
Egi terbangun dari tidur nya. Dengan perlahan egi mengerjapkan mata dan melirik jam dinding yang ada di ruang belajar, yang menunjukkan pukul setengah enam pagi.
Mata egi melebar terkejut. "Brandaaall...kenapa kau tidak membangunkan ku!!" Teriak egi menggema di ruangan belajar.
Lalu egi bangkit dari tidur nya dan berjalan ke arah pintu untuk keluar dari ruang belajar.
Melihat sekitar kamar yang tampak sepi dan lengang. "Kemana wanita brandal itu, apa dia sedang menyiapkan sarapan. Awas saja kalau balik ke kamar aku akan memarahi nya karena tidak mengajak ku shalat subuh berjamaah." Cerocos egi sambil melangkah ke kamar mandi.
Egi langsung membersihkan diri nya dan tidak lupa mengambil wudu untuk shalat subuh. Meskipun telat egi akan tetap melaksanakan kewajiban diri nya sebagai muslim.
Selesai membersihkan diri, egi masih menggunakan jubah mandi hendak memakai baju seragam sekolah yang biasa annisa siapkan di atas sofa.
Mengusak rambut dengan handuk kecil lalu menatap ke arah sofa tunggal di dekat lemari. Alis egi menaut dan mata nya memicing geram.
"Brandaal kau sampai lupa menyiapkan baju ku juga. Awas yah kau, dua kesalahan berarti dua hukuman untuk mu." Gerutu egi lagi sambil mengambil baju seragam ke lemari nya.
Egi memakai baju kemeja seragam sekolah nya, dasi ke kerah baju dan terakhir ketika Ia selesai menyemprotkan parfum ke tubuh dan bercermin ke kaca full body samping lemari.
Tiba tiba otak nya berkelebat bayangan annisa membawa koper dan baru tersadar akan kejadian kemarin jika annisa telah pergi dari rumah nya.
Terduduk termenung di sofa dan menghembuskan napas kasar. "Kenapa aku bisa bersikap seperti ini? Bukannya wanita brandal itu sudah pergi dari rumah ini. Kenapa aku menggerutu tidak jelas pada orang yang jelas jelas tidak ada di sini? Hah benar benar virus s brandall telah menyebar di kamar ku jadi nya begini." Celoteh Egi dan mengambil jas sekolah juga jam tangan lalu keluar kamar mandi.
Egi melaksanakan shalat subuh lalu setelah nya egi mengambil laptop di atas meja dan terduduk di sofa panjang dekat ranjang dengan memangku laptop.
Cukup lama egi menekuni diri nya menatap layar laptop dan mengerjakan sesuatu dengan teliti. Tiba tiba gerakan jemari egi terhenti dari atas keyboard dan tangan nya bergerak hendak meraih sesuatu di atas meja.
Namun tangan nya hanya menyasar tidak jelas karena barang yang ingin di raih nya tìdak tergapai dan tidak tersentuh.
Alis egi berkerut heran. "Apa wanita brandal itu tidak menyiapkan aku kopi dan air putih. Kemana dia, sudah lupa kah dia pada kewajiban nya." Celoteh egi dan memindahkan laptop ke samping duduk nya.
Egi beranjak dari duduk nya hendak menuju pintu keluar kamar, namun langkah kaki nya terhenti karena berkelebat lagi di otak egi ketika annisa menunduk memegang koper di tempat yang saat ini Ia berdiri.
"Aaarrrghh... kenapa aku bergantung pada wanita brandal gila itu. Sial, egi sadar dia sudah pergi dari kamar ini!! Dia sudah tidak ada lagi, kau seharus nya senang bukan seperti ini. Aaarrgh.." geram egi mengusak rambut dengan kasar.
"Aku harus menghilangkan semua jejak wanita brandal itu dari kamar ku agar semua berjalan normal seperti sebelum aku mengenal nya. Iya.. aku harus memusnahkan jejak nya agar tidak ada lagi bayangan dia di kamar ini." Ucap egi lalu beranjak ke meja nakas dekat ranjang.
Egi menekan tombol panggilan di interkom untuk menghubungkan ke bi ane.
"Bi Ane suruh beberapa pelayan datang ke kamar ku sekarang juga!!" Pinta egi pada bi ane.
Setelah memberikan perintah, egi berjalan mondar mandir di sekitar kamar menunggu para pelayan datang.
Tidak berselang lama.
Tok..tok..tok.
Pintu kamar egi di ketuk dari luar.
Egi beranjak membuka kan kunci pintu kamar.
"Pagi tuan egi. Apakah ada yang perlu kami bantu tuan." Sapa pelayan wanita yang ada di hadapan nya.
