Pejuang Move On

Pejuang Move On
Di Pertanyakan


__ADS_3

Di kamar Egi.


Setelah melaksanakan shalat dzuhur Egi langsung terbaring di atas ranjang dengan sebelah tangan jadi bantalan kepala. Ia menatap lurus ke depan ke langit langit kamar. Pikiran egi masih kalut tak sejalan dengan hati nya. Yang hati nya berkata IYA tapi pikiran berkata TIDAK sehingga gerakan tubuh pun tak terkendali harus mengikuti yang mana.


Tok..tok..tok.


Egi menoleh ke pintu kamar yang di ketuk dari luar.


"Apa itu s wanita brandal? Dia pasti balik lagi. Tidak salah lagi, dia balik lagi untuk memohon pada ku agar di biarkan tetap di sini." Ucap Egi dan tersenyum senang.


Tok..tok..tok.


Pintu kamar egi di ketuk kembali.


Egi beranjak dari tiduran nya dengan harapan jika yang datang adalah annisa. Egi melangkah semangat ke arah pintu kamar untuk membuka kan kunci nya.


Ceklek. Egi membuka kunci pintu kamar.


"Sudah ku bilang kau akan kembali la...gi." Ucap Egi sambil membuka pintu kamar.


Ketika melihat siapa yang ada di balik pintu. Seketika raut wajah egi kembali dingin dan muram lalu menatap orang di hadapan nya.


Menunduk kan pandangan. "Tuan egi sudah waktu nya makan siang. Tuan besar dan yang lainnya sudah berkumpul di meja makan." Tutur pelayan wanita yang ada di hadapan egi.


"Hemm." Gumam egi mengiyakan.


"Baiklah saya permisi." Menunduk hormat lalu berbalik pergi.


Menghembuskan napas kasar. "Ternyata wanita itu benar benar sudah pergi." Ucap egi pelan lalu menutup pintu kamar dan beranjak hendak ke meja makan.


Sesampainya di meja makan.


Egi duduk di kursi nya. Namun, ketika egi duduk di kursi semua pasang mata menatap egi bingung hanya asyila yang tampak acuh.


"Nak Annisa kemana egi?" Tanya ayah putra.

__ADS_1


"Iya An an kemana egi? Biasanya dia sudah sampai di meja makan duluan karena dia selalu merapihkan meja makan ini ketika kita akan makan bersama." Tanya Romisa.


"Kakak ipar kedua sudah pergi." Celetuk syila yang tengah menyendok nasi ke piring nya.


Seketika semua pasang mata melirik ke syila kecuali egi yang menundukkan pandangan mata nya menatap piring.


"Maksud mu. Pergi!! Pergi kemana syila?" Tanya Ayah putra.


"Iya pergi kemana An an. Syila?" Tanya Romisa dengan nada panik.


Arga merangkul bahu romisa agar tenang. "Romisa, tenanglah. Jangan panik seperti itu." Ucap arga tenang.


Menoleh ke arga. "Tapi An an dimana, suamiku."


Mengusap sebelah sisi wajah romisa lembut. "Tenanglah Romisa. Kita dengarkan penjelasan dari syila dulu."


Romisa mengangguk pelan lalu kembali menatap syila yang masih bungkam belum menjawab pertanyaan nya.


"Katakanlah syila dimana adik ipar?" Tanya Arga dengan nada tegas.


Beralih menatap egi tajam. "Cepat katakan egi, dimana adik ipar? Jangan membuat romisa panik seperti ini." Tegas arga.


Masih menundukkan pandangan ke piring. "Dia pergi dari rumah ini karena ada kegiatan kampus yang akan memakan waktu sampai malam hari. Jadi dia memilih menginap di asrama nya agar tidak harus bolak balik ke kampus dan ke rumah." Jelas Egi mencari alasan agar tidak di curigai.


"Dan kakak ipar kedua juga berpesan kata nya mau minta izin ke kakak ipar kesatu agar di izinkan untuk beberapa hari kedepan tidak bisa menjaga dan merawat kakak ipar kesatu karena, yaa itu kakak ipar kedua nggak akan pulang kerumah. Yaa sibuk dengan aktivitas nya gitu." Sambung Syila menambahkan.


Seketika romisa bernapas lega. Namun kembali menatap heran ke egi. "Tapi kenapa An an tidak bilang langsung ke saya egi. Kenapa malah izin nya lewat syila?"


"Itu karena kakak ipar kedua terburu buru. Tadi syila lihat nya juga gitu. Jadi nggak sempat izin ke kakak ipar ke satu." Jawab syila.


Mengangguk paham. "Ya sudah sekarang semua sudah tahu penyebab nak annisa tidak ada. Sekarang kita semua makan, kasihan nak romisa bayi nya pasti sudah lapar." Ucap ayah putra mengalihkan pembicaraan.


"Iya Romisa kau harus makan banyak. Mau makan apa sekarang, biar aku ambilkan?" Tanya Arga sambil mengusap pelan puncuk kepala romisa.


Tersenyum dan menunjuk menu di atas meja yang ingin di makan nya.

__ADS_1


Segera arga mengambilkan apa yang romisa inginkan lalu menaruh nya di atas piring romisa.


Sementara egi melihat itu, otak nya mulai berkelebat bayangan annisa yang selalu menyiapkan makanan dan mengambilkan nya ke atas piring egi.


Kenapa otak ku malah muncul wanita itu, seperti nya karena ku lapar jadi pikiran ku ngelantur.


Egi mengambil menu kesukaan nya yaitu kimbab dan acar timun lalu menaruh nya ke piring.


Egi mulai menyuapkan makanan ke mulut nya dan mengunyah pelan.


Rasa nya sangat beda, tidak enak. Tidak seperti masakan yang di masak s brandal. Aku jadi tidak ada nafsu makan.


Baru satu suap egi menaruh kembali sendok dan garfu ke atas piring.


"Egi sudah kenyang. Egi ke kamar duluan Ayah." Ucap egi.


Semua mata menatap egi heran.


"Kau baru makan satu suap. Sudah bilang kenyang, emang kau habis makan apa?" Tanya ayah putra.


"Egi tidak berselera dengan masakan nya."


"Tapi bukannya kimbab adalah makanan kesukaan mu, kenapa kau tidak berselera?" Heran ayah putra.


Bangkit dari duduk nya. "Rasa nya tidak enak." Ucap egi lalu beranjak pergi meninggalkan meja makan.


"Memang siapa yang memasak kimbab ini bi ane, sehingga egi berkata seperti itu?" Tanya ayah putra pada bi ane yang ada di jajaran para pelayan.


Maju satu langkah."Maaf tuan besar, biasanya yang menyiapkan makanan untuk tuan egi itu adalah adek annisa dan untuk hari ini semua nya yang menyiapkan adalah para koki di rumah." Tutur Bi ane.


Mengangguk paham. "Siapkan makanan kesukaan nya yang lain untuk di makan egi dan antarkan ke kamar nya. Aku tidak ingin anak ku sakit hanya gara gara telat makan." Tegas Ayah putra.


"Baik tuan besar." Menunduk hormat lalu membawa dua pelayan wanita agar mengikuti bi ane ke dapur.


Seperti ada yang janggal dengan kepergian Nak annisa yang mengatakan akan ada kegiatan di kampus, kegiatan apa di sana hingga harus sampai malam. Dan ada apa sebenarnya dengan raut wajah egi tadi? Sepertinya aku harus menyelidikinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2