
Selesai shalat subuh berjamaah yang di imami oleh Egi. Annisa langsung turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Sementara Egi dan Jhon naik kembali ke lantai dua dan memasuki ruangan kerja.
Sebelum memasak annisa menyempatkan mengantarkan minuman dua cangkir kopi latte dan dua gelas air putih untuk Egi dan Jhon ke ruang kerja.
Annisa memasuki ruangan kerja setelah kata masuk dari dalam terdengar. "Kak Jhon suka minum kopi tidak saat pagi hari, jika tidak cocok saya gantikan dengan yang lain?" tanya Annisa sambil meletakkan nampan ke atas meja sofa yang di duduki Egi dan Jhon.
"Ck!" Decak Egi sebal. "Sudah di buatkan saja kau masih untung, jika kau meminta annisa mengganti. Bikin sana sendiri," ancam Egi.
"Egii..," tegur Annisa menatap Egi.
Egi mendengus dan masih menatap sebal ke Jhon.
"Tidak apa nona, saya suka dengan kopi. Apalagi kalau nona yang membuat nya, benar benar rasa yang sangat nikmat berbeda dari yang lain," puji Jhon menatap hangat ke Annisa.
Annisa berdiri di dekat meja dan membalas tatapan Jhon. "Kak Jhon bisa aja. Ya sudah saya kembali ke bawah lagi, kalian teruskan pekerjaan nya," pamit nya dan berbalik melangkah pergi menuju pintu keluar.
Sepeninggalan Annisa.
Jhon masih menatap pintu yang sudah tertutup dan tersenyum.
Egi meletakkan cangkir kopi setelah menyesap seteguk. "Sudah puas memandangi istri ku!" tegur Egi tak suka.
Menoleh dan nyengir. "Belum puas, rasa nya mata saya tidak bisa berhenti mengagumi keindahan dan ketaatan nona annisa terhadap tuan Egi. Benar sosok wanita idaman," tutur Jhon memanasi Egi.
Pletak.
Egi melempar pulpen hingga mengenai kepala Jhon. "Wanita ku tidak boleh kau sukai dan kagumi jhon! Cepat teruskan penjelasan dokumen yang tadi!" ucap nya geram.
Jhon mengusap kepala nya yang kena pulpen. "Baik tuan Egi, tapi bolehkah saya menikmati kopi nya dulu?" tanya Jhon menambah emosi Egi.
Mendelik tajam. "Selesaikan dulu baru minum kopi!" Sentak nya.
"Tidak enak kalau kopi nya dingin," sahut Jhon mengambil gelas air putih dan meminum nya.
"Tidak ada kopi kalau tidak selesai!" Tegas Egi mengambil cangkir kopi Jhon dan menjauhkan nya.
Menghela napas pelan. "Baiklah, tuan egi yang pelit. Sangat berbeda dengan nona annisa yang baik dan pengertian...," ucap Jhon.
"Jhon!" Bentak Egi.
------------------
Egi dan Jhon memasuki ruang makan, untuk sarapan.
__ADS_1
"Kalian duduklah, aku ambilkan pancake nya dulu," titah Annisa yang masih sibuk mengambil masakan hasil memasak nya dari meja pantry dapur.
Egi menurut duduk di kursi, begitu pun Jhon.
"Kak jhon suka jus apa? Saya membuatkan dua jus melon dan strawberry," tanya Annisa sambil membawa dua teko kaca yang berisi jus berbeda.
"Strawberry saja nona," sahut Jhon menatap annisa yang tengah sibuk menuangkan jus ke dalam gelas untuk Egi.
"Ternyata kesukaan nya sama seperti egi yah," ucap Annisa sambil menyodorkan satu gelas jus ke Jhon.
Menerima gelas dari annisa. "Benar semua kesukaan tuan Egi hampir sama dengan saya, termasuk menyukai karakter wanita yang sama," sindir Jhon melirik reaksi Egi.
"Siapa bilang sama. Kau kan menyukai wanita genit yang pintar merayu, jangan samakan aku dengan mata ranjang mu Jhon!" timpal Egi tidak suka.
Annisa tersenyum dan ikut duduk di samping kursi egi. "Berarti kak Jhon play boy dong," ucap Annisa menanggapi ucapan Egi sambil mengambilkan pancake dan meletakkan nya ke piring Egi.
Jhon ikut mengambil pancake untuk di makan nya. "Saya orang nya setia nona, bahkan rela sehidup semati," ucap nya.
"Emang apa itu sehidup semati?" tanya Annisa yang sudah menyuapkan pancake ke mulut nya.
"Pasangan mati kita pun ikut mati," timpal Egi mendahului Jhon.
"Wiih ngeri juga dengernya. Bukannya urusan hidup atau mati itu, ada di tangan yang maha kuasa. Lah kalau misalnya ada yang mati duluan, nanti yang satu nya gimana?"
"Nggak gitu juga tuan egi. Jika salah satu pasangan kita mati duluan, kita yang masih hidup jangan ikut ikutan mati dengan bunuh diri." Jhon menengahi.
"Ya terus," sahut Egi.
"Maksud pasangan sehidup semati itu, jika selalu menjaga hati kita sampai maut memisahkan," jawab Jhon sambil mengunyah makanan nya.
"Jadi," ucap Egi dengan santai dan meminum jus strawberry dari gelas nya.
"Oke... seperti perumpamaan nya begini saja. Jika salah satu di antara tuan Egi dan nona annisa ada yang meninggal dunia duluan, apa yang akan di lakukan kalian? Bunuh diri kah? Atau menjadi single parent seumur hidup sampai mati?"
"Itu nggak ada pilihan lain lagi kak Jhon. Misal menikah lagi gitu, kenapa harus dua pilihan yang amat susah di pilih," timpal Annisa menambahkan.
Jhon menggelengkan kepala sebagai tanda tidak. "Ini kan sedang membahas kesetiaan, nona annisa ku sayang," ucap nya.
"Jhon!" Sentak Egi.
"Iya... iya tuan Egi. Jadi gimana pilihan kalian single parent atau bunuh diri?" tanya Jhon menatap kedua pasangan yang ada di hadapan nya secara berganti.
"Single parent, karena kalau bunuh diri kan dosa besar kak Jhon." Jawab Annisa sambil menyuapkan pancake ke mulut.
__ADS_1
"Nona Annisa memang wanita yang setia sehidup semati yah," ucap Jhon tersenyum menatap Annisa.
"Tidak lah kak jhon. Jika kak Jhon menambahkan pilihan ketiga nya untuk menikah lagi, annisa akan pilih yang nomor tiga untuk menikah lagi," tutur Annisa.
Brak.
Egi menggebrak meja cukup keras sehingga membuat annisa dan Jhon terperanjat kaget. "Diam! Berisik! Makanlah dengan tenang," tegas Egi menekan.
Dia marah lagi... sensitif banget sih, dasar Egi...
Seketika suasana menjadi hening, jhon dan annisa hanya saling pandang dan tersenyum lalu memakan sarapan nya kembali.
Selesai sarapan, annisa tengah memasukkan kotak bekal untuk Egi ke dalam paper bag, sementara Jhon telah keluar rumah untuk menyiapkan mobil.
Egi mendekati Annisa dan merangkul pinggang annisa lalu menyodorkan dasi. "Pakaikan aku tidak bisa," pinta nya.
Annisa melirik egi dan menghentikan gerakan tangan yang sudah merapihkan paper bag. Mengambil dasi dari tangan Egi. "Bukan tidak bisa tapi kau malas," ucap Annisa sambil berbalik menghadap ke arah Egi.
Merangkul pinggang annisa dan merapatkan tubuh. "Bukan malas tapi aku big baby mu annisa, jadi kau harus mengurus segala nya," tutur Egi sambil mencubit pelan pipi gembil annisa.
Annisa memakaikan dasi dan membentuk simpul dasi di leher Egi. "Dasar bocah... oh iya, minggu depan aku mendapat hari libur, dan kebetulan teman ku si rika pun sama libur. Jika aku pergi jalan bareng rika boleh tidak?" tanya nya.
"Boleh?" Jawab Egi cepat dan singkat.
"Benarkah?"
"Hemm...," mengangguk kecil mengiyakan.
"Duh senang nya," girang annisa lalu menepuk pelan jas yang di pakai Egi. "Dah selesai, tambah ganteng saja sih suami bocah ku," goda annisa mencubit ujung hidung Egi gemas.
Terkekeh pelan. "Aku harus membuat mu senang dulu, baru bisa memuji ku," ucap Egi. Lalu tanpa aba aba, egi langsung menunduk merangkul pinggang annisa dan mencium bibir annisa.
Cukup lama egi mencium bibir annisa. Hingga sebuah tepuk an tangan dari annisa di pundak Egi menghentikan yang di lakukan Egi.
Hah... annisa menghirup udara untuk mengisi kembali paru paru nya yang kosong. Menatap sebal ke Egi. "Kau kebiasaan bisa mati aku kehabisan napas," omel annisa.
Tersenyum senang, dan mengusap bibir Annisa yang lembab dengan jemari nya. "Belajarlah agar tidak kehabisan napas... dan sisa dua madu lagi, untuk pulang kerja," ucap Egi lalu berbalik meninggalkan annisa.
"Egii bocah mesum, menyebalkan," gerutu Annisa dan menyambar paper bag lalu ikut menyusul Egi.
BERSAMBUNG...
Jangan Lupa LIKE dan tinggalkan JEJAK yaa...
__ADS_1