Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 61


__ADS_3

Di Rumah sakit.


Dalam ruang rawat, Rika masih duduk setengah terbaring di atas ranjang namun kali ini di temani Pak Adi yang duduk di kursi. Keduanya tampak santai menonton televisi sembari memakan buah-buahan.


Sedang Annisa telah di bujuk Egi untuk istirahat karena selama gadis manis itu koma, Annisa tak sempat tidur dengan baik yang keseringan begadang.


"Papa, nggak pulang? Ini udah mau masuk isya loh."


Gerakan tangan Pak Adi yang tengah mengupas apel terhenti, ia melirik arloji di pergelangan tangannya. "Iya yah. Tapi Papa ingin nemenin Neng. Apa bikin alesan aja gitu ke Mama, kalo Papa ada kerjaan di luar kota."


"Ish... ish. Jangan gitu lah Pah, kasian Mama di rumah sendirian. Ika nggak apa-apa sendirian di sini."


"Tapi Neng-"


Ceklek.


Pintu kamar terbuka lebar, memunculkan dua pria tampan dengan jas yang berbeda, yang satu berjas kedokteran dan yang satu berjas kantor berwarna abu gelap. Kedua pria itu masing-masing memegang sebuket bunga mawar merah.


"Maaak... Maak." Ray berhambur berlari ke arah ranjang.


"Eh," Rika menatap diam dengan alis tertaut.


Rayhan meletakkan buket bunga mawar di atas pangkuan Rika, dan langsung memegang kedua bahu gadis manis itu. "Mak, lo beneran melek? Akhirnya gadis manis gue terbangun juga." Dan hendak memeluk tubuh Rika, namun tiba-tiba...


Plakk.


Kepala nya di pukul dari belakang oleh seseorang yang terduduk di kursi.


"Aww, sakit woy!" Pekik Ray menoleh ke belakang.


Pak Adi menatap tajam sembari menunjukkan pisau buah yang sedang di pegangnya.


Mata nya membulat kaget dan reflek berucap. "Anjirr, pisikopat." Ray memundurkan tubuhnya.


Pak Adi semakin menatap tajam seakan menelannya hidup-hidup. Ia mengacungkan pisau itu ke arah Ray. "Kamu panggil saya apa? Pisikopat?"


"Eh, eh Om. So-sorry, maaf, punten ... aku... aku salah Om, ampun." Mengangkat kedua tangan di depan dan duduk di sisi ranjang hingga berdempet ke Rika.


Pak Adi semakin gencar menodongkan pisau ke arah Ray untuk menakut-nakuti. "Turun kamu dari ranjang! Jangan cari kesempatan menyentuh anak ku!"


Gila, nyokap si Mak ngeri amat dah. "I-iya Om, aku turun tapi, tapi awas dong Om nya." Gagap Ray menatap ujung pisau yang ada di hadapannya.


"Kamu memerintah saya hah!" Menatap sadis.


Ray melirik ke arah Rika, menatap melas. "Mak, tolongin gue napa. Bapak lo sadis amat nih."


Rika tersenyum penuh arti. "Eh, Mak? Ma-maaf. Kalian berdua siapa yah?" Menatap heran pada dua pria tampan itu.


"Hah! Lo... lo jangan becanda deh Mak? Gue Ray Mak."


"Ray? Siapa yah?" Bingung Rika, memberikan isyarat tatapan mata pada sang Papa agar mengikuti permainannya.


"Gue Rayhan alvian. Masa lo kagak inget gue siapa sih?"


Rika terlihat berpikir termenung dengan pandangan menatap lekat wajah pria tampan di hadapannya.


Si Neng benar-benar, kumat jahilnya... Pak Adi menghela napas pelan dengan kepala menggeleng kecil beberapa kali. "Kalian mengobrol lah namun harus tetap jaga jarak jangan megang sana sini ke si Neng." Dia meletakkan pisau buah ke keranjang buah kemudian berbalik melangkah ke arah sofa.


"Iya, iya Om takut amat anaknya di comot." Sahut Ray.


Haish... Neng, Neng kenapa bisa berteman dengan cowok begajulan seperti Nak Ray. Pak Adi kembali menggelengkan kepala dan duduk di sofa.

