
Sementara di Rumah Rika.
Di dalam kamar.
Rika duduk menyila sambil memeluk boneka keropi berukuran besar, dengan tangan terus memutar ponsel nya. Ia tampak terlihat sedang menunggu sesuatu dengan berharap ponsel nya berbunyi.
"Kenapa Umi Nisa lama amat ngirim nomer nya pak Jhon, bahkan sudah lewat satu jam. Apa dia lupa? Atau batrei hp nya kehabisan?" Celoteh Rika memandangi ponsel nya.
Tok...tok...tok.
Pintu kamar Rika di ketuk.
Rika menoleh ke arah pintu, dan berteriak. "Masuk aja Ma, pintu nya nggak di kunci ini."
Ceklek.
Pintu kamar Rika terbuka yang memunculkan seorang wanita paruh baya cantik, dengan balutan hijab senada dengan kerudung blus, memasuki kamar. Ia tersenyum manis pada Rika seraya berjalan mendekati ranjang.
"Belum tidur Neng?" tanya Mama Asih (mama nya Rika).
Rika menggelengkan kepala, kembali memainkan ponselnya.
Mama Asih duduk di sisi ranjang, menghadap Rika. "Ada yang ingin mama sampaikan untuk besok malam, tadi nya mau di sampaikan saat makan malam. Tapi mama kelupaan," tutur lembut Mama Asih.
Gerakan tangan Rika yang tengah memutar ponsel terhenti, Ia menengadah menatap ibu nya. "Tentang apa itu, Ma? Ika jadi penasaran," tanya Rika yang sudah kepo.
"Mama pernah sampaikan ke kamu soal dua pria yang datang melamar Neng, kan?" ucap Mama Asih, yang di balas anggukkan kepala oleh Rika.
Soal perjodohan lagi...
"Di antara dua keluarga dari pria itu, salah satu nya adalah keluarga dari teman lama papa, dan kebetulan tadi siang mereka datang bertamu kemari untuk mendengar tentang kamu sekaligus melihat foto album Neng. Mereka juga banyak bercerita tentang anak nya yang ingin melamar Neng, itu, dia ternyata seorang...,"
Mama mulai lagi deh.
Rika memegang tangan Mama Asih sehingga menghentikan celotehan nya. "Ma, langsung saja ke inti nya, Mama kan tadi mau bilang soal besok malam. Jadi ada apa dengan besok malam itu?" tanya Rika yang sudah tahu sifat mama Asih jika sudah bercerita suka detail dan rinci sampai dari hal terkecil hingga terbesar semua di beberkan. Maka nya dia berinsiatif menghentikan ocehan Mama Asih sebelum tambah panjang lebar.
Mama Asih tersenyum, menepuk punggung tangan Rika. "Ah, Neng nggak mau dengerin soal mereka dulu atau soal pria yang ingin melamar itu?"
Rika menggelengkan kepala sebagai jawaban tidak. "Ika tidak perlu tahu tentang itu Ma," jawab Rika dengan nada rendah.
Karena Rika tidak akan memilih di antara kedua pria itu. Maafkan Rika, Ma.
Mama Asih menghela napas panjang. "Keluarga Roselly mengundang Neng, untuk makan malam agar di pertemukan dengan calon Neng." Ujar Mama Asih membuat Rika menengadah menatap tertegun pada nya.
Mengundang makan malam, itu artinya akan ke jenjang serius.
Rika diam seribu bahasa, menundukkan pandangan menatap tangannya yang tengah di usap lembut.
Tuhan, Apa hamba tidak bisa menolak perjodohan ini?
"Neng," tegur Mama Asih lembut, mengusap pipi Rika. "Kenapa? Apa Neng tidak mau menghadiri undangan itu? Yang mengundang keluarga Roselly, teman dari papa mu. Jika Neng tidak datang, mungkin Papa akan sedikit malu," ucap Mama Asih.
"Bu-bukan begitu, Ma," sangkal Rika masih menundukkan pandangan. "Bi-biar Ika lihat jadwal tugas dulu, jika besok ada jadwal tugas malam. Mungkin Ika tidak bisa memenuhi undangan itu," kemudian Rika menengadah menatap Mama Asih. "Mama tidak akan marah kan jika Ika melihat situasi dulu, dan akhirnya Ika tidak bisa datang," tanya Rika menatap penuh harap.
__ADS_1
Mama Asih membelai rambut panjang Rika dengan lembut. "Tidak Neng, tapi...," mata Mama Asih memicing curiga. "Bukannya besok itu bagian shift pagi yah, kenapa harus lihat jadwal lagi?" Herannya.
"Ah," Rika termenung diam, kembali menundukkan pandangan.
Sial aku lupa jika besok tugas pagi. Hah... tidak bisa menolak lagi jika begini.
"Neng, tidak berniat melarikan diri dari mereka, kan Neng?" Selidik Mama Asih.
Aduh Mama, kenapa harus tajam banget dah pengamatan nya.
Rika menatap, dan tersenyum kepaksa. "Tidak Ma, tidak akan."
"Jika begitu, besok malam bersiap siaplah untuk memenuhi undangan itu. Mama akan siapkan pakaian terbaik untuk Neng, karena Mama juga sangat srek dan cocok dengan calon mantu Mama yang ini, selain ganteng, sholeh, juga keluarganya sangat baik. Tidak akan menyesal deh putri Mama jika menikah dengannya," tutur panjang lebar Mama Asih sambil mencubit ujung hidung Rika.
"Hemm, seperti Mama udah bertemu saja dengan anak nya itu," sahut Rika mengusap hidung nya yang terasa panas.
"Tahu dong, dari foto dan cerita ibu nya," ucap Mama Asih menangkup kedua tangan dan menatap lurus termenung, bersiap untuk bercerita panjang.
Wah, Mama sudah begini pasti akan bercerita ngalor ngidul nih. Harus di hentikan.
"Mama," Rika memengang kedua tangan Mama Asih. "Ika, sudah ngantuk. Mana besok ada tugas pagi lagi." Ucap Rika dengan gaya mata sayu seakan sudah ngantuk berat.
Mama Asih, tersenyum menangkup kepala Rika dan mengecup keningnya. "Baiklah, lain kali mama bercerita tentang calon, Neng. Sekarang Neng cepat tidur sudah larut juga." Mama Asih berdiri dari duduk nya.
Rika mengangguk mengiyakan.
"Jangan lupa jendela balkon di kunci, Neng sering kali kelupaan mengunci jendela." Oceh Mama Asih berjalan ke arah pintu keluar kamar.
"Iya Ma. Malam Mama ku yang bawell," ucap Rika manja.
Sepergian Mama Asih.
Rika menghembuskan napas panjang, Ia merebahkan tubuhnya terlentang di atas kasur menatap lurus ke depan ke langit langit kamar.
"Aku harus cari cara supaya perjodohan itu batal, tapi bagaimana cara nya? Agar perjodohan ini batal tanpa membuat Mama shock dan Papa malu?" Gumam Rika merenung hingga beberapa saat.
Tring...tring.
Suara notifikasi pesan di ponsel Rika membuyarkan lamunan Rika.
Dengan malas Rika meraba raba, untuk meraih ponsel yang sempat di campak kannya tadi yang berada di sekitar kasur. Ia mengambil dan menatap dengan wajah cemberut ke layar ponsel itu.
"Yah," girang Rika bangkit dari tidurannya menjadi duduk menyila, Ia tersenyum senang menatap layar ponsel. "Aku tahu cara nya untuk membatalkan perjodohan ini," ucapnya antusias.
----------------------------------
Pagi hari telah tiba.
Rika menaiki ojek yang menurunkannya di pinggir jalan persimpangan.
"Sial amat dah hari ini, bangun ke siangan gara gara habis subuh tidur lagi jadi nggak sempet sarapan. Naik ojek, malah motor nya mogok dan terpaksa turun di sini, mana daerah sini susah taksi atau angkutan umum lagi. Kepaksa harus jalan kaki sampai sana," gerutu Rika sambil berjalan dan menenteng paper bag.
Rika menendang kan kaki nya ke setiap benda yang di temui di trotoar jalan karena kesal. "Kalau gini bisa telat tugas," oceh nya lagi.
__ADS_1
Sedang di dalam sebuah mobil hitam yang kebetulan tengah melintasi jalanan persimpangan itu.
Jhon yang ada di dalam mobil, Alis nya berkerut menajamkan pandangannya melihat ke arah trotoar jalanan. Ia memajukan diri untuk melihat jelas apa yang di lihatnya. "Bukankah itu si wanita bodoh, sedang apa dia berjalan di pinggir jalan?" Heran Jhon, Ia membelokkan stir mobil untuk mendekat ke arah pinggir jalan dimana Rika berada.
"Kebetulan, ada yang ingin aku sampaikan padanya." Gumam Jhon melambatkan laju mobil mengikuti jalan Rika.
Tin...tin...tin.
Jhon mengklakson untuk menyadarkan Rika.
Rika melirik ke arah mobil hitam tersebut, dan melihat sekitar jalan yang tampak lancar.
Yang lain pada anteng, napa mobil ini mengklakson pada ku. Apa jalan yang ku tapaki masih termasuk jalanan mobil.
Ia mempercepat jalan kaki nya, untuk menghindari mobil itu. Namun lagi lagi...
Tin..tin.
Jhon membunyikan kembali klakson mobilnya dengan beruntun.
"Haish, berisik amat. Padahal kan sudah jalan di pinggir jalan. Masih saja serakah nih mobil," omel Rika melirik kesal ke mobil hitam itu tanpa melihat plat mobil siapa, dan kebetulan kaca mobil Jhon tidak tembus pandang jadi tidak terlihat siapa yang ada di dalam mobil itu.
"Ck," decak Jhon. "Wanita bodoh, apa dia tidak tahu siapa aku," Jhon kembali mengklakson beberapa kali sambil membuntuti langkah kaki Rika.
Tin...tin.
Nih mobil tidak tahu apa, jika aku sedang kesal. Bikin mood ku makin buruk saja. Mentang mobil mewah.
Rika menoleh, tangannya mengepal kuat dan menatap sebal. Ia berjalan mendekati mobil itu yang ikut berhenti.
Brak.
Rika memukul badan depan mobil dengan keras. "Woy, berisik! Kalau mau pamer, jangan di depan gue!" Teriak Rika.
Jhon mendengus, dan tersenyum miring. Kemudian Ia melepaskan seat belt, dan keluar mobil.
Begitu melihat Jhon keluar dari mobil yang di gebraknya. Mata Rika melebar, Ia terpaku diam di tempat menatap kaget ke Jhon.
Ternyata pak Jhon. Hah... kenapa aku bisa lupa dengan bentuk mobil dia.
Jhon menghampiri Rika dengan santai Ia memasukkan sebelah tangan ke saku. "Bertemu lagi dengan saya, wanita bodoh." Sapa Jhon. "Masuk mobil, ada yang akan saya sampaikan," titah Jhon.
Rika mendongak menatap. "Ap-apa yang akan bapak sampaikan? Bi-bicarakan saja disini," gagap Rika.
"Kau tidak lihat ini dimana?" Jhon mengedikkan dagu memperlihatkan posisi mobil dan Ia berdiri.
"Pi-pinggir jalan," sahut Rika cepat.
"Nah otak mu sedikit pintar juga, sekarang kau masuk mobil. Saya tidak suka mengulang kata kata yang sama lagi," titah Jhon sambil berbalik dan memasuki mobilnya kembali duduk di kursi kemudi.
Sejenak Rika masih mematung di luar, menatap mobil Jhon. "Ck, dia seenaknya memerintah. Tapi lumayan juga, tumpangan ke rumah sakit, irit ongkos." gumam Rika. Ia menghembuskan napas panjang, berjalan nyusul memasuki mobil dan duduk di kursi samping kemudi.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Jangan lupa Klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa...