Pejuang Move On

Pejuang Move On
Masalah Bekal


__ADS_3

Berjalan di trotoar jalanan besar. Annisa memilih berjalan kaki di banding menaiki kendaraan umum karena jarak ke kampus nya hanya tinggal beberapa ratus meter lagi.


Pandangan mata annisa menunduk memperhatikan ujung sepatu. Dan tiba tiba pikiran nya teringat dengan kartu ATM yang di berikan Egi.


"Lah di kasih kartu tapi nggak di kasih nomor PIN nya sih, percuma dong nih kartu ada di tas," gerutu annisa menyadari kebodohan nya.


Brukk..dugh.


Karena pandangan mata annisa terus menunduk tidak melihat ke depan, annisa menabrak seseorang hingga sesuatu terjatuh dari tangan orang yang di tabrak nya.


Haish kenapa harus pake nabrak orang segala sih. Annisa.. annisa, kenapa ceroboh begini.


Mengambilkan ponsel yang jatuh ke tanah dari orang yang di tabrak.


Wah mana ponsel mahal lagi, bagaimana jika orang ini meminta ganti rugi.


Annisa menyodorkan ponsel itu ke orang yang berdiri mematung tak bergerak.


"Maaf, saya nggak sengaja. Saya terlalu fokus menunduk jadi nya menabrak," tutur annisa pada laki laki berseragam sekolah yang ada di hadapan nya.


Namun laki laki itu hanya menatap terbengong dan dengan gerakan kaku menerima ponsel dari annisa.


Kenapa dia, apa tabrakan tadi membuat nya ada yang cedera, tapi kan dia masih berdiri tegap tidak terjatuh.


Annisa melambaikan tangan di depan wajah laki laki itu."Hey, Apakah ada yang sakit?" Annisa bertanya karena heran.


Tersadar dari lamunan nya dan tersenyum gugup. "Bida..dari tak bersayap," celetuk nya.


Alis Annisa menaut bingung.


"Maksud nya? Eh, maaf tadi saya sudah menabrak. Dan seperti nya ponsel anda tidak ada masalah jadi saya permisi dulu," ucap Annisa lalu melanjutkan langkah kaki nya, melewati laki laki itu begitu saja.


Laki laki itu membolak balikkan ponsel di pegangan tangan nya lalu berbalik. "Hey, tunggu!!" Teriak nya.


Annisa menghela napas panjang dan menghentikan langkah kaki nya.


Apakah orang ini akan meminta ganti rugi. Semoga saja dugaan ku salah, mana mampu aku mengganti rugi melihat ponsel nya saja bukan ponsel biasa.


Annisa membalikkan badan nya dan tersenyum manis namun terpaksa. "I..ya, ada apa?" Tanya annisa pura pura tidak tahu.


Menghampiri annisa dan berdiri di hadapan nya. "Anda sudah membuat ponsel saya tergores cukup parah, jadi saya meminta ganti rugi." Ucap nya sambil menunjukkan ponsel ke hadapan wajah annisa.


Hah tergores kecil tidak apalah, tidak akan mahal bayaran nya.


Alis annisa terangkat sebelah. "Oke berapa ganti rugi nya?" Tanya annisa.


"Satu juta dan saya meminta nya sekarang juga." Ucap nya dan tersenyum.


Annisa membulatkan mata kaget. "Apa anda bermimpi di siang bolong. Mana ada goresan kecil seperti itu saja meminta ganti rugi satu juta. Tidak, saya tidak mau. Jika 10 ribu baru saya akan bayar sekarang juga dan cash," cerocos annisa kesal.


Tertawa pelan. "Seperti nya anda sendiri yang bermimpi. Mana ada ganti rugi dengan uang 10 rb, di belanjakan bakso saja tak cukup apalagi untuk memperbaiki ponsel mahal saya." Ucap laki laki itu dan tersenyum meledek.


"Anda jangan mencoba menipu saya yah, mana mungkin 1 juta palingan mahal nya juga hanya 100 rb, lihat goresan ini sangat kecil jadi 100 rb cukup lah untuk memperbaiki nya." tegas Annisa.


"Saya tidak membohongi anda, jika anda tidak percaya mari kita ke counter ponsel nya sekarang juga." ajak laki laki itu dan lagi lagi memasang senyuman kecil.


Sepertinya jika di perpanjang orang ini semakin ngelunjak. Lebih baik aku kabur saja, masa goresan kecil saja minta ganti rugi sampe satu juta. Apa dia sudah tidak waras.


