
"Rupanya kita datang terlambat," Jhon memberhentikan mobil tepat di belakang mobil merah.
"Kita datang bebarengan dengan mobil itu. Jadi yang terlambat bukan kita saja." Egi menyahuti sambil mengedikkan dagu ke arah depan.
Annisa melihat ke arah depan. "Eh, bukankah itu si Ray dengan Asyila?" Dia mencondongkan tubuhnya ke depan agar memastikan dengan jelas pandangan di depan mobilnya yang menampilkan Asyila dan Rayhan keluar dari mobil merah.
"Sepertinya Syila di antar oleh si Ray," timpal Egi.
Rika yang ikut mengamati Ray dan Asyila. "Mereka terlihat sangat akrab."
"Jelas akrab, si Ray sahabatnya tuan Egi sejak kecil dan sudah di anggap keluarga oleh tuan besar," Jhon menyahuti ucapan Rika.
"Ah, begitu. Pantas saja dia sudah tidak sungkan lagi," gumam Rika pelan masih menatap kedua insan di luar yang tampak sedang berjalan sambil tersenyum mengobrol akrab.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang selama 5 jam dan melaksanakan shalat dzuhur berjamaah di masjid yang di lewati saat di perjalanan namun tanpa Rika karena tengah datang bulan, selain itu Annisa dan Egi sempat mampir ke toko bunga untuk membeli beberapa buket kecil bunga Lily putih kesukaan ibu nya. Kini akhirnya mobil yang di tumpangi ke empat orang itu telah sampai dan terparkir di tempat pemakaman khusus keluarga Putra.
Orang-orang yang berada dalam mobil, satu persatu mulai melepaskan sabuk pengaman, untuk turun dan bergabung dengan keluarga yang sudah keluar berkumpul menunggunya. Namun ketika Rika hendak meraih handle pintu untuk bersiap keluar, tiba tiba dengan gerakan cepat Jhon menahan pergerakan tangannya.
Dia terdiam tanpa menoleh karena jarak antara dirinya dengan Jhon sangat dekat. "A-ada Apa Pak?" Bingung Rika.
"Kau diam di mobil saja, akan sangat merepotkan jika kau ikut keluar dengan kaki pincang mu," Jhon kembali ke posisi duduknya.
"Saya masih bisa berjalan, dan jika saya tidak keluar akan sangat tidak sopan," seru Rika menoleh.
"Ck," decak Jhon melirik meremehkan. "Tanpa kehadiran mu di sana juga tidak masalah. Kau pikir dirimu termasuk bagian keluarga putra? Lebih baik kau menurut dan diam di mobil saja, khawatirkan kaki mu yang pincang itu. Dan berdoa semoga tidak membengkak seperti kaki gajah," sewotnya. Kemudian mengambil ikatan bunga Lily putih yang tersisa tinggal satu buket kecil, dan tanpa mau menunggu ucapan penyangkalan dari Rika, segera Ia melepaskan seat belt untuk keluar dari mobil.
Rika terdiam melihat keluar jendela depan.
Pak Jhon benar, aku bukan bagian keluarga putra. Jadi tidak berhak untuk ikut serta ke makam. Lagian dengan mengikuti Annisa kemari saja, sudah termasuk sebuah kehormatan bagi ku.
"Dengar-dengar di pohon besar samping mobil ini, ada hantu penunggu nya yang suka mengganggu para wanita. Jika nanti ada sesuatu yang terasa janggal di dalam atau luar mobil, kau harus tetap tenang agar dia tidak berbuat yang lebih terhadap mu," tutur Jhon dengan nada dingin dan tatapan menyudutkan, sebelum ia menutup pintu mobil meninggalkan Rika sendirian.
Rika speechless tanpa berkedip, ia menatap kepergian Jhon dari balik kaca mobil yang tengah berjalan ke arah sekumpulan anggota keluarga putra.
Dia bilang apa tadi? Hantu? Penunggu?
Kemudian Dia beralih melihat sekitar mobil juga keluar jendela yang memang benar di samping mobil yang tengah di dudukinya itu, ada sebuah pohon besar memayungi dari terik panas matahari sehingga terlihat teduh dan sedikit gelap.
"Huft, tidak. Mana ada di zaman modern seperti ini masih ada hantu. Tapi...," Rika mengusap tengkuk lehernya yang sudah merinding membayangkan jika yang di katakan Jhon itu benar.
"Jika yang di katakannya benar gimana? Bukankah itu sangat menakutkan." Gumam Rika masih memidai sekitar mobil.
Ketika suasana hati dan pikiran dia di penuhi oleh imajinasi akibat rasa takut yang melingkupi dirinya, tiba tiba...
Kriing...kriing.
