
Ayah putra telah di angkat ke atas brankar dengan di gotong oleh para pengawal nya, brankar itu mulai di dorong di lorong, dan egi ikut mendampingi putra sambil memegang sebelah tangan nya.
Begitu pun dengan annisa ikut mengekori dari belakang, ayah putra masih saja memejamkan mata nya padahal annisa sudah berusaha melakukan pertolongan untuk orang pingsan namun itu tidak berhasil.
"Ada apa ini An an?" tanya romisa yang baru keluar kamar dan melihat para pengawal mendorong sebuah brankar namun romisa tidak melihat siapa yang di atas brankar itu.
Kondisi mbak kan sedang lemah, jika mbak tahu siapa itu. pasti mbak akan pingsan juga, aku tidak mau terjadi sesuatu dengan mbak. mana mbak lagi hamil akan beresiko nanti nya, sebaiknya aku harus membujuk mbak agar mau ke kamar dulu dan tidak mengikuti kami.
Annisa menghampiri romisa, berdiri di hadapan nya dan memegang kedua tangan romisa,
"tidak ada apa apa, mbak sebaiknya istirahat ke dalam kamar lagi," titah annisa hendak menggiring romisa.
Namun romisa bersikeras ingin melihat siapa yang ada di atas brankar itu.
"Siapa itu An an. Apakah itu ayah putra, atau egi?" tanya romisa melihat brankar yang sudah menjauh menuju lorong lain.
Annisa menghalangi pandangan mata romisa,
"itu...itu..egi mbak. Sebaiknya mbak masuk ke kamar dulu nanti annisa jelaskan penyebab nya," tutur annisa mencoba membujuk romisa.
"Tapi An an.." sanggah romisa namun bi ane yang baru datang dengan beberapa pelayan menghampiri romisa.
"Nona, yang di katakan dek annisa itu benar. Sebaiknya nona kembali ke kamar karena tuan sedang dalam perjalanan pulang," tutur bi ane yang sudah di samping romisa.
Melirik bi ane dan annisa bergantian.
"Baiklah, jika kalian bersikeras yang tidak ingin aku melihat egi. An an kabari mbak jika ada berita mengenai nya," ucap pasrah romisa.
Bi ane yang mendengar penuturan romisa, bi ane melirik annisa dan annisa memberikan kedipan sebelah mata sebagai isyarat 'tolong cepat bawa mbak ke kamar'. bi ane langsung mengerti yang di maksud kedipan mata annisa.
Lalu annisa kembali menatap romisa yang sedang menatap bi ane.
"Ya sudah mbak cepatlah masuk, annisa akan memeriksa dulu keadaan nya soalnya dokter masih di perjalanan," tutur annisa.
__ADS_1
Romisa menoleh ke annisa lalu mengangguk paham. Romisa berbalik bersama bi ane dan kedua pelayan yang menggiring nya masuk ke dalam kamar.
Annisa berbalik dan berjalan menuju ruangan kedokteran dengan mengikuti beberapa pengawal yang tengah berjalan hendak menuju ke sana.
Baru saja annisa menginjakkan kaki nya berjalan memasuki ruangan kedokteran tiba tiba sebuah teriakan yang melengking memekakkan telinga nyaring terdengar di lorong itu.
"Ayah..ayah..dimana ayah," teriak syila sambil berlari di lorong ruangan ke dokteran.
bukan kah itu adik nya s anak songong itu, tidak ada beda nya. kakak nya selalu bikin naik darah, adik nya pun sama saja bikin kacau gendang telinga. pantasan s songong tuli ternyata ada adik nya yang bersuara kayak toa.
Egi yang baru keluar dari sebuah pintu melihat syila berlari dengan panik ke arah nya,
"sedang apa kau dimari?" Tanya egi.
Syila memegang sebelah lengan egi,
"ayah mana kakak. syila ingin lihat ayah, dimana ruangan ayah," celoteh syila dengan tatapan memohon.
Egi menatap beberapa pengawal yang tengah berdiri di sekitar lorong,
Para pengawal yang di perintahkan dengan sigap memegangi kedua lengan syila di sisi kiri dan kanan.
"Syila ingin lihat ayah..dimana ayah kak..dimana," teriak syila sambil memberontak dari pegangan mereka.
"Bukan sekarang waktu nya bertemu. Jadi kembalilah kau ke kamar mu," bentak egi.
"Tapi kakak..." sela syila hendak bertanya lagi.
Egi menatap tajam,"syila.." teriak egi membuat syila seketika terdiam.
Melihat syila sudah tidak memberontak lagi, para pengawal menggiring syila berbalik untuk meninggalkan ruangan ke dokteran.
Setelah syila pergi, egi melirik annisa yang masih berdiri mematung tidak jauh dari hadapan nya.
__ADS_1
"Kenapa kau diam saja. Periksa ayah ku. Dan buat ayah ku sadar kembali, jika tidak lihat saja kau," titah egi dengan nada tegas.
"Tidak di suruh pun aku akan memeriksa nya, pria sinting," ketus annisa lalu berjalan memasuki pintu yang tadi egi keluar dan melewati egi begitu saja.
Egi mengepalkan kedua tangan nya geram lalu duduk di kursi luar ruangan dan memandang kosong ke depan.
-----
Di dalam ruangan itu terlihat putra terbaring di atas ranjang dengan mata tertutup dan ada dua pengawal berdiri tidak jauh dari ranjang mengawasi putra.
Annisa mendekati ranjang tempat terbaring nya putra dan duduk di kursi kecil samping ranjang.
lalu annisa mulai melakukan pemeriksaan terhadap nya. Annisa memeriksa kembali denyut nadi, mata, suhu badan, dan mentensi darah putra.
Tensi normal, suhu normal dan denyut nadi juga normal. Aneh padahal tidak ada tanda tanda hal yang menunjukkan bahwa tuan putra terkena serangan jantung atau aritmia. Dan melihat detak jantung nya telah normal kembali sepertinya tuan putra sudah sadar hanya tertidur saja.
Annisa membereskan alat alat pemeriksaan dan menyimpan kembali ke atas nakas dekat ranjang.
"Tuan, apakah tuan sudah siuman," ucap annisa memastikan pemikiran nya itu benar.
Namun putra tidak menjawab dan terdiam tak bergeming masih dengan posisi nya.
Annisa memidai tubuh putra lalu annisa kembali menatap wajah putra yang masih terdiam memejamkan mata nya.
aku yakin jika tuan putra ini sudah sadar, di lihat dari hasil pemeriksaan ku semua nya normal. tapi kenapa dia diam saja yah, nggak merespon. coba sekali lagi annisa siapa tau dia merespon.
"Saya tahu tuan sudah sadar dari tadi. Saya hanya ingin bertanya apakah napas tuan masih sesak?" tanya annisa dengan lembut
Annisa memeriksa hembusan napas putra di hidung nya, Lalu mendengar dan merasakan napas putra sepertinya masih sesak karena tersendat sendat. annisa insiatip memasangkan selang oksigen ke hidung putra.
Apa mungkin dugaan ku salah jika tuan putra sudah sadar tp di lihat wajah nya agak pucat juga. sudahlah sebaiknya aku infus saja, Mungkin dia terkena dehidrasi sehingga pucat seperti itu.
Annisa memegang tangan putra dan mencari pembuluh darah nya untuk menusukkan jarum infusan.
__ADS_1
BERSAMBUNG...