
Seorang wanita yang sebagai asisten dokter itu telah menyelesaikan tugas nya memeriksa dan menginfus punggung tangan kiri Annisa. Dokter laki laki yang menerima buku hasil pemeriksaan Annisa dari asistennya segera memahami hasil nya untuk di sampaikan ke Egi yang berdiri di sisi ranjang.
"Tuan tidak perlu khawatir. Nona Annisa hanya terkena shock di sertai efek samping akibat obat tidur yang di minum nya cukup besar dosis nya. Selain itu karena nona sepertinya belum terasupi makanan apa pun ke perut nya dan dalam keadaan darah rendah, sehingga membuatnya lemas dan tak bertenaga. Saya telah resepkan vitamin, obat maag, dan obat pusing untuk nya. Dan suapkan vitamin ini pada nya, sembari menunggu nona tersadar," tutur dokter pria itu menjelaskan.
Mengangguk paham tanpa mengalihkan tatapan nya dari Annisa.
"Tuan Egi sebaiknya sekalian luka di tangan anda juga di obati, dan di balut kembali agar tidak terinfeksi," ucap Jhon yang kebetulan berada di sana berdiri di antara mereka.
Egi melirik luka yang ada di tangan nya kemudian beralih menatap Jhon, dan akhirnya menggelengkan kepala sebagai jawaban tidak perlu.
Menghela napas pelan, jhon memberi tatapan pada dokter laki laki itu agar mau memberikan obat luka untuk Egi.
Dokter laki laki tersebut mengedikkan kepala ke arah asisten nya. "Krim untuk luka itu, untuk menghindari infeksi dan alangkah baiknya tuan membalut luka di tangan tuan yang terlihat cukup besar goresan nya," intruksi dokter laki laki itu.
Egi kembali mengalihkan pandangan nya ke arah Jhon dan memberikan isyarat tatapan mata agar semua orang di sana meninggalkan Egi dan Annisa berdua. Dan Jhon yang mengerti arti tatapan isyarat egi, segera menghalau dokter dan asisten tersebut agar meninggalkan kamar, setelah asisten dokter itu meletakkan obat untuk annisa dan obat luka untuk membalut luka Egi ke atas nakas. Kini tinggal menyisakan Egi dan Annisa yang masih belum sadarkan diri di dalam kamar.
Egi duduk di kursi kecil dekat ranjang, lalu membuka botol vitamin yang di berikan dokter tadi untuk menuangkan satu sendok makan dan di suapkannya ke mulut Annisa.
Membelai lembut wajah annisa dengan jemari nya. "Annisa, maafkan aku. Karena tidak becus melindungi mu sehingga kau terus terusan terluka," tutur Egi pelan.
Jeda cukup lama, karena egi hanya menatap lekat wajah Annisa sembari terus membelai pipi dan mengusap dengan telunjuknya ujung hidung annisa.
Lalu dengan gerakan perlahan Egi bangkit dari duduk nya, dan membungkuk merunduk, mendekatkan wajah nya ke wajah damai Annisa sehingga hidung kedua nya saling menempel dekat, hembusan napasnya bertemu dan Egi menghadiahkan kecupan kilas di bibir kering Annisa.
Masih mendekatkan bibir nya di bibir Annisa. "Annisa ku, jangan pernah pergi dari ku lagi," gumam nya pelan.
Cukup puas egi memandangi wajah Annisa dengan jarak dekat. Ia kembali lagi duduk di tempat nya, namun masih menggenggam jemari Annisa yang tidak di infus.
"Hemm...," igau Annisa mulai tersadar, kemudian dengan gerakan pelan membuka mata nya untuk melihat sekitar.
Aku masih di sini?
"Annisa," panggil Egi karena melihat pergerakan dari Annisa.
Melirik ke arah suara dengan waspada, dan bernafas lega setelah melihat siapa yang memanggil nya.
Egi bangkit dari duduk nya dan berdiri dekat ke Annisa. "Kau ingin minum?" tanya Egi yang di balas anggukkan kepala oleh Annisa.
"Biar ku bantu duduk," menumpuk beberapa bantal ke kepala ranjang kemudian membantu mengangkat setengah tubuh Annisa bagian atas, untuk di sandarkan ke bantal agar duduk setengah terbaring.
