Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 53


__ADS_3

Waktu telah menunjukkan pukul. 10 siang, di depan kafe brandal telah di pasang baliho yang bertuliskan bahwa makan dan minum di sana akan di gratiskan selama tiga hari berturut untuk mensyukuri atas empat bulan kehamilan sang pemilik kafe.


Karena informasi tersebut, kafe brandal itu sudah sesak oleh pengunjung sampai mengantri penuh untuk bergantian makan di sana. Selain di gratiskan makan di tempat. Di bagian depan kafe pun terdapat beberapa pegawai lainnya yang telah di tugaskan untuk memberikan bingkisan kotak kado pada setiap pengunjung yang baru keluar dari pintu.


Rika yang sudah memakai kostum pegawai kafe yang di desain berbeda dari hari biasanya pakaian itu terlihat unik di tubuhnya yang cukup mungil membuat kesan gadis manis yang imut, ia ikut membantu melayani pengunjung dengan membawakan pesanan makanan ke meja mereka. Sementara Ray jadi pengamat dan pengatur acara untuk melihat kegiatan agar berjalan lancar tanpa ada keributan.


Rika duduk di kursi meja bar sesaat telah mengantarkan pesanan, ia mengusap keningnya yang terasa basah oleh keringat akibat berjalan bolak-balik sedari pagi.


Hah... pengunjung makin banyak aja, mana dari pagi perut ku baru terisi satu cupcake, itu pun di rumah.


Dia memperhatikan sekitar yang tampak ramai juga para pegawai yang sibuk kesana kemari mengantarkan pesanan.


"Mak." Panggil Ray sambil meletakkan segelas jus melon ke atas meja bar.


"Alamak." Terlonjak kaget, menoleh pada pria yang mengambil kursi di hadapannya untuk duduk. "Ngagetin aja deh lo." Rika menarik gelas jus dan menyeruputnya.


Ray tersenyum menarik tisu dari dalam kotak yang kebetulan berada di sekitar meja. "Lo kayak anak kucing yang kecebur air selokan, kusut amat dah." Ucapnya, sembari memegang dagu Rika agar terangkat wajahnya dan mengusap keringat di sekitar pipi yang merah juga kening.


Mendelik sebal. "Lo ngeledek atau lagi muji?" Rika memukul jemari tangan Ray yang berada di dagunya agar terlepas. Lalu kembali menyeruput jusnya.


Ray tertawa pelan, masih mengusap keringat di wajah Rika. "Cantik," celetuknya pelan tanpa sadar.


"Hah, lo bilang apa?" Heran Rika meletakkan gelas yang tinggal seperempat air nya.


"Ah," gelagap Ray, ia menarik kedua pipi Rika dengan gemas untuk di cubit. "Wajah lo banyak buriknya, Mak."


"Lo yang burik. Aww, sa-sakit banci. Lepas!" Memegang kedua tangan Ray.


"Ekhem." Dehem seorang wanita yang baru datang bersama pria tampan di sampingnya.


Rika melirikkan bola mata nya ke arah samping. "Umii Annisa, hiks...hiks kangeen." Rengeknya manja dengan tatapan sendu.


Annisa tersenyum berdiri dan mendekat di samping gadis manis itu. "Maaf baru dateng kemari, tadi habis dari kafe cabang sama memeriksa persiapan di rumah untuk acara malam."


"Banci lepasin, udahan nyubitnya. Sakit Ray!" Kesal Rika memegang kedua tangan Ray yang masih menguyel uyel kedua pipinya.


Ray tertawa geli. "Gak, sebelum buriknya ilang."


"Umii." Rengek Rika menatap melas ke arah Annisa yang sudah tersenyum merangkulkan tangan ke pundaknya.


"Ray." Egi bersuara dengan dingin.


"Hah." Desah Ray kecewa dan melepaskan pegangan di kedua pipi, ia menatap sebal ke arah Egi. Ganggu aja.


Egi ikut memberikan tatapan yang cukup tajam sebagai isyarat peringatan. Dia milik si Jhon.


"Ya, ya. Gue tahu!" Ucap Ray cukup keras karena kesal.


Seketika Rika yang tengah mengusap kedua pipinya menoleh ke arahnya. "Kalo lo udah tahu bakal sakit gini, napa masih di cubit. Dasar banci, nyebelin."


"Ulu ulu... ngambek si Mak." Ray tersenyum hendak mengusap pipi Rika namun dengan cepat gadis manis itu menghindar.


"Tau ah."


"Dih, galak juga si Mak." Mengusap gemas puncuk kepala Rika.


Hah... "Ray." Egi menatap tajam penuh peringatan. Jangan ganggu dia, bisa habis lo sama si Jhon...


