
Di Perusahaan Putra Grup.
Kriing...kriing.
Suara telepon yang berada di atas meja berdering cukup nyaring, membuat pria yang sedang menekuni layar laptop teralihkan perhatiannya. Pria tampan itu, mengambil gagang telepon tersebut dan membawa nya ke telinga.
"Pak, malam ini ada jadwal temu dengan Direktur dari perusahaan A untuk membahas kerja sama mengenai proyek di utara, tuan muda kedua telah menyerahkan janji temu ini pada anda, Pak."
"Persiapkan semua nya, sekertaris Lia yang ikut serat."
"Baik Pak, 10 menit lagi waktunya berangkat."
Jhon tanpa menjawab ucapan itu, langsung menutup panggilan tersebut. Dan kembali bergelut dengan layar laptop.
"Hah...," menghela napas panjang. "Sepertinya akan sedikit menyulitkan. Karena dari awal Direktur A ini sudah mengajukan ingin bertemu dengan si Egi," gumamnya merasa kesal.
---------------------------------------
Di ruang kebidanan.
"Len, Ibu Nani di lihat dari riwayatnya tidak bisa bersalin normal. Kamu sudah antar ke ruang bersalin?" tanya Rika yang sedang menulis di balik meja.
Leni menoleh sejenak. "Sudah bidan, dan langsung di tangani dokter Meysa, bidan mau pulang sekarang?" timpalnya sembari merapihkan alat medis pemeriksaan kandungan.
Rika tersenyum, ia merapihkan kertas juga buku yang berserakan di atas meja. "Hemm, tugas shift ku sudah habis." Dia bangkit dari duduknya, dan meregangkan tangan juga pinggangnya menggeliat ke kiri dan ke kanan.
"Benar, bahkan lewat dari jam seharusnya," Leni menghampiri meja. Dan mengambil berkas yang sudah di rapihkan Rika tadi.
Rika melirik jam yang melekat di pergelangan tangannya. "Aah, sudah jam 8 malam." Dia melepas jas putih dan menggantungnya ke tempat gantungan jas dekat meja. "Aku lupa lagi, hari ini nggak bawa mantel." Ocehnya, sembari menyambar tas tangan.
"Len, aku duluan yah, data pasien itu berikan pada dokter Meysa," ucap Rika sambil lalu keluar ruangan setelah mendapat anggukkan kepala dari astistennya.
Gadis manis itu, berjalan di koridor rumah sakit menundukkan pandangan merasakan rasa lelah dengan tubuhnya. Ia menggerakkan lehernya ke kiri juga kanan, sembari memukul pelan ke sekitar lengan atas. "Hah, sepertinya aku akan flu deh. Badan ku rasa nya tak enak," Rika bergumam pelan.
Sret.
Tiba-tiba sebuah tangan menyodorkan sebuah gelas yang berisi minuman hangat ke hadapannya, terlihat embun mengepul dari atas cup gelas itu.
"Eh," Rika terperanjat dan melambatkan langkah kakinya, ia melirik ke orang pemilik tangan itu. "Kak Farhan."
Farhan tersenyum ramah, ia menggerakkan tangannya agar gelas itu di terima. "Cokelat panas."
Kenapa dia selalu muncul secara tiba-tiba seperti ini. Dan soal perkataan ku waktu siang tadi, apa dia tidak mengerti maksudnya.
Rika masih melambatkan langkah kaki nya, belum menerima gelas itu. Dan asyik memijit pelan lengannya dan bersikap tak acuh.
"Dek, di luar sedang hujan. Kakak tadi kebetulan beli dua. Buat adek satu," ucap Farhan kembali menggerakan tangannya agar gelas itu segera di terima.
Rika melirik pada minuman itu dengan pandangan sedikit menyipit curiga. Dia tidak akan menaruh sesuatu kan di dalamnya?
Terkekeh geli, melihat raut wajah gadis manis tersebut yang jelas terbaca oleh Farhan. "Tenang saja, kakak tidak sejahat itu. Minuman ini aman."
Menghela napas pelan sejenak, tangan kecil itu terulur pelan dengan gerakan ragu menerima gelas cup tersebut. "Makasih."
Terulas senyuman dari bibir tipis Farhan. Ia berjalan mengimbangi langkah kaki Rika yang sudah melangkah santai. "Dek, soal siang kakak minta maaf karena sudah sedikit kasar."
Rika menyesap cokelat panas itu dengan pandangan sedikit menunduk.
Sudah merasa bersalahkah dia? Tapi sebenarnya aku juga sedikit keterlaluan sih dengan perkataan ku itu.
"Ekhem... saya juga maaf sudah berkata cukup keras, tapi bukan berarti saya menarik kembali kata penegasan yang sudah saya katakan."
Tersenyum tenang, Farhan meminum cokelat di gelas nya. "Meskipun begitu, kakak tidak akan menyerah. Jadi izinkan aku menjaga dan melindungi mu, jangan bersikap tidak mengenal ku. Kakak akan menunggu perasaan adek hingga mau melihat dan datang memilih ku."
