
Annisa berjalan memasuki gerbang rumah sakit dan melangkah menuju pintu masuk, ia telah sampai di tempat dinas dengan di antar oleh Egi dan Jhon yang menyupiri nya.
Begitu memasuki kedalaman rumah sakit, annisa langsung di sambut oleh tatapan sinis dan tidak suka dari para senior wanita juga rekan dinas nya.
Kenapa lagi mereka menatap ku seperti itu? Apa penjelasan kemarin pada si windi masih belum cukup, jika aku tidak punya hubungan spesial dengan dokter frans. Hah... Andai status ku yang sudah resmi menikah dengan si Egi di mata masyarakat tersebar, mungkin tidak akan di gosipi seperti ini.
"Pagi nona Annisa," sapa dokter frans yang kebetulan sama sama baru datang.
Dokter frans nya datang deh. Tambah parah kakak senior itu, menggosip nya.
Annisa menoleh. "Pagi dokter," jawab nya.
"Dinas nya kebagian shift pagi lagi yah nona?" tanya dokter Frans berbasa basi.
Udah tau masih nanya.
Annisa sengaja mempercepat langkah kaki nya untuk menghindari dokter frans, karena kedatangan dokter frans semakin jadi pusat perhatian pasang mata wanita kakak senior nya yang ada di sekitar. "Iya," jawab annisa singkat dan cepat.
Dokter frans tidak mau nyerah, ia mengimbangi langkah kaki annisa. "Nona, maaf jika saya mengusik ketenangan nona. Tapi bisakah bicara sebentar untuk meluruskan kesalah pahaman atas kabar burung yang beredar di rumah sakit ini mengenai kita," tutur nya dengan nada sedikit memohon.
Kesalah pahaman apalagi, menyebalkan.
Annisa memperlambat langkah kaki nya dan menoleh. "Tidak ada yang perlu di luruskan dokter, karena dari awal memang kita tidak mempunyai ikatan apa pun, dan tolong saya mohon dokter jangan terlalu akrab terhadap saya dan sebisa mungkin untuk jaga jarak," ucap Annisa dan kembali melangkah cepat.
Dokter frans mengimbangi kembali langkah kaki Annisa. "Nona saya paham akan permintaan nona yang meminta saya menjauh, tapi sebenarnya dengan kabar ini saya sedikit di untung kan sehingga tidak ada lagi gadis yang terus mengejar saya, dan juga nona pun di untung kan sehingga tidak ada pria yang akan mengejar nona. Jadi kita seimbang. Kalau boleh, bisakah hal ini di biarkan saja berjalan, yang terpenting saya tidak akan melakukan hal yang di luar batas terhadap nona, " tutur nya.
Annisa menatap jengah pada dokter frans yang ada di samping nya lalu melirik sekitar nya yang tampak sudah banyak yang berbisik bisik menggosip.
Kenapa harus begini sih dokter frans...
Annisa memperlambat langkah kaki nya dan Kembali menatap dokter frans. "Jadi maksud dokter frans ingin memanfaatkan keadaan dengan membenarkan gosip beredar? Dokter tau sendiri saya adalah wanita yang telah bersuami, akan berdosa saya karena melukai hati suami saya jika menyetujui ide dokter. Maaf sebaiknya, dokter cari wanita lain yang mau bekerja sama memainkan sandiwara tersebut, karena saya lebih suka di gosipi seperti itu jika dengan suami saya yaitu Egi," tegas Annisa dan berjalan cepat mendahului dokter frans.
Dokter frans tersenyum simpul menatap kepergian Annisa. "Wanita yang teguh pendirian," gumam nya.
Annisa masih berjalan di lorong rumah sakit untuk menuju ke ruangan tugas nya.
"Hai Annisa pagi," sapa Windi rekan satu team nya yang berjalan menyusul annisa.
Hah... sudah dokter frans kini muncul orang penyebar gosip nya.
"Pagi juga," jawab Annisa tanpa melirik.
"Annisa kamu mau tahu kenapa semua kakak senior juga rekan dinas mu pada sirik dan menatap mu seperti itu," ucap windi mengawali untuk memancing Annisa.
