
Annisa tengah menata masakan hasil karya tangan nya di atas meja. Ia telah selesai shalat isya berjamaah dengan Egi dan Jhon, setelah nya Ia langsung turun ke lantai bawah lagi untuk menyiapkan makan malam.
"Kak Jhon nya mana Egi?" tanya Annisa yang melihat Egi memasuki ruang makan namun tidak di temani oleh Jhon.
Egi mendekati Annisa dan berdiri di belakang. Lalu memeluk pinggang annisa dengan kedua tangan nya.
Sejenak gerakan tangan Annisa yang tengah menata piring terhenti dan melirik ke tangan Egi yang sudah bertengger di perut nya.
Kebiasaan sikap manja nya... sepertinya aku harus mulai terbiasa dengan nya. Biarkan sajalah...
"Buat apa kau menanyakan tamu kurang ajar itu," ucap Egi ada nada tidak suka.
Annisa masih menata piring dan sendok. "Jangan begitu egi, bagaimana pun kak Jhon kan akan tinggal di sini dengan waktu lama. Jadi sudah bukan tamu lagi di rumah ini, tapi anggap saja keluarga kita," tegur Annisa.
Egi menaruh dagu nya di pundak Annisa. "Keluarga! Jangan harap aku akan menganggap nya begitu."
Hmm.. kalau di dengar dari reaksi si Egi kenapa terlihat sensitif dan kesal sekali pada kak Jhon... jadi harus hati hati lagi jika aku berhadapan dengan mereka berdua.
Annisa melirik dan mengusap sebelah pipi egi dengan lembut lalu tersenyum. "Egi, duduklah kau mau sampai kapan memeluk ku seperti ini. Akan malu jika sampai terlihat kak Jhon," ucap Annisa sambil memegang tangan Egi yang melingkar di perut nya untuk di lepas.
Cup.
Egi mengecup pipi annisa dan menurut duduk di kursi. "Hal ini yang aku tidak sukai. Waktu ku dengan mu pasti akan terganggu oleh orang tengil itu."
"Orang tengil?" Celetuk Jhon yang baru datang berjalan menghampiri meja makan.
"Eh..." Annisa tersenyum canggung menyambut Jhon. "Kak Jhon, silahkan duduk," ucap Annisa mengalihkan topik.
Jhon tersenyum ramah ke annisa dan menurut duduk di kursi yang bersebrangan dengan Annisa dan Egi. "Sepertinya malam ini dan seterusnya saya akan menikmati masakan buatan nona, sungguh keberuntungan bagi saya," tutur Jhon.
"Cih!" Decih Egi melirik sinis ke Jhon.
"Tentu kita kan serumah sekarang, silahkan di cicipi makanan nya kak jhon. Anggap saja seperti rumah sendiri, jangan sungkan," jawab Annisa.
Jhon mengangguk mengiyakan dan mengambil salah satu menu masakan yang ada di tengah meja.
Sedang annisa mengambilkan menu yang di inginan Egi juga mengambil makanan untuk diri nya.
"Jhon, di rumah ini ada aturan nya. Dan kau sebagai warga baru yang tinggal di rumah ku, harus mau tidak mau menerima aturan ku," tutur Egi sambil menyuapkan makanan ke mulut nya.
Jhon mengangkat kepala menatap Egi dan tersenyum tipis. "Aturan apa itu tuan Egi, silahkan beritahu saya agar saya tidak melanggar."
"Kau boleh memasuki semua ruangan yang ada di rumah ini, kecuali kamar Annisa. Dan kau harus tau diri dengan melakukan apa selayak nya orang yang berbalas budi tanpa merepotkan tuan rumah."
Mengangguk mengiyakan. "Saya tahu batasan diri saya tuan Egi," ucap Jhon.
"Bagus jika kau mengerti."
__ADS_1
Tidak ada percakapan lagi di antara ketiga nya. Masing masing sibuk memakan makanan dengan keheningan suara, hanya denting alat makan sesekali berbunyi karena beradu satu sama lain.
Selang beberapa waktu.
Selesai makan malam, Annisa membereskan alat makan yang kotor bekas makan malam.
Egi mencekal lengan annisa yang tengah membereskan piring kotor.
Annisa mendongak menatap bingung. "Kenapa?" tanya nya.
"Biar jhon yang membereskan urusan piring kotor, kau kembali lah ke kamar," ucap Egi menatap tajam ke Jhon yang masih duduk di kursi nya.
Jhon bangkit dari duduk nya. "Ah, benar nona. Biarkan saya saja yang membereskan semua nya, nona istirahatlah."
Annisa melepaskan cekalan tangan Egi yang ada di tangan nya, lalu kembali membereskan alat makan. "Tidak perlu, ini kan pekerjaan wanita. Tidak pantas jika di lakukan oleh seorang pria," tolak nya halus dan hendak mengangkat piring kotor.
Egi segera mengambil alih piring kotor itu untuk membawa nya ke wastafle cucian. "Kau memang keras kepala."
"Egi!" Sentak Annisa namun di abaikan. Menghela napas lalu kembali membereskan sisa makanan di meja. "Yang keras kepala di sini sepertinya bukan aku saja, tapi diri nya juga," oceh Annisa sebal.
Jhon ikut membereskan meja makan untuk membantu Annisa. "Meskipun begitu, nona sangat menyukai nya kan," sahut Jhon menggoda annisa.
"Ekhem..." dehem Egi yang telah kembali ke meja makan. "Jhon, kau cuci piring kotor," titah Egi.