Mengangguk kecil. "Masuk." Titah egi.
__ADS_1
Para pelayan masuk ke kamar dengan mengekori egi dari belakang.
Egi berjalan ke sofa panjang dan duduk santai dengan pandangan menatap 5 orang pelayan di hadapan nya.
"Saya perintahkan pada kalian untuk membersihkan kamar ku sebersih bersih nya dan ganti pengharum ruangan ini dengan aroma lain." Titah egi.
"Baik tuan." Jawab serempak para pelayan.
"Kau berdua singkirkan barang barang wanita di walk in closet kalau perlu buang semua barang nya dan bereskan seperti biasa aku waktu dulu." Tunjuk egi pada dua pelayan sisi kanan.
"Baik tuan." Serempak kedua nya dengan pandangan menunduk.
"Dan kau bersihkan bagian ranjang ku, ganti seprei, semua karpet dan gorden gorden ini dengan yang baru." Titah egi lagi pada dua pelayan yang berada di sisi kiri.
"Baik tuan." Serempak dua pelayan tersebut.
"Dan terakhir kau. Bereskan ruangan belajar ku dengan rapih buang buku komik yang berserakan di bawah, aku tidak mau melihat nya." Titah egi pada pelayan wanita yang berdiri di tengah.
"Baik tuan." Jawab nya menunduk.
Mengangguk kecil. "Baiklah, cepat kerjakan tugas kalian sekarang." Tegas egi.
"Baik tuan egi. Kami akan kerjakan tugas kami sekarang juga dengan baik." Jawab serempak lalu menunduk hormat dan berbalik berjalan menuju pekerjaan nya yang di perintahkan egi.
Egi beranjak mengambil ransel gendong nya lalu melangkah ke pintu keluar untuk menuju meja makan karena waktu nya sarapan.
---------
Di meja makan.
Tiba tiba bi ane berjalan memutari meja, dan mendekati kursi egi.
"Tuan egi. Bekal nya, maaf jika rasa nya tidak sama seperti yang di buatkan adek annisa karena yang membuat bekal para koki di rumah." Tutur bi ane sambil meletakkan paper bag yang berisi bekal di atas meja dekat egi.
Egi melirik paper bag itu dan menggeser nya.
"Siapa yang meminta bekal. Aku tidak meminta bekal, singkirkan bekal ini dari hadapan ku." Titah egi dengan nada kesal.
"Hey..hey.. egi. Apa apaan kau, jangan seperti itu pada bi ane. Dia sudah baik baik mau mengingatkan mu membawa bekal seperti biasanya nak annisa lakukan pada mu, jadi kau jangan bersikap seperti itu. Tinggal bawa saja, dan di makan saat istirahat apa susah nya kau ini." Tegas ayah putra.
Menghela napas pelan. "Tapi ayah itu kan kerjaan nya annisa saja yang memberikan ku bekal dengan cara paksa. Tapi karena sekarang dia nggak ada, jadi egi ingin seperti dulu yang nggak bawa bekal ke sekolah." Ucap egi.
"Itu dulu egi. Tapi sekarang kau sudah punya istri jadi kebiasaan mu sudah berubah, bawa bekal itu. Hargai yang membuat nya." Tegas putra.
Mendesah kesal. "Baiklah. Egi bawa." Pasrah egi.
"Iya egi. Lagian bagus juga jika bawa bekal ke sekolah, kan bisa hemat uang jajan selain itu makanan pun terjamin kualitas nya karena sudah tahu pembuatan nya jika dari rumah." Tutur Romisa dan tersenyum tulus.
"Benar yang di katakan Romisa. Makanan dari rumah jelas terlihat kualitas dan pembuatannya." Ucap Arga menambahkan.
Yang di balas anggukkan kepala kecil oleh egi.
Kenapa ucapan misa sekarang tidak bisa membuat ku tenang dari kekesalan, biasa nya jika misa berkata atau tersenyum pada ku saat aku sedang marah seperti ini, pasti hati ku akan langsung tenang dan damai. Tapi sekarang berbeda, ada apa dengan ku?
__ADS_1
"Kak Egi mau sarapan apa, piring mu masih kosong tuh?" Tanya syila membuyarkan lamunan egi.
Egi menunjuk pancake kesukaan nya. Dan syila mengambilkan dua porsi untuk diri nya juga untuk egi.
"Kak rasa nya beda yah. Nggak kayak biasanya. Ah, syila ganti deh sama sandwich saja." Celoteh syila setelah mengunyah satu suapan pancake. Lalu syila mengambil menu lain untuk di letakkan ke piring nya.
