Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 18


__ADS_3

Rika memperhatikan orang-orang yang baru keluar dari pemakaman, terlihat jelas dari raut wajah mereka menyiratkan kesedihan mendalam. Bahkan untuk Ayah putra, bukan hanya raut wajah saja melainkan air mata terus beranak pinak di sudut mata nya, sehingga wajahnya yang berkulit putih kini berubah menjadi merah padam akibat menahan tangisan yang bergejolak menggunuk di hati nya.


Tok...tok.


Jhon masih berada di luar mobil, mengetuk jendela kaca mobil.


Gadis manis yang berada di dalam terhenyak dan tersadar dari pengamatannya. Dia menekan tombol untuk menurunkan kaca jendela. "Ada apa Pak?" Rika bertanya heran.


"Nona Annisa dan tuan Egi akan segera masuk ke mobil. Kau lihat raut wajah mereka?" Jhon melirikkan mata nya ke arah sekumpulan keluarga Putra yang tengah berbicara seperti mendiskusikan sesuatu, yang entah apa yang mereka obrolkan.


Rika mengikuti arah pandang Jhon, kemudian ia mengangguk. "Mereka terlihat muram, terus hubungannya dengan saya Apa?"


Jhon beralih menatap dingin ke Rika. "Selama di dalam mobil kau jangan banyak bicara atau bertanya pada mereka. Karena suasana hati tuan Egi juga Nona Annisa sedang tidak baik, terutama tuan Egi. Kau paham maksud saya."


Lagi-lagi Rika hanya bisa mengangguk paham. "Saya mengerti."


Bersamaan dengan itu, Egi dan Annisa berjalan mengarah ke arahnya.


"Kak Jhon, ke pemakaman X, setelahnya ke pemakaman Y." Annisa berucap setelah berada di hadapan Jhon.


"Baik," sahut Jhon, ia berjalan setengah memutari mobil untuk masuk lewat pintu kemudi, dan duduk di kursinya.


Sedang Egi membuka kan pintu mobil untuk Annisa agar masuk lebih dulu, di susul diri nya masuk dan duduk di samping istri nya.


Jhon mulai menyalakan mesin. Kemudian melajukan mobilnya mengikuti mobil hitam Arga, yang akan membawanya ke pemakaman X tempat makam keluarga Romisa di kuburkan, setelahnya akan berlanjut ke pemakaman Y tempat makam kedua orang tua Annisa.


Selama setengah jam hanya keheningan menyelimuti suasana di dalam mobil, Rika yang sudah di peringatkan oleh Jhon agar tetap diam tanpa bicara, Dia menuruti nya. Sementara di kursi belakang, Egi terlihat berwajah muram di tekuk akibat teringat akan kesedihan penyebab kematian ibu nya.


"Rik," panggil Annisa menatap lurus ke depan.


"Iya Nis."


"Jangan melihat ke belakang yah."


Rika tersenyum mengangguk. "Tenang, anggap saja aku patung," sahutnya. Lalu ia memutar kaca depan ke atas agar tidak bisa melihat keadaan di kursi belakang.


Annisa beralih menoleh ke suaminya yang bersedekap tangan di depan dan terlihat melamun dengan pandangan kosong keluar jendela. "Egi." Dia mendekat, merangkul bahunya dan meletakkan kepala Egi di bahu.


"Jangan sedih lagi, hidup dan mati nya manusia memang sudah di tentukan. Begitu pun ibu mu, dia sudah tenang di alam sana. Cukup kau doakan karena hanya doa dari anak sholeh yang sedang ibu mu harapkan di sana," tutur lembut Annisa membelai rambut Egi.


Pria dalam pelukannya, melingkarkan kedua tangan ke pinggang Annisa. Dia merapatkan dirinya. "Sayang," ucap Egi.


"Hemm," Annisa menyahuti dengan terus membelai rambut Egi.


"Makasih telah hadir dalam hidup ku," ucap Egi pelan sedikit serak.


Annisa mengangguk. "Hem," Dia menunduk melihat wajah Egi. "Kalau gitu jangan sedih lagi, Egi sayang."


Mendengar kata terakhir dari kalimat yang di ucapkan Annisa. Sontak Egi mengangkat kepala nya, menatap dengan mata sedikit melebar tak percaya. "Sayang? Kau memanggil ku apa tadi?"


"Ada apa dengan mu Egi? Kenapa mood mu berubah cepat seperti ini?" Alis Annisa berkerut bingung, sambil mengusap wajah Egi.


"Aku bertanya, kau memanggil ku apa tadi?" Antusias Egi menangkup sisi wajah Annisa dengan kedua tangannya agar mengarah fokus ke arahnya.


Annisa tersenyum, masih mengusap pelan wajah Egi. "Apa yah aku lupa." Dengan mata melirik ke atas sekilas, seakan sedang berpikir.


Seketika Egi memberenggut sebal. "Annisa," geramnya.


Terkekeh geli mencubit ujung hidung laki-laki di hadapannya. "Iya, Egi sayang." Annisa menyahuti dengan lembut di akhiri senyuman.


"Akhirnya kau memanggil ku seperti itu juga," girang Egi mendekatkan wajah Annisa dengannya hendak mencium bibir merah merekah itu.

__ADS_1


"Hey," Annisa menahan bibir Egi dengan jemarinya. "Nyosor aja, lihat kita lagi dimana," melirikkan mata ke arah kursi depan.


Egi ikut memutar bola mata nya melirik ke arah yang di tunjuk istri nya. Dia tersenyum menurunkan telunjuk Annisa di bibirnya. Lalu...


Cup.


Dia mengecup kilas kedua pipi Annisa dan kembali memeluk tubuh gadis itu dengan erat. "Sayang, coba panggil lagi aku dengan panggilan seperti tadi," ucap manja Egi mengusap pelan punggung Annisa.


Annisa tersenyum malu menepuk pelan dada Egi. "Apaan sih, malu Egi."


Menunduk melihat wajah merah merona nya Annisa. "Kenapa harus malu, mereka berdua juga bilang anggap saja patung. Jadi anggap saja kita hanya berdua di sini," Egi berucap sambil mencolek pipi Annisa.


Annisa sedikit mendorong dada Egi dan mendongak menatap. "Hn, sayang," ucap Annisa malu-malu dan segera memeluk kembali tubuh Egi menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.


Egi terkikik senang, membalas pelukan Annisa dengan erat. "Panggil sekali lagi," pintanya merajuk.


"Nggak mau."


"Lagi, sayang."


"Egi bocah."


"Bukan seperti itu, tapi seperti tadi."


"Egi bocah."


"Bukan seperti itu."


"Egi bocah."


"Sayang kau minta di hukum di sini. Panggil yang benar."


Annisa terkikik geli. "Egi bo-cah." Melafalkan kata terakhir dengan sengaja.


Sementara di kursi depan, Rika menutup bibirnya menahan tawa geli mendengar percakapan dari kursi belakang. "Manisnya mereka," celetuk Rika membuat Jhon yang sedang fokus menyetir melirik ke arahnya.


"Kau ingin seperti mereka?" Jhon bertanya memecah kecanggungan di sekitarnya.


Rika menoleh tersenyum mengangguk. "Setiap pasangan suami istri pasti mengharapkan rumah tangga nya harmonis, seperti pasangan yang ada di belakang kita."


Jhon mendengus, tersenyum miring. "Harmonis yah," Dia menatap lurus ke jalanan. "Tapi sepertinya, kau tidak akan bisa mendapatkan kata harmonis itu, dalam kehidupan rumah tangga mu," lanjutnya tersenyum meremehkan.


"Pak Jhon yang tidak akan bisa mendapatkannya, bukan saya. Pak Jhon tau, karena apa?" Rika menyahuti masih menoleh ke arah pria di sampingnya.


"Ck," Melirik sejenak lalu kembali beralih ke depan yang ternyata jalan perempatan. "Apa itu?" Jhon berucap sambil melambatkan laju mobil hendak berhenti di lampu merah.


Rika merngambil sebuah botol minuman dari dashboard samping kursi nya. "Lidah pak Jhon yang tajam, suka nyinyir, juga suka merendahkan orang dengan mudah. Jadi saya pikir kata-kata pak Jhon tadi itu, pantasnya untuk bapak bukan untuk saya," ketus Rika hendak membuka tutup botol minuman yang masih tersegel itu dengan tangannya yang terluka di perban.


Jhon menoleh melihat apa yang akan di lakukan Rika. Dia tersenyum mengejek. "Bodoh! Tangan sudah di bungkus juga masih berlaku sok bisa." Dia dengan kasar merebut botol minuman dari pegangan Rika. "Saya tidak merendahkan siapa pun, karena saya mengatakan sesuai apa yang saya nilai dan lihat. Contohnya sepertimu, wanita bodoh yang ceroboh."


Humph... Rika melirik geram menatap Jhon dengan tatapan tak bersahabat. "Saya tidak bodoh, jangan memanggil saya seperti itu lagi!"


Jhon tersenyum senang, tanpa menjawab ucapan Rika. Dia membuka tutup botol lalu meminum air nya.


"Hey, itu minuman saya! Kembalikan," Rika semakin geram tangannya terkepal.


"Hah, segarnya." Celetuk Jhon setelah menenggak setengah air dari botol itu. Kemudian membuang tutup botol kebawah kursi sehingga mengenai sepatu. Dia menoleh ke Rika, dan menyodorkan botol bekas minumnya. "Minumlah, bukannya kau haus," ucap Jhon dengan santai tanpa merasa berdosa.


Rika masih diam menatap dengan alis tertaut geram, tangannya terkepal dan gerahamnya mengkerat kesal.


Gila! Masa aku di suruh minum bekas bibirnya. Benar-benar gila...

__ADS_1


Lampu merah telah berubah hijau, namun Rika masih saja diam belum menerima botol yang di sodorkan Jhon. "Minumlah." Jhon menaruh botol itu ke dashboard tengah. Lalu kembali ke stir mobil untuk melajukannya.


Rika melirik botol minum yang di letakkan di dashboard. Sebenarnya aku sangat haus, tapi masa aku harus meminum dari bekasnya pak Jhon sih.


Karena tidak terdengar percakapan dari kursi belakang. Rika memberanikan diri menengok ke belakang yang ternyata Annisa tengah tertidur dalam pelukan Egi, begitu pun sebaliknya sama-sama tertidur memeluk tubuh Annisa.


Hah, pantas tak ada suara. Rika mengedarkan pandangannnya ke sekitar kursi belakang. Nisa, masih ada air minum nggak yah, tapi tak tega juga membangunkannya.


Jhon yang melihat tingkah Rika. Dia tersenyum sinis. "Kau tidak punya pilihan lain selain meminum air dari botol itu, jangan membangunkan mereka jika kau punya otak."


"Huh," dengus Rika melirik sebal, dan membenarkan posisi duduknya. "Lidah bapak tidak pernah berubah, masih tajam saja." Dia menyambar botol tersebut dan menenggak air nya hingga tandas, membuat Jhon yang menyaksikan menyeringai puas.


Krak.


Rika meremas geram botol kosong tersebut dengan sebelah tangan yang tidak terluka.


"Wanita bodoh, mulai sekarang kau milik ku," celetuk Jhon tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.


"Hah!" Kaget Rika menoleh. "Ba-bapak bilang apa tadi?" Gagapnya bertanya memastikan apa yang di dengarnya.


Jhon melirik sekilas. "Wanita bodoh, ceroboh yang sangat bodoh."


"Tidak! Bukan itu yang saya dengar. Tapi hal lain," seru Rika cepat.


"Hal lain? Apa itu?" Jhon bertanya berpura-pura tidak tahu.


Jelas-jelas dia berkata milik ku. Apa maksudnya itu?


Rika berdehem sejenak, mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menghilangkan ke gugupan. "Tid-tidak ada. Lupakanlah." Dia memalingkan wajah merah merona nya ke kaca jendela.


Jhon terkekeh pelan. "Apa yang kau pikirkan wanita bodoh? Apa kau berharap aku mengatakan sesuatu yang kau harapkan?" tanyanya menggoda.


Dia menggunakan kata 'aku' bukan 'saya lagi'.


"Tidak!" Sahut Rika cepat. "Tentu saja tidak! Jadi lupakan saja, jika saya pernah bertanya pada bapak," lanjut Rika.


"Hemm... jangan panggil aku bapak, panggil sesuka mu saja." Jhon berucap tenang, menatap lurus ke jalan.


"Hah!" Kaget Rika lagi, menoleh terlongo.


"Sesuaikan ekspresi mu dengan wajah jelek itu. Jangan berlebihan."


Bibir atas Rika terangkat sedikit. "Ck," decaknya. Mengalihkan pandangan ke depan. "Lidah mu masih saja tajam sih, jojo."


"Jojo?" Jhon menyahut dengan alis terangkat.


"Iya, JOJO." Rika mengangguk, kembali melirik ke arah pria di sampingnya. "Itu panggilan dari ku untuk mu Jojo."


"Aku tak suka dengan panggilan itu, ganti dengan yang lain."


Rika tersenyum menyeringai. "Tidak ada tawar menawar Jojo."


"Wanita bodoh!" Seru Jhon melirik sebal.


"Kau juga memanggilku seperti itu, jadi ganti panggilan ku. Karena aku punya nama. Rika nama ku R-I-K-A." Eja Rika memperjelas.


Jhon melirik tersenyum kecil. "Wanita bodoh. Di mata ku kau wanita bodoh yang sangat ceroboh dan jelek, untuk itu panggilan itu pantas untuk mu."


"Terserah kau sajalah, Jojo." Rika menyahuti sambil membuang muka ke arah jendela.


Sepertinya memang sudah dari sana nya dia memiliki lidah tajam seperti itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2