Annisa menatap Egi. "Jangan, biar aku saja Egi. Kenapa harus kak Jhon yang sebagai tamu," cegah nya.
Egi mencekal sebelah lengan Annisa lalu menarik nya untuk ikut berbalik mengikuti langkah kaki nya. "Tinggal di sini gak ada yang gratis. Setelah cuci piring, tunggu di ruang kerja lantai atas," ucap Egi sebelum keluar ruang makan sambil menarik lengan annisa. Yang meninggalkan Jhon sendiri di ruang makan.
Sementara di lantai atas.
Egi membawa annisa ke kamar annisa, dan langsung menduduk kan diri ke sofa di ikuti annisa duduk di samping nya.
"Egi, kau ini kenapa? Kenapa malah menyuruh kak Jhon cuci piring, nggak sopan Egi!" Seru Annisa.
"Biar dia tahu diri, dan jangan urusi si Jhon lagi! Yang perlu kau pikirkan dan urusi itu aku.. dan hanya aku sebagai suami mu!" bentak Egi.
Sontak Annisa terperanjat dengan bentakan Egi. "Ke...kenapa kau marah lagi pada ku? Aku... aku hanya menegur sikap mu saja yang sedikit keterlaluan," ucap Annisa dengan nada rendah.
Egi menghela napas kasar lalu menoleh ke Annisa. "Aku tidak marah, hanya kesal saja karena di pikiran mu selalu terlintas pria lain... dan kau tahu apa maksud ku membawa mu langsung ke kamar?"
Annisa menggelengkan kepala beberapa kali sebagai jawaban tidak.
"Hari ini, Apa kau menyembunyikan sesuatu dari ku?" tanya Egi lagi menatap serius.
Sejenak annisa terdiam dan membalas tatapan mata Egi. "Aku tidak menyembunyikan apa apa dari mu," jawab nya.
Menghela napas kesal dan mata memicing curiga. "Benarkah?" tanya Egi lagi.
__ADS_1
"Benar."
"Kau yakin?"
"Hemm...," mengangguk yakin.
Melirik tajam ke annisa. "Kau tahu jika aku tidak suka di bohongi, apalagi yang kau sembunyikan adalah barang dari pria lain."
Annisa tertegun dengan tatapan tajam egi dan menatap tidak berkedip.
Aku lupa jika aku telah membawa kotak kado dari kak Alan. Kenapa aku lupa akan hal ini?
Nyengir kepaksa dan merangkul sebelah lengan Egi. "Ah, iya aku lupa. Aku dapat titipan hadiah dari kak Alan. Maaf aku tidak berniat menyembunyikan nya dari mu, tapi jujur aku belum membuka isi nya kok, jadi kau jangan marah," bujuk Annisa dengan nada suara lembut.
Seketika sorot mata egi meredup hangat, dan menangkup sebelah pipi annisa. "Jangan menyembunyikan apa pun dari ku annisa. Karena seberapa rapat nya kau menyembunyikan rahasia meskipun itu dalam hati mu, aku akan tetap bisa membongkar dan mengetahui nya."
Annisa mengangguk patuh. "Kau pun begitu," jawab nya.
Tangkupan tangan Egi turun, mengusap bibir annisa. "Aku ingin madu, bolehkah?" tanya nya meminta persetujuan.
Dia meminta kiss lagi, padahal jantung ku baru saja tenang. Tapi apa boleh buat, aku sudah terlanjur menyetujui keinginan nya.
"Bo...boleh," ucap annisa canggung dan menunduk malu.
Terurai senyuman dari bibir Egi dan tanpa menunggu lama. Egi langsung menekan tengkuk leher annisa, mendongakkan nya untuk mendekatkan wajah nya ke wajah annisa lalu merangkul pinggang annisa. Dan...
Cup. Egi mencium bibir annisa.
Annisa memejamkan mata, terdiam pasrah saat apa yang di lakukan oleh Egi semakin dalam.
Tok...tok..tok.
Cukup lama egi mencium bibir annisa. Hingga sebuah ketukan dari pintu membuat nya harus rela melepaskan annisa.
"Arrgh... kenapa si Jhon selalu mengganggu kita," geram Egi setelah menjauhkan wajah nya dari wajah annisa.
Annisa terkikik menahan tawa melihat wajah kusut Egi. Menepuk pelan pipi Egi. "Temuilah, jangan bersikap seperti itu," ucap nya.
"Baiklah, aku keluar. Dan kemarikan titipan dari pria gila itu, biar aku yang membuka nya sendiri kau tidak perlu tahu," pinta Egi kemudian bangkit dari duduk nya.
Baiklah, berikan saja. Aku pun tidak penasaran dengan isi kado dari kak alan.
Annisa beranjak dari duduk nya dan mengambil paper bag yang berada di atas meja belajar lalu menyodorkan ke Egi yang sudah berdiri di dekat pintu.
Egi menerima paper bag itu, dan mengusap pipi annisa sebelum membuka pintu. "Kau jangan dulu tidur sebelum aku tertidur, karena aku ingin kau menidurkan ku," ucap nya lalu membuka pintu dan keluar kamar meninggalkan annisa sendiri di dalam kamar.
Alis annisa menaut dan menatap pintu yang sudah tertutup. "Menidurkan, emang nya dia bayi. Dasar bocah... hah sebaiknya aku juga menyelesaikan KTI," gumam Annisa dan berbalik menuju meja belajar.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Setelah Membaca Budayakan Tekan Tombol LIKE dan Tinggalkan JEJAK yaaa. Biar tambah semangat Author nya.