Pejuang Move On

Pejuang Move On
Permintaan


__ADS_3

Jhon keluar dari ruangan putra.


"Tuan Egi dan Nona annisa," ucap jhon pengawal pribadi putra.


Seketika Annisa dan Egi menoleh ke arah suara dan berdiri.


"Bagaimana keadaan ayah?" tanya Egi serempak.


"Bagaimana keadaan Tuan Putra?" tanya Annisa serempak dengan Egi.


Annisa dan Egi saling lirik sejenak lalu membuang muka.


Cih!! Berbarengan bertanya dengan nya saja aku muak rasa nya.


"Tuan Egi dan Nona Annisa di perintahkan untuk masuk ke dalam," titah Jhon.


Annisa mengangguk begitu pun Egi. Lalu mereka berdua langsung masuk ke dalam ruangan Putra.


Sementara Sekertaris Tang mengekori kedua nya dari belakang.


Kedua nya telah memasuki ruangan dan berjalan menghampiri ranjang putra yang sudah di kerubungi dokter, Arga dan beberapa pengawal.


Melihat Annisa dan Egi sudah berada dalam ruangan. dua orang dokter yang menangani Putra, pamit menunduk hormat lalu keluar ruangan.


Annisa melihat ke arah ranjang, Yang terlihat Putra sudah membuka kan mata nya namun terlihat sayu dan ada selang infusan di tangan kiri nya.


"Egi dan kau kemari, kakak mau berbicara pada kalian," ajak Arga menarik kasar sebelah lengan Egi sedang Annisa mengekori kedua nya.


Arga mengajak kedua nya ke pojok ruangan agar sedikit menjauh dari ranjang Putra.


"Ada apa kak?" tanya Egi bingung karena di tarik kasar.


Plakk.. Arga menimpuk kepala Egi dengan keras membuat Egi mengusap bekas keplakan Arga karena terasa panas.


Sedang Annisa terperanjat kaget dengan apa yang di lakukan Arga.


Kenapa dia di timpuk oleh kakak nya.


"Kau sudah membuat ayah seperti ini, masih saja bertanya ada apa hah!!" bentak Arga namun dengan nada suara normal tidak berteriak.


Egi menunduk."Ayah sakìt apa Kak?" tanya Egi to the point.


Arga menghela napas sambil berkacak sebelah pinggang."Ayah terkena aritmia, karena hipertensi dan syok. Sebenarnya apa yang di lihat ayah saat di kamar mu sehingga membuat nya sampai seperti ini," tanya Arga.


Annisa yang berdiri di antara nya sedikit membelalakan mata nya menatap Arga.


Apa kata nya tadi!! aritmia, hipertensi. bukannya tadi aku sudah cek darah nya normal dan juga tidak ada tanda tanda aritmia. Atau mungkin aku nya saja yang salah mengecek, tapi...mana mungkin selama ini aku tidak pernah salah dalam pemeriksaan. Hah..sudahlah aku kan hanya seorang mahasiswi pasti masih keliru dengan pemeriksaan yang memang harus nya dokter yang melakukan nya bukan aku seorang mahasiswi kebidanan.


"Egi kepergok ayah berduaan dengan Annisa di kamar kak" jujur Egi.


"Apa!! Bukannya kakak sudah memperingatkan mu agar lebih berhati hati lagi. Dan jangan melanggar di luar batasan nya, kenapa sekarang kau malah berbuat seperti itu Egi..pantas saja ayah sampai seperti ini ternyata kau sudah berbuat yang jelas jelas ayah sangat tidak menyukai nya dan melanggar aturan nya," tutur Arga dengan nada kesal.


"Maafkan Egi kak, Egi tidak tahu jika ayah akan datang ke kamar," ucap Egi merasa bersalah.


"Kenapa kau meminta maaf pada ku. Minta maaflah pada ayah, dan kau juga harus meminta maaf pada ayah ku. Karena ulah kalian ayah jadi seperti ini," titah Arga pada Egi dan Annisa.


"Ba..baik kak," ucap Egi.


"Iya Tuan Arga," ucap Annisa.


"Dan ingat, kalian jangan berbicara yang mengundang emosi ayah lagi itu akan berakibat fatal bagi kesehatan nya. Sedikit membuat ayah emosi dan kesehatan nya menurun, kakak tidak akan memaafkan kalian," tegas Arga lalu berlalu meninggalkan kedua nya.


Egi melirik Annisa yang masih menunduk.


"Kau, harus mengikuti alur yang akan ku main kan," ucap Egi lalu meninggalkan Annisa yang masih mematung.


Kenapa jadi ruwet gini sih, serasa sudah terjerat di lubang yang dalam.


Annisa menyusul Egi dan mengikuti nya untuk menghampiri ranjang Putra.

__ADS_1


"Kemarilah Egi dan nak Annisa," pinta Putra dengan suara lemah


Egi segera mendekat ke samping ranjang dan duduk di kursi kecil. Sedang Annisa masih berdiri mematung di tempat nya.


Mau apa tuan putra meminta ku mendekat. Apakah akan menghukum dan menuntutku karena telah membuat nya sampai seperti ini, ya tuhaan selamatkanlah hamba.


"Kau mendekatlah," titah Arga dan mengisyaratkan dengan lirikkan mata ke Annisa.


Annisa menatap ke arah Arga sejenak lalu dengan langkah cangggung annisa mendekati ranjang putra dan berdiri di samping Egi.


"Ayah bagaimana keadaan mu, maafkan egi ayah. Bukan maksud Egi menyakiti ayah dengan perbuatan bejat egi" tutur Egi sambil memegang tangan Putra yang tidak di infus.


Sepertinya dia sangat menyayangi ayah nya sampai perbuatan yang tidak sesuai fakta nya pun dia rela meminta maaf seperti itu ke ayah nya.


"Kau sudah membuat ayah kecewa egi," tutur Putra lemah.


Memegang erat tangan Putra.


"Maafkan Egi, ayah. Sungguh egi tidak melakukan hal seperti itu. Kejadian tadi hanya tidak di sengaja ayah," ucap Egi merasa bersalah.


"Ayah melihat nya dengan jelas egi, kau jangan menyangkal nya lagi. Ayah benar benar kecewa terhadap mu," tutur Putra sambil membuang muka ke arah lain.


Memang benar mau di jelaskan bagaimana pun akan percuma karena mengingat kejadian tadi itu akan membuat siapa pun yang melihat nya akan beranggapan yang sama seperti tuan putra. Jika sudah begini aku harus bagaimana, tapi jika aku yang menjelaskan apakah tuan putra akan memahami nya yah..tp di coba dulu deh.


"Tuan," ucap Annisa menunduk.


"Sebenarnya yang dikatakan Egi itu benar, kejadian tadi itu tidak di sengaja. Karena pada saat itu saya terjatuh dan tidak sengaja menarik egi sehingga ikut terjatuh," ucap Annisa meluruskan untuk membenarkan kesalah pahaman.


"Mau kau berkata seperti itu pun saya tidak akan percaya nak Annisa. Bagaimana mungkin saya akan percaya sedang kalian adalah sepasang kekasih berdua di dalam kamar dan kepergok seperti itu. Bukan kah itu sudah menjadi bukti jika kalian pasti selalu berduaan di dalam kamar," tutur Putra dan kembali membuang muka ke arah lain.


Benar juga apa yang di katakan tuan putra, aku kan sedang bersandiwara menjadi kekasih nya ni anak. Terus kalau sudah begini aku tidak bisa menyangkal nya lagi.


"Tapi Ayah..." sanggah Egi hendak berbicara.


Namun Putra menatap Egi tajam.


Egi tahu jika ayah nya sudah berkata dan bersikap seperti itu. Itu tanda ayah nya sudah benar benar marah dan kecewa.


Egi menghela napas panjang lalu egi mencium punggung tangan putra dan menatap putra dengan tatapan teduh.


"Maafkan Egi ayah..baiklah egi akan melakukan apa pun sesuai dengan permintaan ayah, asal ayah mau memaafkan egi. Jadi katakanlah ayah, apa yang harus egi lakukakan agar ayah memaafkan egi," tutur Egi pasrah.


Putra menoleh ke Egi.


"Benar kau akan melakukan apapun yang ayah pinta?" tanya putra memastikan.


Mengangguk kecil."Iya ayah..apa pun itu," ucap Egi.


"Baiklah ayah minta kalian berdua hari ini juga MENIKAH," pinta Putra membuat Annisa dan Egi membelalak kaget.


"Menikah!!" serempak Annisa dan Egi.


Putra mengangguk mengiyakan.


"Kenapa harus menikah ayah, egi kan masih anak sekolah," sanggah Egi tidak setuju.


"Iya benar tuan, dan lagi saya dengan nya terpaut 2 tahun umur nya bahkan lebih tua an saya," sela Annisa.


"Bisakah ayah meminta hal lain, asal jangan hal ini," ucap Egi memohon.


Putra menggelengkan kepala nya.


"Ayah tetap meminta kalian menikah, karena kesalahan kalian itu sangat fatal dan di larang oleh agama. Berduaan di dalam kamar dan bahkan bermesraan seperti tadi, ayah tidak mau rumah ini kalian kotori dengan kelakuan yang tidak bermoral itu," tutur Putra masih kekeh dengan keinginan nya.


Apa aku sedang bermimpi. Kenapa situasi nya jadi begini. Aku harus bagaimana gumam Annisa dalam hati.


Egi semakin mempererat pegangan nya ke tangan putra."Tapi ayah..egi janji tidak akan mengulangi kejadian yang sama lagi. Atau egi akan memutuskan dan menjauhi dia agar tidak terjadi hal seperti tadi lagi," tegas Egi sambil menunjuk annisa


Annisa mengangguk angguk mengiyakan setuju dengan penuturan egi.

__ADS_1


Plakk... Putra menampar wajah Egi cukup keras membuat suasana seketika sangat hening.


"Kau bilang apa anak bodoh!! Kau mau memutuskan nya, apa kau mau lari dari tanggung jawab mu yang sudah menyentuh nya dan berbuat seperti tadi. Tidak ada dalam keluarga ini yang lari dari tanggung jawab dan jadi pengecut juga jadi pria brengsek seperti mu. Kau sungguh membuat ayah sangat kecewa anak bodoh," tutur Putra dengan nada kesal dan kembali membuang muka ke arah lain.


Egi memegang pipi nya yang terasa panas. Bagi egi seumur hidup, baru kali ini ayah putra menampar nya. Jika sudah begitu, egi yakin jika ayah putra sudah sangat kecewa dan marah besar terhadap nya sehingga menampar nya.


Tuan putra menampar dia. Apa yang harus aku lakukan, jika aku bersuara juga seperti nya tidak akan mengubah keadaan dan bahkan akan menambah suasana semakin kacau. Ya tuhaaan hamba harus bagaimana, apakah ini takdir dari mu ya tuhaan. Tp kenapa harus dengan orang seperti dia hamba di takdir kan nya.


Egi terdiam membisu dan menundukkan pandangan nya.


Annisa, Arga dan yang lainnya yang menyaksikan adegan itu, hanya bisa terdiam dan membeku di tempatnya.


Dengan gerakan pelan egi memegang tangan putra."A..yah" panggil Egi pelan dan terbata.


Lalu egi dengan ragu ragu menatap putra yang masih membuang muka. Dan egi menghela napas panjang.


"Baiklah egi akan menikahi dia, jadi maafkan egi, Ayah," tutur Egi sukses membuat Annisa, Arga dan yang lainnya menatap ke arah nya.


Putra menolehkan kepala nya ke arah Egi.


"Ekhem..ayah akan memaafkan mu dan merasa lega. Jika pernikahan mu dengan Nak Annisa, nanti malam telah Sah," ucap Putra.


"Nanti malam!!" celetuk Annisa kaget sambil menutup mulut nya yang terbuka.


Sedang Egi sudah pasrah dengan keadaan nya.


Putra mengangguk mengiyakan.


"Iya nanti malam sehabis isya. Biar Jhon mempersiapkan nya, kau hanya perlu menuruti saja," jelas putra.


Annisa melirik Egi yang menunduk pasrah dan melirik Putra kembali.


"Tuan apakah ini tidak terburu buru?" tanya Annisa memastikan.


"Lebih cepat lebih baik, karena saya tidak ingin hal seperti tadi terulang lagi di rumah ini. Jika kalian sudah Sah, kalian bebas melakukan hal apa saja yang tidak melanggar peraturan agama juga rumah ini," tegas Putra.


Membuat Annisa semakin syok dan membeku di tempat nya.


Dengan gerakan kaku annisa menatap kembali ke putra."Tu...Tuan, bolehkah saya meminta sesuatu sebelum pernikahan ini terjadi," tanya Annisa.


Putra mengangguk.


"Silahkan Nak, karena kau sekarang sudah akan menjadi menantu ku jadi apa pun yang kau minta akan aku usahakan untuk memenuhi nya," tutur Putra.


"Bisakah pernikahan ini jangan sampai di ketahui dahulu oleh keluarga di panti, sa..saya masih belum sanggup menghadapi bibi karena menikah dadakan seperti ini," pinta Annisa.


"Nak Annisa, pernikahan ini akan kita laksanakan agar kamu dan egi Sah di hukum agama terlebih dahulu, dan soal Sah di hukum negara akan menyusul nya nanti karena harus mempersiapkan berkas dan mendaftarkan nya, dan selama proses itu kami akan memberitahukan pernikahan kalian secara pribadi pada bibi panti mu. Dan untuk acara resepsi nya, akan di adakan jika egi sudah mampu. Jadi jika itu permintaan mu saya menyetujui nya Nak," jelas Putra membuat Annisa bernapas lega namun masih syok dengan apa yang terjadi.


Melihat Annisa mengangguk dan terdiam.


"Baiklah sepertinya kau tidak akan ada yang di tanyakan lagi," ucap Putra.


Lalu melirik pengawal nya."Jhon" panggil Putra.


Jhon maju mendekat ke ranjang." Iya Tuan."


"Antarkan Nak Annisa untuk ke kamar tamu, agar bisa bersiap siap dengan pernikahan ini. Dan juga panggil perias terbaik untuk merias Nak Annisa," titah Putra.


"Baik Tuan," berjalan menghampiri Annisa yang mematung.


Annisa dengan langkah gontai karena masih syok dengan apa yang terjadi hanya bisa menuruti dan mengekori jhon yang membawa nya entah kemana.


Sementara Egi masih menunduk dengan pikiran nya sudah kalut dan pandangan nya kosong.


"Kau keluar Egi, dan siap siap untuk menikah," tegas Arga sambil memegang kedua pundak Egi.


Dengan pasrah Egi bangkit dari duduk nya dan berjalan pelan menuju pintu keluar tanpa berkata atau menoleh ke Putra atau pun Arga.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2