
Waktu telah menunjukkan pukul delapan lewat 20 menit, Annisa dan egi hendak berpamitan setelah banyak bercerita dengan Romisa karena saat Annisa memangku bayi dari dalam box, tiba tiba bayi itu menangis keras sehingga membangunkan romisa dan alhasil jadi nya, annisa dan Romisa bercerita panjang lebar sampai Annisa hampir lupa akan tugas dinas nya yang akan di adakan jam 9 jika egi tidak mengingatkan.
Setelah pamitan pada Romisa dan Arga. Kedua nya kini berjalan menuju pintu utama untuk keluar rumah putra.
Menoleh ke Egi yang ada di samping nya. "Egi tidak apakah kita tidak bertemu Ayah dulu?" tanya Annisa.
Egi mengusap puncuk kepala Annisa pelan. "Tidak. Jam segini biasanya Ayah tengah menjalani terapi kaki nya," jawab egi.
"Hmm..." menunduk menatap ujung sepatu nya. "Syukurlah," sambung Annisa menghela napas pelan.
Annisa memasuki mobil putih itu lagi setelah egi membuka kan pintu mobil nya, di susul egi memasuki mobil dan duduk di kursi nya.
Melajukan mobil mengarah keluar gerbang rumah putra. Egi memutar stir mobil agar membelok ke jalanan besar.
"Annisa," panggil Egi memecah keheningan setelah beberapa waktu kedua nya lama terdiam memperhatikan jalanan yang di lewati.
"Iya egi," sahutnya menoleh ke Egi.
"Bisakah kau jangan menebar senyuman pada setiap laki laki yang menyapa mu," ucap Egi.
Memicingkan mata tidak suka. "Aku tidak menebar senyum, hanya membalas sapaan dengan ramah. Lagian aku tuh beda dengan mu, yang berwajah datar dingin dan judes jika di sapa hanya terdiam membisu," cerocos Annisa sebal.
Egi terdiam tidak membalas ocehan Annisa. Fokus menyetir dengan wajah dingin dan bibir rapat.
Mencoel pipi egi dengan telunjuk nya. "Nah, seperti ini nih tampang mu egi. Sangat judes dan datar," ucap Annisa kemudian tertawa pelan.
Egi mendelik tajam ke Annisa lalu tiba tiba menghentikan mobil nya di pinggir jalan.
Melihat ke sekitar luar mobil. "Egi kok berhenti! kan rumah sakit nya di sana, sedikit lagi. Aku lagi malas jalan kaki egi," oceh Annisa menunjuk ke sebuah bangunan rumah sakit tempat dinas nya yang tinggal beberapa ratus meter lagi jika berjalan kaki.
Egi dengan kasar melepaskan seat belt yang melingkari tubuh nya, kemudian menyingkirkan paper bag ke dashbord depan dan egi maju mendekat ke Annisa.
Sontak annisa memundurkan punggung nya yang sudah mentok di pojok kursi lalu menyilangkan tangan di depan dada. "E...gi kau ma-u apa?" Bingung Annisa waspada.
Mau apa bocah ini? Jantung ku seakan mau copot oleh tingkah yang tiba tiba nya lagi.
Melepaskan seat belt Annisa dengan pelan, kemudian merangkul pundak dan menekan tengkuk leher annisa agar wajah Annisa mendekat dengan wajah nya. Egi mengusap lembut bibir lembab merah nya Annisa dengan ibu jari dan tersenyum. "Aku ingin mencicipi ini, apa kau merelakannya Annisa?" tanya Egi dengan nada suara rendah.
Mata Annisa mengerjap cepat beberapa kali, kaget dengan permintaan egi yang tiba tiba.
Dia ingin mencium ku? Aku harus bagaimana, jika menolak aku akan dosa karena ini keinginan suami ku. Jika tidak, oh mama papa... Annisa masih belum siap. Mana jantung ku tidak bisa berhenti berdetak cepat lagi. Hah membuat perasaan ku tak karuan.
Melihat respon Annisa yang hanya terdiam melongo dengan bibir sedikit terbuka. Egi tersenyum senang, kemudian tanpa menunggu jawaban 'iya' dari bibir Annisa. Egi memiringkan wajah nya mendekatkan dan akhirnya melabuhkan bibir nya ke bibir Annisa.
__ADS_1
Seketika mata Annisa terbelalak kaget dengan apa yang di lakukan egi.