Sudah tahu kenapa harus mau tahu lagi.
"Tidak mau tahu," sahut annisa cepat.
"Yakin?"
Mengangguk yakin, annisa fokus berjalan ke tempat yang di tuju tanpa memperdulikan windi.
Windi merangkul sebelah tangan Annisa. "Tidak kah kamu merasa ada yang aneh dengan dinas mu annisa?"
Aneh apalagi, orang ini...
Annisa melirik tangan nya yang di rangkul dan menghela napas pelan. "Tidak."
"Kalau aku sih merasa aneh, dan merasa iri terhadap mu," ucap windi membuat langkah kaki annisa terhenti.
Melepaskan rangkulan yang ada di tangan nya dan menatap windi. "Iri? Apa yang kalian iri kan dari ku, kenapa kalian suka sekali mengorek hal pribadi tentang ku, padahal aku tidak pernah sedikit pun mengusik kalian!" Cerocos annisa dengan nada kesal.
Windi tertegun dan diam sejenak. Membalas tatapan mata annisa. "Yang membuat aku iri terhadap mu begitu banyak! kamu tidak pernah kedapetan shift malam atau panggilan untuk membantu persalinan di malam hari! Kedua kamu dengan mudah nya di berikan tugas yang tidak terlalu berat, dan juga bila laporan mu ada yang salah sedikit pembimbing tidak pernah mempermasalahkan nya, dan terakhir kamu bahkan menjalin hubungan dengan dokter impian ku! Siapa sebenarnya kamu ini annisa, kenapa semua dokter bahkan para kakak senior tidak ada yang berani menegur mu atau berlaku tegas terhadap mu! Bukan aku saja yang merasa iri terhadap mu tapi semua rekan dinas juga!" Oceh windi menggebu mengeluarkan isi pikiran nya.
Padahal aku sama sama capek dan kerja keras saat tugas, juga para senior semua tidak pernah berpilih kasih bahkan sering memperbudak ku menyuruh ini itu. Apa dia merasa di rugikan hanya hal seperti ini, dan wajar jika aku tidak pernah kedapatan panggilan tugas malam, toh tugas ku sewaktu siang hampir semua aku yang kerjakan.
__ADS_1
Annisa tertegun mencerna ucapan windi dan alis nya menaut menatap windi. "Ucapan mu memang ada benar nya juga ada salah nya juga. Tapi soal laporan dan tugas, aku tidak pernah di tegur karena memang pekerjaan ku memuaskan bagi mereka. Dan satu lagi aku sudah menegaskan beberapa kali jika aku tidak punya hubungan apa apa dengan dokter frans yang kau impikan itu. Jadi jangan membuat penilaian hanya dari sudut pandang saja. Lagian aku sudah di miliki seorang pria yang jauh lebih baik dari yang kalian gosip kan," tutur Annisa menegaskan lalu kembali melangkah kan kaki nya.
Windi ikut menyusul annisa. "Benarkah kau sudah memiliki kekasih?" tanya nya antusias.
Yang dia tuturkan begitu panjang tapi fokus nya hanya satu tentang dokter frans. Sepenting itukah dokter frans untuk nya.
"Sudah, jadi buat apa kalian iri terhadap ku. Silahkan ambil saja dokter frans dan jangan menggosip tidak jelas lagi," ucap Annisa meluruskan.
Windi kembali mencekal lengan annisa sehingga membuat langkah kedua nya terhenti. "Tapi aku masih belum percaya, jika kamu tidak menunjukkan bukti pada ku tentang kau sudah memiliki kekasih."
Alis annisa menaut dan menatap jengah. "Apa lagi yang ingin kalian buktikan dari ku?"
"Misal foto atau apalah, aku ingin melihat nya untuk membuktikan pada mereka agar gosip tentang mu meredam."
Foto... aku bahkan tidak memiliki foto si Egi apalagi foto bersama dengan nya.
"Annisa, windi!" Teriak salah seorang kakak senior dari kejauhan.
Sontak annisa dan windi menoleh ke arah suara.
"Ah, sudah waktu nya masuk untuk tugas," instruksi Annisa menghindari keheningan yang mencekam.
Tersenyum tipis. "Benar, nanti akan ku tagih yah bukti kekasih mu di waktu luang," ucap windi.
Annisa membalas senyuman windi dengan senyuman kepaksa dan kembali berjalan menuju kakak senior yang sudah berteriak memanggil nama nya.
Seperti nya aku harus meminta foto si egi...
------------------
Di perusahaan Putra Group.
Egi dan Jhon tengah berada di dalam ruang rapat, yang di dalam ruangan terkumpul semua anggota team karyawan nya, dan Egi duduk di kursi kebesaran sebagai pengamat dan mendengarkan semua penjelasan yang ketua karyawan sampaikan setiap ide nya. Begitu pun Jhon yang duduk di samping kanan nya.
Ting... Ting.
Suara notifikasi ponsel yang berbunyi nyaring beberapa kali menandakan ada sebuah pesan masuk.
Menghentikan penjelasan orang yang berada di depan tengah berbicara, juga para karyawan yang terduduk tampak melirik ke kiri ke kanan saling memeriksa diri dengan perasaan takut dan tegang.
Seketika pandangan Egi menajam dingin ke arah semua karyawan yang duduk berjejer di kursi nya.
"Matikan ponsel saat sedang rapat! Yang barusan melanggar enyah dari ruangan ini!" Suara tegas dan tajam yang keluar dari bibir Egi menambah ketegangan orang orang yang ada di dalam ruangan.
Suasana dalam ruangan yang tadi nya tenang kini berubah menjadi mencekam penuh ketegangan.
"Ekhem...," dehem Jhon membuat semua orang melirik ke arah nya. Lalu Jhon mendekat ke arah Egi. "Tuan Egi ponsel anda yang berbunyi," bisik Jhon tepat dekat telinga Egi.
Sontak mata Egi melirik ke arah ponsel nya yang berada di atas meja, yang memang benar ada beberapa pesan masuk dan layar nya menyala. Egi tanpa memperdulikan tatapan para karyawan yang sudah bernapas lega dan melirik ke arah nya. Ia mengambil ponsel nya dan membuka pesan dari siapa yang mengganggu nya.
Annisa :
"Assalamualaikum, Egi bocah ku. Aku ganggu tidak waktu mu? Aku hanya ingin meminta sesuatu pada mu bisakah di kabulkan sekarang?"
Senyuman kecil tampak terulas di sudut bibir Egi, sehingga para karyawan wanita yang memperhatikan dan melihat nya tampak shock merona dan mengulas senyuman pesona. Egi membalas pesan dari Annisa secepat nya.
Egi :
"Walaikumsalaam. Apa?"
Annisa :
"Mmm...bisakah kau mengirimkan foto mu sekarang? Satu saja, gak apa apa foto lama juga."
Mata egi sedikit melebar melihat apa yang ada di layar ponsel nya. Dan senyuman di bibir nya semakin terlihat jelas bahwa diri nya senang.
__ADS_1
Lalu Egi mengangkat kepala nya untuk mengalihkan pandangan nya ke depan. Yang ternyata orang orang di dalam ruangan tersebut tampak tengah menatap semua ke arah nya dengan tatapan terpesona, dan tidak percaya.
"Ekhem...," dehem Egi menetralkan sikap nya untuk kembali memasang wajah dingin. Seketika para karyawan tersadar dan menunduk.
"Semua yang ada di ruangan silahkan keluar kecuali Jhon! Dan kembali dalam waktu 15 menit!" Tegas Egi dengan suara dingin.
Orang orang yang berada di dalam kursi nya menatap bingung atas apa yang di dengar dari Egi.
"Apa kalian tuli, keluar!" Bentak Egi dengan suara meninggi dan menggema.
"Ba..baik tuan," ucap dari salah seorang karyawan nya. Dan Sontak dengan gerakan cepat serempak, orang orang bangun dari kursi nya masing masing, dan berjalan keluar ruangan rapat hingga menyisakan Jhon dan Egi dalam ruangan.
Sepeninggalan mereka.
"Ada apa tuan Egi, kenapa anda menyuruh mereka keluar semua? Apa mereka membuat kesalahan? Bukannya anda sendiri yang melanggar aturan menyalakan ponsel saat rapat?" Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari bibir Jhon karena bingung.
"Berisik!" Sahut nya. Lalu memberikan ponsel ke hadapan Jhon. "Ambilkan gambar ku yang paling bagus," titah Egi pada Jhon.
Jhon terlongo menatap bingung ke Egi. "Gambar? Maksud tuan egi, foto?" tanya nya polos.
"Iya! memang nya apa lagi, cepat! Istriku menunggu gambar ku!" Sentak Egi kesal.
Jhon tertawa cukup keras mendengar apa yang di perintahkan oleh Egi ke pada nya.
Plakk.
Egi menimpuk keras kepala Jhon dengan sebuah dokumen yang ada di atas meja. "Kenapa kau tertawa hah! Aku minta cepat ambilkan gambar ku! Sebagus mungkin, sebelum mereka masuk kembali keruangan. Cepat Jhon!" Tegas Egi dengan nada kesal.
Jhon yang membenarkan rambut nya yang terurai acak gara gara di timpuk egi. Lalu mengambil ponsel Egi yang ada di atas meja. "Hanya ingin mengambil gambar, sampai harus memberhentikan rapat segala...," oceh Jhon.
"Jhon!" Teriak Egi geram.
"Iya tuan Egi saya di sini. Telinga saya masih normal, jangan teriak begitu," sahut Jhon, dan mulai menyalakan ponsel untuk menyetel kamera. Mengarahkan ke Egi.
"Silahkan bergaya tuan Egi setampan mungkin," titah Jhon.
Egi segera mengambil posisi nya dengan duduk elegan, dan sebisa mungkin menampilkan raut wajah yang terkesan dewasa dan berkharisma.
Cekrek.
Jhon beberapa kali mengambil gambar Egi. Menatap hasil foto nya. "Kurang senyum, berikan senyuman yang terbaik tuan Egi," titah Jhon lagi dan mengarahkan kamera ponsel ke Egi.
Egi menurut, kembali berpose dan melengkungkan senyuman di bibir nya, namun senyuman kecil yang manis.
Cekrek.
Jhon mengambil gambar, dan melihat hasil nya. "Nah ini baru cuku...," ucapan Jhon terhenti karena egi dengan kasar merampas ponsel yang ada di pegangan tangan nya.
Egi memeriksa hasil jepretan Jhon di layar ponsel nya. Tersenyum melihat hasil nya yang lumayan memuaskan. "Memang wajah tampan mau berpose sesederhana pun tetap terlihat tampan," oceh Egi membangga kan diri nya.
Jhon menahan tawa nya dan menggelengkan kepala beberapa kali. "Tuan Egi terlalu narsis. Bagaimana ini, mereka suruh masuk lagi tidak untuk lanjut rapat?" tanya nya.
Egi yang tengah sibuk mengirim foto ke annisa, dan tanpa mengalihkan pandangan nya dari layar ponsel. "Biarkan saja, 5 menit lagi mereka masuk sendiri," jawab Egi.
Jhon menghela napas pelan. "Tuan Egi apa nona Annisa hanya meminta foto anda? Tidak meminta foto kakak angkat nya yang jauh lebih tampan ini?" tanya Jhon dan tersenyum tipis.
Egi mendelik tajam ke jhon. "Cih!" Decih Egi sebal. "Tidak akan ku izinkan dia menyimpan foto pria lain di ponsel nya, dan kau bukan kakak istri ku," ketus nya.
Terkekeh pelan. "Benarkah? Padahal kita tinggal satu rumah, jadi sama saja saya sudah di anggap satu keluarga oleh nona annisa ku sayang."
"Jhon!" Geram Egi.
BERSAMBUNG...
Budayakan sehabis membaca, tekan tombol LIKE dan tinggalkan JEJAK yaa... agar author tambah semangat.
__ADS_1