
Cukup lama kedua nya masih betah duduk di bawah pohon rindang menikmati kesejukan air telaga biru.
Annisa yang duduk di depan rangkulan Egi, dengan kepala bersandar di dada nya. Ia mendongak melirik wajah egi. "Egi aku lapar, beli camilan yuk!" ucap Annisa.
Egi yang tengah memeluk annisa dari belakang, tersenyum. "Kau mau makan apa? Biar ku pesankan," tanya nya.
Bangkit dari pelukan egi dan mengedarkan pandangan nya ke stand penjual yang berjejer. "Kita ke sana saja untuk memilih," ajak Annisa menunjuk dengan kerlingan mata ke arah stand.
"Baiklah," ucap nya. Lalu Egi bangkit dari duduk dan menggenggam jemari sebelah tangan annisa untuk membantu nya berdiri.
Annisa ikut berdiri, kemudian berjalan melangkah bersama Egi dengan tangan saling bergandengan untuk menuju stand penjual.
Sesampainya di depan stand, egi kembali melirik annisa yang tampak tengah memilih salah satu menu di antara stand.
"Beli itu yuk!" Ajak annisa menarik tangan Egi ke arah stand penjual camilan hora.
Egi hanya menuruti keinginan annisa dan mengikuti langkah nya.
Beberapa lama kemudian.
Annisa telah memesan camilan berupa onion ring dan jamur cryspi. Sementara egi memegang dua gelas minuman dengan di tangan kiri milkshake strawberry dan di tangan kanan squash melon milik annisa.
Setelah mendapatkan camilan, kedua nya berniat hendak ke tempat duduk nya semula.
Berjalan dan sesekali memakan jamur cryspi. "Mau?" tanya annisa menyodorkan satu potong jamur ke bibir egi.
Memakan yang di sodorkan. "Lumayan juga," ucap Egi setelah mencecap rasa di mulutnya. "Coba yang satu nya lagi," pinta nya menunjuk dengan dagu ke arah cemilan yang ada di tangan kanan annisa.
Annisa mencomot onion ring dan hendak menyuapkan ke Egi. "Nih," ucapnya menyodorkan. Dan egi membuka mulutnya hendak melahap onion ring itu, tapi annisa dengan jahil mengalihkan arah dan menyuapkan ke mulut nya sendiri.
"Annisa," geram Egi gemas.
Terkikik geli melihat ekspresi sebal nya egi, yang menurut annisa sangat lucu.
Kemudian annisa kembali mencomot onion ring dan menyodorkan ke bibir egi. "Nih, jangan manyun gitu dong," bujuk nya.
Tersenyum kecil dan akhirnya melahap yang di suapkan oleh tangan annisa.
"Minta minum nya, tenggorokkan ku seret," ucap Annisa menghentikan langkah kaki nya.
Ikut berhenti dan menyodorkan dua minuman di tangan nya. Lalu annisa menyeruput squash melon beberapa teguk kan.
Melihat annisa menyeruput minuman, egi ikut meminum di gelas yang satu nya. "Coba punya mu," pinta Egi menarik gelas yang telah di minum annisa dan menyeruput nya. "Lumayan juga," pendapat nya.
"Kau ini dari tadi lumayan terus bilang nya, jelas jelas camilan enak. Bilang nya gitu mulu," omel Annisa dan memakan jamur cryspi sambil melangkah kembali.
Ikut melangkah menggiringi langkah kaki annisa. "Memang rasa nya sangat biasa. Hanya masakan mu yang paling enak dan lezat Annisa," jawab nya.
"Hah... kau paling bisa membalikkan. Dulu bilang nya aku narsis gara gara memuji masakan ku sendiri, sekarang malah sebalik nya. Dasar BoBil," cerocos Annisa.
__ADS_1
"Hemm...," dan merangkul bahu annisa agar merapat ke tubuh nya. "Itu dulu bentuk penyangkalan, tp sekarang kata yang ku ucapkan benar ada nya," ucap egi.
-----------------------
Sudah memasuki adzan dzuhur Annisa dan Egi masih betah memakan jajanan dengan duduk di pinggir telaga.
Kriing...kriing. Ponsel Egi berbunyi.
Egi merogoh ponsel dari saku mantel nya, lalu tanpa melihat siapa penelpon. Langsung mengangkat panggilan itu.
"Tuan Egi, pesawat jet pribadi telah siap pukul. 3 sore. Sebaiknya tuan Egi dan nona Annisa segera pulang ke villa, untuk bersiap siap," intruksi Jhon dari sebrang telpon.
"Hemm...," ucap Egi mengiyakan.
"Apa masih lama jalan jalan nya tuan egi? Jika begitu saya akan mengatur kembali jadwal kepulangan," tanya Jhon.
"Sebentar lagi," sahut egi. Lalu mematikan panggilan telpon secara sepihak, dan mengembalikan ponsel ke saku mantel.
"Siapa?" tanya Annisa penasaran sambil menatap curiga.
Egi tersenyum tipis lalu mengusap pipi annisa. "Kau curiga karena cemburu," ucap nya.
Membuang muka ke arah telaga. "Cih! Narsis banget sih." Kemudian Annisa membersihkan bekas makan nya. "Egi kita pulang saja, udah dzuhur," ucap Annisa mengalihkan topik.
