Pejuang Move On

Pejuang Move On
Buku Pemberian


__ADS_3

Di luar gerbang utama rumah Putra, terparkir sebuah motor gede dengan seorang pria duduk di atas nya.


Pria itu adalah Alan, yang sedang menunggu kemunculan Annisa keluar dari gerbang sejak pukul. 08 kurang hingga sekarang sudah pukul. 11 malam Alan masih setia menunggu Annisa berharap yang di tunggu nya akan keluar dari gerbang.


Padahal Alan melihat banyak mobil keluar dari gerbang itu, tp dia tidak menaruh curiga jika telah terjadi sebuah pernikahan di dalam rumah Putra karena pikir Alan banyak mobil yang keluar masuk rumah Putra itu sudah hal biasa jadi dia mengabaikan nya.


"Annisa, semoga kau baik baik saja di dalam sana. Sudah ku telpon beberapa kali tp kenapa selalu tidak di jawab oleh nya. Ada apa dengan nya? Kenapa dia lama sekali di dalam? Apa dia mau menginap? Tp kenapa dia tidak memberitahukan nya pada ku? Sudahlah aku tunggu dahulu sampai dia mengabari ku."


Pertanyaan demi pertanyaan muncul dalam otak Alan karena yang di tunggu tak kunjung datang, Alan kembali memainkan ponsel nya.


Sementara Annisa yang baru selesai mandi, dan tengah menggosok rambut basah nya dengan handuk kecil. Ketika Annisa melirik ke sofa tunggal dimana di sana ada tas gendong nya, tiba tiba terlintas dalam pikiran Annisa mengenai dia meminta di jemput oleh Alan.


Segera Annisa mengambil tas gendong nya, dan mencari ponsel di dalam tas tersebut.


"Aku hampir lupa dengan ucapan ku pada kak Alan. Semoga saja, kak Alan tidak menjemput ku," gumam Annisa sambil menyalakan ponsel.


Begitu ponsel Annisa di nyalakan, banyak notifikasi pesan Wa dan panggilan tidak terjawab dari ponsel nya.


Annisa memeriksa semua pesan dan panggilan yang tak terjawab itu dari siapa saja, dan benar saja sebagian besar pesan dan panggilan itu dari Alan dan selebihnya dari Rika.


Melihat waktu pengiriman pesan dari Alan masih baru, Annisa menekan tombol panggil untuk menelpon Alan.


Menempelkan ponsel ke telinga.


"Assalamualaikum," salam Annisa setelah panggilan di angkat oleh Alan.


"Walaikumsalam, adek Annisa. Kamu di mana?," seloroh Alan langsung bertanya.


"Annisa masih di rumah Mbak Misa, Kak Alan ada dimana?," tanya Annisa kembali.


"Dek Annisa mau menginap di rumah Mbak Misa?," tanya Alan tanpa menjawab pertanyaan Annisa.


"Iya Kak, soalnya kan sudah terlalu larut. Dan pastinya asrama juga sudah di tutup. Kak Alan sekarang ada dimana, Kak Alan tidak menunggu Annisa kan?," ucap Annisa.


"Kakak ada di asrama Dek, ya tidaklah. Buat apa Kakak menunggu mu sampai selarut ini. Tadi sempat ke rumah Mbak Misa untuk menjemput Adek, tp karena tidak ada tanda tanda kemunculan Adek, juga pesan dan panggilan Kakak tidak di jawab jadi Kakak pulang saja, karena takut di tutup asrama nya," ucap Alan bohong.


Annisa bernapas lega."Syukurlah, maaf yah Kak tadi ponsel Annisa kehabisan batrei dan sedang di cas jadi baru sekarang lagi Annisa pegang ponsel," alasan Annisa.


"Iya Dek, tidak apa apa. Dek, sepertinya ponsel Kakak juga akan mati karena habis batrei. Jadi telpon nya nanti di sambung lagi yah. Assalamualaikum Dek Annisa, dan selamat istirahat Dek," pamit Alan.


"Walaikumsalam," jawab Annisa dan panggilan pun terputus.


Alis Annisa berkerut bingung. Karena pada saat diri nya mengobrol dengan Alan, dengan jelas Annisa mendengar suara kendaraan yang berlalu lalang.


"Apa benar Kak Alan sedang di asrama. Tp mana mungkin Kak Alan membohongi ku. Hah sudahlah, yang terpenting aku sudah memberitahukan nya," gumam Annisa.


