Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 30


__ADS_3

Sore semakin larut. Namun ke empat orang yang berada di sofa kafe masih asyik bercengkrama, sambil menikmati dessert. Sedang Ray setelah manggung langsung di desak oleh sebuah urusan mengenai kafe sehingga ia terpisah di ruangan kerja.


"Sayang, sudah mau magrib. Kita pulang." Egi menginstruksi pada istrinya yang sedang asyik mengobrol dengan Rika.


Annisa teralihkan menoleh. Lalu pandangan mata nya melirik jam yang melekat di pergelangan tangan. "Eh, benar juga. Rik sepertinya kita harus berpisah deh, udah mau magrib."


Rika mengangguk kecil. "Iya umii, kan bisa kita bertemu lagi."


Egi mengambil mantel yang berada di senderan sofa, lalu memakaikannya ke Annisa.


Annisa berdiri cipika cipiki dengan Rika sebagai tanda perpisahan. "Ya dah, Assalamualaikum. Aku duluan yah Rik."


"Walaikumsalam, hati-hati di jalannya Nis."


Tersenyum manis, Annisa berbalik dengan Egi ikut beranjak merangkul pinggangnya. "Jhon," panggil Egi sebelum melangkah, ia memberikan isyarat tatapan. Manfaatkan kesempatan ini, jangan menjauh lagi dari nya.


Jhon tersenyum kecil dan mengedikkan dagu. Sebagai tanda mengerti.


Sepeninggalan sepasang suami istri itu.


"Kau pulang sekarang?"


Rika menoleh, dan tersenyum gugup. "Hemm. Takut Mama khawatir karena aku pulang telat."


Jhon bangkit dari duduknya. "Tunggu di depan, aku ambil mobil dulu."


"Jojo, mau mengantar ku?"


"Tidak, lebih tepatnya aku mau menagih hutang ku," ucap Jhon hendak melangkah.


Seketika senyuman di bibir Rika perlahan memudar. Soal hutang sendal jepit lagi.


"Lah, mau pada kemana nih?" Ray yang baru datang bergabung kembali, bertanya heran karena melihat Rika sudah menyampirkan mantel ke lengannya.


Langkah kaki Jhon terhenti, ia menatap dingin pada Ray.


"Gue mau pulang Ray, udah mau magrib." Rika menanggapi sembari merapihkan tas.


"Biar gue antar," Ray melewati Jhon begitu saja. Mendekati gadis manis itu.


"Eh, tid-"


"Aku yang akan mengantarnya. Kau tak perlu repot-repot bocah tengik." Jhon berseru, memotong ucapan Rika.


Ray menatap dengan alis terangkat sebelah pada gadis manis yang ada di hadapannya. Dia beralih menengok menatap tak suka pada pria tampan itu. "Aku tidak merasa di repotkan bang. Lagian selama ini jika dia habis maen dari kafe, aku yang selalu mengantarnya pulang. Jadi biar aku saja yang mengantar dia pulang."


"Tidak!" Seru Jhon cepat. Dia maju beberapa langkah sehingga hanya berjarak satu langkah antara kedua nya. Ia menatap sengit. "Mulai sekarang biar aku yang akan mengantar dia pulang. Bukan kau."


Pasti mereka mau beradu mulut lagi. Aku harus segera menghentikannya. Rika melangkah mendekati mereka berdua sehingga berada di tengah-tengah kedua nya.


"Ray, gue mau pulang-"


Namun ucapan Rika tak di gubris oleh kedua nya.


Kedua pria tampan itu masih saling tatap dengan tatapan yang sengit. "Abang tidak mengenal orang tua dia. Jika orang tua nya bertanya dia habis darimana karena pulang telat, memang abang bisa menjawabnya?" Ray masih bersikukuh tak mau kalah.


Jhon tersenyum miring mengejek. "Ck," berdecak dan menatap meremehkan. "Bocah tengik, sok tahu."


"Aku bukan sok tahu, tapi memang aku lebih tahu tentang dia dibanding abang yang baru datang." Kemudian Ray mencondongkan tubuh. Ia mendekatkan wajahnya ke sisi kepala pria itu dan dengan telunjuk menunjuk ke dada Jhon.


"Ray, Jojo...," Rika memanggil dengan tatapan was-was. Namun lagi-lagi di abaikan oleh kedua orang pria tampan itu.

__ADS_1


Ray menyeringai penuh ancaman, sebelum ia berucap. "Dia milik ku. Sebaiknya abang pulang untuk mengenang wanita milik abang, yang bernama Sanny. Bukannya abang sangat setia sampai mati padanya. Jadi jangan ganggu milik ku." Bisik Ray sangat tajam di telinga Jhon.