"Terimakasih egi," ucap Annisa lemah dan tersenyum.
Kembali duduk di kursi dan mengambil gelas yang berisi air putih dari atas meja nakas, untuk di sodorkan ke Annisa. "Minumlah," titahnya. Yang langsung di sambut dan di minum oleh annisa.
"Masih pusing?" tanya Egi menelisik wajah Annisa yang sudah tidak sepucat tadi.
__ADS_1
Menggeleng pelan, "sudah baikan... meskipun masih sedikit berdenyut," jawab Annisa.
"Syukurlah," gumam Egi menghela napas lega.
Annisa melirik ragu ke Egi.
Perut ku lapar sekali... tapi rasa nya canggung juga, baru bangun sudah minta makan.
Melihat Annisa menatap nya seperti itu, egi tersenyum tipis. "Ada apa, katakanlah?" tanyanya.
Annisa menundukkan pandangan. "Aku lapar," ucap Annisa berterus terang karena perut nya terasa perih meminta nya untuk di isi.
Tersenyum tipis, "aku tahu," mengambil mangkuk berisi bubur Ayam dari atas meja nakas. "Saat kau tak sadarkan diri, pelayan mengantarkan bubur ini. Dan sepertinya masih hangat," ucap nya sambil menyendokkan untuk siap siap menyuapi Annisa.
Menatap Egi, "kau mau menyuapi ku? ti...tidak perlu, kemarikan. Aku bisa sendiri," pinta Annisa.
Menyendok satu sendok bubur dan menyodorkan nya ke bibir Annisa. "Makan," titah Egi tegas.
Annisa menatap sejenak ke wajah egi, hingga akhirnya pasrah membuka mulut nya dan memakan bubur yang di suapkan oleh egi.
Egi kembali menyuapi Annisa dengan telaten tanpa ada percakapan di antara kedua nya selama acara makan annisa selesai hingga menyisakan mangkuk kosong.
Selesai menyuapi Annisa. Egi menaruh mangkuk kosong itu ke tempat semula lalu beralih mengambil botol obat.
Annisa menatap lekat wajah Egi yang tampak serius menyiapkan obat untuk nya. Mata Annisa memicing heran karena melihat di pipi kiri Egi terdapat sebuah plester tipis menempel.
Lalu tatapan Annisa jatuh menurun melihat ke tangan Egi yang tengah mengeluarkan obat kapsul dari botol obat. Sontak mata annisa melebar kaget karena melihat punggung tangan dan jemari Egi penuh luka goresan yang cukup dalam.
Serentak Annisa bangkit dari senderan nya memajukan badan dan meraih tangan Egi. "Kau terluka!" Seru Annisa memidai jemari Egi.
Egi yang terperanjat dengan sikap annisa yang tiba tiba. Menarik tangan nya yang tengah di pegang annisa. "Aku baik baik saja," sangkal nya, kemudian menyuapkan beberapa kapsul obat ke mulut annisa yang kebetulan terbuka sedikit. "Minum obat mu," titah Egi menyodorkan gelas berisi air putih.
Menghela napas pelan dan menerima gelas itu lalu meminum air nya hingga obat dalam mulut nya terseret masuk ke dalam perut melewati tenggorokan.
Egi mengambil alih gelas yang di pegang Annisa lalu menaruh kembali ke atas nakas. "Sekarang kau istirahat lagi, biar cepat pulih," titah egi hendak menghalau tubuh annisa agar terbaring kembali.
Berontak dan menepis tangan egi yang hendak menyentuh pundak nya. "Nggak mau, aku pusing tau kalau tidur mulu. Sudah seharian ini aku tidur terus," ucap Annisa.
Menghembuskan napas pelan kemudian egi membenarkan duduk nya kembali ke kursi. "Tapi ini sudah larut malam, sudah seharusnya kau istirahat."
Annisa menggeleng cepat, "nggak," kekeh nya. Lalu annisa meraih kembali tangan egi yang terluka. "Aku akan obati luka mu."
Egi hendak menarik tangan nya namun annisa memegang nya dengan kuat dan akhirnya egi pasrah membiarkan Annisa memidai luka di tangan nya.
