Pejuang Move On

Pejuang Move On
Mengalah


__ADS_3

Egi terpaku diam duduk di sofa dengan mengaitkan jemari tangan dan mendekatkan nya ke bibir. Egi masih berpikir mengenai kejadian yang terjadi pada nya dan annisa.


Kenapa saat tadi melihat dia menangis membuat hati ku merasakan sakit dan rasa nya ingin sekali memeluk menenangkan nya tapi tubuh ku kaku tidak bisa bergerak tidak sejalan dengan pikiran ku.


Dan sekarang dia akan pergi dari sini bahkan mungkin dari hidup ku. Apa aku harus merasa senang atau sedih?


Menghembuskan napas kasar. "Kenapa aku memikirkan hal yang gak guna tentang wanita brandal itu. Jika dia mau pergi ya pergi saja, siapa juga yang larang. Memang benar yang di katakan nya tadi jika dia sangat mengganggu hidup ku." Gumam egi pelan.


Ceklek.


Pintu kamar mandi terbuka.


Annisa keluar menggendong tas dan menyeret koper kecil di tangan nya. Berdiri menghadap ke egi yang duduk di sofa.


"Aku pamit egi. Aku sudah mengemas barang barang ku." Ucap Annisa menunduk.


Egi bangkit dari duduk nya lalu menghampiri annisa.


Menatap dingin ke annisa dan melipat kedua tangan di dada.


"Benarkah hanya barang barang mu. Bongkar koper itu, aku ingin memastikan nya sendiri jika kau tidak membawa barang ku." Titah Egi.


Annisa mendongak menatap egi sejenak lalu menghela napas pelan.


"Segitunya kah kau merendahkan ku egi. Meskipun aku miskin tapi aku bukan pencuri, yang mengambil hak orang lain yang jelas jelas bukan hak ku."


"Aku tidak menuduh mu. Hanya ingin memastikan, jadi cepatlah bongkar koper mu di hadapan ku!!" Bentak egi.


Terperanjat dengan bentakan egi lalu dengan pasrah annisa duduk jongkok dan membuka resleting koper nya. Annisa membongkar semua isi yang ada di dalam koper, Ia keluarkan semua nya hingga koper itu kosong.


"Sudah lihat kan. Di sini tidak ada barang mu, semua nya barang ku." Tegas Annisa menatap egi sinis.


Tersenyum miring lalu egi membungkuk mengambil pigura foto yang saat acara pernikahan egi dengan annisa. Egi sempat berfoto bersama semua anggota keluarga nya.


"Ini apa!! Ini adalah foto ku jadi ini barang ku, bukan barang mu." Tegas egi mengambil figura itu.


Hendak merebut kembali dari tangan egi namun tak sampai karena egi dengan sigap menjauhkan nya dari jangkauan annisa.


"Itu punya ku egi. Di foto itu ada mbak misa dan asyila, aku hanya ingin melihat wajah mereka. Kembalikan egi!!" Teriak annisa sambil meloncat loncat ingin meraih kotak foto dari tangan egi.


"Oh, kau hanya ingin foto mereka. Baiklah." Membuka figura dengan kasar lalu egi mengeluarkan foto dalam figura itu.


"Kau hanya ingin foto misa dan asyila kan?" Tanya egi sambil menunjukkan letak Romisa dan Asyila yang ada di sisi kiri bersama Arga.


"Iya, aku hanya menginginkan foto mereka. Kembalikan pada ku!!"


Merobek hingga menjadi dua bagian lalu melemparkan sebagian foto ke annisa.


"Ambillah, barangku sudah aku ambil sendiri. Dan cepat kau berkemas kembali, aku risih melihat yang berantakan di kamar ku." Ucap egi lalu berbalik sambil memegang sebelah foto yang di robek nya tadi.

__ADS_1


Kenapa dia setega itu pada ku. Egi, apa salah ku. Sampai sampai kau mencurigai ku sampai seperti ini.


Mengepalkan tangan geram dengan mata mulai berkaca kaca lalu annisa menunduk berjongkok mulai merapihkan kembali barang barang nya yang sempat di keluarkan ke dalam koper.


Selesai merapihkan barang barang nya. Annisa bangkit lalu kembali menatap egi yang saat itu tengah berdiri di depan jendela kaca balkon membelakangi annisa.


"Aku pergi egi. Jika ayah bertanya aku dimana, katakanlah jika aku ada kegiatan di kampus." Tutur annisa menunduk.


"Kau mau pergi bergitu saja setelah mengacaukan kamar ku. Tidak semudah itu." Ucap egi.


Alis annisa menaut bingung. "Mengacaukan. Maksud mu?"


Menunjuk ke arah meja sofa dekat ranjang. "Bereskan buku itu ketempat nya, bukannya kau yang mengambil nya. Aku tidak sudi memegang bekas tangan mu, dan karpet bekas kau tidur. Gulungkan karpet nya. Jangan meninggalkan jejak kekacauan yang kau buat di kamar ku." Tegas Egi masih membelakangi annisa.


Menghembuskan napas kasar dan menatap geram ke egi.


Dasar bocah songong.. aku mau pergi saja kenapa seribet ini. Memang kenapa dengan karpet itu, dan buku itu perasaan hanya itu saja kau bilang kekacauan dasar bocah.


Annisa dengan hati dongkol mengambil buku paket di atas meja lalu menyimpan ke rak buku di ruangan belajar. Dan annisa juga menggulung karpet yang ada di sisi ranjang yang biasa jadi tempat tidur nya.


Prok..prok.. annisa menepuk tangan nya setelah membereskan apa yang egi minta.


Kembali ke tempat nya berdiri tadi di samping koper. "Aku sudah membereskan nya. Jadi aku pergi egi." Ucap Annisa.


Egi mengibaskan sebelah tangan tanpa berbalik atau menoleh ke annisa. "Jika kau ingin pergi cepatlah pergi. Sebelum aku menyadari kekacauan apa lagi yang kau buat di kamar ku. Dan menyuruh mu membereskan nya tanpa jejak." Tukas egi.


Aku sudah lelah mendebat mu egi, lebih baik aku segera pergi dari sini sebelum tambah panjang mengarah ke perdebatan yang akhirnya menyadarkan ku jika aku hanyalah orang asing bagi mu.


"Walaikumsalam. Cih!! Jelas akan bahagia aku jika tidak ada diri nya di sini." Gumam Egi setelah mendengar pintu di tutup menandakan annisa telah keluar dari kamar nya.


Lalu egi melirik foto yang ada di pegangan tangan nya.


Di lorong luar kamar.


Annisa menguatkan diri nya agar tidak menangis lagi. Ia berjalan melewati beberapa lorong dan ruangan yang hanya beberapa pelayan dan penjaga rumah melewati nya. Annisa berjalan lamban menunduk untuk menuju pintu keluar rumah putra.


Kenapa aku harus menangisi laki laki egois dan kasar seperti nya. Tapi annisa bagaimana pun dia itu adalah suami mu. Tapi aku terlanjur sakit hati dengan ucapan nya tadi bahkan membentak ku sampai seperti itu.


Selama ini, jika dia membentak atau mengeluarkan ucapan tajam terhadap ku tidak pernah sampai aku menangis seperti tadi. Apa karena sikap sekaligus ucapan kasar nya sehingga membuat ku menangis merasa sakit hati.


"Kakak ipar kedua." Panggil syila yang baru keluar dari sebuah ruangan.


Annisa yang semula menunduk menoleh menatap syila.


Tersenyum manis. "Iya syila."


Mendekati dan melirik koper juga tas gendong yang di bawa annisa. "Kakak ipar mau kemana membawa koper segala?" Heran syila.


Berusaha tetap tenang. "Ah, ini syila. Kakak mau ke asrama kampus karena ada kegiatan di sana yang akan selesai sampai malam jadi kakak harus menginap di sana selama beberapa hari." Alasan annisa.

__ADS_1


Mengangguk paham. "Hmm gitu. Kak egi nggak ngantar kakak ipar? Kok hanya kakak ipar kedua saja sih di sini." Tanya syila heran sambil celingak celinguk melihat ke belakang annisa kali aja ada egi.


"Kak egi lagi banyak tugas jadi nggak ngantar kakak. Lagian kan bisa naik taxi jadi nggak masalah bagi kakak."


"Ya sudah. Hati hati yah kakak ipar di jalan nya. Eh, tapi kakak ipar kedua akan kesini kan jika ada lengang dalam kegiatan nya?" Tanya syila.


"Sepertinya akhir akhir ini kakak akan sangat sibuk syila, jadi tolong sampaikan pada mbak misa jika kakak akan izin untuk beberapa hari ke depan karena tidak bisa datang ke rumah ini. Juga ayah yah, jika ayah menanyakan kakak." Mohon annisa sambil memegang kedua tangan syila.


Syila melirik wajah annisa yang memperlihatkan mata sembab annisa lalu syila melirik tangan yang di pegang annisa.


"Iya kakak ipar kedua tenang saja. Syila akan sampaikan. Tapi kakak ipar kedua tidak apa apa kan. Kenapa mata kakak ipar seperti habis menangis?" Menatap menelisik wajah annisa.


Memalingkan wajah ke arah lain dan mengucek mata nya. "Ah, ini karena kakak tadi kelilipan air saat mandi, jadi merah gini deh." Bohong annisa lalu tersenyum.


"Sudah di obati belum kakak ipar kedua? Jangan di biarkan loh nanti infeksi." Khawatir syila hendak menyentuh area mata annisa.


Menghindari tangan syila. "Sudah syila, tadi di tetesi obat mata. Bentar lagi juga akan normal kembali." Tersenyum menatap syila.


Syila mengangguk. "Syukurlah. Lain kali kakak ipar kedua harus lebih hati hati yah."


Mengangguk mengiyakan. "Terimakasih syila sudah mengkhawatirkan kakak. Ya sudah kakak mau berangkat sekarang. Jaga kesehatan syila juga jaga mbak misa yah." Amanah annisa.


Alis syila menaut bingung. "Iya kakak ipar kedua. Seperti tidak akan ke sini lagi kakak ipar bilang seperti itu. Kakak ipar kedua lah yang harus jaga diri dan kesehatan, kan mau jauh dari kami." Tutur syila bijak.


Terkekeh pelan. "Itu pasti syila. Assalamualaikum." Pamit annisa lalu berbalik dengan menyeret koper nya.


"Walaikumsalam kakak ipar kedua. Semangat kakak ipar dengan kegiatan kampus nya." Teriak syila ketika annisa sudah sedikit menjauh.


Menoleh ke belakang dan mengangguk tersenyum.


Meskipun awal nya aku pernah menyangka jika syila itu remaja yang manja dan jutek, tapi setelah menjadi bagian anggota keluarga ini. Syila bahkan baik dan perhatian pada ku berbanding terbalik dengan egi yang merupakan suami ku.


Annisa menyusuri setiap jalan untuk keluar dari rumah putra. Dan setelah melewati beberapa ruangan dan pelataran taman rumah putra.


Kini Annisa telah sampai di luar gerbang utama rumah putra, Ia tengah berdiri menunggu taxi online yang di pesan nya datang.


Taxi yang di pesan annisa telah tiba dan annisa tanpa menunggu lama lagi langsung memasuki taxi dengan mengangkat koper nya masuk ke dalam mobil.


Di perjalanan annisa hanya terdiam membisu memandangi keluar jendela menatap pohon pohon jalanan yang berjejer rapih dan kendaraan yang berlalu lalang.


Mama, Papa. Maafkan anak mu jika annis belum bisa menjadi istri yang baik untuk suami, dan bahkan annis bersikap seperti ini terhadap suami.


Tp bukan keinginan annisa untuk pergi dari tanggung jawab sebagai istri nya. hanya saja, dia selalu bersikap seolah olah menganggap annisa bukan istri nya.


Padahal annis sudah berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk nya meskipun annis juga tidak menyukai diri nya yang kasar. Tp selama ini dia sama sekali tidak pernah menghargai annis. Mungkin cara ini adalah yang terbaik jika annis harus menghindar dari nya agar membuat dia senang.


Semoga saja annisa tidak di laknat malaikat karena meninggalkan tanggung jawab sebagai istri. Kan annis pergi juga atas kemauan nya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


LIKE, VOTE dan RATING nya yaa jika suka dengan cerita ini, agar Author nya lebih semangat nulis nya.


__ADS_2