
Setelah beberapa jam kemudian. Di dalam ruangan yang Annisa masuki tadi.
Terlihat seorang gadis cantik bak dewi yang mengenakan gaun pengantin berwarna putih, gaun itu terlihat mewah, elegan dan anggun dengan rok yang mengembang bagai gaun princess, dan bagian belakang rok tergerai panjang menjuntai ke lantai hingga terseret jika melangkah. Desain corak pernak pernik mutiara asli terhampar di sekitar rok dan bagian badan gaun itu. Juga tudung kerudung yang menjuntai panjang ke bawah dengan indah bertumpuk bersatu dengan rok gaun menambah kecantikan, dan bertambah mahkota putih berukuran cukup besar berkilauan bertengger melingkar di kepala menambah keanggunan gadis itu.
Gadis yang sudah di dandani secantik mungkin itu terlihat bagai seorang putri dari khayangan, Ia masih mematut diri nya berdiri mematung di depan cermin full body. Sejak cermin itu di buka tirai nya untuk memperlihatkan hasil karya desainer yang mendandaninya, ia menatap takjub tak berkedip pada gambaran diri nya yang ada di dalam cermin. Tangan nya perlahan terulur menyentuh cermin di hadapannya.
"Siapa ini? Apa ini aku?" Bingung Annisa bertanya pada diri nya sendiri.
Kak Aliya yang memperhatikan keterkejutan Annisa, tersenyum mendekat berdiri di belakang Annisa. "Iya nona, itu adalah nona Annisa," ucap kak Aliya meyakinkan.
Annisa menarik cepat tangan nya, melirik bayangan kak Aliya di cermin. "Kenapa aku harus berpakaian seperti ini? Bukankah ini adalah pakaian pengantin?" Pertanyaan beruntun meluncur dari bibir Annisa karena heran dengan situasi saat ini.
Kak Aliya hanya mengulas senyuman, menatap Annisa.
Ada apa sebenarnya? Apakah mereka tidak salah mendandani ku? Bukannya yang akan menikah mbak cesa? Tapi kenapa aku yang di dandani seperti ini?
Annisa masih melihat bayangan diri nya, dengan pandangan termenung bingung.
Sreet.
Pintu geser otomatis terbuka.
Romisa memasuki ruangan di ikuti dengan Asyila. Kedua nya telah memakai gaun pesta yang anggun dan indah, namun tak semewah yang di kenakan Annisa.
Kak Aliya menoleh ke Romisa. "Sepertinya pertanyaan nona Annisa akan di jawab oleh nona Romisa, jika begitu saya permisi nona, semoga bahagia," salam undur diri kak Aliya, membungkuk hormat lalu melangkah pergi meninggalkan tiga orang dalam ruangan.
Annisa hendak berbalik, namun karena gaun yang di kenakannya terlalu berat dan ribet untuk mengikuti pergerakannya yang tiba tiba, Ia hanya bisa menolehkan kepala ke Romisa. "Mbak tolong jelaskan maksud semua ini? Kenapa aku berpakaian seperti ini? Sedangkan Asyila dan mbak memakai gaun yang tidak gelamour seperti Annisa?"
Romisa dan Asyila tertawa melihat wajah kebingungan Annisa.
__ADS_1
Alis Annisa tertaut bingung menatap kedua nya.
Kenapa mereka malah tertawa? Apa maksud semua ini?
--------------------------------------------
Sementara di sebuah ruangan lain.
Egi berdiri dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana, Ia berdiri di dekat jendela kaca besar yang berada di lantai paling atas bangunan itu. Egi memperhatikan suasana riuh ramai di luar gedung yang di penuhi oleh wartawan juga orang orang yang bekerja dari berbagai media stasiun tv untuk siaran langsung. Alis nya berkerut dalam, mengamati semua sekitarnya.
Jhon memasuki ruangan mendekati Egi. "Tuan Egi, acara akan segera di mulai." Instruksi Jhon, menghamparkan sebuah pakaian tuxedo ke atas kasur.
"Jhon, situasi macam apa ini? Kenapa resepsi pernikahan si Tang begitu mewah seperti yang aku rencanakan untuk Annisa ku! Dan kenapa dia memilih pulau ini yang aku siapkan untuk Annisa!" Egi bertanya tanpa berbalik menghadap ke Jhon.
Jhon tertawa pelan. "Memang ini resepsi tuan Egi bukan pernikahan si Tang," celetuk Jhon.