Rahang tegas Jhon mengeras, tangannya terkepal kuat dengan pandangan menyorot tajam tak suka pada orang di hadapannya.


Ray tersenyum miring penuh kemenangan, ia menegakkan kembali badannya dengan memasukkan kedua tangan ke saku celana.


Apa yang dia bisikkan? Sehingga raut wajah si Jojo berubah seperti itu? Rika menatap bengong pada kedua pria itu, dengan lirikkan menyipit curiga pada Ray.


"Mak," Ray beralih menatap gadis manis di samping tengah nya. "Pakai mantel lo, kita pulang sekarang."


"Eh," Rika terhenyak kembali ke kesadaran yang nyata. "Tap-tapi gue mau di antar sama Jo-"


Ray merebut mantel yang tersampir di lengan Rika untuk di pakaikan pada tubuh gadis manis itu. Lalu setelahnya, ia mencekal sebelah lengannya untuk menarik gadis manis tersebut. "Ayolah sudah mau magrib," ucap Ray, hendak berjalan melewati Jhon yang masih berdiri mematung.


"Eh Ray, Jojo." Rika yang bingung dengan situasi membiarkan Ray menarik lengannya, ia melirik Jhon yang masih berdiri diam.


"Lepas!" Teriak Jhon membuat langkah kaki Ray terhenti di susul gadis manis yang di tariknya.


"Jojo," lirih Rika menatap kaget bercampur serba salah.


Jhon berbalik melangkah mendekati kedua nya. "Lepaskan tangan mu darinya!" Suara tegasnya, sambil mencekal kuat pada lengan Ray agar terlepas pegangan tangan Ray di tangan Rika.


Ray tersenyum sinis, dengan di akhiri kekehan geli. "Oho tapi tangan ku tidak bisa melepaskannya."


"Lepas!" Jhon semakin memperkuat cekalan di lengan Ray. Dengan tatapan tajam menusuk ke kedua bola mata.


"Nggak!" Ray membalas tatapan itu tak kalah sengit, dengan masih bertahan dari cekalan kuat itu, dan berusaha agar tidak ikut mencekal kuat lengan Rika.


"Hey, kalian menyakiti ku." Celetuk Rika memutuskan tatapan sengit kedua nya.


"Ah, maaf, Mak. Gue nggak sengaja, mana yang sakit, sini gue lihat." Ray langsung melepaskan cekalan di lengan Rika.


Rika mendengus sebal, dan memegang lengannya yang terasa kram. "Kagak ada, gue mau pulang sendiri aja. Kalian lanjutkanlah bertengkarnya." Dia melengos pergi.


"Eh Jojo, kenapa tiba-tiba lagi sih." Kaget Rika yang tangannya di tarik Jhon untuk mengikuti langkahnya.


Jhon tidak menjawab, ia masih menarik lengan Rika sambil berjalan cepat keluar dari kafe.


Ray menghembuskan napas kasar, menatap kepergian kedua nya. "Dasar licik, tapi tenang saja. Waktu masih panjang, karena Rika hanya boleh menjadi milik ku."


----------------------------------


Rika memasuki mobil, langsung duduk. Di susul Jhon masuk dan duduk di kursi kemudi. Pria itu, mulai menyalakan mesin mobil dan melajukannya untuk meninggalkan area kafe.


"Pakai sabuk pengaman mu." Instruksi Jhon yang langsung di jalankan oleh Rika.


Selama beberapa menit hanya keheningan mencekam menyelimuti sekitar mobil, Rika dengan sedikit ragu juga perasaan penasaran. Ia melirikkan bola mata nya ke arah samping, dimana Jhon tengah menyetir dengan raut muka yang sulit di artikan namun ada kegelisahan dari sorot mata nya.


"Jojo," panggil Rika pelan namun jelas terdengar ke indra pendengaran Jhon.


"Hemm," gumam Jhon, tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.


"Aku...aku-"


"Bertanya lah, jika ada yang mengganggu di pikiran mu," ucap Jhon memotong ucapan Rika yang tergagap ragu.


Rika menghela napas pelan, menatap ragu sedikit cemas. "Sebenarnya ada masalah apa kamu dengan si Ray, sehingga setiap bertemu pasti bawaan nya selalu bertengkar?"


Jhon melirik sekilas, ia tersenyum kecil. Seperkian detik dia terdiam tak menjawab pertanyaan itu.


"Gadis bodoh," hanya kata itu yang keluar dari bibir Jhon. Masalahnya ada di diri mu, bodoh.

__ADS_1


Rika menatap bingung. "Kenapa? Aku minta jawaban yang serius bukan malah diam saja."


"Hah...," Jhon menghembuskan napas kasar, ia memegang stir dengan kedua tangannya. "Gadis bodoh, ini permasalahan antar pria. Kau cukup menurut pada ku, dan jangan terlalu dekat dengannya."


"Kenapa? Kenapa aku jangan terlalu dekat dengannya?"


Karena kapan saja, dia bisa merebut mu dari ku, bodoh.


Jhon menatap lurus pada jalanan. "Dia pria yang mempunyai maksud terselubung terhadap mu. Aku hanya memperingatkan mu saja, agar tidak menjadi korban."


"Hah! Korban?" Mata Rika sedikit melotot terkejut. "Tapi-tapi aku mengenal dia sangat lama, dan tidak pernah juga dia melakukan hal jahat terhadap ku. Kamu jangan mengada-ngada deh, Joe."


"Ck," Jhon berdecak menyeringai misterius. "Sebelum kau mengenalnya, aku lebih dulu mengenal dia. Jadi kau harus berhati-hati terhadapnya yang mempunyai muka dua."


Rika terdiam, ia mengerjapkan mata nya beberapa kali, menggerakkan kepala menatap lurus termenung.


Benarkah si Ray punya maksud terselubung terhadap ku? Dan jadi korban? Maksudnya jadi korban apa?


Gadis manis itu, mencengkram ujung jas dan menggigit bibir. "Meskipun dia sering membuat ku jengkel, tapi perasaan ku mengatakan dia orang baik. Jadi Jojo jika ada permusuhan di antara kalian jangan melibatkan aku. Karena aku bukan orang yang akan menjauhi juga membuang temannya tanpa alasan yang belum tentu kebenarannya."


Teman... Jhon tersenyum, melirik gadis manis itu. Tangannya yang bebas, terangkat untuk mengusap puncuk kepala gadis tersebut. "Gadis bodoh yang murni."


Tidak salah si bocah tengik itu sampai mengibarkan bendera perang terhadap ku.


Rika tersipu merona melirik malu, karena baru kali ini Jhon mengusap kepala nya.


Selang beberapa lama. Mobil yang di kemudi Jhon telah terhenti tepat di belakang sebuah mobil berwarna putih. Depan pagar rumah minimalis.


"Itu kan mobil kak Farhan, sedang apa dia di rumah ku," gumam pelan Rika, sembari melepaskan seat belt.


Jhon ikut melepaskan seat belt lalu keluar mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Eh, apa dia berniat mampir? Tapi di rumah ada kak Farhan, bagaimana ini?" Rika masih duduk dengan perasaan cemas bercampur bimbang.


Ceklek.


Jhon membuka kan pintu mobil samping Rika. "Sedang apa kau di dalam? Lama sekali."


"I-iya, maaf." Gelagap Rika keluar dari mobil. Ia tersenyum canggung. "Jojo tumben keluar mobil?"


"Kenapa?" Terjeda sejenak, Jhon menatap curiga dengan kedua alis menyatu. "Kau terlihat seperti mengusir ku? Apa karena ada pria yang mengaku tuangan mu itu di dalam, sehingga kau tidak menawarkan ku untuk mampir."


"Ah, tidak-tidak," Rika berseru cepat sembari melambaikan kedua tangan ke depan. "Maksud ku, Jojo mau mampir dulu? Kebetulan aku mau mengembalikan mantel mu yang pernah aku pinjam waktu itu."


Tersenyum dan melangkah maju melewati Rika. "Benar kau punya hutang besar terhadap ku, baiklah dengan terpaksa aku menerima ajakan mu untuk mampir."


Rika menggeleng beberapa kali dan berjalan mengikuti Jhon dari belakang.


Di ingatkan dengan hutang itu lagi. Membuat ku jadi kesal jika mengingat sandal jelek penguras tabungan ku.


Kedua nya telah berada di depan pintu kembar, Rika mendorong pintu itu hingga terbuka.


"Assalamualaikum," salam Rika memasuki rumah di susul Jhon.


"Walaikumsalam." Sahut seorang pria yang duduk di sofa ruang utama. Pria itu langsung berdiri begitu mendapati Rika tak sendiri memasuki rumah.


"Jhonathan, anda lagi." Ujar Farhan sedikit nyolot, kental dengan nada ketidak sukaan.


"Hmph...," Jhon tersenyum sinis, membalas dengan tatapan santai.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...


__ADS_2