__ADS_1
Rika menurunkan gelas yang tengah di tangkupnya, hingga berada di depan dada.
Dia masih tidak mau menyerah, hah... terserah lah, perasaan ku hanya untuk Jojo, Kak. Dan tetap akan seperti itu.
Langkah kaki kedua nya telah sampai di loby untuk menuju pintu keluar. "Emm, kak Farhan nggak tugas?" Rika mengalihkan topik pembicaraan.
Dia menghindar, untuk menolak ku. Farhan menoleh dan tersenyum ramah. "Sudah selesai, adek juga telah selesai tugas kan? Kita pulang bersama."
"Tidak perlu, saya sudah pesan taksi online." Tolak Rika tanpa menoleh dan kembali menyesap cokelatnya.
"Di luar hujan loh dek, kakak tahu adek belum pesen taksi. Jadi biar kakak antar."
Rika berjalan lebih cepat lagi dan melewati pintu geser otomatis, kini telah berdiri di teras luar. "Tidak perlu kak."
Farhan masih mengulas senyuman tenang, ia membuka mantel hitam yang di pakainya. Kemudian memakaikan ke tubuh gadis manis itu. "Cuaca Dingin tidak baik untuk tubuh mu. Kakak ambil mobil dulu, adek tunggu di sini. Jangan kemana-mana," ucapnya, lalu ia langsung berbalik melangkah menuju tempat parkir tanpa mau mendengar sangkalan dari Rika.
"Maksa sekali sih," gerutu Rika, melirik mantel panjang yang kebesaran menutupi tubuhnya hingga menyembunyikan kedua tangan. Dengan bibir cemberut sebal, ia menyesap minumannya untuk menghilangkan hawa dingin. Karena memang benar, hujan yang cukup deras itu membuat hawa sekitar menjadi dingin.
Saat Rika tengah meminum sembari memperhatikan rintikan air hujan yang turun membasahi pelataran, tiba-tiba seseorang berjas rapih serba hitam menghampiri nya dengan payung transparan cukup besar.
"Nona Rika," Pria itu bersuara dengan nada dingin dan tanpa ekspresi wajah.
Sontak Rika terhenyak dan menoleh ke arah suara, ia menatap waspada. "Si-siapa anda?"
Pria itu masih memasang wajah tanpa ekspresi. Dan sedikit menundukkan kepala sebagai salam. "Saya, supir sekaligus pengawal pribadi Nona Asyila. Anda yang bernama Nona Rika kan?"
"I-iya," mengangguk kaku.
"Silahkan Nona ikuti saya, Nona Asyila telah menunggu Nona di kafe."
"Di kafe? Hendak apa Asyila menemui ku malam-malam begini?"
"Saya tidak tahu, saya hanya di perintahkan untuk menjemput Nona." Kemudian pria itu mengulurkan sebelah tangan menyerong dengan badan masih tegap berdiri. "Silahkan Nona ke mobil."
Sepertinya kak Farhan belum datang, ini kesempatan aku untuk kabur.
Kemudian gadis manis itu mengangguk kecil, dan melangkah menuruni gundukan tangga teras. Pria yang berjas rapih tersebut langsung memayungi Rika dengan menggiringi langkah kaki nya menuju mobil merah jambu yang terparkir tidak jauh dari pagar rumah sakit.
Pria itu, membuka kan pintu mobil kursi belakang. "Silahkan Nona."
Dan pada saat Rika hendak mengangkat kaki nya untuk masuk, tiba-tiba sebuah mobil putih dengan cukup cepat berhenti tepat di belakang mobil itu.
"Dek Rika." Panggilan yang cukup keras di antara suara hujan.
Rika yang mendengar samar-samar, ia tidak menggubris dan langsung masuk ke dalam mobil lalu duduk.
Brak.
Pria berjas, menutup pintu mobil. Kemudian setengah memutari dan masuk, duduk di kursi kemudi.
Melihat Rika memasuki mobil itu, Farhan keluar dari mobilnya tanpa memakai payung dengan pakaian hanya kemeja Navy yang melekat di kulit putihnya.
Namun belum juga Farhan hendak mendekati mobil merah jambu tersebut. Mobil yang membawa Rika, telah bergerak maju untuk melaju ke jalanan.
"Dek Rika!" Teriak Farhan menatap kepergian mobil tersebut. Ia menghembuskan napas kasar.
"Siapa laki-laki yang menjemputnya itu? Aku harus mengikutinya," gumam Farhan berbalik menuju mobil putih. Dalam keadaan tubuh basah kuyup ia memasuki mobil dan langsung tancap gas menyusul mobil yang membawa Rika.
Di dalam mobil.
Rika menghela napas panjang, menutup mata nya. "Haish, kenapa dia harus ujan-ujanan gitu sih? Membuat ku merasa bersalah saja," ocehnya.
Pria berjas yang mendengar ocehan Rika. Ia melirik kaca spion luar. Kemudian ia melirik sekilas kaca depan untuk memastikan penglihatannya benar. "Nona Rika, pria tadi sepertinya mengikuti mobil kita."