"Apa tidak ada tempat yang ingin kau kunjungi lagi?" tanya Egi sambil menerima sampah bekas makan dari annisa lalu melemparkan nya ke tong yang tidak jauh dari nya.
Menggelengkan kepala. "Aku kan tidak tahu daerah sini, tapi ke telaga ini saja aku sudah cukup senang," jawab Annisa kemudian bangkit dari duduk nya.
Menuruti perintah egi. "Ada apa? Kenapa aku di suruh berbalik?" Heran annisa.
Plak... plakk. Egi menepuk mantel bagian belakang annisa tepat di area terlarang.
"Egiii," teriak Annisa kaget dengan apa yang egi lakukan.
Lalu secepat kilat membalikkan badan menatap horor ke Egi. "Kenapa kau memukul bokong ku di tempat seperti ini!" ucap nya sedikit menggeram dengan menggertakkan gigi. Kemudian annisa berjinjit dan menjewer sebelah telinga egi.
"Hey... Apa yang kau lakukan?" Memegang telinga nya yang di jewer annisa. "Lepaskan."
Annisa melepaskan jeweran nya. "Itu akibatnya jika bersikap mesum di tempat umum," ucap nya, kemudian mendengus melangkah pergi.
Egi yang tangan nya masih terikat dasi dengan annisa. Ikut ketarik untuk mengikuti langkah annisa. "Aku hanya membersihkan mantel mu yang kotor kena debu tanah," ucap Egi jujur sambil menggiringi langkah annisa.
Mendelik tajam ke egi yang ada di samping nya. "Ya kan bisa di lepas dulu mantel ku, tidak harus memukul bokong ku," ketus annisa.
Egi tersenyum kecil lalu merangkul bahu annisa. "Baiklah, lain kali nggak bakal begitu. Annisa ku," bujuk nya.
Menghela napas pelan, dan menatap lurus ke depan. "Jangan begitu lagi," ucap Annisa.
"Iya," sahut Egi. "Kau tidak marah lagi Annisa?" tanya nya di sela langkah kaki menuju parkir sepeda.
__ADS_1
"Masih sedikit, tapi ya sudahlah, toh udah kejadian," jawab Annisa menghentikan langkah kaki tepat di samping sepeda.
Egi ikut berhenti dan mengambil sepeda nya yang memang hanya tinggal sepeda milik nya saja yang tersisa di parkiran. "Naiklah," titah nya setelah diri nya menaiki sepeda.
Annisa duduk di kursi jok belakang dan mencengkram mantel depan egi. "Kita pulang kan?" tanya nya.
"Hn...," gumam egi mengiyakan. Dan mengarahkan sepeda nya keluar dari area telaga.
Kini sepeda itu telah melaju di jalanan yang pernah di lewati nya.
Ketika sepeda yang di tumpangi nya hendak melewati jalanan yang berbatu. Tiba tiba Egi menghentikan mengayuh.
"Ada apa?" Heran Annisa.
Egi tidak menjawab pertanyaan annisa. Ia turun dari sepeda.
Ikut turun dan menatap bingung.
"Naiklah," pinta Egi setelah diri nya berjongkok membelakangi annisa.
"Eh...," masih diam terpaku di tempat karena bingung. "Naik kemana? Maksud mu naik sepeda sendiri gitu, ya sudah aku yang menggoes, kau ku bonceng," ucap Annisa hendak mengambil alih stang sepeda.
"Naik ke punggung ku," titah Egi yang masih berjongkok.
"Kau mau menggendong ku? Ti-tidak usah, aku naik sepeda saja," tolak Annisa.
Menghela napas lalu tanpa menunggu persetujuan annisa. Egi langsung merengkuh tubuh annisa untuk di gendong di belakang.
Memukul pelan pundak egi. "Aku bilang aku bisa naik sepeda atau jalan kaki, turunkan aku!" Oceh Annisa.
"Diam, dan kalungkan tangan mu ke leher ku, agar tidak jatuh," titah Egi melirik annisa yang ada di gendongan nya.
"Kau ini suka seenaknya, terus sepeda itu gimana?" tanya annisa sambil menurut mengalungkan tangan ke leher Egi sehingga merapat ke punggungnya.
"Biarkan saja," sahutnya kemudian mulai melangkah kan kaki.
"Hey, jarak dari sini ke villa itu cukup jauh. Lebih baik kau turunkan aku, badan ku berat," Annisa mengoceh dalam gendongan egi.
"Badan seperti kapas di bilang berat. Lagian tidak apa, anggap saja aku memanggul sekarung kapas," jawab Egi di sela langkah nya.
"Setipis itukah badan ku, sehingga kau bilang kapas. Menyebalkan," ucap Annisa ketus dan mengalihkan pandangan ke arah perkebunan.
Tersenyum miring. "Benar, sampai si kembar yang di depan saja. Tidak kerasa oleh punggung ku," ucap Egi.
Seketika Annisa menoleh tajam dan menjewer telinga egi cukup kuat. "Kau...," geram nya. "Kenapa otak mu jadi mesum gini!" teriak Annisa dekat telinga egi.
"Hey lepaskan tangan mu, dan jangan teriak di telinga ku. Suara mu sangat jelek Annisa," gerutu Egi menggelengkan kuat kepala nya.
Tetap menjewer. "Nggak mau, sebelum otak mu ku cuci agar tidak mesum lagi," sanggah Annisa.
__ADS_1
BERSAMBUNG...