__ADS_1


"Kalo dengan kakak, Adek ingat kan?" Farhan ikut bersuara setelah sekian lama dari tadi hanya diam mengamati.


Rika beralih menoleh menatap Farhan dari atas sampai bawah. "Kakak? Adek? Apakah kita kakak beradik? Tapi bukannya Papa bilang aku anak tunggal."


"Haish...," Farhan mengusap wajahnya dengan sebelah tangan melirik Ray yang sudah terpaku diam menatap Rika. Kenapa bisa begini? Bukannya kata dokter Erika hasil pemeriksaan nggak ada masalah dengan otak nya.


"Om, ada apa dengan dek Rika? Kenapa dia jadi tak mengenali kita?" tanya Farhan pada pria yang terduduk di sofa.


Pak Adi menyesap kopi, sebelum menimpali. "Dia amnesia ringan, jadi tak mengenali kalian kecuali saya yang sebagai orang tua nya dan Nak Annisa."


"Apa? Amnesia!" Serempak Farhan dan Ray melotot tak percaya.


Kedua nya beralih menatap Rika dengan tatapan sedih dan menghembuskan napas pelan.


"Dek Rika," lirih Farhan dengan kepala tertunduk.


"Maaak, napa lo lupain gue." Gumam pelan Rayhan.


Rika membuang muka ke arah lain untuk menyembunyikan tawa nya yang tertahan. "Ekhem, ekhem." Dehem Rika kembali menatap kedua pria tampan dengan wajah tertekuk sedih itu.


"Kalo gitu, siapa kalian? Udah datang kesini berarti kalian dekat dengan ku." Rika mengambil dua buket bunga mawar yang berada di pangkuannya.


"Gue... gue calon tunangan lo." Ray kembali mendekat ke sisi ranjang dan berucap mantap.


"Hah!" Seketika semua orang yang mendengar ucapan Ray, menoleh dan menatap diam.


Rika tertegun, menatap. Apa-apaan si banci, ngaku calon tunangan ku segala. Lalu ia mengalihkan tatapan ke arah lain. "Eh, calon tunangan?"


"Iya gue calon tunangan lo, Mak."


"Tidak!" Ucap Farhan cepat. "Jangan dengarkan dia dek. Kakak tunangan adek bukan dia."


Pak Adi tersenyum geli. "Hey kalian berdua, ngomong apaan kalian ini sama anak Om yang polos dan lugu, katakan yang benar dan jujur jangan mentang-mentang anak Om lagi lupa sama kalian." Ucap Pak Adi memecahkan ketegangan dan keheningan di antara mereka.


Namun ucapan Pak Adi malah di abaikan oleh kedua pria tampan itu.


"Mak jangan percaya dia, gue calon tunangan lo yang sebenarnya." Ray menyentuh punggung tangan Rika.


Plak.


Farhan menepis kasar tangan Ray berganti tangannya sendiri menyentuh dan menggenggam jemari tangan Rika. "Jangan dengarkan dia dek. Aku tunangan mu, bahkan kita akan segera menikah."


Rika hanya diam terlongo menatap tangannya. Mereka benar-benar sudah gila.


"Hey kalian dimana tangan kalian menyentuh hah! Singkirkan tangan kalian dari putri ku!" Teriak Pak Adi dengan nada suara galak.


"Rasain lo, kena amukan galak bokap si Mak." Ledek puas Ray.


"Ck," Melirik sinis ke Ray. Lalu Farhan segera menarik kembali tangannya. "Ma-maaf. Tapi... tapi adek harus percaya sama Kakak."


"Tidak! Lo harus percaya ama gue Mak, beneran gue ini calon tunangan lo bukan orang gila ini." Tunjuk Ray menatap sengit ke arah Farhan.


"Aku tidak gila, dan memang benar aku ini tunangannya dek Rika." Sewot Farhan tak kalah meninggi.


"Gue tunangannya bukan lo."


"Gue Ray, bukan lo." Sahut Farhan geram.


Mereka kenapa? Kok malah berantem. Rika yang menjadi dalang perdebatan menatap terlongo ke arah dua pria yang sedang bersitegang.


Rayhan melangkah ke arah ujung ranjang brankar hendak menghampiri Farhan. "Gue tunangan lo, Mak. Jangan dengerin si bangkotan ini."

__ADS_1


Farhan ikut mendekat ke arahnya, dan menunjuk dengan tatapan menantang. "Apa lo bilang! Lo yang kudisan."


Mencengkram kasar kerah kemeja Farhan. "Enak aja gue ganteng gini di bilang kudisan, lo yang panuan. Dasar badan gentong."


"Gue bukan gentong, bocah cungkring." Farhan yang sudah tersulut emosi ikut menarik dan mencengkram kerah kemeja Ray.


"Kak Farhan, Ray! Cukup!" Teriak Rika seketika membuat kedua pria yang tengah main tarik menarik kerah baju itu terdiam dan saling tatap dengan tatapan sengit.


Pak Adi terkekeh geli yang terlihat santai di atas sofa. Ia meneguk air kopi sambil menonton perdebatan itu. "Bukannya biarkan saja sih Neng. Papa lagi seru lihatnya."


"Papa malah diam aja, bukannya pisahin mereka."


"Habis seru aja, jarang-jarang Papa lihat adu jotos secara langsung gini."


"Huh, Papa." Dengus Rika, kemudian beralih menatap kembali pada dua pemuda yang terlihat sudah melepaskan cengkraman di kerah kemeja masing-masing namun melirik sinis.


"Kak Farhan, Ray." Panggil Rika, membuat kedua nya menoleh dengan cepat dan menatapnya bengong.


"Mak."


"Dek Rika."


Rika menghembuskan napas pelan. "Kalo kalian mau berantem jangan di sini. Ini itu rumah sakit bukan lapangan tinju."


"Mak, lo udah inget gue siapa?" Ujar Ray berhambur mendekat.


"Dek Rika bener sudah ingat kakak." Farhan ikut mendekat ke arah ranjang.


"Lah, lah... kalian ini, gue bilang apa. Malah nanya apa lagi." Kesal Rika menatap sebal.


Ceklek.


Pintu ruangan kembali terbuka lebar, dan masuklah seorang pria tampan berraut wajah pucat dengan napas sedikit ngos-ngosan, pria itu memakai celana jeans hitam dan t-shirt putih berlapis mantel panjang abu.


"Nak Jhonathan." Celetuk Pak Adi menatap kedatangan pria itu.


Mendengar nama tersebut, seketika ketiga orang yang berada di sekitar ranjang terdiam menoleh ke arahnya.


Jojo... Rika menatap kaku tak berkedip.


Jhon melangkah pelan dengan pandangan menatap lekat ke arah gadis manis di ranjang. Gadis bodoh... terulas senyuman kelegaan di bibir tipis Jhon. aku tidak salah lihat, dia... akhirnya membuka mata.


Sreet...


Jhon menarik kasar kerah belakang jas Ray. "Minggir bocah." Lalu ia menghempaskannya agar menjauh dari ranjang.


"Hey Bang. Apa-apaan sih Bang, dateng-dateng main tarik kasar gini." Celoteh Ray kesal, sambil merapihkan jas nya.


Jhon tak menghiraukan lagi sekitar, tatapannya tertuju hanya pada gadis manis yang sama-sama tengah menatapnya.


"Gadis bodoh." Suaranya serak nan lemah lalu tangan Jhon terulur menyentuh pipi Rika yang putih sedikit kemerahan.


Dia terlihat kurus dan wajahnya pucat sekali. Jojo... maafkan aku telah membuat mu khawatir sampai seperti ini. Wajah Rika menengadah menatap ke arah kedua bola netra berwarna silver milik pria tampan yang wajahnya cukup dekat dengannya. Kedua mata Rika memerah mulai berkaca-kaca.


"Nak Ray dan Nak Farhan." Pak Adi yang mengerti situasi memberikan isyarat gerakan kepala dan lirikkan mata pada keduanya agar keluar ruangan.


Dan keduanya yang mengerti segera melangkah mundur untuk keluar ruangan meninggalkan ketiga orang itu di dalam kamar, dengan Pak Adi yang terduduk di sofa jadi pengamat.


BERSAMBUNG...


Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...

__ADS_1


__ADS_2