__ADS_1
"Hah!" Kaget Rika sontak membuka mata nya. Ia memutar kepala juga tubuhnya, untuk melihat ke arah belakang. "Ya ampun, dia nekat."
"Bagaimana Nona, masalah pria ini? Apa di biarkan begitu saja."
Rika masih menatap ke belakang, melihat mobil putih yang dengan kecepatan cukup cepat ingin berusaha mencegat mobil yang di tumpangi nya.
Dia ngebut. Kalau terus-terusan main balap, bisa bahaya. Mana lagi ujan lagi, haaah. Orang ini kenapa bikin aku kesel aja dah.
Kemudian, gadis manis itu. Membenarkan posisi duduknya ke semula. "Pak, berhenti saja. Bisa celaka dia, kalau membawa mobil nya begitu."
Ada senyuman kecil dari sudut bibir pria berjas itu, ia menuruti melamban kan laju nya. Hingga berhenti di pinggir jalan.
Mobil putih di belakangnya ikut berhenti di pinggir jalan tidak jauh dari mobil merah jambu. Seorang pria yang sudah basah kuyup langsung berhambur keluar mobil untuk menghampiri.
"Nona mau saya temani?"
"Tidak perlu." Sahut Rika cepat, dan meraih handle pintu untuk keluar.
"Baiklah, payung nya, Nona." Supir berjas, menyodorkan dua payung ke belakang yang langsung di terima.
Gadis manis itu, keluar mobil juga membentangkan payung besar untuk memayungi tubuhnya. Ia berjalan pelan menghampiri pria yang sedikit berlari dengan raut wajah terlihat kecemasan juga sorot mata tak lepas menatapnya.
"Dek Rika," ujar pria yang sudah basah kuyup itu, ia terlihat bernapas terengah menatap cemas pada gadis manis di hadapannya.
Rika sedikit tertegun menatap pemandangan itu. Dia sampai basah begitu, apa sebenarnya yang dia cemaskan?
"Kamu tidak apa-apa kan? Siapa dia? Kenapa naik mobil asing begitu? Kalau dia menculik mu bagaimana, hah? Kamu tidak di apa-apa in kan? Kamu tidak terluka?" Pertanyaan beruntun keluar dari bibir Farhan sembari memidai tubuh Rika untuk memeriksa dan memastikan bahwa tidak ada yang terluka.
"Kak Farhan." Rika bersuara cukup meninggi agar terdengar jelas karena suara hujan. "Saya baik-baik saja, dia bukan orang jahat, jadi kakak tidak perlu harus melakukan hal bodoh seperti ini."
"Benarkah? Kalau bukan orang jahat, lalu siapa dia?"
Rika menghembuskan napas jengah. Buat apa dia harus tanya-tanya segala sih. Tapi agar cepat selesai, aku harus menjawabnya.
"Dia supir teman saya, dan di perintahkan untuk menjemput saya. Jadi kakak kembali ke mobil lagi, jangan ikuti saya, dan...," Rika melebarkan payung lipat satu nya lagi. Kemudian memberikan pada Farhan. "Jangan ujan-ujanan seperti ini," sambungnya.
Farhan yang terpaku diam, menatap tak berkedip menerima payung itu. Ia tak bersuara lagi hanya menatap diam.
Selain itu, Rika juga melepaskan mantel panjang di tubuhnya yang memang milik Farhan. Ia menyodorkan pada sang pemilik. "Kakak lebih membutuhkan."
Dek Rika... Dengan gerakan pelan Farhan menerima mantel nya, dan dengan tatapan lekat menatap wajah gadis manis di hadapannya.
"Saya kembali, tolong kakak jangan ikuti saya lagi." Ucap Rika, berbalik melangkah pergi meninggalkan Farhan yang menatapnya terpaku.
Gadis manis itu memasuki mobil merah jambu lagi, dan duduk di kursi penumpang.
Farhan masih berdiri diam, melihat kepergian mobil yang membawa gadis manis tersebut. Ia menghembuskan napas panjang, lalu melirik mantel di pegangan tangannya.
"Dia mengkhawatirkan aku." Tersenyum senang dan mencium mantel tersebut. "Bau Dek Rika. Haacuih." Mengusap hidungnya yang sudah merah. Farhan berbalik menuju mobilnya.
"Sepertinya aku akan kena demam malam ini," gumam Farhan memasuki mobil.
Sementara di sebuah mobil hitam yang terparkir di sebrang jalan.
Sepasang mata tajam mengawasi kejadian yang terjadi sejak Rika turun dari mobil juga sampai memberikan Farhan payung dan mantel.
"Ck, dasar gadis bodoh ceroboh." Gumam pria tampan itu, tersenyum kecut.
"Pak Jhon, janji temu di restoran XX. Dan mereka telah dekat dengan tempat tujuan." Instruksi dari sekertaris Lia.
"Hemm," sahut Jhon malas, ia mengalihkan pandangannya menatap lurus. Lalu melajukan mobilnya untuk bergabung di jalanan kota.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...