Karena penasaran egi pun menggigit pancake dan mengunyah nya. Alis nya mengernyit karena merasakan seperti apa yang syila katakan.
Semua masakan di rumah ini rasa nya jadi nggak enak dan hambar, kenapa bisa seperti ini.
---------
Sementara annisa di kantin kampus.
Annisa memainkan sendok di atas bubur ayam dan melamun karena pikiran nya masih memikirkan egi.
Biasanya pagi pagi begini aku akan menyiapkan bekal untuk egi, apa dia membawa bekal seperti biasanya? Dan keperluan nya juga terpenuhi tidak yah? Hah jadi rindu berdebat dengan nya, biasa sering berdebat kini terasa sepi karena tidak ada s bocah.
Melambai di depan wajah annisa. "Hey, bengong aja sih. Makan dong makanan nya bentar lagi akan ada kelas." Ucap rika membuyarkan lamunan annisa.
Tersadar dari lamunan dan menoleh ke rika lalu tersenyum canggung. "Ah, iya rika. Maaf aku jadi melamun." Ucap annisa menunduk.
Rika menarik sebelah tangan annisa dan mengusap punggung tangan nya. "Annisa. Sebenarnya ada apa dengan mu. Kenapa semenjak pulang dari rumah mbak mu itu, aku perhatikan kamu terus melamun. Ada apa annisa, ceritalah pada ku. Bukannya aku ini sudah kamu anggap sahabat." Tutur rika lembut.
Menghela napas panjang dan masih menunduk. "Entahlah rika. Aku hanya rindu rumah mbak ku, dan merindukan kebiasaan ku saat melayani keperluan di rumah itu." Ucap annisa pelan.
"Yakin hanya itu?" Tanya rika.
Annisa mengangguk mantap. "Iya rika hanya itu saja, jadi aku kepikiran bagaimana keadaan di sana saat aku sudah tidak ada. Apa keperluan nya terpenuhi?" Ucap annisa masih dengan tatapan menunduk.
Mengusap lembut punggung tangan annisa.
"Kenapa kamu harus resah seperti ini annisa. Jika kamu merindukan rumah mbak mu kan bisa kamu datang ke sana untuk menjenguk nya nanti siang atau menelpon nya sekarang untuk mengetahui kabar mbak mu." Tutur rika memberikan solusi.
"Aku lagi tidak bisa berkunjung ke sana rika... karena ...karena... yah begitu lah cerita nya panjang, aku tidak bisa menceritakan nya pada mu." Ucap annisa terbata dan mendesah sedih.
Menatap rika. "Yang jelas aku tidak bisa lagi ke sana. Dan soal menelpon aku pun tidak bisa karena mbak jarang menggunakan ponsel seperti kita." Sambung annisa dengan nada lemah.
Padahal aku tidak berani saja rika untuk menelpon s bocah itu. Karena akan percuma pasti dia tidak akan mau menjawab panggilan dari ku.
Menghela napas panjang. "Aku tahu ada sesuatu yang tidak kamu ceritakan pada ku mengenai kamu dengan mbak mu. Tapi aku mengerti, mungkin itu hal yang sangat pribadi jadi aku tidak akan menanyakan nya pada mu. Tapi annisa. Di lihat dari raut wajah dan penuturan mu menurut ku sepertinya di antara kamu dan mbak mu ada selisih paham yah?" Tanya Rika masih menatap lekat annisa.
Annisa mengangguk kecil sebagai jawaban Iya.
Menghela napas pelan lalu kembali mengusap punggung tangan Annisa.
"Annisa Jika ada selisih paham atau tengah ada perdebatan yang mengarah ke amarah yang besar, dan kamu merasa tidak melakukan kesalahan. Sebaiknya kamu jangan sedih seperti ini, karena kan bukan kamu yang salah. Dan jika kamu merasa melakukan kesalahan, minta maaflah secara baik baik dan selesaikan kesalah pahaman mu dengan kepala dingin jangan menyimpulkan atau mengambil keputusan yang akan membuat hubungan mu jadi renggang sehingga menimbulkan permusuhan. Apalagi mbak mu itu adalah sodara mu annisa." Tutur rika menasihati.
Annisa terdiam sejenak lalu menoleh ke Rika dan mengangguk pelan.
"Iya rika aku mengerti. Makasih rika atas saran mu." Ucap annisa lalu tersenyum tulus.
Kamu tidak tahu saja rika dengan kesalah pahaman apa yang sedang aku hadapi sekarang. Kesalah pahaman yang merujuk harga diri ku sebagai istri nya yang tidak di percayai dan tidak di anggap istri oleh suami ku sendiri.
__ADS_1
BERSAMBUNG...