
Egi telah terbaring dengan apik di atas kasur setelah annisa dengan usaha nya untuk melepaskan diri dari egi dengan menggeliat bagai ulat jengkal dan mendorong kuat kedua bahu egi. Akhirnya kini egi telah terbaring rapih di atas kasur nya dan masih setia memejamkan mata.
"Brandal.. dingin," gumam egi.
Annisa melepaskan sepatu egi lalu menyelimuti nya.
"Masih dingin nggak?" Tanya annisa memperhatikan wajah egi.
Mengangguk pelan, "masih," imbuh nya.
Meraih remote AC lalu Annisa mematikan AC ruangan agar egi tidak merasa ke dinginan lagi dan tidak lupa juga annisa menyalakan penghangat ruangan untuk menambah kehangatan di kamar.
"Hah sebaiknya aku panggilkan dokter yang akan memeriksa nya." Ucap annisa dan hendak beranjak dari tempat berdiri nya di samping ranjang.
Namun egi menarik tangan annisa sehingga menghentikan gerakan annisa.
Menoleh dan menghela napas pelan. "Ada apa egi?" Tanya annisa.
Dengan mata terpejam. "Jangan pergi.." gumam egi.
"Aku mau memanggil dokter untuk memeriksa mu lewat interkom yang di tunjukkan ayah tadi. Jadi diamlah, dan tidur lagi." Ucap annisa dan melepaskan pegangan egi di tangan nya.
Membuka mata nya sedikit, yang tampak menghitam di sekitar mata dan menatap sayu ke annisa. "Kau tidak akan pergi lagi kan?" Tanya egi dengan suara lemah.
Annisa mengangguk. "Tidak egi, memang aku akan kemana lagi, sudah terlanjur kau culik untuk membolos kelas hari ini. Jadi sudah lah kau tidur lagi." Titah annisa membenarkan selimut sampai menutupi ke pundak nya.
"Hn." Gumam egi dan memejamkan mata kembali.
Berbalik dan menuju meja nakas yang tidak jauh dari ranjang. "Benar benar deh, bocah. Kira kira s rika nyariin aku nggak yah. Hah nanti lah aku kabari dia." Oceh annisa dan memencet tombol di intercom telpon untuk menghubungkan ke bi Ane.
__ADS_1
"Bibi, bisakah panggilkan dokter yang akan memeriksa egi. Egi nya sudah siap untuk di periksa." Tutur annisa setelah sambungan terhubung.
"Baiklah saya tunggu Bi." Ucap nya setelah mendengar jawaban 'baik' dari bi ane.
Annisa kembali lagi ke sisi ranjang dan duduk di kursi kecil.
Egi sudah tampak gelisah dan mengernyitkan dahi nya merasakan sakit di kepala dan seluruh tubuh nya.
"Brandal.. jangan pergi.." gumam kecil di bibir egi namun annisa masih bisa mendengar nya.
Annisa mengusap lembut dahi egi yang mengeluarkan keringat, dan menggenggam sebelah tangan egi yang ada di samping tubuh nya.
"Kenapa kau bisa sakit seperti ini sih, egi?" Menghela napas dan kembali menatap wajah egi yang tampak pucat.
"Maafkan aku egi, aku memang pantas untuk kau bilang istri tidak becus dan durhaka. Buktinya aku tidak mengurus mu dengan baik dan membuat mu sampai sakit seperti ini.. seharusnya saat itu aku tidak pergi dan harusnya aku mengerti kamu, karena bagaimana pun kau adalah suami ku yang umur nya terpaut lebih muda dari ku. Jadi jelas emosi dan pikiran mu masih belum dewasa, dan seharusnya aku sebagai istri mu yang lebih tua dan mengerti. Harusnya aku membimbing mu dan menyadarkan untuk menenangkan... bukan malah mengompori dan tersinggung dengan sikap kanakan mu. Maafkan aku atas keegoisan ku egi." Tutur annisa pelan.
Ceklek.
Dokter frans, Jhon dan ayah putra melangkah kan kaki nya memasuki kamar egi.
Annisa yang tersadar dengan kehadiran mereka, segera ia bangkit dari duduk nya dan berdiri di samping meja nakas.
"Ayah.." ucap annisa menunduk.
"Kau kembali duduk lah nak annisa, di samping suami mu." Mengedikkan dagu ke arah annisa agar kembali duduk.
"Baik ayah." Menurut duduk kembali di kursi kecil samping ranjang egi.
"Frans, kau periksa anak ku." Titah Ayah putra.
__ADS_1
"Baik tuan putra." Menunduk dan mendekati ranjang egi lalu mulai menjalankan pemeriksaan pada egi.
Sementara Ayah putra duduk di sofa tunggal dekat ranjang dengan jhon berdiri di samping sofa memperhatikan dokter frans.
"Brandal... jangan pergi.. brandal.." gumam egi pelan, saat di periksa oleh dokter frans.
Alis ayah putra mengkerut heran karena menangkap cukup jelas gumaman egi meskipun jarak nya agak jauh dari ranjang namun karena suasana di kamar yang tenang jadi suara gumaman egi masih tertangkap oleh telinga ayah putra.
"Brandal?" Celetuk ayah putra heran menatap egi.
Lalu beralih melirik annisa. "Siapa dia?" Bingung nya.
Aku harus bilang apa. Sepertinya jujur lebih baik dari pada akan ada kesalah pahaman lagi.
Menunduk gugup. "Eh, itu..itu.. aku ayah. Egi biasa memanggil ku seperti itu." Ucap jujur annisa dan canggung.
"Kenapa harus brandal? Nama yang tidak baik, kau mempunyai nama yang sangat indah nak annisa. Kenapa egi menamai mu seperti itu? Kenapa tidak annisa atau nama panjang mu?" Tanya ayah putra masih menatap annisa dan egi bergantian.
Tanyakan pada anak mu ayah mertua jangan tanyakan hal itu pada ku.
"Aku.. aku tidak tahu ayah. Itu keinginan egi sendiri memanggil ku seperti itu." Jawab annisa.
Tersenyum. "Tuan besar, mungkin itu nama kesayangan yang di tetap kan tuan egi untuk nona annisa." Ucap jhon menengahi.
Beralih menoleh ke jhon yang ada di samping nya. "Nama kesayangan apa nya, itu nama yang sangat buruk jhon. Aku tidak menyukai nya." Sanggah ayah putra.
Dan terlibatlah adu percakapan jhon dengan ayah putra yang memperdebat kan masalah nama panggilan annisa dari egi.
Annisa yang melihat nya hanya bisa menggelengkan kepala dan menghela napas pelan.
__ADS_1
Andai ayah mertua juga tahu jika aku memanggil anak nya dengan panggilan 'bocah'. Apa ayah mertua akan merasa tersinggung dan bersikap seperti ini?
BERSAMBUNG...