Berbalas menatap sebal. "Ck, si Jhon tua lagi." tersenyum miring. "Lo kagak ngantor Gi? Si Jhon tua kan sudah berangkat sejak pagi." tanya Ray mengalihkan.


"Sekarang gue mau berangkat karena ada rapat penting, gue titip Annisa."

__ADS_1


Ray mengangguk paham, kemudian ia beralih menatap kedua wanita di hadapannya. "Tapi sekarang baiknya kita ke ruangan kerja aja deh, lihat disini kalian jadi tontonan para pengunjung."


"Hemm. Gue antar Annisa duluan, nanti kalian nyusul." Timpal Egi merangkul bahu Annisa.


Annisa melirik sekitar yang memang dirinya jadi pusat perhatian semua orang. "Rik ganti kostum mu gih, aku tunggu di ruang kerja."


Rika mengangguk pelan, dan mengangkat sebelah tangan dengan jempol teracung. "Siip umii, aku nyusul."


Annisa dan Egi berjalan di koridor untuk menuju ruangan tempat kerja plus istirahat selama di kafe, kedua nya di ikuti oleh dua bogyguard yang biasa mendampingi Annisa.


Hingga keduanya sampai di depan pintu berbahan kayu yang bercat cokelat gelap. Egi mengecup kening juga kedua pipi Annisa, menangkup wajahnya.


"Jika mau pergi keluar ajak pengawal mu, dan jangan makan sembarangan lagi."


"Iya, aku tahu."


"Baiklah, aku pergi sebentar. Nanti aku jemput lagi," yang di balas anggukkan kepala oleh Annisa.


Egi dengan enggan melepaskan Annisa dan berbalik melangkah pergi saat telah memerintahkan pada kedua bodyguard untuk melindungi Annisa.


Sepeninggalan Egi.


"Pak Tio."


"Iya Nona." Maju mendekat dengan wajah menunduk.


"Kayaknya tas saya ketinggalan di mobil, bisakah kalian ambilkan? kayaknya suami saya belum jauh juga."


"Baik Nona," Pak Tio memberikan isyarat mata pada rekan nya agar memenuhi apa yang di pinta Annisa.


"Dan pulangnya, sekalian ambilkan saya minum sama cupcake yang di pesan dari Rika."


"Baik Nona." Rekan nya yang di beri isyarat tadi berbalik meninggalkan mereka berdua di koridor yang terlihat sepi dan lenggang.


Annisa melirik sekitar. Kalau aku masuk sekarang, berarti hanya berduaan dong dengan Pak Tio, bisa ada fitnah. "Sebentar, aku tunggu Rika dulu. Biar ada teman."


Dan bersamaan pada saat itu, seorang pegawai wanita tiba-tiba muncul dari belokan koridor membawa beberapa piring dan peralatan makan lainnya lengkap dengan pisau kue. Pegawai itu menatap tajam ke arah Annisa yang membelakanginya masih berdiri mematung di depan pintu. Terlihat seringaian dari bibirnya sembari melangkah penuh minat dan rencana ke arah Annisa.


"Nisaa! Awas!" Teriak Rika dari kejauhan yang melihat pegawai itu akan terjatuh dengan perabotan makan mengarah akan jatuh menimpa ke Annisa.


"Eh," terhenyak Annisa menoleh, seketika mata nya melebar terkejut.


"Nona!" Panik Pak Tio menarik Annisa dan melindunginya untuk di halangi oleh tubuhnya hingga semua barang itu mengenai punggungnya.


Prang... Prang... Dugh.


Piring-piring pecah juga semua alat makan jatuh berserakan di lantai sekitar. Pegawai wanita itu tersungkur ikut tergeletak bersama pecahan kaca.


Annisa terpaku diam melotot dengan pemandangan di depannya, ia mendongakkan wajah melihat ke arah pria di hadapannya yang cukup dekat dan masih memegang kedua lengan atas untuk melindunginya. "P-pak Tio?" Terbata karena kaget.


Pria berjas hitam itu menghembuskan napas kasar menatap cemas bercampur panik. "Nona tidak apa-apa? Apa ada yang terluka? Apa yang sakit? Maaf saya hampir saja lengah dan membuat Nona dalam bahaya."


"Sa-saya baik-baik saja." Ucap Annisa lemah. Lalu ia melirik ke arah bawah dimana gadis pegawai yang tersungkur dengan kaki dan tangan di penuhi darah. "Tapi dia...,"


"Nisa, kamu tidak apa-apa kan?" Cemas Rika yang terdengar ngos-ngosan napasnya akibat berlari. Ia memidai tubuh Annisa kali aja ada yang terkena pecahan beling dari perabotan hancur.


Annisa mengabaikan pertanyaan, ia merunduk jongkok untuk membantu pegawai wanita yang terjatuh itu. "Kamu tidak apa-apa?" Tanya Annisa memegang sebelah bahu berniat untuk memapah.


Pegawai wanita tersebut menengadah, raut wajahnya terlihat meringis kesakitan saat menggerakkan kaki nya. Namun ada yang salah dengan tatapannya, yang terlihat memusuhi penuh kebencian seakan ingin menelan hidup-hidup pada wanita yang bertanya itu. "Ah, sssh." Desisnya memegang siku tangan yang berdarah.


"Nona, biar saya yang urus dia." Pak Tio segera bergerak mengambil alih untuk memapah pegawai. "Nona Rika tolong bawa Nona ke dalam."

__ADS_1


"Iya." Rika membantu Annisa untuk bangun kembali.


"Dia terluka banyak, langsung bawa dia ke rumah sakit untuk di obati agar tidak infeksi. " Instruksi Annisa menatap khawatir pada gadis pegawai.


"Baik Nona." Memapah pegawai yang bangun tertatih agar berbalik untuk melangkah pergi. Saya akan membawanya ke markas untuk di interogasi.


"Masuk Nis." Ucap Rika yang masih merangkulkan tangan ke bahu Annisa dan menggiring ke arah pintu ruangan.


Annisa melirik ke arah lantai yang terdapat pecahan kaca yang sedang di bersihkan oleh pegawai lain. "Kalian hati-hati saat membersihkannya, jangan sampai terpeleset lagi."


"Baik Nona Annisa." Serempak kedua pegawai yang tengah menyapu dan mengepel.


Annisa menghembuskan napas panjang, lalu menurut masuk ke dalam ruangan.


"Si Ray kemana?" tanya Annisa yang sudah duduk di sofa panjang.


"Ada keributan di depan, jadi lagi ngurus di sana."


Hah... Annisa merebahkan kepala nya ke senderan lengan sofa. "Hari yang melelahkan," Celetuknya pelan nan jelas.


Rika terkekeh, mendekat berpindah duduk dan memijat kedua bahu Annisa dengan pelan. "Namanya juga tasyakuran Nis pasti capek."


"Hemm." Gumam Annisa memejamkan mata nya menikmati pijatan.


Rika menatap wajah Annisa yang terlihat tenang, ia melirik pada pintu yang kebetulan terbuka sedikit memperlihatkan dua pegawai kafe yang sedang bersih-bersih. Alisnya terangkat sebelah saat kejadian tadi terlintas di pikirannya.


Ada yang salah dengan tatapan wanita tadi. Dan saat dia terjatuh pun kenapa seperti di sengaja melemparkan perabotan ke arah Annisa.


"Rik."


Terhenyak dari lamunan, dan menoleh. "Hemm, Napa?"


"Aku ingin makan Asinan buah yang pedees banget. Kalau gak salah, adanya itu di kedai dekat pertigaan."


Gerakan tangan Rika yang sedang memijit terhenti. "Boleh, tak pesenin." Rika merogoh ponsel dari blezer yang di pakainya.


Annisa bangkit dari rebahannya membenarkan kerudung. "Aku mau nya makan di tempat. Kita ke sana saja naik taksi atau pinjem mobil si Ray."


"Mmm." Rika tampak berpikir termenung menatap layar ponsel. "Buat apa pinjem punya si Ray, aku juga bawa mobil Nis."


"Kalo gitu langsung saja yuk." Girang Annisa bangkit dari duduknya, menarik sebelah lengan Rika.


"Oke umii. Ayuk sekalian aku kenalin Umi ke si biru tampan ku." Ikut beranjak dan mulai melangkah ke arah pintu keluar.


Annisa merangkul sebelah lengan Rika, menggiringi langkah kakinya. "Bukannya mobil Papa mu warna hitam kok si biru."


"Aku habis beli mobil."


Berbinar ceria dan tersenyum. "Widiih, tapi bukannya kamu ngumpulin uang buat bangun kantor untuk praktek mandiri, Rik."


"Ini di beliin bukan beli sendiri."


Annisa mencubit lengan Rika dengan gemas. "Di beliin apa minta."


Rika tertawa, mengusap lengannya yang terasa panas. "Bisa di bilang gitu deh."


"Ini mau jalan kemana?" Heran Annisa yang berjalan beda arah bukan ke arah pintu depan.


"Lewat pintu belakang aja Nis, di depan kan lagi ada keributan. Bisa habis dong Umi sama penggemar yang mengantri."


"Ck, bisa aja kamu Rik." Tersenyum mengimbangi langkah kaki Rika.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...


__ADS_2