Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 42


__ADS_3

2 Minggu kemudian.


Rika mengabaikan kedua pria yang berusaha mendekatinya, bahkan sampai mengabaikan setiap panggilan dan telepon dari si Ray dan Farhan, karena saat ini suasana hatinya sedang kacau, murung, gelisah, bercampur menjadi satu yang hanya ia butuhkan adalah ketenangan. Sedang Jhon berwujud bagai kabut kembali, ia datang dan pergi begitu saja tanpa ada kabar apa pun juga tanpa pertemuan. Selain perasaannya yang kacau, jadwal makan pun ikut kacau balau sehingga kondisi tubuhnya terlihat kurang Fit.


Sedari subuh Rika sudah stand by di rumah sakit dikarenakan ada pasien darurat yang akan melahirkan. Dan saat ini ia tengah berada di ruang bersalin bersama beberapa asisten dan pastinya dengan seorang ibu hamil yang sedang terbaring di atas ranjang brankar di temani sang suami yang terduduk di sisi ranjang.


"Hasil pemeriksaan dalam beberapa jam?" Rika bertanya sembari memeriksa kondisi pasien.


Leni sang Asisten menyodorkan sebuah buku data pemeriksaan pasien tersebut pada Rika.


Gadis manis berjas putih itu, menerima dan membacanya. Alisnya terangkat sebelah melirik pada ibu hamil sejenak. "Tidak ada perubahan sama sekali dalam bukaannya."


"Benar bidan."


Rika menghembuskan napas panjang, dan memberikan kembali buku itu pada asistennya. Lalu ia cuci tangan untuk mensterilkan dan memakai sarung tangan medis untuk memeriksa sang bayi dalam kandungan.


"Bidan, sampai kapan rasa nyerinya hilang? Aku tak sanggup untuk menahannya lagi, lebih baik sakit hati dari pada merasakan sakitnya melahirkan... aduuuh," ceracau ibu hamil itu sembari menjambak rambut sang pria di sampingnya.


Pria itu membelai sayang rambut sang istri dan terus menggumamkan kata sabar.


Dia pikir sakit hati bisa di obatin. Di balik masker bibir Rika memberenggut. "Sabar yah bu, tarik napas dalam-dalam dan keluarkan dari mulut. Jangan mengejan dulu karena belum saatnya. Dan tolong lututnya Len, di pegang agak lebar." Perintahnya pada asisten, kemudian Rika mulai memeriksa bagian jalannya keluar bayi.


"Bidan cuman bilangnya sabar, sabar terus dari tadi. Aaarrgh, aku ingin cepat membrojolkan anak ini, kenapa menyiksa sekali sih, kau nak di dalam sana? Emang kau sedang apa di sana? Susah sekali mencari jalan pintu keluar saja. Cepat keluar kau Nak jika ingin di aku anak oleh Mama." Cerocos ibu hamil sambil terus mengusap perutnya dan mengaduh mengernyitkan alis karena nyeri.


Gadis manis berjas putih itu mengangkat wajahnya. Sampai di ancam begitu...


"Suaminya, bisa bicara sebentar?" Ucap Rika setelah melepaskan sarung tangan dan menurunkan masker.


Pria di samping ranjang brankar tersebut menoleh. "Iya bisa bidan."


"Bidan jangan mentang cantik jadi merayu suami saya, kenapa nggak bicaranya di sini saja? Haduuh... awas kau mas bambang jika aku sudah mengeluarkan anak penyiksa perut ku... hah... aduuh sakiiit." Celoteh ibu hamil.


"Mah, jangan begitu. Kok bicaranya nggak sopan."


"Aaargh... diam kamu Mas. Kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan." Menjambak rambut sang suami hingga keduanya mengaduh bersama.


"Jelas aku tidak merasakannya karena aku laki-laki, Mah. Tapi jangan menjambak ku, rambut ku bisa botak."


"Kamu harus jadi wanita, Mas. Kamu harus jadi wanitaaa."


Suami istri aneh. Rika menggelengkan kepala beberapa kali dan beralih menatap beberapa asistennya.


"Len, pasang alat infus dan oksigen." Perintahnya pada gadis pemegang buku data pemeriksaan yang di balas anggukkan kepala. "Dan kamu, Nad. Ajukan data pasien pada dokter Meysa, serta bikin surat pengajuan."

__ADS_1


"Baik bidan."


Rika kembali menatap sepasang suami istri itu, dan menjelaskan mengenai masalah kandungan juga fisik ibu hamil yang tidak memungkinkan untuk melahirkan normal, jadi ia menyarankan melahirkan secara operasi caesar.


"Bagaimana pak?"


Pria itu mengangguk mengiyakan. "Baiklah lakukan yang terbaik menurut bidan saja, asal kedua-dua nya selamat."


"Nggak! Aku nggak mau operasi, aku mau nya lahiran normal." Sanggah ibu hamil.


"Tapi Mah... kan sudah dengar penjelasannya tadi."


"Tapi aku nggak mau, Mas. Aku dengar yang lahirannya di operasi itu, lama pemulihannya... Aarggh..." Memelas menatap dengan mata berkaca-kaca seakan menangis.


Hah... Lagi-lagi Rika menghembuskan napas kasar menggelengkan kepala beberapa kali.


Beberapa saat kemudian.


Setelah pemeriksaan dan membujuk ibu hamil dengan menenangkannya agar mau melakukan operasi caesar, Rika keluar ruangan. Ia berjalan di koridor rumah sakit, memijit keningnya yang terasa berdenyut pening. Raut wajahnya terlihat pucat dan bibirnya kering sedikit pecah-pecah.