Annisa menatap geram ke arah nya dan menghela napas pelan.


"Ekhem.." dehem annisa menetralkan kembali sikap dan raut wajah nya agar terlihat tenang.

__ADS_1


"Hey, anda belum cuci muka yah. Lihatlah di mata mu ada belekan nya," ucap annisa menunjuk area mata pada laki laki di hadapan nya.


Seketika laki laki itu sibuk memeriksa mata dan wajah nya.


"Benarkah, tapi saya sudah mandi satu jam tadi pagi." Celoteh nya sambil bercermin ke kamera ponsel.


Haha..terus saja bercermin. Sebaiknya aku kabur sekarang juga sebelum dia menyadari nya.


Melihat lawan nya sibuk dan mengabaikan. Dengan gerakan ke hati hatian dan pelan pelan annisa berbalik lalu berlari sekencang kencang nya menjauhi laki laki itu.


"Hey, bidadari tak bersayap. Kau belum ganti rugi," teriak laki laki itu karena telah di bohongi annisa lalu tertawa pelan melihat tingkah annisa.


"Hah, lucu nya. Kenapa aku bodoh sekali bertemu sudah dua kali masih saja tidak mengetahui nama nya. Semoga saja bertemu lagi dengan nya," gumam laki laki itu lalu berbalik dan berjalan untuk menuju ke tempat teman nya yang sudah menunggu.


----------


Di dalam mobil.


Egi masih menunggu Ray yang tak kunjung datang, sudah 10 menit egi menunggu nya.


"Kemana dia, apa s Ray nggak sekolah hari ini. Biasa nya jam segini sudah menunggu ku di sini," gumam egi sambil melirik jam yang melekat di pergelangan tangan nya.


Tok..tok..tok.


Ray mengetuk jendela kaca mobil, agar egi mau membuka kunci pintu nya.


Egi membuka kan kunci pintu mobil. Dan Ray langsung masuk duduk di kursi penumpang depan.


"Kenapa lama, jika saja lo telat satu menit lagi gue udah cabut duluan." Seloroh Egi dengan nada kesal.


Lalu Egi mulai menyalakan mesin mobil dan melajukan nya untuk bergabung dengan kendaraan lain di jalanan besar.


Egi tidak menjawab ucapan Ray lagi, Ia lebih memilih fokus ke jalanan dan kemudi nya.


Ray membolak balikkan ponsel nya yang sempat terjatuh tadi lalu cup..cup.. Ray mengecup beberapa kali ponsel nya, membuat egi yang melirik kelakuan Ray jadi bergidik ngeri.


"Hey, lo sehat Ray?" Tanya egi yang aneh dengan Ray.


Mengangguk semangat lalu tersenyum dan menyenderkan kepala nya.


"Sangat sangat sehat luar dalem bro," jawab nya sambil memejamkan mata.


"Jika sehat, kenapa ponsel lo cium cium gitu. Stress yah lo."


"Iya stress nggak dapet nomor ponsel dan nggak tahu nama nya tuh cewek." Jawab Ray.


Alis Egi terangkat sebelah. "Maksud lo?"


Bangkit dari senderan kursi lalu menatap egi. "Lo tau nggak gue telat karena apa?"


Menggelengkan kepala sebagai jawaban tidak dan mata tetap fokus ke jalanan.


"Gue telat karena ketemu bidadari tak bersayap. Gila aslinya bro, kalau dari jarak deket cantik banget. Sampe sampe gue nggak bisa berkedip, tambah lagi tingkah nya itu gemesin apa adanya," cerocos Ray mengekspresikan annisa.


"Bidadari tak bersayap?" Bingung Egi.


"Iya yang waktu itu gue pernah cerita ke lo, kalau ada seorang nenek yang kecopetan nah yang nolongin nya itu, bidadari tak bersayap."


Mengangguk kecil. "Terus."


"Sayang nya gue nggak sempat tanyain nama dan nomor ponsel tuh cewek, gi." Memasang wajah cemberut.

__ADS_1


"Sadar Ray cewek2 lo mau di kemanain jika lo gebet lagi tuh cewek."


"pokok nya jika nanti ketemu lagi sama tuh cewek, akan deketin sampai dapet dan nggak gue lepas. Dan soal ke 4 cewek mainan, gue akan buang dan putusin seketika itu juga."


"Gila otak playboy lo, pinter juga."


"Yaiyalah percuma gue di cap playboy kalau nggak pinter hadepin soal cewek." Bangga Ray.