"Eh Mama Papa." Latah Rika terlonjak kaget menatap ke arah tas di pangkuannya. "Hah, telpon di kira apa." Dia mengusap dada yang jantungnya seakan meloncat keluar, lalu merogoh ponselnya yang ternyata panggilan dari Mama Asih.
Rika menarik napas dalam, beberapa kali untuk menetralkan jantungnya yang masih berdetak kencang akibat keterkejutannya tadi. Lalu setelahnya, menerima panggilan telpon itu.
"Assalamualaikum, Ma," salam Rika setenang mungkin menyapa orang di sebrang telpon.
"Walaikumsalam. Neng...,"
Dan terlibatlah obrolan seputar ibu yang mengkhawatirkan anaknya yang jauh dari pengawasan, dengan menanyakan segala macam sampai se-detail mungkin untuk memastikan bahwa anaknya baik-baik saja.
Sementara di Pemakaman.
Jhon ikut bergabung pada segerombolan orang dari keluarga Putra yang sudah melangkah melewati pintu masuk pemakaman, yang kini sedang berjalan beriringan menuju ke makam.
Annisa menengok ke belakang Jhon yang kosong. "Rika nggak ikut?"
"Kaki nya terkilir, jadi tidak bisa ikut serta," jawab Jhon mendekat ke kedua nya sehingga tampak Egi di tengah-tengah Annisa dan Jhon.
Annisa mengangguk paham, tidak menanyakan lebih mengenai kaki Rika karena sudah mengetahui penyebabnya.
"Kau tinggalkan seorang wanita sendirian di sana?" tanya Egi yang berada di melirik.
"Dia tinggal di dalam mobil, jadi akan aman." Sahut Jhon santai, di sela langkah kakinya mengikuti Ayah putra, Arga dan yang lainnya.
Puk.
__ADS_1
Egi menepuk pundak Jhon. "Kau kembali lagi ke sana, tidak baik seorang wanita di tinggal begitu saja sendirian di tempat seperti ini," tuturnya, kemudian merangkul pinggang Annisa.
"Benar kak Jhon. Rika orang nya sedikit penakut, mana kita lagi di kuburan," tambah Annisa membenarkan ucapan Egi.
Humph... Jhon menghela napas panjang, menoleh ke kedua nya sejenak. "Biarkan saja, hari terlihat cerah mana mungkin dia takut," tutur Jhon tetap tak mau mendengarkan titah.
Annisa melirik Egi sebentar yang memberikannya senyuman juga kedipan sebelah mata sebagai isyarat, lalu beralih melihat Jhon. "Egi, jika kak Jhon tidak mau menemani Rika. Biar aku saja yang kembali ke mobil dan menemani Rika, kasihan dia pasti akan ketakutan sendirian," ujar Annisa memancing Jhon.
Pria yang merangkulnya mengusap puncuk kepala. "Sayang, kita jarang berziarah ke makam Ibu ku, masa kau tidak ikut," sahut Egi ikut memprovokasi.
Annisa memberenggut, sorot mata nya menatap memelas. "Tapi Rika juga teman ku, mana dia lagi sakit, jadi-"
"Baiklah," seru Jhon di sertai mendesah sebal, ia memotong ucapan Annisa.
Seketika senyuman cerah dari bibir Annisa terulas, namun kembali menetralkan sikapnya agar tenang. "Baiklah untuk apa, kak Jhon?"
Jhon menghentikan langkah kaki nya di ikuti Annisa dan Egi. Kemudian ia menyerahkan sebuket bunga Lily. "Titip salam sayang saya pada Nyonya Airin. Saya kembali duluan."
"Hemm, akan ku sampaikan pada ibu, tapi tanpa kata 'sayang'," ucap Egi menerima bunga darinya.
Jhon tersenyum kecil, lalu berbalik melangkah pergi yang berlawanan arah dengan Annisa dan Egi.
------------------------------------
Sudah sekitar 20 menit an Rika terduduk diam di dalam mobil sendirian, ia menghela napas nya beberapa kali melihat sekitar luar jendela depan dengan bola mata fokus ke dua pilar sebagai tanda masuk ke dalam pemakaman.
Ingin ikut ke sana berziarah tapi, apa daya ku. Kaki ini terasa habis di sengat ribuan tawon, rasa nya berdenyut awut-awut an.
Rika beralih menunduk melihat ke arah kaki nya. "Pantas sakit banget. Ternyata sudah membiru bahkan membengkak gini." Gadis manis itu, memijat pelan penuh ke hati-hatian pada kaki nya yang sakit. Namun sesaat kemudian, tiba tiba...
Brak.
Sesuatu terjatuh dengan keras dan terdengar jelas oleh telinga nya. Dari arah samping mobil. Seketika gerakan tangan Rika terhenti, lalu dengan cepat menoleh ke arah suara.