Sepertinya demam ku berlanjut deh.


"Dek Rika." Panggil seorang pria dari arah belakang yang amat Rika kenal.


"Dek." Pria itu berjalan cepat untuk menyusul.


Gadis manis yang di kejar, semakin mempercepat langkah kakinya menuju pintu tunggal bercat putih di ujung lorong.


"Dek Rika." Dengan sikap memaksa, Farhan menghalangi jalan Rika.


Seketika langkah kaki Rika terhenti namun pandangan masih menunduk dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku jas. Mau apa sih dia? Bikin bad mood ku menjadi.


Rika berbelok ke arah jalan kosong dan melangkahkan kembali tanpa menghiraukan pria tampan itu.


"Dek, selama beberapa hari ini kenapa terus menghindari kakak? Apa salah kakak?" Farhan membuntuti langkah kaki Rika.


Dan gadis manis tersebut masih bungkam menundukkan pandangan berjalan maju. Aku tuh lagi malas di ganggu, nih orang kagak ngerti juga kayak si banci.


"Dek, jawab kakak!" Sentak Farhan mencekal lengan atas Rika.


Rika terhenti tepat di depan pintu ruangannya, ia menengadah menatap dingin pada pria yang memegang lengannya. "Saya harap kak Farhan sudah tahu alasan saya seperti ini, setelah mengatakan penjelasan dan penegasan waktu itu. Jadi...,"


Rika mengibaskan bahu agar pegangan pria itu di tangannya terlepas. "Jangan ganggu saya, ini rumah sakit tempat orang bekerja, dan kakak sebagai dokter harusnya bisa membedakan mana waktu bekerja dan mana waktu untuk hal privasi."

__ADS_1


"Tapi adek jangan mengabaikan kakak seperti ini kalau tidak ingin di ganggu... jelaskan salah kakak dimana?" Ujar Farhan tidak mau menyerah.


Rika tak menggubris dan langsung memasuki ruangannya meninggalkan Farhan yang terbengong menatap pintu tertutup bercat putih di hadapannya.


"Hmph... melesat lagi, sulit sekali menjadi orang terdekat mu, Rika," gumam Farhan pelan, dan berbalik melangkah pergi.


Di dalam ruangan.


Rika memasuki meja nya, dan duduk menyenderkan punggung ke badan kursi. Memejamkan mata menghela napas panjang beberapa kali. "Jojo, dia bahkan tidak menelpon atau mengirim pesan. Sungguh bodoh aku, masih mengharapkan pria sepertinya." Celoteh Rika membuka mata dan meletakkan kedua tangan di atas meja.


Dan pada saat itu jemarinya menyentuh sesuatu yang menciptakan bunyi. Ia melihat apa yang di sentuhnya, alisnya tertaut bingung meraih paper bag juga setangkai bunga mawar berwarna putih. "Eh, dari siapa ini?" Heran Rika mengambil mawar dan sepucuk kertas kecil terselip di bungkus bunga nya.


Ia membuka kertas itu dan membaca tulisannya.


Makanlah, kau bahkan belum memakan sesuatu sedari pagi.


JJ.


"JJ? Siapa dia?" Kemudian Rika membuka isi paper bag yang ternyata semangkuk besar sup lengkap dengan sekotak kecil nasi juga air botol minum.


"Apa Jojo yang mengirimku makanan? Tapi darimana dia tahu aku belum makan apa pun?" Bingung Rika sembari menghirup aroma wangi dari kelopak bunga. Dengan memejamkan mata nya. "Aku berharap ini dari mu, Jojo. Entah meskipun aku sudah tahu dia memanfaatkan ku, menyakiti perasaan ku dan bahkan menghilang tanpa merasa bersalah, tapi perasaan cinta ini tak pernah luntur."


Sementara di perusahaan Putra Grup.


Di sebuah ruangan yang luas, seorang pria berjas rapih warna abu gelap tengah duduk menyenderkan punggung pada badan kursi menghadap kaca besar yang menyorot pada pemandangan kota. Terulas senyuman bahagia dari bibir tipis merahnya, ia menekan tombol kecil pada benda kecil yang menempel di sebelah telinga nya untuk mengulang kalimat dari suara gadis di earphone tersebut.


"Gadis bodoh."


----------------------------------


Sedang di ruangan lainnya. Pria tampan berjas warna navy, tengah berdiri di depan jendela besar dengan sebelah tangan di masukkan ke dalam saku celana. Tatapannya begitu tajam melihat pemandangan kota dengan aktivitas sekitar kota yang ramai. Ia mengangguk kecil ketika mendengar seluruh isi pembicaraan yang di jelaskan seorang pria di belakangnya.


"Begitu tuan muda kedua. Bagaimana menurut tuan, tindakan bagian mana yang harus di lakukan selanjutnya?"


"Karena dia sudah menyadari. Plan B, jalankan rencana itu setelah melihat si Jhon dengan jelas."


"Baik tuan muda kedua."


Egi mengangkat sebelah tangannya sebagai isyarat agar pria di belakangnya segera pergi dari ruangan.


Sepeninggalan pria itu. Egi menghembuskan napas panjang, ia menatap langit yang berwarna biru di hiasi segerombolan burung. "Annisa... sedikit lagi sesuai keinginan mu, sayang."


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...


__ADS_2