"Pinter lo membawa karma Ray, tobat lo sebelum kena karma. Udah kena bau tau rasa lo."


"Gue udah tau rasa nya tuh kurma, dan rasa nya tuh enak banget bagus juga untuk kesehatan badan, bikin gue tambah ganteng." Tanggap Ray.


Egi menggelengkan kepala nya beberapa kali lalu fokus pada jalanan tidak mau lagi mendengarkan ocehan Ray yang menurutnya jika di ladenin akan tambah parah.


Tidak mendengar suara egi lagi, Ray melirik ke Egi yang fokus mengemudi lalu pandangan ray jatuh ke sebuah paper bag yang ada di samping kanan nya.


Mengambil paper bag itu. "Apa ini?"


Namun egi yang fokus ke jalanan tidak menyadari jika Ray sudah mengambil paper bag pemberian dari annisa.


Ray membuka isi paper bag itu seketika mata nya membulat. "Wah, lo bawa bekal buat gue yah. Tau aja lo, kalau gue belum sarapan." Oceh nya lalu membuka tutup bekal itu.


"Heemm." Gumam egi tanpa melihat apa yang di lakukan Ray.


Ray mencolok satu potongan kimbab di dalam kotak bekal itu lalu menyuapkan nya ke mulut.


"Waw ini rasa yang benar benar enak gi. Gila siapa koki yang masak nya, gue pesen lah tiap hari satu kotak kimbab ini. Serius enak banget." Celoteh Ray sambil menikmati kunyahan makanan di mulut nya.


Dan egi yang mencium aroma masakan yang di sukai nya dan seakan tersadar apa yang di lakukan Ray.


Ckiiiiit...


Egi mengerem mendadak mobil nya membuat Ray terjungkal ke depan untung kotak bekal yang di pegang nya tidak tumpah.


"Hey. Lo kebiasaan yah, ngerem mobil pake ngedadak gini. Gue masih pengen hidup gii. Kalau pengen mati jangan bawa bawa gue, emang yah dasar nya lo..." gerutu Ray namun terhenti karena tiba tiba egi merampas bekal dari tangan Ray dengan kasar.


"Lo memakannya Ray!!" Bentak egi keras membuat Ray terperanjat.


"I..ya. napa bukannya itu lo bekal kan untuk gue."


"Ini bekal gue. Dan lo jangan coba coba menyentuh barang gue." Peringatan Egi dengan nada tegas sambil menutup kotak bekal dan memasukkan nya kembali ke paper bag. Lalu egi menaruh nya ke kursi belakang.


Ray menghela napas panjang. "Biasanya juga lo nggak sampe segitu nya hanya masalah makanan bro, kenapa harus sampe ngegas dan mengerem mendadak gini."


"Lo bilang hanya masalah makanan hah." Geram egi menatap tajam.


Mengangkat kedua tangan di depan dada."Oke..oke bro, sorry gue salah. Lagian gue hanya makan satu potong saja kimbab nya." Jujur Ray.


Egi melajukan kembali mobil nya dan fokus ke jalanan tanpa menggubris ucapan Ray.


Kenapa aku sampai harus membentak Ray hanya karena masalah bekal dari wanita itu, hah wajar saja. Karena salah s ray sendiri membuka bekal ku tanpa seizin dari ku jadi nya aku merasa kesal. Iya salah ray sendiri.


Melihat egi terdiam memasang wajah dingin nya, Ray menatap lurus ke depan." Lo marah sama gue. Kan gue udah bilang sorry bro. Tapi serius gi, tuh kimbab paling enak rasa nya dari biasanya para koki lo memasak. Apa di rumah lo ada koki baru, kalau ada bikinin masakan yang sama buat gue yah." Celoteh Ray menatap egi.


Egi melirik Ray dan menatap nya tajam membuat ray seketika terdiam dan menciut membisu.


Ada apa ini dengan s egi. Biasanya dia nggak pernah bersikap seperti itu hanya karena makanan. Hanya karena makanan, gila kan nih anak. Makanan saja jadi perhitungan gitu, biasanya gue sampe pinjem motor kesayangan nya aja dia kasih. Lah ini hanya makanan saja dia sampai bersikap dingin dan keras seperti tadi. Jadi curiga, dari siapa kotak bekal itu sebenarnya. Apa dari bu misa yah.


BERSAMBUNG...


Tekan LIKE nya yaaa.

__ADS_1


__ADS_2