"Ap-apa itu?" Suara nya bergetar merasakan hawa dingin di sekitar.
Apa itu hantu penunggu, seperti yang di katakan pak Jhon?
Dan tidak berapa lama lagi...
Dugh...dugh.
Suara pukulan yang cukup keras ke pintu bagian penumpang belakang mobil, membuat Rika terlonjak kaget.
Gerakan tangannya terhenti kembali, tubuh dia mulai bergetar takut dan dengan gerakan kaku perlahan, Rika melirik dalam ke sudut mata nya untuk menengok ke arah pintu belakang yang sedang di pukul-pukul dari luar.
Semoga bukan apa apa.
"Si-siapa di-disana?" Ujar Rika bergetar dengan jantung berpacu cepat, namun mata nya tak menangkap seseorang pun dari arah jendela mobil yang di pukul itu.
Tidak ada orang. Benarkah itu hantu penunggu pohon? Rika kembali melihat ke depan.
Dugh...dugh.
Suara pukulan itu masih terus berlanjut sehingga membuat Rika semakin takut, dan tubuhnya bergetar hebat. Ia menggigit bibir, menutup kedua telinga dengan telapak tangan juga memejamkan mata nya berharap suara pukul an di pintu mobil itu terhenti.
Allahu Laa ilaaha illa huwal hayyul qayyumu. Laa ta'khudzuhuu sinatuw wa laa nauum..., Rika membacakan ayat kursi di dalam hati nya sampai selesai.
Dan setelah satu menit an, suara pintu yang di pukul-pukul itu menghilang.
"Dia sudah pergi?" Rika membuka mata nya melihat sekitar yang kosong, hening. Dan setelah tenang sekian menit, lagi-lagi...
Ngeet...ngeet.
Ketuk an itu berganti dengan mobil yang di goyang dari luar sehingga menimbulkan suara decitan juga guncangan cukup keras ke dalam.
"Astaghfirullah Al-Adzim... apa lagi ini? Tolong maafkan saya jika telah mengganggu anda sekalian di tempat ini. Tapi tolong jangan ganggu saya... mohon maafkan saya," Rika menangkup kedua tangan di atas kepala sebagai permohonan.
Selain itu, dia juga membacakan ayat-ayat Al-Qur'an dalam hati, berdoa semoga gangguan itu hilang. Tapi semakin banyak ayat Al-Qur'an yang Rika bacakan di dalam hati nya, semakin keras pula guncangan di dalam mobil.
"Kenapa semakin parah, aku harus keluar dari sini sebelum penunggunya semakin marah," panik Rika, dengan tangan yang masih bergetar, ia meraih handle pintu untuk keluar mobil.
__ADS_1
Dia membuka lebar pintu. "Hiiss." Suara desisan kesakitan dari bibir mungil Rika, karena merasakan rasa sakit yang berdenyut-denyut saat kaki yang terluka menapaki ke tanah.
Walau sakit dia memaksakan diri untuk melangkahkan kaki nya keluar dari mobil. "Ah, aww," pekik Rika saat kaki nya tak kuasa menopang tubuhnya sehingga terjerembab tersungkur ke tanah samping mobil.
Dan bersamaan dengan itu. Guncangan terhadap mobil nya terhenti.
"Haish, sudah keluar baru kau berhenti mengganggu. Hantu sialan, benar-benar tak punya sopan santun dalam menyambut tamu," oceh Rika menekuk lutut untuk memeriksa pergelangan kaki nya yang membengkak besar.
"Duh, kaki ku. Kenapa segede talas bogor." Gerutunya memegangi pergelangan kaki yang bengak sambil melepaskan sepatunya dengan penuh ke hati-hatian.
Dan beberapa menit kemudian.
"Ckck, hey bodoh sesenang itukah kau bermain dengan tanah sampai tiduran di bawah." Suara pria yang sangat dia kenal menegurnya sehingga menghentikan pergerakan jemari Rika yang tengah mengurut.
Rika mengangkat wajahnya, celingak celinguk mencari asal suara. "Pak Jhon, itukah kau?"
Jhon keluar dari balik mobil, berdiri menyender ke badan mobil dengan tangan di masukkan ke dalam saku celana. "Iya, ini saya. Kenapa? Apa kau menemui sesuatu sehingga wajah mu putih pucat dan duduk lesehan di tanah?" tanya Jhon di akhiri senyuman meledek.
Rika mendongak menatap dengan kedua alis tertaut geram. "Itu kau kan? Pasti kau yang sudah menakuti ku!" Tunjuknya dengan suara keras penuh amarah.
"Saya?" Jhon tertawa puas melihat wajah Rika yang memerah marah. "Apa kau punya bukti? Dan jika saya pelaku nya, memang kenapa? Apa yang akan kau lakukan?" Dia menatap raut wajah Rika tak berpaling sedikit pun untuk menilai reaksi apa yang akan di tunjukkan Rika pada nya.