Dia... dia benar benar melakukan nya, oh frist kiss ku telah di ambil oleh nya.
Annisa memejamkan mata rapat rapat saat yang di lakukan egi semakin dalam.
Cukup lama egi mencium bibir Annisa dan akhirnya melepaskan pagutan nya, setelah Annisa memukul dada egi dengan kedua tangan yang kebetulan jadi penghalang dari tubuh kedua nya.
Dia benar benar membuat ku kehabisan napas. Dasar bocah labil... apa dia mau membunuh ku!
Tersenyum puas melihat wajah merah Annisa yang menunduk malu dan tengah mengatur napas nya. Egi mengangkat dagu annisa dengan jemari nya dan mengusap bibir basah Annisa. "Jangan kau tebar pesona lagi dengan senyuman mu itu, ke setiap laki laki yang menyapa mu. Jika kau tetap seperti itu, kau akan mengalami hal ini, bukan di dalam mobil lagi tapi tepat di hadapan laki laki yang kau beri senyuman," ancam Egi dengan nada tegas dan arogan.
Annisa yang semula menundukkan pandangan. Ia mendongak kan menatap Egi. "Kau... kau tidak malu, melakukan hal mesum di dalam mobil. Dan apakah tidak akan kelihatan keluar dengan apa yang kita lakukan tadi," was was Annisa melirik sekitar luar mobil dari kaca jendela depan. Dan terlihat orang orang sekitar luar mobil tampak biasa saja tidak ada yang melihat ke arah nya.
Terkekeh pelan dan melepaskan jemari nya di dagu Annisa. Kemudian Egi membenarkan posisi duduk nya dengan benar di kursi kemudi. "Kau benar benar pelupa Annisa ku sayang, mengenai kaca mobil ku," ucap nya lalu melajukan kembali mobil nya. "Selalu ingat dengan ucapan ku Annisa," sambung nya dan fokus ke jalanan.
Mendengus dan Annisa dengan kasar meraih paper bag yang sempat di singkirkan egi ke dashbord depan dan mengambil botol minuman. "Aku akan selalu ingat... ucapan mu, untuk menjaga kejadian tadi agar tidak terulang lagi," tutur nya kemudian menenggak air dalam botol itu hingga habis setengah nya.
Haaah... Annisa menghela napas dalam setelah meminum air dan meletakkan kembali botol nya ke paper bag.
Bersamaan dengan itu, mobil yang di tumpangi nya telah berhenti tepat di depan rumah sakit.
Segera Annisa mengambil paper bag dan mengaitkan tas ransel ke sebelah pundak nya. Lalu menarik sebelah tangan egi dan menyalami mencium punggung tangan nya.
Annisa hendak melepaskan pegangan tangan nya dari tangan egi, namun tiba tiba egi menarik cukup kuat sehingga Annisa terperosok ke depan ke arah egi.
Egi menahan kepala Annisa agar tetap tegak dan menangkup sebelah sisi wajah Annisa. Mencium kening Annisa dengan lembut. "Mulai sekarang dan seterusnya, ini salam perpisahan sementara kita ketika akan keluar rumah," ucap Egi menatap wajah Annisa kemudian tersenyum.
Kenapa dia bersikap semakin jauh dan tiba tiba seperti ini. Membuat ku semakin heran dan takut, apa ini benar benar s bocah songong suami ku. Atau bukan?
Tersadar akan posisi nya saat itu, segera Annisa memundurkan tubuh nya, duduk kembali ke kursi nya. "Ba..baiklah, a..aku pergi dulu. Assalamualaikum," terbata Annisa karena gugup kemudian dengan kecepatan kilat Ia membuka pintu mobil dan berlari menjauh dari mobil egi.
"Walaikumsalam," balas nya melirik kaca spion mobil yang menampilkan Annisa tengah berlari terbirit hendak memasuki gerbang rumah sakit.
Egi tertawa pelan melihat tingkah Annisa yang menurutnya menggemaskan. "Annisatul Alawiyah kau wanita ku," gumam nya pelan lalu kembali melajukan mobil nya.
-------
Annisa tengah berjalan di pelataran rumah sakit untuk menuju pintu masuk sembari memegang bibir nya dan mengenang kejadian yang di alami nya di dalam mobil tadi.
