
"Ray, lo mau bawa gue kemana," berontak Rika saat pria yang menggengam kuat tangannya tak kunjung menghentikan langkah kaki.
Ray membungkam bibirnya, sembari terus melangkah keluar kafe.
"Ray!" Teriak Rika, menarik kuat tangannya, lalu menggigit punggung tangan Ray.
"Aww, sakit Mak." Pekik Ray menghentikan langkahnya langsung melepaskan pegangan dan memeriksa tangan yang merah menyisakan bekas gigitan gigi. "Lo maen gigit aja, sakit tau. Bisa kena rabies." Gerutunya, mengibas-kibas kan tangan.
Rika melipat kedua tangan di depan, dan memanyunkan bibir. "Salah sendiri maen tarik kagak jelas gitu, lo nggak lihat di luar ujan. Gue kagak mau keujanan malam-malam gini."
Menghembuskan napas kasar, Ray berbalik dan melangkah kembali ke arah kursi kafe yang berada di teras luar. "Ikut gue, ada yang mau gue perjelas."
"Perjelas? Apa tuh?" Bingung Rika membuntuti dari belakang.
"Ikut aja, jangan banyak cincong deh, Mak." Omel Ray, memasuki meja bundar dengan empat kursi. Lalu duduk di salah satu kursi nya.
Rika ikut duduk di sebrang Ray, meletakkan tas selempang ke pangkuan. "Ini udah malam banget. Cepet mau ngomong apa lagi lo, soal Asyila? Gue kagak mau ikut campur soal percintaan lo."
"Bentar gue pesen dulu minuman anget." Ucapnya, mengetikkan sesuatu di ponsel dan mengirimnya ke salah satu pegawai kafe.
"Ck," decak Rika, ikut merogoh ponselnya untuk melihat pesan karena mendengar notifikasi. "Dih, kak Farhan. Apa-apaan nih, nama kontaknya calon suami, nyebelin amat dah." Gumam Rika pelan sehingga tidak terdengar oleh Ray.
Ray menatap diam terpaku pada gadis di hadapannya, ada senyuman pahit dari sudut bibir mengingat kejadian tadi.
Jika mengatakan ungkapan tadi serius, dia pasti tidak akan menerima bahkan akan membenci gue. Sebaiknya, gue simpan perasaan ini walau rasanya menyakitkan, dari pada gue gak bisa dekat lagi dengan dia.
"Banci." Panggil Rika yang di abaikan.
Ray masih asyik dengan pikiran juga tatapan bengongnya.
"Nih anak kenapa sih?" Rika melambaikan sebelah tangan ke depan Ray. "Wey!"
Sontak Ray terlonjak dan tersadar dari keterpakuannya. "Eh, sorry gue ketiduran."
"Ketiduran mata melek, aneh lo. Gimana tadi katanya lo mau ngejelasin, ngejelasin soal apa?"
Pria itu kembali termenung sejenak, menatap bengong pada gadis manis tersebut.
Mak, kalo lo nggak bisa gue dapetin. Maka lo harus dapetin cowok yang lebih sayang sama lo. Jadi sebaiknya gue beritahukan saja kisah masa lalu nya si Jhon tua itu. Agar mata lo terbuka, jika si tua itu hanya mencintai lo sebatas pengganti.
"Raay!" Geram Rika menggeram kesal, melihat lawan bicara nya lagi-lagi bengong.
"Ah," pria itu terhenyak dan tersenyum cengengesan, mengusap rambut belakang kepalanya. "Sorry gue ke-"
"Ketiduran lagi, mau bilang gitu." Sanggah Rika memotong ucapan Ray.
__ADS_1
Dan bersamaan dengan itu, seorang waiters mengantarkan dua cangkir lemon tea dan dua piring dessert ke meja mereka.
Rika menarik piring dessert untuk memakannya. "Habis kue ini, gue pulang. Jadi lo cepet kalo mau ngomong, jangan banyak basa basi dah. Lama-lama gue yang jadi basi kelamaan di sini." Cerocosnya, sambil menyendok kue.
Ray meletakkan sebelah tangan di atas meja, sedikit melingkari cangkir teh. Sejenak ia menghela napas pelan sebelum akhirnya berucap. "Mak, soal tadi gue hanya canda aja. Jangan lo anggep serius tapi mau di anggep serius juga kagak apa-apa kalo emang lo suka gue."
"Tenang aja, udah biasa dengan keisengan lo. Lagian gue bukan cewek yang cepet baperan, jadi sudah kebal dengan playboy kayak lo."
Playboy... dia selalu menganggap gue seperti itu. "Hmph," Ray tersenyum kecil mendengus. "Mak."
"Hemm." Sahut Rika menyuapkan kue ke mulutnya.
"Gue lihat bang Jhon akhir-akhir ini selalu berusaha mendekati lo."
"Ngedeketin gimana? Perasaan kayak biasanya." Jawab Rika acuh, sambil terus memakan kue.
"Menurut lo itu biasa. Tapi gue sih aneh, karena selama ini dia susah Move On dari mantannya. Gue harap sih, dia kagak ngincer lo karena lo mirip dengan mantannya."
Mendengar kata mirip dan mantan, seketika...
Prang.
Sendok yang tengah di pegang oleh Rika seketika jatuh, dan mengenai piring kue sehingga kue itu terciprat baju nya.
Rika terpaku diam dengan pandangan menunduk bengong. Mirip? Mantan? Kemudian terlintas di otaknya soal perkataan Farhan yang berkata. Susah Move On... apa maksud kak Farhan itu si Jojo.
"Ng.. gu-gue kagak apa," Rika segera menghindarkan tangannya, dan merampas tisu itu dari tangan Ray untuk di lap nya sendiri.
Ray membenarkan posisi duduknya, ia masih menatap lekat wajah gadis manis di hadapannya itu. Sudah gue duga, dia menaruh hati pada si Jhon tua.
"Ekhem," dehem Ray menetralkan tenggorokannya yang sedikit perih akibat rasa sakit berdenyut di hati nya. Melihat tatapan mata Rika yang berbeda, seperti mengharapkan sesuatu. "Maaf gue bukan bermaksud memprovokasi lo, tapi-"
"Teruskan." Celetuk Rika memotong ucapan Ray.
"Heh!"
Rika yang semula menundukkan pandangan, ia mengangkat wajahnya yang memperlihatkan pipinya merah padam juga mata yang mulai merah. "Teruskan soal masa lalu nya, gue ingin tahu, ingin tahu semuanya... tentang dia... Jhonathan...," Menghembuskan napas pelan, kembali menundukkan pandangan dengan tangan tergenggam di bawah meja.
"Baiklah, gue akan ceritakan tentang masa lalu dia juga kemiripan yang lo miliki dengan mendiang almarhumah calon istrinya," tutur Ray rendah, ia melipat kedua tangan di depan, menatap ke arah lain untuk mengenang masa lalu.
Jemari gadis manis itu masih tergenggam kuat, mata nya mulai berkaca-kaca. Mirip? Mendiang calon istrinya?
Pria itu mulai membuka bibir, menceritakan panjang lebar tentang masa lalu Jhon dengan Sanny, juga kemiripan di antara Rika dan Sanny yang entah secara kebetulan tersebut. Ray menceritakan bahwa Dia, Egi, Sanny dan Jhon dahulu nya sangat dekat bahkan bisa di bilang sudah seperti keluarga. Dia menjelaskan dari awal pertemuan hingga sampai kecelakaan itu terjadi yang merenggut nyawa Sanny dan menyisakan luka diantara orang-orang yang menyayanginya terutama Jhon yang terluka begitu dalam karena di tinggal saat akan mempersuntingnya yang tinggal menghitung hari.
Gadis manis yang mendengarkan cerita panjang itu, ia menundukkan pandangan dengan bibir gemetar dan mata sembab mulai menurunkan buliran air mata, tangannya terkepal kuat di balik meja di atas pangkuannya. Hati nya perih mendengar kenyataan bahwa ia hanya sebuah pengganti atau lebih tepatnya hanya sebuah pelampiasan Jhon yang kesepian akibat di tinggal wanita nya itu.
__ADS_1
Jojo, apa benar semua ini? Apa wanita itu yang pernah aku lihat di ponselnya dulu? Seberapa miripkah aku dengannya? Sampai dia mengira aku adalah Sanny.
"Itulah mengapa gue selalu bertengkar tiap lihat dia yang deketin lo karena ada mau nya, buat di jadikan pelampiasan karena kemiripan lo dengan Kak Sanny. Gue kagak mau lagi kejadian dulu terulang kembali, saat Kak Sanny yang sudah gue anggap kakak, di ambil bahkan melupakan gue saat kenal dengan si Jhon tua itu. Jadi gue berharap lo jangan kemakan rayuannya, lo harus lebih berhati-hati jika berhadapan dengannya. Dia itu pintar merayu, dulu juga begitu saat kenalan dengan Kak Sanny. Jadi lo-"
Sruk. Brak.
Rika yang sudah tidak mau mendengar ocehan Ray lagi, ia menggebrak meja dengan kedua tangannya dan langsung bangkit dari duduknya. Ia menundukkan kepala, tangannya sedikit gemetar juga suara isak tangis yang di tahan. "Gu-gue mau pulang," ucapnya berat dan serak tercekat dalam tenggorokan, lalu ia berjalan keluar meja.
Sret. Brak.
Ray ikut bangkit dari kursi nya langsung meraih lengan Rika. "Masih ujan Mak. Gue anter yah."
Rika menangkis pegangan tangan itu dengan sedikit kasar. "Gak usah, gue bisa naik taksi." Kemudian ia berjalan sedikit berlari melawan air hujan yang begitu derasnya, ia berlari selari-lari nya agar menjauh dari kafe itu hingga tak memperdulikan jika tubuhnya telah basah oleh air hujan yang mengguyur.
Ray yang melihat punggung gadis manis itu, ia mematung berdiri dengan pandangan tak lepas menatap kepergiannya. "Mak, lo menyukai si tua Jhon," gumamnya pelan.
Gadis manis itu menghentikan larinya dan memilih berjalan pelan di trotoar jalanan besar. Air matanya yang terus mengalir tersamarkan oleh guyuran air hujan yang membasahi tubuhnya.
"Jojo, pantas dia tak suka aku memanggilnya seperti itu? Bahkan reaksi keluarga nya saat aku hanya memakan putih telur, juga profesi ku yang sebagai bidan, boneka keropi.... hiks...hiks, aku tak meniru itu semua memang diri ku." Oceh Rika menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Dia mendekati ku hanya karena kemiripan ku... kenapa Joe? Padahal aku sudah berharap lebih jika kau mulai menyukai ku?... hiks, hiks." Langkah kaki gadis manis itu terhenti tepat di halte. Ia terduduk di kursi yang kosong dan basah, menangis sembari terus mengoceh merutuki diri atas kebodohannya.
"Aku mencintai mu Joe, tapi kamu menyakiti ku. Benar kata mu aku gadis bodoh, yang mencintai mu meskipun sudah tahu tidak akan mendapat balasan dari mu...," Rika masih duduk di kursi itu, menundukkan pandangan menumpahkan isi hati dengan tangisan yang di iringi suara deras hujan menyelimutinya sehingga terdengar samar.
Sementara dari kejauhan sebuah mobil merah terparkir di sisi jalan, mobil itu hanya berjarak 100 meter dari tempat gadis manis itu terduduk.
Di dalam mobil itu, terlihat seorang pria tampan dengan sorot mata tajam nan dingin, rahangnya mengeras dan dengan sebelah tangan memegang kuat stir mobil. Ia menggertakkan gigi menahan amarahnya, saat melihat gadis manis di halte itu menangis sendiri dan tersedu.
Hati nya berdenyut perih bagai tersayat pisau yang tajam, namun tak berdarah dan kasat mata. "Maafin gue Mak, tapi cepat atau lambat juga memang sudah seharusnya lo harus tahu tentang dia. Walau menyakitkan untuk gue juga lo."
-------------------------------------------
Di Halte bus.
Sudah sekitar satu jam Rika masih terduduk, menetralkan emosinya juga meredakan air mata nya yang terus mengalir tak henti secara reflek akibat rasa perih dan sakit di hati nya.
Namun di saat itu, tiba-tiba sepasang sepatu hitam mengkilap yang berasal dari kaki seorang pria tampan berjas berdiri di hadapannya. Pria itu memegang payung abu gelap yang berukuran cukup besar.
"Gadis bodoh." Pria tampan itu memanggil dengan suara tegas nan jelas mengalahkan derasnya air hujan.
Degh... Gadis manis itu terlonjak kaget, detak jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Dengan gerakan perlahan dan kaku, ia mendongakkan kepala untuk melihat siapa pemilik suara yang memanggilnya.
"Jojo." Celetuk Rika, mata merah berairnya melebar terpaku, wajah merah dan hidung merah akibat kebanyakan menangis ia tampilkan di depan Jhon.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...