Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 4


__ADS_3

Annisa dan Rika masih betah duduk di kafe, dan asyik mengobrol. Sudah habis dua piring kue yang di makan Annisa sambil mendengarkan curhatan Rika.


"Aku harus bagaimana dong Nis?" Melas Rika menyuapkan suapan terakhir kue nya ke mulut.


Annisa menghela napas pelan, Ia meletakkan sendok kue ke piring nya dan menatap Rika. "Ya seperti yang aku bilang, gimana kalau kamu laksanakan istikharah dulu mengenai dua pria itu, jika ada kebaikan untuk masa depan mu di antara dua pria tersebut, Allah akan menunjukkannya seiring waktu." Saran Annisa.


Rika menarik gelas jus nya yang tinggal setengah, ia menundukkan pandangan, mengaduk isi gelas tersebut. "Masalahnya hati ku sudah tertambat pada pria lain."


"Jadi maksud mu dari tadi bercerita muter muter tapi ujungnya sudah menyukai pria lain?" tanya Annisa, menatap tak percaya.


Rika mengangguk pelan. "Hemm."


Annisa menggeser kursi nya untuk lebih dekat dengan Rika. "Siapa pria itu? Apa aku mengenal nya?" Penasaran Annisa setengah berbisik.


Rika menyeruput minumannya, semakin menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan pipi nya yang sudah merona. "Di-dia...," ucapan Rika terhenti.


"Sayang," Bisik Egi pada telinga Annisa yang sudah berdiri membungkuk di samping kursi Annisa.


"Iya ini aku!" Pekik Annisa kaget, dan menoleh ke arah orang yang membisikkan nya tadi. "Egi, sejak kapan kamu ada di sini?"


Egi menunduk mengecup puncuk kepala Annisa, kemudian duduk di kursi samping yang kosong. "Baru sampai," jawabnya tenang.


Annisa menarik sebelah tangan Egi untuk salam perjumpaan, dengan mencium punggung tangannya. "Kok nggak bilang mau jemput ke sini?" tanya Annisa setelah salam.


Egi menarik gelas jus melon Annisa dan menyeruputnya. "Kejutan," ucap Egi tersenyum.


"Nona Annisa, ratu bidan cantik," celetuk Jhon ikut gabung dan langsung duduk di kursi hadapan Rika.


Mata Annisa sedikit melebar melihat Jhon. "Kak Jhon juga ikut kemari ternyata," Annisa melirik Egi yang tersenyum isyarat.


"Tentu, untuk menjemput sang ratu saya harus ikut." Goda Jhon menatap hangat ke Annisa.


"Ekhem," dehem Egi. "Sayang," panggil Egi memberikan isyarat mata pada Annisa.


Annisa mengerti maksud isyarat Egi. Ia melirik Rika yang diam saja dan masih menunduk juga Jhon yang tengah menatap nya bingung. "Ah, i-ya. Rik, aku harus segera pulang, biasa seorang istri harus memasakkan makan malam untuk suami nya. Jadi tak apa kan aku tinggal, kamu di sini dulu biar nanti kak Jhon anterin kamu pulang," ujar Annisa setengah berbisik, menepuk pelan bahu Rika.


Rika gelagapan, ia melirik Jhon yang tampak terlihat bingung. "Tapi Nis, aku... aku," gagap Rika.


Annisa kembali menepuk pelan bahu Rika. "Tenang saja, kak Jhon orangnya baik kok." Annisa beralih menatap Jhon. "Iya kan kak Jhon?" tanya Annisa tersenyum penuh arti.


"Meskipun saya tidak tahu, apa yang di maksud nona Annisa, tapi saya iya in aja." Jawab Jhon membalas tersenyum.


Annisa bangkit dari duduknya, menggenggam tangan Egi yang ikut bangkit. "Kita pulang dulu yah, saya titip teman saya kak Jhon. Tolong anterin sampe rumah nya dengan selamat," tutur Annisa.


"Hah," kaget Jhon melirik Rika dan Annisa secara bergantian.


"Jhon," tegas Egi menatap.

__ADS_1


Jhon menghembuskan napas kasar. "Baiklah," pasrahnya.


"Ya sudah, aku pulang dulu Rik. Kak Jhon. Assalamualaikum," pamit Annisa yang sudah di rangkul bahu nya oleh Egi untuk berbalik meninggalkan meja itu.


"Wa-walaikumsalam," sahut Rika lemah, menatap kepergian Annisa dan Egi.


Sepeninggalan Annisa dan Egi.


Seketika suasana di meja itu, terasa canggung dan hening.


Rika kembali menundukkan pandangannya memainkan pipet minuman.


Aku harus mulai bicara, tapi mau bicara apa? Pak Jhon kan orang nya dingin dan pendiam, hanya sama Annisa saja dia bisa sehangat itu.


"Anu... pak Jhon mau pesan minum? Bi-biar saya pesankan," ucap Rika namun masih menundukkan pandangan.


Jhon menggelengkan kepala, mensedekapkan tangan di depan menatap dingin ke Rika.


Nggak ada jawaban. Aku harus bagaimana nih, biar suasana di sini nggak kaku gini. Hah.. Annisa kenapa kau tinggal kan aku dengan laki laki dingin ini.


Perlahan Rika mengangkat wajah nya, menatap ragu ke Jhon. "Ba-bapak tidak mengantar saya juga tidak apa apa, sa-saya bisa memesan taksi online," tutur Rika gugup.


Jhon masih memasang wajah dingin, menatap tak terbaca pada Rika. Seperkian menit Rika menunggu jawaban dari Jhon namun yang di tunggu masih saja merapatkan bibir nya.


Ini orang masih saja bungkam, mending langsung pulang saja kali yah.


Pelayan yang melihat isyarat tangan Rika, segera menghampiri meja nya. "Ada yang mau di pesan lagi?" tanya pelayan wanita itu.


Rika menggelengkan kepala dan tersenyum. Kemudian Rika mengeluarkan kartu debit dari dompet nya. "Hanya bayar saja," ucap Rika menyodorkan kartu itu ke arah pelayan wanita tersebut.


Jhon merampas kartu debit Rika. Sehingga membuat Rika terhenyak. "Dua Jus strawberry dan chocolate caramel puding cake dua," Jhon memesan makanan.


"Baik pak, silahkan tunggu pesanannya." Pelayan wanita itu menuliskan yang di pesan Jhon, lalu berbalik meninggalkan meja.


Rika menatap sebal. Apa maksudnya pak Jhon ini? Tadi diam saja, sekarang pake pesan makanan segala. Sampe dua porsi lagi.


"Biar nanti saya sekalian membayarnya, simpan kembali kartu anda," Jhon berucap sambil menyodorkan kartu debit Rika.


Alis Rika menaut, menatap kartu nya dan Jhon secara bergantian. "Saya tidak perlu traktiran dari bapak, saya bisa bayar sendiri." Ketus Rika, mengambil kartu debit nya dan beranjak dari duduknya. "Hari sudah hampir magrib, saya permisi duluan pak Jhon, tenang saja saya akan mengatakan pada Annisa jika bapak mengantar saya," tutur Rika menundukkan kepala sebagai salam dan hendak melangkah pergi ke kasir.


"Nona Rika," panggil Jhon menghentikan pergerakan Rika yang berdiri tepat tidak jauh di samping kursi nya.


Rika menoleh. "Iya, ada apa?"


"Saya telah memesan dua porsi minuman juga dessert nya, anda boleh pergi setelah menghabiskan makanan itu." Jhon berucap dengan nada dinginnya.


Rika menghela napas pelan, Ia berbalik menatap tak percaya dan tersenyum kecil. "Punya hak apa bapak menyuruh saya seperti itu? Silahkan bapak makan saja sendiri, saya sudah kenyang." Ketus Rika dan berbalik kembali.

__ADS_1


Jhon menarik lengan baju Rika. "Ada yang ingin saya bicarakan, itu hak saya menyuruh anda. Kembalilah ke kursi anda sebelum saya mengatakan sesuatu, agar tuan Egi melarang anda bertemu dengan nona Annisa lagi," tegas Jhon membuat Rika seketika membeku di tempat.


Orang ini sedang mengancam ku, tapi dia memang mempunyai kekuasaan untuk hal itu pada Annisa. Hah, sepertinya aku harus mengalah kali ini.


Rika berbalik, menatap kesal pada orang yang menarik lengan baju nya. Ia mendengus sebal, mengibaskan cepat lengannya agar pegangan Jhon di baju nya terlepas, kemudian ia kembali duduk di kursi nya.


"Apa yang ingin bapak bicarakan pada saya? Waktu sudah hampir magrib, saya tidak terbiasa pulang telat." tanya Rika meletakkan tas selempangnya di pangkuan.


Jhon menyenderkan punggung nya di badan kursi, menatap dingin. "Tunggu sampai makanan kita sampai, baru saya akan mengatakannya," ucap Jhon dengan sebelah tangan terkepal di atas meja.


Alis Rika terangkat sebelah. "Baiklah, tapi saya tidak cukup waktu untuk menunggu hal tidak penting."


Jhon menyeringai tersenyum kecut. "Nona, kau rupanya gadis kecil yang cukup berani, tidak salah pilihan tuan Egi." Ucap Jhon membuat Rika semakin bingung.


Alis Rika semakin berkerut mendalam.


Apa maksud dari senyuman dan perkataannya itu?


Bersamaan itu, waiters mengantarkan makanan ke meja mereka dan meletakkan dua jus juga dessert ke hadapan masing masing.


"Sudah datang makanan nya, cepat katakan apa yang akan bapak katakan pada saya," Rika meraih jus strawberry mengaduk dan menyeruputnya hingga mulutnya penuh oleh cairan jus.


Jhon menatap serius, dan mencondongkan tubuh agar lebih dekat menatap Rika. "Jadilah wanita ku," ucap Jhon jelas nan tegas.


Byuur...


Rika menyemburkan minuman dari mulutnya ke wajah Jhon. Mata Rika melebar terkejut, bibir nya menganga tertutup telapak tangan.


"Hey!" Pekik Jhon memundurkan diri dan mengusap kasar wajah nya yang basah oleh semburan jus dari mulut Rika.


Habislah aku...


"Maaf maaf pak," Segera Rika bangkit dari duduknya, ia dengan tergesa menarik bahan kain untuk mengelap wajah Jhon. Namun...


Prank... clang... bruk.


Semua piring dan gelas yang ada di atas meja berjatuhan ke lantai dan pecah karena yang di tarik Rika adalah taplak meja.


"Kau," geram Jhon menatap kesal pada Rika yang terlongo bingung menatap kegaduhan yang di buatnya.


"Tamatlah aku," gumam Rika lemas ambruk duduk di kursi.


Jhon menghembuskan napas kasar, Ia mengusap wajah nya dengan kesal. "Wanita bodoh," geram Jhon.


BERSAMBUNG...


Jangan lupa Klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa...

__ADS_1


__ADS_2