Menggeleng cepat beberapa kali dan sedikit menghentakan kaki ke tanah. "Dasar bocah... kenapa berbuat seperti itu di mobil sih. Hah sungguh memalukan, masa first kiss ku di ambil di pinggir jalan. Tidak mengesankan sekali sih," gerutu pelan Annisa sebal.
Namun tiba tiba langkah kaki nya terhenti karena Annisa merasakan pusing yang amat sangat dan serasa berputar di tambah rasa kantuk yang berat sekali di pelupuk mata nya.
__ADS_1
Ada apa dengan ku, kenapa kepala ku pusing dan rasa nya mata ku berat sekali... ada apa..
Brukk... dugh. Annisa terjatuh dan tersungkur di tanah masih di pelataran rumah sakit.
Di ambang kesadarannya. Annisa masih bisa mendengar suara riuh beberapa langkah kaki yang mengarah mendekat ke arah nya sebelum akhirnya pandangan mata nya mengabur gelap dan hilang kesadaran.
Orang sekitar yang melihat Annisa tersungkur tergeletak tak berdaya di tanah, beberapa orang berlari ke arah pintu lorong IGD untuk memberitahukan dan meminta bantuan pada team medis rumah sakit.
Namun secara tiba tiba datang sekelompok wanita berpakaian medis keperawatan rumah sakit itu, dengan mendorong sebuah brankar, mereka segera menghampiri dimana Annisa tergeletak dan mebopong Annisa ke atas ranjang brankar, kemudian mendorong nya memasukkan ke sebuah mobil ambulan bukan mendorong ke dalam lorong IGD.
Dan orang orang sekitar yang menyaksikan Annisa di bawa sekelompok perawat, mereka hanya bisa diam karena mereka kira, jika yang membawa Annisa adalah perawat dari pihak rumah sakit tersebut.
Beberapa perawat yang membawa kursi roda, yang baru datang dari dalam lorong IGD rumah sakit, berlari cepat hendak mendekat ke tempat kejadian, dan sibuk menanyakan pada orang sekitar dimana pasien yang pingsan itu.
Namun, salah satu dari mereka terpaku menatap ke arah sebuah mobil ambulan yang sudah menyala.
"Kenapa mobil ambulan nya menyala, bukannya sopir yang biasa membawa nya ada di dalam bersama kita mengobrol," heran nya lalu berjalan ke arah mobil ambulan yang sudah melaju lamban di area parkir.
Perawat itu berlari menuju mobil ambulan. "Hey, siapa kalian!" teriak perawat tersebut, dan tidak mendapat jawaban melainkan mobil ambulan itu melaju ke jalanan.
"Apa pasien yang pingsan itu, di bawa ke dalam ambulan," gumam nya.
Lalu ia mengejar ambulan yang di kendarai oleh sekelompok perawat yang membawa Annisa. Namun, kaki nya tidak mampu mengejar mobil itu lagi karena telah melaju cepat meninggalkan rumah sakit.
"Hey! Kalian mau membawa kemana pasien kami?" teriakan perawat itu nyaring di pelataran rumah sakit.
Salah satu teman perawat yang berteriak tadi, menghampiri nya dengan berlari. "Ransel dan paper bag nya ketinggalan. Siapa mereka yang membawa pasien itu? Kenapa pakaian mereka memakai baju seragam seperti kita dan bukannya pak joko sopir ambulan ada di dalam?" tutur nya heran menoleh ke temannya yang sama sama memasang wajah heran.
Menoleh dan melirik tas ransel Annisa. "Sebaiknya kita laporkan ke pihak rumah sakit, untuk menghubungi keluarga pasien. Karena aku merasa curiga dengan perawat perawat itu, dan sial nya aku tidak bisa melihat wajah mereka, karena semua nya memakai masker," ucap nya tegas lalu berbalik menuju ke rumah sakit.
---------
Tidak jauh dari dalam mobil mewah berwarna hitam yang terparkir di sebrang jalan rumah sakit. Yang sedari tadi memperhatikan adegan heboh di hadapan nya. Ia tersenyum menyeringai. "Tidak ku sangka, ternyata bergerak begitu cepat," ucap nya bangga.
Kemudian mata tajam itu melirik ke depan ke arah anak buah nya yang duduk di kursi depan. "Kau sudah urus pelayan yang ada di rumah mereka?" tanya nya.
"Sudah tuan."
"Bagus, segera kirim gadis ku ke tempat ku," titah nya.
"Mereka tengah menuju ke tempat tuan," jawab nya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1