobil."
Tangan Jhon turun dengan perlahan dan kaku akibat otot nya mengeras oleh kepalan kuat terhadap ponselnya sehingga memecahkan layar benda pipih itu.
Krak... brak.
Dia menjatuhkan ponsel bersamaan dengan dirinya yang lemas merosot terjatuh ke lantai. "Tidak... gadis bodoh." Celetuknya dengan pandangan mata Jhon terlihat kosong, menekuk sebelah lutut dan sebelah kaki menjulur, dirinya terjatuh ambruk di teras taman restoran.
Asistennya yang sedari tadi berdiri tidak jauh memperhatikan. Ia mendekat menghampiri. "Tuan Jhon, ada apa?"
Jhon masih diam membisu karena lidahnya kaku untuk berucap, napasnya terlihat berderu terengah dengan tatapan menunduk kosong termenung linglung. Rikaa... gadis bodoh ku.
Pria berjas itu memegang sebelah bahu Jhon karena pegawai sekitar yang melihat keadaan Jhon ambruk di lantai membuatnya menjadi pusat perhatian sekitar.
"Tuan Jhon, apa anda baik-baik saja?"
Jhon menepis kasar tangan di bahunya. Lalu dengan gerakan tertatih lemas hampir terhuyung ia bangkit berdiri. Asistennya itu hendak membantu untuk memapah namun di tepis kasar oleh Jhon.
Rikaa... Masih terlihat linglung Jhon berjalan lemas tanpa memperdulikan sekitar, ia melangkah pergi meninggalkan asistennya yang terlihat bingung dengan pertanyaan besar.
"Tuan Jhon." Ucap Asistennya mengambil ponsel yang tergeletak di teras. Lalu ikut menyusul untuk membuntuti. "Sekertaris Lia masih di dalam dan pertemuan ini masih belum selesai." Dia bersuara karena melihat Jhon berjalan ke arah jalan keluar menuju parkiran.
Jhon menoleh memberikannya tatapan sangat tajam hingga membuat pria itu menciut diam menunduk. Tanpa menjawab atau memberikan penjelasan ia kembali melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu, menuju mobilnya yang terparkir.
"Baiklah, saya akan siapkan mobil. Dan kabari sekertaris Lia dahulu."
Namun Jhon tak menggubris seakan tuli oleh suara sekitar.
"Eh." Menatap heran pada punggung tegap Jhon namun ada yang salah dengan langkahnya yang terlihat gontai lemas dan kepala tertunduk. "Ada apa dengan tuan Jhon, sebaiknya aku tanyakan pada orang di perusahaan?"
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...