Lalu melempar handuk kecil bekas mengeringkan rambutnya ke dalam keranjang kotor yang terdapat di pojok kamar dekat lemari yang berjejer.


Annisa mendekati lemari untuk memeriksanya yang ternyata itu adalah lemari perlengkapan kasur juga lemari berisi perlengkapan untuk menunaikan Shalat.


Annisa mengambil satu selimut, bantal, dan bantal guling lalu membawa nya ke atas karpet dekat meja nakas samping ranjang.

__ADS_1


"Aku akan membuktikan pada mu bocah, bahwa aku bisa menjadi istri yang baik dan mentaati perintah mu," tutur Annisa lalu merebahkan tubuh di atas karpet dan menyelimuti tubuh nya.


----------------


Sementara Egi yang berada di ruangan belajar, Egi bangkit dari rebahan di sofa lalu beranjak dan duduk di kursi meja belajar. Alis nya berkerut heran melihat setumpuk buku bersampul anime, lalu Egi meraih dan membuka sampul buku tersebut.


"Siapa yang menaruh buku kanakan ini di sini," ucap Egi tapi masih saja membuka dan membolak balikkan nya.


"Daripada di buang lumayan juga untuk di baca," Egi membawa tiga buku itu ke sofa panjang dan dengan posisi sambil rebahan, Ia mulai membaca nya.


Egi terus tertawa saat membaca setiap lembaran yang ada di dalam buku komik itu, dan tiba di seperempatan lembaran buku, tiba tiba ada sebuah kertas note kecil terjatuh dari dalam nya.


Egi meraih kertas itu yang terjatuh di dada nya.


"Apa ini?" Bingung nya. Sambil membolak balikkan kertas note yang masih tertutup, karena penasaran Egi membuka kertas tersebut lalu membaca isi tulisan di dalam nya. Yang bertuliskan.


Hey.. pria tuli dan bisu yang tidak bisa berbicara dan mendengar dengan indra nya.


Kau bisalah membaca buku ini dengan mata mu.


Aku hanya mengingatkan,Tuhan menciptakan kesempurnaan yang ada di dirimu itu, pergunakan lah dengan baik, terutama telinga dan bibir mu yang seringkali kau tutup rapat sehingga menimbulkan masalah dalam hidup mu.


Aku tahu jika hatimu juga tidak di pergunakan dengan baik, dan malah di sakiti oleh perasaan yang jelas tidak ada manfaat nya yang menurut ku sih MUBAZIR, apa kau tidak kasihan pada hatimu yang terus kau dzolimi.


Dan aku sebagai orang yang baik dan bermurah hati, memberikan sedikit obat lewat buku ini untuk hatimu yang sering kau goreskan luka, bacalah dan tertawalah selepas lepas nya, agar luka hati mu dengan perlahan sembuh.


Semangat dan berjuanglah untuk mengobati hati mu Pria tuli dan bisu.


"Apakah buku ini pemberian s wanita brandal itu, jika bukan dia, siapa lagi yang berani berkata seperti itu pada ku. Ternyata dia mau bermain main dengan ku, lihat saja kau wanita brandal, aku tidak akan membuat mu tertawa lagi selama hidup mu karena kau telah berani merecoki hidupku," tutur Egi dan tersenyum miring.


Egi menutup buku komik yang baru di baca setengah nya, lalu meraih buku lain untuk di baca nya lagi.


Tak berselang lama.


Menutup buku yang di baca nya dengan kasar, lalu melirik kertas note yang sempat di lemparkan tadi, Egi membaca kembali tulisan dalam kertas note itu. Lalu Egi tersenyum misterius.


"Sepertinya akan ku coba wanita brandal," gumam Egi lalu membawa tiga buku komik itu, dan keluar dari ruangan belajar.


Egi keluar dari ruang belajar dan berjalan untuk menuju ranjang nya, pandangan Egi terjatuh pada sesosok Annisa yang sudah tertidur lelap di atas karpet bawah ranjang nya.


Annisa tampak damai di balik selimut dan tampak cantik dengan rambut panjang lurus nya yang di biarkan tanpa tertutup oleh kerudung lagi.


Egi sempat tertegun melihat kecantikan Annisa dan berdiri mematung. Namun, pikiran nya kembali ke alam sadar, yang niatan nya ingin mengerjai Annisa.