Annisa melirik ke meja nakas, dan hendak menggapai obat juga bundelan kain kasa, tapi tangan nya tak mampu menggapai karena posisi nya di atas kasur.
__ADS_1
"Lengan pendek, sudah diam biar aku ambilkan," ucap Egi mengambilkan yang di perlu annisa lalu memberikan nya.
Memanyunkan bibir sebal. "Biar pendek tapi makna pepatah nya baik, dari pada lengan panjang," balas Annisa dan sudah memulai mencolek salep dari botol nya untuk di usapkan ke bagian yang luka.
"Memang apa arti lengan panjang?" tanya Egi menanggapi.
Tersenyum tipis, "tukang pencuri," jawabnya sembari mulai melilitkan kain kasa ke telapak tangan Egi.
"Seperti mu," sahut Egi.
Annisa mendongak menatap Egi sejenak dan kembali fokus ke tangan Egi. "Aku bukan pencuri, sejak kapan aku mencuri atau nyopet lah istilah nya," sangkal Annisa dengan nada sebal sambil menalikan simpul kain kasa.
"Sejak kau pergi dari rumah dan tinggal di asrama selama 3 hari yang akhirnya ku jemput," tutur Egi.
Annisa yang telah selesai memperban luka egi. Kembali menatap egi bingung. "Aku bukan pencuri Egi, bukannya saat aku pergi dari rumah. Kau sempat membongkar koper ku, dan bahkan membeludak kan semua isi...," ucapan Annisa terhenti karena egi dengan gerakan tiba tiba menarik tangan Annisa.
Lalu membawa dan merangkul tubuh annisa untuk di peluk nya.
Sejenak keheningan membentang di antara nya, hanya suara detak jantung kedua nya yang saling bersahutan.
"Ka..kau kebiasaan sekali menarikku seperti ini," cicit Annisa dalam pelukan Egi.
Menghela napas pelan. "Kau salah paham lagi mengenai arti kata kata ku," ucap Egi sambil mempererat pelukan nya.
Annisa hendak mendongakkan kepala nya namun egi menekan kepala annisa agar tidak bergerak. "Salah paham gimana? Kau mengatakan aku seorang pencuri, jadi jelas kau menuduh ku. Dan bahkan kau mengatakan jika aku pe...," lagi lagi ucapan Annisa terhenti.
"Kau pencuri hati ku, Annisa." Potong Egi dengan nada rendah dan jelas menghentikan cerocosan Annisa.
Seketika Annisa diam membisu, mencerna ucapan Egi terhadap nya.
Pencuri hati? Apa itu artinya dia sedang menyatakan cinta nya pada ku?
Egi melepaskan pelukan nya namun masih merangkulkan erat sebelah tangan ke pinggang annisa. Kemudian menangkup sisi wajah annisa dengan sebelah tangan yang bebas untuk mengangkat wajah annisa ke arah nya. "Aku mencintaimu, Nurul Annisatul Alawiyah," tutur Egi tepat di depan wajah Annisa.
Seketika annisa tertegun menatap lekat kedua manik mata hazel Egi, untuk mencari kebenaran atas ucapan yang egi lontarkan.
Apa dia benar benar mengatakan hal ini pada ku? Tapi melihat tatapan nya ini, tidak ada kebohongan yang terlintas dalam sorot mata nya.
Namun mengapa di hati ku masih mengganjal soal wanita yang di cantai nya dulu. Apa dia sudah melupakan nya? Dan apa benar wanita itu adalah mbak misa?
Melihat Annisa hanya diam dan menatap nya seperti itu. Egi menghembuskan napas pelan, kembali memberikan tatapan teduh ke Annisa. "Aku tahu kau sudah melihat semua tentang ku dari pria gila itu, jadi kau mengira aku masih sulit melupakan misa," tuduh Egi. Kemudian melepaskan tangkupan tangan nya di wajah Annisa. Juga mengendurkan rangkulan erat di pinggang Annisa.
Mata Annisa melebar mendengar nama yang di ucapkan oleh Egi. "M..mbak misa? Ja..jadi kau benar..." terbata Annisa kaget.
"Iya benar," jawab Egi cepat dan membuang muka ke arah lain.
__ADS_1
BERSAMBUNG...