Tangan Rika terkepal kuat, dengan geraham bergemeletuk geram. Kilatan amarah menyala dari sorot mata nya. "Saya memang tidak mempunyai bukti, tapi di sini pak Jhon muncul setelah gangguan itu hilang. Jadi sudah pasti kau pelaku nya!" Teriak Rika menunjuk kesal.
"Dasar gadis bodoh, segitu yakin nya kau dengan tuduhan itu." Tersenyum miring, Jhon membenarkan posisi berdiri nya mendekat hingga ke hadapan Rika.
Napas Rika tak teratur oleh emosi yang tertahan. Sudah tertangkap basah masih tidak mengaku salah, dasar si lidah tajam tak berperasaan.
"Kau mau sampai kapan duduk terdampar di bawah, lihat di samping mu ada ulat bulu." Ucap Jhon, menunjuk ke arah samping tubuh Rika.
Sontak Rika menoleh ke arah telunjuk jhon, memeriksa sekitar nya yang pandangan mata nya langsung menangkap setumpuk daun gugur dan benar saja ada ulat berbulu hitam lebat seukuran jari dewasa. "Mama, ulat!" Mata Rika melotot kaget, dan tanpa menyadari kondisi kaki nya, ia dengan cepat beranjak meloncat.
"Aaah," tubuh nya terhuyung akan terjatuh kembali, namun Jhon yang berada di dekatnya langsung memegang kedua tangan Rika agar tidak terjatuh.
"Eh," Rika menatap diam tak berkedip ke wajah Jhon yang cukup dekat. Degh... jantung nya mulai berdetak cepat tak terkendali lagi.
Hingga beberapa detik Rika masih memandangi wajah tampan pria di hadapannya. "Sudah cukup melihatnya?" Seru Jhon menyadarkan.
Segera Rika mundur selangkah hingga mentok ke mobil, dan melepaskan kedua tangannya dari cekalan longgar tangan Jhon. "Ma-maaf," gugupnya, menundukkan pandangan.
Selalu terhipnotis oleh ketampanannya lagi. Memalukan sekali.
Jhon menghela napas panjang, mengusap dahi juga rambut nya, lalu menatap geram. "Gadis bodoh, tidak bisakah kau sekali saja tidak membuat kecerobohan. Kenapa otak mu itu..," terjeda sejenak mendesah kesal. "Hah, sulit di jelaskan saking bodoh nya," omel Jhon, kemudian ia membuka pintu mobil depan, mengambil mantel panjang miliknya.
Dia mengumpat lagi... Rika menggigit bibirnya, masih menundukkan kepala tak sanggup menatap Jhon.
"Pakai ini, untuk menutupi baju mu yang kotor." Jhon menyodorkan mantel tersebut.
Rika memeriksa pakaiannya yang memang benar banyak bercak kotor akibat tanah yang di duduki nya tadi setengah basah. Dia menerima mantel itu, lalu memakainya. "Makasih," ucap Rika.
"Sekarang kau masuk ke mobil lagi, mereka akan selesai berziarah. Jika nona Annisa melihat keadaan mu sekarang, dia akan menyalahkan saya karena tidak menjaga mu," ucap Jhon memerintah.
Rika masih menundukkan pandangan merapihkan penampilannya.
Ternyata dia baik pada ku hanya karena tanggung jawab atas perintah Annisa juga Papa.
Melihat Rika masih diam mematung. Jhon kembali menghembuskan napas kasar. "Kenapa kau diam saja, bodoh! Cepat masuk!" Sentak Jhon membuat Rika terperanjat kaget.
Dia bahkan menyentak ku ke sekian kali nya.
Tanpa berbicara atau tanpa mengangkat wajah menatap Jhon. Segera Rika dengan gerakan tertatih menggunakan satu kaki nya untuk berjingkat mendekat, masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi nya.
Jhon mengambil sepatu Rika yang tergeletak di tanah. Lalu, meletakkannya ke bawah kursi dekat kaki Rika. Pandangan mata nya jatuh pada sebelah kaki yang sudah membengkak biru. "Ck, bahkan kaki terluka saja dia masih bersikap ceroboh," gumam Jhon pelan. Kemudian...
Brak.
Membanting pintu mobil dengan keras.
"Hey," Rika terperanjat, memegang dada nya karena kaget. "Ada apa dengan tempramen orang ini. Seharusnya di sini aku yang marah, kenapa malah dia. Padahal kan aku keluar mobil juga gara-gara ulah nya. Dasar aneh," gerutu Rika melihat ke arah luar jendela dimana Jhon berdiri menyender membelakangi pintu mobil sampingnya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaa...