
Lift yang di naiki Egi dan Jhon telah terhenti di lantai 3 tempat dimana lift Annisa tertahan. Begitu pintu itu terbuka, segera Egi berhambur keluar dan berlari mencari titik letak lift Annisa di ikuti Jhon yang membuntuti Egi.
Di depan elevator yang tertahan, tampak beberapa anggota pemadam kebakaran yang tengah berusaha untuk membuka, dan membongkar pintu elevator yang dimana di dalam nya ada Annisa.
Egi berlari ke arah kerumunan orang itu dan menendang, mencekal, menghempaskan beberapa orang yang ada di depan elevator sehingga orang orang itu tersingkirkan dengan terjerembab terpelanting ke lantai.
"Annisa! Annisa! Kau mendengarku!"
Bam...bam...bam..
Egi memukul pintu lift yang tertutup rapat itu dengan keras.
"Tuan Egi!" Seru Jhon mencekal sebelah lengan egi. "Anda jangan seperti ini!"
Egi memberontak dan mengedikkan kasar tangan nya sehingga cekalan tangan Jhon terlepas di lengan nya. "Annisa terluka Jhon! Annisa di dalam! Aku harus segera menyelamatkannya!" Teriak Egi.
Bam...bam...bam.
Egi kembali memukul mukul pintu yang tertutup itu.
"Annisa! Sayang! Jawab aku!" Seru Egi sambil memukul pintu itu.
Jhon menghela napas kasar. "Anda jangan seperti ini tuan! Biarkan mereka melakukan tugas nya!" Bentak Jhon.
Namun egi tidak menggubris ucapan Jhon dan tetap memukul mukul pintu itu dengan terus berteriak memanggil nama Annisa.
Jhon kembali menghembuskan napas kasar. "Aaarggh...," geram Jhon mengusap kasar wajah nya dengan sebelah tangan, lalu melirik beberapa perawat juga dokter sekitar yang tengah berjalan ke arah nya.
"Cepat suntikkan obat bius pada nya agar lebih tenang," perintah Jhon menghampiri dokter laki laki itu.
__ADS_1
Lalu Jhon mengisyaratkan pada beberapa tim pemadam kebakaran yang tengah menyaksikan Egi yang sedang memukul bahkan menendang pintu elevator.
Jhon memberi isyarat agar mereka mencekal kedua lengan Egi. "Lakukan!" titah Jhon dengan gerakan tangan.
Segera dua orang anggota tim itu mendekati dan mencekal kuat lengan Egi di sisi kiri dan kanan.
"Annisa! Annisa!" Teriak Egi sambil kaki terus menendang nendang gak jelas.
"Kenapa kalian menghalangi ku! Cepat selamatkan istriku! Annisa!" Teriak nya lagi memberontak dari cekalan kedua petugas itu.
Jhon menoleh ke dokter pria yang tengah memegang jarum suntikkan dan perlahan mendekati Egi. "Cepat lakukan!" Perintah Jhon pada dokter itu.
Dan segera dokter pria itu menyuntikkan jarum itu ke bagian leher egi yang terbuka. "Jhon... Annisa...," ucap Egi melemah seiring tubuh nya melemas lunglai tak sadarkan diri, segera tubuh Egi sebelum ambruk ke bawah langsung di tahan oleh beberapa perawat laki laki untuk di angkat ke ranjang brankar.
Hah... Jhon menghembuskan napas kasar dan mendekati ranjang brankar Egi. "Jika tuan bisa tenang sedikit, saya tidak akan melakukan hal ini."
Lalu menatap ke arah tim pemadam kebakaran yang sudah kembali ke tugas nya untuk menyelamatkan Annisa dari dalam elevator. "Segera kalian selamatkan nona. Dia terluka di dalam. Jadi segera mungkin harus di selamatkan agar bisa di berikan penanganan yang tepat." Instruksi Jhon.
Dan kembali Jhon melirik Egi yang tampak tenang di atas ranjang brankar. "Jangan di bawa ke ruang inap. Ikuti saya ke tempat yang tepat, biar sekalian saya bisa memantau kedua nya." Instruksi Jhon melangkah ke arah lain yang langsung di ikuti beberapa perawat yang mendorong ranjang brankar Egi.
------------------
Di sebuah koridor, lantai khusus untuk penanganan keluarga putra sang pemilik rumah sakit. Di koridor itu, terlihat beberapa bodyguard dengan wajah tanpa ekspresi dan berjas rapih berjejer berdiri di sekitar Jhon dan Egi.
Tampak terlihat jelas di raut wajah Jhon yang gelisah, gusar dan tak tenang. Ia terduduk di sofa panjang menghadap ke arah pintu IGD yang tertutup rapat dan sebuah ponsel di pegangan tangan nya. Sementara Egi masih tak sadarkan diri di ambang sadar nya, karena obat bius yang di suntikkan tadi masih berefek.
Egi terbaring di bawah selimut di sofa panjang tanpa sandaran di dekat sofa yang di duduki Jhon.
Setelah Egi di tenangkan oleh suntikkan obat bius yang membuatnya tak sadarkan diri, selang 15 menit kemudian Annisa sudah di selamatkan dari dalam lift dan langsung di dorong ke ruang IGD di lantai khusus. Sampai saat ini juga, jhon sudah menunggu sekitar 1 jam lebih namun pintu ruang IGD masih belum menandakan akan terbuka juga.
__ADS_1
"Hemm... Annisa... Annisa," ceracau Egi yang sudah mulai tersadar namun mata nya masih terpejam.
Jhon yang tengah menatap layar ponsel, mengalihkan pandangan nya ke arah Egi berada. "Tuan Egi," ucap Jhon.
"Annisa!" Seru Egi langsung terbangun dengan mata terbuka lebar, dan mendudukkan diri lalu menunduk memegangi kepala nya.
"Anda sudah sadar tuan," ucap Jhon menyambut Egi dengan senyuman kecil namun pahit.
Egi menoleh ke arah Jhon. "Kenapa aku ada di sini? Dimana Annisa Jhon?" tanya nya masih memegang kepala nya yang terasa limbung.
Jhon melirik pintu IGD dan menunjuk nya dengan kedikkan dagu. "Nona, masih di tangani di dalam," jawab Jhon.
Egi menurunkan kedua kaki nya agar terduduk menghadap Jhon. "Sudah berapa lama dia di dalam sana?" tanya nya menundukkan pandangan.
"1 jam lebih."
Mendesah panjang egi memijat pelipis nya yang terasa pening akibat efek samping obat bius. "Satu jam lebih dan masih belum ada kabar tentang istriku!" Ucap nya menggeram.
"Sabarlah tuan Egi, jangan anda lakukan hal yang mengganggu tim medis menangani nona Annisa. Jika anda ingin segera melihat nona keluar dari dalam ruangan itu," tutur Jhon menenangkan.
Egi menghela napas panjang. "Kau benar," ucap nya terjeda dan masih menundukkan kepala. "Tapi kenapa harus kau bius aku juga Jhon!" Sentak Egi mendelik tajam ke Jhon.
"Anda mengamuk bagai banteng menyeruduk ke setiap orang yang tidak bersalah dan menggedor gedor pintu itu, apa lagi yang bisa membuat anda selain tenang jika tidak dengan cara itu. Jadi jangan salahkan saya tuan Egi jika melakukan hal itu," jawab Jhon menjelaskan dengan nada menggebu kesal.
Hah... lagi lagi Egi menghembuskan napas kasar, membuang muka dan tersenyum kecut. "Aku tidak bisa tenang, apalagi saat melihat darah di kepala Annisa...," gumam Egi lemah.
"Dan kau sudah tahu, ketakutan ku jika melihat darah di tubuh orang yang aku sayangi apalagi di tempat ini... kau sudah tahu sejarah kelam keluarga ku," ucap Egi memejamkan mata nya merasakan kesedihan dan gejolak yang tengah meluap luap di dalam diri nya.
Jhon mengangguk kecil. "Saya paham." Sahut nya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Sempatkan Klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaa...