
Egi telah memasuki mobil nya dan melirik kursi penumpang depan yang kosong lalu tatapan mata nya beralih ke paper bag bekal yang di berikan oleh bi ane pada nya.
"Ternyata virus s brandall bukan di kamar ku saja tapi telah menyebar sampai ke keluarga ku. Buat apa aku harus membawa bekal segala, hah menyebalkan sekali. Sepertinya aku harus membasmi virus ini ke akar akar nya jika aku ingin tenang." Ucap egi.
Menghembuskan napas panjang sejenak, egi mulai menyalakan mesin mobil dan melajukan nya keluar dari rumah putra untuk bergabung di jalanan kota dengan kendaraan lainnya.
Hiruk pikuk keramaian di luar mobil yang berasal dari kendaraan lain juga orang orang sekitar nya tidak membuat egi merasa ramai.
Entah kenapa perasaan egi, merasa jika diri nya merasakan ada sesuatu yang hilang atau kebisingan di telinga nya meredup tidak ada lagi, seperti biasa nya egi mendengarkan dan berceloteh menanggapi kebisingan itu.
"Hah kenapa rasa nya sepi sekali jalanan ini. Aku setel musik saja lah biar rame." Ucap egi lalu menyetel musik dan menaikkan volume nya sehingga terdengar cukup keras sampai keluar mobil.
Mobil egi berhenti di tempat biasa nya Ray menunggu nya.
Dan beberapa menit kemudian Ray mengetuk kaca jendela mobil agar egi mau membuka kunci pintu nya.
Brakk.
Ray menutup pintu mobil dan memakai seat belt nya.
"Gi, lo udah budek atau lagi hajatan sih. Nyetel musik kenceng amat kayak speaker kondangan aja lo. Bising telinga gue." Cerocos Ray lalu menekan tombol off.
Tanpa menanggapi ocehan Ray, egi menyetel kembali musik nya dan mulai melajukan mobil.
Karena Ray merasa terganggu dengan suara yang sangat keras, Ray mengecilkan volume suara musik.
Namun egi kembali mengeraskan suara volume musik bahkan lebih keras dari sebelum nya.
"Gi. Gue pusing bro dengerin musik nya, mana musik rock lagi yang lo setel. Kecilin napa volume nya." Gerutu Ray dan mengecilkan volume nya.
Egi menaikkan kembali volume musik tanpa menghiraukan protes dari Ray.
"Egii saputra, telinga gue masih normal. Lo nyetel musik bener bener kayak speaker toa tau. Kecilin woy. Bisa bisa budek nih telinga gue." Cerocos Ray dan menurunkan volume musik lalu menutup layar audio mobil dengan telapak tangan agar egi tidak bisa menaikkan volume nya.
Seketika wajah egi berubah dingin dan mendelik tajam ke arah Ray. "Singkirkan tangan lo, Ray." Tegas egi menarik tangan Ray namun pandangan fokus ke jalanan.
"Enggak. Kepala gue pusing dengerin musik nya gi." Kekeh Ray masih menempel rapat tangan nya ke layar audio.
Menghela napas pelan lalu egi mengalah tidak berebut lagi dengan Ray. Egi memilih fokus ke kemudi mobil dan memasang wajah dingin nya.
__ADS_1
Ray menurunkan telapak tangan yang meuntupi layar audio itu lalu menatap egi.
"Lo kenapa gi. Gak biasanya lo nyetel musik sekeras tadi dan lihat raut wajah lo juga kayak lagi ada sesuatu nih. Ada masalah lagi dengan perasaan lo ke bu misa yah?" Tanya Ray.
"Nggak ada." Ketus egi.
"Masa!! Jika nggak ada napa wajah lo bisa kusut gitu." Goda Ray.
Melirik tajam ke ray. "Gue bilang nggak ada. Ya nggak ada. Lo bisa diem gak, gue lagi nyetir." Tegas egi.
"Iya..iya gue diem. Galak amat dah lo gi. Heran gue, napa orang galak kayak lo bisa dapetin guru les bidadari tak bersayap yah, lo nggak galak galak kan sama bidadari gue." Celoteh Ray dengan pandangan menatap lurus.
Sedang egi mendengar Ray memanggil annisa dengan sebutan bidadari, egi teringat kembali akan kejadian saat annisa dan ray di kamar. Tangan egi mengepal kuat dan rahang nya mengeras.
Ckiiiit.
Egi mengerem mendadak cukup keras karena laju mobil tengah dalam kecepatan cukup tinggi.
Ray terjungkal ke depan sehingga kening nya kepentok pada dashbord depan cukup keras.
"Woy, gi. Lo kalau bawa mobil yang bener napa. Jidat gue jadi benjol nih. Bisa bisa hilang dong kegantengan gue jika benjol gini. Bidadari gue bisa kabur lihat gue kalau hilang kegantengan nya." Gerutu Ray kesal.
"Hey, napa lo gi!! Ada apa bro. Kenapa main tarik tarik gini, apa salah gue gi?" Bingung Ray dan menatap egi.
Mengkeratkan gigi geram. "Sekali lagi lo ucapin kata bidadari dari mulut lo ke wanita itu, gue sobek bibir lo." Tegas egi tajam.