Egi menghampiri ranjang dan naik ke atas kasur lalu merebahkan tubuh nya setengah terbaring dengan kepala menyender ke ujung ranjang yang di ganjal oleh bantal, Egi mulai membuka buku komik yang di bawa dari ruang belajar dan membaca nya kembali.


Melirik Annisa yang berada di bawah ranjang.


Damai sekali dia tidur, tp kedamaian mu tak akan ku biarkan berlama lama, wanita brandal.


Membuka buka setiap lembaran buku."Hahahah....," tawa keras Egi sambil membaca buku komik.

__ADS_1


Egi melirik ke bawah lagi, ke arah Annisa yang tampak sedikit terusik dengan tawa nya.


Rasakan kau, sudah ku bilang tidak akan ku buat hidup mu tenang wanita brandal.


Kembali lagi membaca buku komik."Hahaha...," tawa Egi semakin keras yang di sengaja untuk mengusik Annisa.


Melirik Annisa apakah sudah terganggu, dan benar saja Annisa sudah berbalik badan menutup sebelah telinga nya merasa terusik dengan tawa Egi.


Senyuman senang karena lawan sudah merasa terganggu."Hahaha...kenapa ini lucu sekali...hahaha..," ketawa Egi sangat keras sambil memukul mukul kasur dan kaki pun ikutan berontak menendang nendang selimut.


Dan hal itu berhasil membuat Annisa terganggu.


Menutup kedua telinga."Hey, bocah. Bisakah kau diam," teriak Annisa dan bangkit dari tidur nya.


Egi tidak menggubris teriakan Annisa dan malah kembali asyik membaca buku."Hahaha...," ketawa Egi sangat keras membuat Annisa semakin geram.


"Egiii, aku bilang bisakah kau diam dan tidur saja, kenapa kau tertawa di tengah malam begini," teriak Annisa.


Namun lagi lagi Egi tidak menggubris teriakan Annisa."Hahaha...,"terbahak Egi semakin sengaja memperkeras suara nya.


Annisa melemparkan bantal ke arah wajah Egi yang masih tertawa terbahak, sehingga membuat Egi terhenti dari tawa nya.


"Kau..," geram Egi menatap tajam Annisa dan mencengkram bantal yang di lempar Annisa.


"Apa!! Kenapa kau tertawa seperti itu, ini sudah malam. Tidak kah kau lihat jika aku sedang tertidur hah," tantang Annisa dengan nada kesal.


Egi menutup buku komik dengan kasar lalu melemparkan nya ke arah Annisa.


"Bukan kah kau sendiri yang memberikan buku ini untuk ku baca, agar aku selalu tertawa. Kenapa kau sekarang protes, saat aku tertawa," tutur Egi dan tersenyum miring.


"Aku tidak protes hanya saja kau harus tahu tempat dan waktu nya, tidak dengan mengaganggu orang tidur," sanggah Annisa dengan suara cukup tinggi.


Egi melemparkan bantal yang di lempar Annisa tadi.


"Begitukah cara mu yang kata nya ingin menjadi istri yang baik, berbicara dengan nada tinggi terhadap ku. Itu bukan ciri istri yang baik, tapi istri yang durhaka," tutur Egi lalu turun dari ranjang hendak menuju kamar mandi.


"Hey, kau mendoakan ku jadi istri durhaka. Jelas jelas kau yang tidak menghargai ku," teriak Annisa kesal.


Menoleh sedikit dan tersenyum miring.


"Aku tidak mendoakan hanya berkata saja. Sudahlah kau jangan mengharapkan aku untuk menjadi suami mu, tak sudi aku mempunyai masa depan yang pembangkang dan brandal seperti mu," tegas Egi lalu melangkah pergi memasuki kamar mandi.


"Dasar bocah sialan, kenapa kau selalu membuat ku naik darah sih," gerutu Annisa kesal lalu merebahkan kembali tubuh nya ke atas karpet dan menatap lurus ke depan.


Annisa menaruh buku komik yang sempat di lemparkan Egi tadi ke atas nakas.


"Bisa bisa gila aku menghadapi nya jika dengan emosi, benar benar bocah, sepertinya aku harus ekstra legowo menghadapi bocah ini," gumam Annisa lalu menarik selimut nya untuk siap siap tidur kembali.


Habis membaca usahakan tekan tombol LIKE yaaa. dan bila perlu tuliskan COMENT. 😊


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2