
Annisa telah berdiri di samping mobil begitu pun egi.
Merebut tumpukkan kertas dan buku buku tebal dari pelukan annisa. "Kenapa kau susah sekali di bilangin, jangan membawa beban yang berat dulu, tangan mu masih terluka," ucap egi kesal lalu membuka pintu mobil belakang dan melemparkan begitu saja buku buku annisa ke atas kursi.
"Tapi kan itu bukan beban berat egi," sangkal annisa.
Menatap dingin ke annisa lalu membuka pintu mobil penumpang depan. "Masuk!" titah egi memerintah.
Annisa menurut masuk dan duduk di kursi nya.
Dasar bocah, udah datang tiba tiba. Maen ngomel lagi kalau kasihan bukannya dari tadi bawain buku ku. Bukan malah merangkul ku di depan kak Alan...
Alis annisa berkerut dan kepala nya sedikit di miring kan mengingat nama kak alan.
Astagfirullah, bagaimana bisa tadi dia berbuat begitu di depan asrama bahkan di depan kak Alan, huh semoga saja kejadian tadi tidak ada yang lihat.
Egi memasuki mobil dan duduk di kursi kemudi, melirik Annisa yang tampak terbengong melihat lurus ke depan. Egi mendekat untuk meraih seat belt.
Annisa terlonjak tersadar dari lamunan nya, dan ketika tersadar tatapan mata nya langsung bersirobok menyatu dengan tatapan mata egi, yang saat itu wajah egi sangat dekat sekali hanya berjarak beberapa cm dari wajah nya.
"Eg-i se-sedang apa kamu dekat sekali dengan ku?" gugup annisa karena jantung nya seakan meloncat keluar dari rongga dada.
Tersenyum dan dengan pelan pelan egi memasangkan seat belt untuk melingkarkan ke tubuh annisa. "Apa yang tengah kau pikirkan Annisa?" ucap egi bertanya balik tanpa menjawab pertanyaan annisa.
Annisa menggeleng cepat, "tidak ada." jawab nya cepat, lalu mendorong dada egi agar menjauh dari diri nya. "Dan kau duduklah yang benar jangan seperti ini tidak enak jika ada yang lihat, pasti akan berpikiran negatif dengan posisi kita seperti ini," lanjut annisa.
Egi terkekeh pelan. "Sepertinya kau lupa, jika orang luar tidak akan bisa melihat kita di dalam," ucap egi lalu membenarkan posisi duduk nya di kursi kemudi.
"Yaa meskipun begitu juga tidak harus seenaknya melakukan hal seperti itu di dalam mobil."
Menyalakan mesin mobil kemudian membelokkan stir kemudi untuk melajukan nya di antara kendaraan lain. "Jadi jika di lakukan di luar mobil berarti boleh," ucap egi sambil fokus ke depan.
Annisa mendelik sebal ke egi. "Kau ini masih tidak mengerti juga, di dalam mobil saja tidak boleh apalagi di luar nya," ketus annisa.
Tersenyum kecil, "baiklah memang tempat paling aman itu kamar kita," ucap egi menggoda annisa.
"Egi! Kau ini yah masih bocah tapi pikiran mu sudah mesum begitu, belajar dari mana kau punya pemikiran mesum," omel annisa dengan nada kesal.
Masih memasang senyuman kecil lalu melirik sekilas pada annisa. "Dari mu annisa ku sayang," jawab nya santai.
Annisa mendengus kemudian memalingkan muka ke arah jendela mobil."Aku tidak pernah mengajarkan mu yang begitu, memang dasar nya saja otak mu sudah mesum, dan jangan panggil aku sayang di sini tidak ada Ray sahabat mu itu. Lagian bukannya kau tidak pernah mengakui ku istri mu, kenapa sekarang kau bersikap baik bahkan memanggil ku dengan sebutan nama tanpa ada brandal nya lagi," cerocos Annisa mencurahkan keanehan sikap egi, yang sudah menggunuk tanda tanya besar di pikiran dan hati nya.
Menghela napas pelan, "mau memanggil mu apa, itu terserah ku, kau hanya perlu mendengar dan menuruti perintah ku. Bukannya kau tidak mau di sebut durhaka oleh ku, jadi turuti saja apa yang ku inginkan," ucap egi dengan nada menekan.
"Dih, dasar bocah arogan," sahut annisa masih memalingkan wajah ke kaca jendela mobil.
__ADS_1
Egi tersenyum, kemudian menurunkan kecepatan laju mobil. "Kau pasti belum makan, kita makan dulu dan kau boleh yang menentukan tempat nya," ucap egi.
Annisa menoleh ke egi dan tersenyum senang. "Benarkah?" tanya annisa antusias yang di balas anggukkan kepala oleh egi.
Segitu senang nya dia.
Menangkup kedua tangan di depan wajah dan mendekatkan ke bibir. "Aku ingin makan miyam boleh nggak, aku tau tempat nya yang paling enak tidak jauh dari sekitar sini."
Alis egi terangkat sebelah. "Apa itu miyam?"
"Mie Ayam, egi saputra bocah nakal ku masa itu saja kau tidak tahu."
"Baiklah, kita kesana sekarang. Kau tunjukkan saja tempat nya," ucap egi menyetujui.
--------
Annisa dan egi telah terduduk di sebuah kursi kedai mie, yang menyediakan segala macam mie olahan. Kedua nya duduk di kursi luar kedai dengan meja bundar di tengah tengah berdiri sebuah payung sebagai pelindung kedua nya dari panas terik matahari, ya meskipun hari mulai menjelang sore tapi tetap matahari masih muncul dan terang memancarkan hawa panas nya.
Egi melirik sekitar kedai yang tampak ramai dengan pengunjung yang sudah mengantri menunggu giliran makanan untuk di antarkan ke meja mereka, pengunjung yang ramai dan berceloteh ria membuat egi menghembuskan napas panjang. Karena sejujur nya egi tidak suka dengan tempat tempat ramai seperti itu.
Annisa yang melihat egi sedari tadi menghela napas panjang, ia tersenyum. "Kenapa kamu nggak suka yah tempat nya?" tanya annisa.
Egi mengalihkan pandangan nya ke annisa, "suka...," tersenyum kecil.
Asal ada kamu di sini, suka tidak suka aku akan menyukai nya, selagi kamu menyukai nya, annisa ku.
Pesanan annisa dan egi telah datang di antarkan oleh pelayan laki laki.
Pelayan itu tersenyum ke annisa sembari meletakkan kedua mangkuk mie dan kedua gelas es tea lemon ke atas meja.
"Selamat menikmati mie nya kak," ucap pelayan lelaki itu sembari menatap annisa.
Annisa mengangguk dan membalas senyuman pelayan itu.
"Ekhem...," dehem egi membuat pelayan lelaki itu menoleh ke arah nya, dan tersenyum canggung lalu menunduk dan pergi meninggalkan meja mereka.
Annisa meraih mangkuk mie yang ada di tengah lalu mulai mengaduk. "Cobain deh, enak tau miyam di sini. Aku sering kesini bareng rika," oceh annisa kemudian mulai menyuapkan satu sendok mie ke mulut nya.
Melihat mangkuk mie annisa tanpa menghiraukan mangkuk mie milik nya. "Suapi aku satu sendok, jika memang benar enak aku akan memakan nya," pinta egi sedikit mencondongkan tubuh nya ke depan.
"Kenapa harus di suapi sih, malu egi di sini banyak orang. Jangan manja deh."
Egi menyenderkan kembali punggung nya ke kursi dan melipat kedua tangan di depan. "Kalau begitu, mie nya tidak akan ku makan," ucap nya merajuk.
Menghela napas pelan, "haish... kau ini," sebal annisa.
__ADS_1
"Baiklah, baiklah sini aku suapi, tapi hanya satu kali saja," sambung annisa kemudian menyendok mie di mangkuk nya.
Egi tersenyum senang lalu mencondongkan kembali tubuh nya ke depan, dan melahap mie yang tengah di suapkan oleh annisa ke mulut nya.
Mengunyah namun masih menatap wajah annisa, kemudian dengan gerakan tiba tiba egi menyapu bibir annisa yang basah akibat kuah mie dengan ibu jari dan menjilat nya. "Benar enak," ucap nya acuh dengan sekitar, kemudian meraih mangkuk mie yang ada di tengah meja untuk di makan nya.
Sementara annisa sudah beku menatap terlongo ke arah egi tanpa berkedip, lalu meraba bibir nya dengan gerakan pelan. "Egiii...," geram annisa mengepal menggenggam sendok dan garpu di kedua tangan nya.
Egi yang sudah mengaduk mie di mangkuk menyuapkan satu sendok ke mulut nya, kemudian Ia mendongak menoleh ke annisa dan tersenyum. "Ada apa annisa ku sayang," goda nya.
"Kau... jangan lakukan hal seperti itu di tempat umum, apa kau tidak malu di lihatin banyak orang," omel annisa dengan nada sebal.
"Tidak, kenapa harus malu. Kita kan sudah sah," jawab nya acuh dan kembali sibuk menyuapkan makanan ke mulut.
Menghela napas dalam, "memang susah bicara dengan orang yang tak tahu malu, hah sudahlah."
Tidak berselang lama.
Annisa dan egi telah selesai menghabiskan semangkuk mie.
Pandangan mata egi tidak lepas menatap Annisa yang tampak kepedasan akibat menumpahkan cabai terlalu banyak. "Kau tunggu di sini sebentar, aku akan kembali," titah egi lalu beranjak dari duduk nya entah melangkah kemana.
Alis annisa berkerut heran menatap kepergian egi yang menjauh dari meja. "Mau kemana dia, hah semoga tidak berbuat aneh aneh lagi," gumam Annisa kemudian menarik gelas minum egi yang masih ada setengah karena gelas punya nya telah habis oleh nya. "Hah segar nya, tapi masih terasa pedas juga sih nih lidah," celoteh nya.
Tidak berapa lama, egi telah kembali dengan menenteng sebuah plastik putih dan satu cup besar es cream vanila.
Jadi dia pergi cukup lama, hanya ingin membeli ini. Cih pelit amat sih, beli kok cuman untuk diri nya, buat ku mana... menyebalkan dasar pelecit.
Egi menyodorkan satu Cup es cream itu ke hadapan annisa lalu duduk di kursi samping kursi annisa dan mendekatkan diri agar dekat dengan annisa.
"Makanlah es cream nya, dan kemarikan tangan mu yang terluka," ucap egi meraih tangan kanan annisa yang terluka akibat ulah nya.
Annisa hanya menurut dan terdiam, merasa kaget kembali dengan sikap egi yang baik dan perhatian ke pada nya.
Dia membeli ini semua untuk ku? kenapa dia berubah seperti ini, apa benar dugaan ku jika dia telah menerima aku sebagai istri nya.
"Bagaimana bisa aku memakan es cream nya egi, masa pakai tangan kiri sih. Kan nggak etis," oceh annisa.
Egi mengeluarkan obat krim memar untuk tangan annisa dan tengah mengoleskan dengan hati hati pada area yang memar. "Jika begitu, tunggu sebentar tangan mu ku obati dulu. Karena orang yang punya tangan nya tidak mempunyai telinga, sehingga membiarkan sampai kebiruan begini, apa kau ingin terus tersiksa dengan rasa sakit akibat memar nya, sampe kau tidak mendengarkan perintah ku untuk di obati," tegas egi dengan nada kesal.
"Aku banyak tugas, mana sempat mengobati nya. Lagian hanya luka...," ucapan annisa menggantung karena tiba tiba egi mendongak dan menatap nya tajam.
"Aku tidak suka kau menyepelekan luka kecil Annisa, mau itu kecil atau besar tetap saja luka harus di obati, agar tidak tersiksa merasakan sakit," omel nya.
Menghela napas pelan.
__ADS_1
Baiklah, baiklah... padahal yang luka kan aku, kok dia yang repot, dan parah nya lagi luka ini akibat ulah nya.
BERSAMBUNG...