"I..iya. ta..tapi.. bi...bisakah lo..lo lepasin tangan lo di..kerah gue. Gu..gue nggak bisa bernapas .." terbata Ray karena napas nya mulai tersendat akibat egi terlalu kuat mencengkram kerah jas Ray.
Melepaskan cekalan di kerah jas nya Ray lalu egi mengusap kasar wajah nya dengan sebelah telapak tangan. Dan egi memukul stir kemudi.
Sial!! Kenapa aku tidak bisa mengkontrol emosi ku, aku hampir saja menyakiti Ray. Mungkinkah waktu itu s brandal juga merasakan hal yang sama seperti yang Ray rasakan saat ini akibat kekasaran ku.
Ray bernapas lega karena sudah di lepaskan cekalan nya oleh egi lalu melirik egi yang tampak frustasi.
Menepuk sebelah pundak egi. "Ada apa bro. Kenapa bisa seperti ini? Gue yakin lo sedang ada masalah sehingga lo bersikap seperti tadi terhadap gue." Tanya Ray.
Egi menoleh ke Ray. "Maafkan gue Ray karena sudah berbuat kasar terhadap lo. Gue hanya ada sedikit masalah saja di rumah jadi pikiran gue sedang kacau saat ini." Tutur egi.
Menepuk kembali pundak egi. "Santai bro. Gue bukan orang pendendam lagian hanya di kasari segitu bagi gue yang laki laki tidak masalah lah. Kecuali jika lo, bersikap kasar seperti tadi terhadap cewek, baru tuh masalah besar. Karena sebagaimana salah nya tuh cewek jangan sampai lo kasari. Wanita itu bagaikan bunga putri malu yang sensitif dan rapuh perasaan nya bro, beda dengan kita para lelaki yang mental baja." Jelas Ray malah curhat.
__ADS_1
"Maksud lo?" Tanya Egi minta kejelasan lebih.
"Maksud lo yang mana nya nih. Masalah gue yang tidak pendendam atau masalah cewek yang rapuh?" Tanya Ray.
"Cewek." Singkat egi.
"Tumben lo tertarik dengan masalah cewek. Biasanya lo cuek cuek aja. Ada apa gi? Apa lo pernah bersikap kasar terhadap wanita?" Tanya Ray memicingkan mata menyelidik.
Menghembuskan napas kasar. "Iya pernah." Jawab egi menunduk.
"Serius lo, bukannya lo nggak pernah bersikap kasar terhadap wanita. Siapa wanita itu gi? Apa jangan jangan syila? Atau bu misa?" Tanya Ray lagi.
Egi menggeleng pelan. "Gue khilaf Ray." Jawab egi.
"Lo menggeleng gini berarti bukan syila dan bu misa. Lalu siapa yang lo kasari gi? Apa jangan jangan bidadari tak bersayap gue, apakah benar gi, lo kasari bidadari gue?" Tanya Ray dengan suara cukup meninggi.
Menoleh dan menatap tajam ke Ray. "Gue bilang jangan panggil dia bidadari lagi. Apa lo pengen gue robek mulut lo, Ray!!" Tegas egi dengan suara tak kalah tinggi.
"Napa!! Dia kan hanya guru les lo, suka suka gue dong mau panggil dia apa. Dan gue nggak suka gi, kalau lo kasari bidadari gue. Kenapa lo sampai bersikap kasar pada nya gi?" Teriak Ray menggebu.
"Dia bukan bidadari lo. Dan dia bukan guru les gue. Dan soal gue kasar pada nya, itu semua gara gara lo!!" Bentak egi dengan suara tak kalah tajam dari Ray.
Mata Ray melebar sedikit karena terkejut. "Ma..maksud lo, gara gara gue. Kenapa gara gara gue? Apa kesalahan gue, padahal baru kemarin gue bertemu dengan nya." Tanya Ray bingung dengan nada suara turun mulai tenang.
"Kesalahan lo cukup besar sehingga membuat gue geram dan khilaf lalu berbuat kasar terhadap dia." Tutur egi menunduk dengan suara lemah.
"Berbuat kasar? Perbuatan kasar apa yang lo perbuat pada nya gi? Dan sekarang dimana dia? Lo, tidak menyuruh nyokap lo buat ngusir dia ke luar kota kan, katakan gi dimana dia?" Tanya Ray beruntun sambil memegang sebelah lengan egi.
Menepis kasar tangan Ray."Itu bukan urusan lo." Tegas egi.
"Jelas ada urusan nya dengan gue gi. Dia bidadari gue, jelas ada urusan nya dengan gue. Karena urusan bidada.." ucapan Ray terhenti karena egi menatap nya sangat tajam.
"Gue bilang dia bukan bidadari lo!!" Bentak egi dengan suara tinggi dan tatapan tajam ke Ray.
"Dia bidadari gue dan guru les lo gi. Kenapa lo sampe kesal gitu, hanya karena gue memanggil nya bidadari, serah gue dong mau memanggil nya apa." Teriak Ray kesal.
"Dia bukan bidadari lo Ray dan bukan guru les gue. Tapi dia ISTRI gue!!" Bentak egi dengan wajah merah padam dan tatapan tajam ke Ray karena emosi nya sudah memuncak.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Jangan Lupa LIKE, dan VOTE nya yaah.