"Ma..maksud kau?" Egi berbalik, menatap tajam ke Jhon.
"Di lihat di luar memang nama Cessandra & Tangguh Dabhit yang muncul. Tapi ketika di buka undangan itu, maka nama nya berubah menjadi... Nurul Annisatul Alawiyah & Muhammad Egi Saputra," jelas Jhon, kemudian menepuk pelan bahu Egi. "Pahamkan maksud saya."
"Jadi si Tang?" Kaget Egi dengan mata sedikit melebar masih memahami situasi.
Jhon tersenyum. "Dia tidak menikah, mungkin lain waktu dia akan menikah. Tuan besar hanya menggunakan nama sekertaris Tang dan nona Cesa sebagai alat untuk mengelabuhi kalian berdua, tapi tidak di mata publik, karena di mata publik saya telah mengatur sesuai rencana tuan Egi, yaitu resepsi pernikahan tuan Egi dan nona Annisa." Jelas Jhon.
Benarkah itu?
Egi menatap kaku menunduk ke bawah, Ia terdiam membatu mencerna situasi kenyataan yang terjadi.
Seperkian detik keheningan menguasai, hingga akhirnya Egi mendongak menatap Jhon yang masih memegang bahu nya. "Kau merencanakan kebohongan semua ini?" tanya Egi menatap tajam.
__ADS_1
Jhon menghela napas pelan, melangkah maju mendekat ke jendela kaca besar. "Bukan saya saja yang merencanakannya, tapi seluruh anggota keluarga besar Putra, kecuali kedua mempelai. Dan apa tuan tidak curiga dengan huruf E & A yang terpajang jelas itu? Juga siaran di media yang sedang heboh membahas putra kedua keluarga putra?" Jhon mengarahkan telunjuknya ke sebuah desain patung dengan huruf inisal yang terpampang besar di depan pintu masuk gedung.
Egi berbalik mengikuti arah pandang Jhon. "Aku tidak lihat berita sekarang, apa kau lupa ponsel ku kau sita? Dan juga kenapa aku tidak menyadari nya itu, kapan huruf itu terpasang di sana?" Heran Egi melihat patung itu.
"Sejak tuan sampai di tempat ini pun itu sudah terpasang."
Lalu Egi melirik Jhon. "Apa Annisa juga sama, kalian bohongi seperti ku?"
Mengangguk dan menjentikkan jemari. "Urusan Nona Annisa, tuan besar dan Nona Romisa yang mengurusnya, saya hanya mengikuti perintah dari tuan besar juga menjalankan sesuai rencana tuan Egi," tutur Jhon.
Kenapa keluarga ku senang sekali, memainkan trik untuk mengkelabuhi ku?
Egi memijat pangkal hidung nya, menundukkan kepala dengan mata terpejam. "Jhon, sejujurnya aku bahagia dengan rencana kalian. Tapi...," terjeda sejenak Egi mendelik tajam. "Kenapa kalian harus membodohi ku juga!" Teriak Egi kesal.
Jhon tertawa puas. "Kalau tidak seperti ini, tidak akan mengejutkan tuan Egi nama nya." Menepuk kembali bahu Egi. "Cepat ke bawah! Pakai tuxedo itu, jika tidak cepat, saya yang akan menggantikan tuan di sisi Nona Annisa," tunjuk Jhon pada sebuah pakaian tuxedo pengantin berwarna putih.
Egi tersenyum miring, dan mendengus sebal. "Jangan mimpi kau Jhon," Egi melangkah mendekat ke arah ranjang dimana pakaian itu terletak. Lalu kembali menatap Jhon tajam.
Jhon yang mengerti tatapan mata Egi, Ia melangkah menuju pintu keluar. "Acara akan di mulai, sekitar 15 menit an lagi. Tuan Egi masih ingat kan dengan rencana tuan di depan kamera nanti?"
Egi mengangguk kecil, dan menggerakkan sebelah tangan sebagai pengusiran telak.
"Baiklah, baiklah, saya permisi untuk tunggu di luar." Jhon tertawa sebelum hilang dari balik pintu.
Sepeninggalan Jhon.
Egi tersenyum bahagia, meraba jas yang ada di hadapan nya. "Annisa, penantian ini sudah lama aku menunggu nya." Gumam Egi lalu mulai membuka pakaian yang di pakai nya untuk berganti dengan tuxedo.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Sempatkan klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa...