Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 28


__ADS_3

2 minggu kemudian.


Selama itu, Rika dan Jhon tidak saling bertatap muka atau bersapa dalam alat komunikasi. Jhon yang masih menenangkan pikiran juga mencerna keadaan hati nya, ia mematikan ponsel yang biasa di gunakan untuk kehidupan pribadi nya. Sedangkan Rika berusaha terus menghubungi Jhon, namun selalu nihil hasilnya. Pria itu bagai kabut yang datang secara tiba-tiba dan pergi begitu saja, sehingga susah untuk di sentuh agar bisa mengenal lebih tahu tentangnya.


Di sebuah Rumah sakit.


Di sebuah meja persegi, di dalam ruangan yang biasa di sebut kantin terlihat seorang gadis yang berwajah manis, terduduk dengan sebelah tangan menyanggah dagu, pandangan mata nya terlihat termenung menatap benda kotak yang berputar di mainkannya di atas meja.


"Ekhem...," dehem seorang pria berjas kedokteran berdiri di samping meja itu.


Rika tak menggubris nya, ia tetap memasang wajah cemberut dan asyik memainkan ponsel.


"Ekhem...," pria itu berdehem kembali dengan cukup keras membuat orang-orang yang berada di meja sekitar menoleh ke arahnya.


"Hmm," Rika bergumam. "Simpan aja pesanan saya, Mang udin. Jangan ganggu, saya lagi bad mood." Ucapnya tanpa melihat siapa orang yang berdiri.


Pria tampan yang berjas kedokteran tersenyum geli, ia menarik kursi yang berada di hadapan gadis manis tersebut. "Bad mood kenapa dek?"


Mendengar suara yang di kenal nya. Seketika gerakan jemari yang sedang memutar ponsel terhenti, Rika mengangkat wajahnya menatap terpaku bengong pada orang di hadapannya. "K-kak Farhan." Kaget dia dengan mata sedikit melebar tak berkedip.


Farhan tersenyum, mengedipkan sebelah mata. "Iya ini kakak. Kenapa senang yah sampe memasang wajah seperti itu?"


"Heh," tersadar dan segera menetralkan keterkejutannya. Rika mengalihkan pandangannya ke arah ponsel, kembali memainkan ponsel itu untuk di putar. "Kak Farhan kok bisa di rumah sakit ini?"


Bersamaan dengan itu seorang pelayan kantin, mengantarkan pesanan yang di minta Rika juga Farhan ke meja mereka. "Mulai hari ini kakak dapat tugas juga di rumah sakit ini. Dan ternyata kamu juga tugas di sini, jadi kebetulan deh." Farhan meletakkan semangkuk bakso dan segelas es lemon tea ke hadapan Rika.


"Kebetulan apa kebetulan," sindir Rika mengaduk minumannya lalu menyeruput hingga habis segaris.


Terkekeh senang, Farhan mengaduk bakso di mangkuknya. "Bisa di bilang ini keinginan kakak yang ingin melindungi juga menjaga calon istri."


Glek. Rika menelan kasar es tea di mulutnya.


Dia menatap tidak suka. "Bisakah jangan bahas soal itu, membuat mood saya semakin drop." Tangannya beralih meraih mangkuk bakso untuk di aduk.


Alis Farhan terangkat sebelah, ia menyuapkan potongan bakso ke mulutnya. "Baiklah, baiklah, gadis manis ku."


"Jeeh!" Rika memotong bulatan bakso yang berukuran besar dengan perasaan kesal. "Kok saya merinding geli mendengar panggilan itu." Ucapnya mencibirkan bibir bergidik ngeri.


Farhan tertawa senang menatap ekspresi wajah yang menurutnya imut yang di tunjukkan Rika. Dia menggemaskan sekali.


"Nggak salah kakak suka kamu sejak melihat profil mu dari Mama."


Rika mendelik sebal. "Sejak kapan saya menyerahkan profil ke keluarga kakak. Saya tidak merasa tuh." Ketusnya menyuapkan potongan bakso ke mulut.


"Memang bukan adek yang menyerahkan jadi nggak bakal merasa. Tapi kakak mau tanya, jika saja pria...,"


Kriing...kriing.


Suara dering panggilan dari ponsel yang tergeletak di atas meja.


Rika mengangkat sebelah tangan dengan telapak melebar ke depan sebagai tanda berhenti untuk bicara. Dia meraih ponselnya lalu mengangkat panggilan telepon itu. "Assalamualaikum, Nis."


Farhan menghela napas pelan, ia menurut diam. Dan menatap lekat wajah gadis manis dengan bibir menyeruput air minum di hadapannya.


Rika yang masih menelepon dengan seseorang di sebrang telepon, ia tampak terdiam sejenak mendengarkan suara dari benda persegi itu. "Iya, boleh. Sekalian aku mau nganterin sepatu yang ku pinjam waktu itu, belum sempat di kembalikan."


"Hemm. Baiklah." Mengangguk seakan orang di sebrang telepon melihatnya. "Walaikumsalam." Rika menjauhkan ponsel dan menatap tersenyum pada layar yang sudah menggelap padam. Lalu ia meletakkan kembali ponselnya ke atas meja.


Ketika gadis manis itu sudah beralih memegang gelas, tiba-tiba Farhan tanpa permisi pada pemiliknya langsung mengambil ponsel yang baru beberapa detik tergeletak di atas meja.


"Eh, kak mau apa?" Rika mengulurkan tangan dengan gerakan hendak menggapai ponselnya. "Kembalikan ponsel saya!"


"Sebentar." Farhan menjauhkan dari jangkauan tangan Rika dan memeriksa kontak juga log panggilan di ponsel itu.


Pandangan mata Rika menajam kesal penuh amarah, tangannya mengepal kesal. Dia sedikit berteriak. "Kak Farhan!"


Seketika semua orang yang berada di kantin itu sebagian besar menoleh, menatap sinis ke arah mejanya dan berbisik menggosipkan.


Rika melirik sekitar dan menunduk kesal, bercampur malu. Ck, sial!


Farhan yang tidak memperdulikan keadaan sekitar, ia tersenyum miring. Mengalihkan pandangannya dari layar ponsel ke arah Rika. "Dengan cara adek seperti ini, sudah menunjukkan kalau adek sudah nggak sabar ingin mengumumkan hubungan kita." Dia menyodorkan ponsel itu kembali ke pemiliknya.


"Nggak sopan banget, ambil barang orang tanpa permisi!" Rika merampas kasar benda persegi tersebut, namun pandangan masih menatap sengit.


Farhan tak menjawab ocehan Rika. Ia malah tersenyum senang, memasukkan ponsel miliknya ke saku jas.

__ADS_1


"Jeh." Rika mendengus sebal, ia meraih kembali gelas minumnya untuk menetralkan emosi yang sudah menggunuk.


Orang ini sepertinya sudah gila kali, begitu narsis banget bahasa nya.


Farhan masih menatap lekat, tersenyum santai, lalu menyiku kan kedua tangan ke atas meja dengan jemari saling tertaut menempel di bawah dagu.


"Ternyata kontak adek tidak terlalu banyak juga yah. Tadi kakak menghafal nomer ponsel adek, juga sudah menyimpan nomer kakak. Tapi ada satu yang ingin kakak tanyakan. Siapa nomer kontak yang bernama 'Ray banci' wanita kah? Atau pria kah? Kalau yang Jojo, kakak sudah tahu pasti itu Jhonathan."


Rika menyeruput es tea hingga habis setengahnya. Ia mendelik menatap tidak suka. "Mau wanita atau pria, nggak ada urusannya juga sama kak Farhan."


"Jelas ada, karena sekarang kakak adalah calon-"


"Stop!" Sentak Rika menghentikan ucapan Farhan. Dia meletakkan dengan menggebrak kasar gelas minumnya sehingga air nya terciprat keluar. Lalu ia bangkit dari duduknya berdiri, sedikit menunduk menatap kesal. "Makan satu meja dengan kak Farhan membuat mood makan saya hilang."


"Dek," Farhan sedikit mendongakkan kepala menatap tak terbaca.


"Jangan panggil saya adek lagi, anggap saja kita nggak saling kenal." Rika menyambar ponselnya yang sempat di letakkan tadi. Lalu keluar kursi dan hendak melangkah pergi.


"Dek," Farhan menarik ujung jas Rika sehingga pergerakkannya terhenti.


Rika melirik pada bagian yang di tarik. "Lepas kak!"


Farhan menatap tak terbaca, dan mencengkram cukup kuat namun tanpa bicara.


Menghembuskan napas panjang, Rika melirik sekitar yang tampak semua orang tengah menyaksikan adegan drama nya. "Kak lepas! Semua orang melihat ke sini."


Plak.


Dengan kasar, Rika mengeplak tangan Farhan hingga terlepas pegangan dari jas nya.


"Pulang nanti kakak yang antar." Farhan berucap jelas masih dengan tatapan tak terbaca nya.


"Tidak perlu," ketus Rika sambil lalu pergi meninggalkan Farhan yang menatapnya. Juga orang-orang yang berbisik menatapnya sinis penuh ke dengkian.


-----------------------------------------


Di kantor perusahaan Putra Grup.


Seorang pria tampan berjas rapih nan elegan, terduduk di sofa tengah memandangi sebuah kotak bekal yang terletak di atas meja. Sudah beberapa kali ia menghela napas panjang dan menghembuskannya secara kasar. Pria itu dengan ragu membuka tutup bekal yang berbentuk kotak tersebut.


"Semoga masakan hari ini tak separah hari sebelumnya." Gumam Egi, setelah melihat isi bekal dalam kotak makan.


Sreet.


Seseorang pria tampan berwajah putih bersih, dengan raut muka terlihat lesu, dan dengan lingkaran hitam yang melingkar sangat jelas di sekitar bola mata seakan tidak tidur sebulan. Pria itu masuk dan langsung melemparkan diri duduk menyender di sofa panjang samping Egi.


Gerakan tangan Egi yang hendak menyuapkan sepotong kimbap ke mulutnya terhenti, melihat Jhon yang datang secara tiba-tiba dan langsung duduk. "Kenapa kau, Jhon? Nggak makan siang?"


Jhon memejamkan mata, memijit pangkal hidungnya untuk mereda kan kepala nya yang berdenyut pening.


"Tak ada nafsu, gara-gara si gadis bodoh," ucap Jhon di akhiri desahan napas berat.


"Si gadis bodoh?" Alis Egi terangkat sebelah, ia menyuapkan kimbap yang sempat di capit tadi. Dan... "Aakh, heem," celotehnya merasakan citarasa yang campur aduk dari masakan buatan istrinya itu. Ia segera meraih botol minum dan menenggaknya beberapa teguk.


Annisa, kenapa masakan mu sekarang berubah bagai empedu yang di lumuri garam.


Jhon yang memperhatikan reaksi Egi saat memakan makanan, ia menatap tanya. "Kenapa? Apa segitu nikmatnya masakan Nona Annisa sampai tuan ber-reaksi seperti itu?"


Menoleh, Egi tersenyum palsu dan mengangguk kecil. "Hemm, sangat nikmat. Mau mencoba nya?" Menyodorkan sendok yang di ambilnya dari tas bekal.


Jhon melirik sendok itu, bola mata nya beralih menatap curiga pada orang di hadapannya. "Tumben tuan Egi mengizinkan saya mencicipi masakan yang di buat khusus oleh Nona Annisa untuk tuan. Apa mungkin bekal ini bukan di buat Nona?"


Egi menarik tangan Jhon dan meletakkan sendok itu ke telapak tangannya. "Makanlah, selagi aku masih baik mengizinkan mu mencicipi bekal ini."


"Baiklah, sudah lama juga saya tidak merasakan masakan yang di buat Nona." Jhon membenarkan posisi duduknya, lalu mengulurkan tangan untuk menyendok sepotong kimbap dan menyuapkannya.


"Ugh, uhuk... uhuk." Begitu makanan itu baru masuk dan di kunyah satu kali kunyahan, Jhon langsung merasakan rasa yang begitu asin pekat, di campur rasa pahit, juga rasa pedas yang tajam sehingga membuat nya hampir memuntahkan kembali, namun Egi memberi peringatan mata yang tajam agar Jhon meneruskan mengunyah makanan di mulutnya dan jangan sampai di muntahkan.


"Hahaha...," tawa puas dari bibir Egi menyaksikan raut wajah putih Jhon yang berubah merah padam, dengan mata yang berair merah. "Gimana enak kan?"


"Uhuk... uhuk," Jhon melambaikan sebelah tangan sebagai tanda tidak mau memakannya lagi, dan hendak meraih botol minum dekat kotak bekal.


Segera Egi meraih botol minum itu. "Eits, kau ambil yang itu minumnya." Menunjuk ke arah lain.


Jhon yang masih terbatuk, segera beranjak dari duduknya berlari sedikit terbirit ke arah meja kerja Egi yang kebetulan ada botol air mineral. Ia menyambar langsung membuka tutupnya dan menenggaknya hingga habis setengah. "Hah," Jhon menghela napas panjang menetralkan napasnya yang memburu.

__ADS_1


Egi terkekeh senang, melihat penderitaan Jhon. Ia kembali memakan kimbap buatan istrinya itu di kunyah sebentar dan setelahnya di dorong dengan meminum air agar makanan tersebut masuk melewati kerongkongannya tanpa membuat mual.


Jhon melangkah kembali sambil memegang botol air putih. Ia duduk di samping pria tampan itu, dan tersenyum ngeri memperhatikan wajah Egi yang sudah memerah padam dengan mata berair, namun masih tetap bertahan memakan makanan yang menurutnya sangat tidak layak untuk di makan. "Tahan juga lidah dan perut tuan, memakan makanan beracun ini." Sarkase Jhon meneguk air.


Egi melirik tajam dan menelan bulat-bulat dengan kasar makanan di mulutnya. "Ka-kau sampai bilang beracun? Memang rasa nya aneh, tapi ini buatan tangan Annisa yang dengan tenaga nya menyiapkan ini untuk ku. Jadi mau racun apa pun akan tetap aku makan, karena dia yang membuatnya." Dia kembali menyuapkan kimbap potongan terakhir ke mulutnya.


"Ck, budak cinta," gumamnya pelan, tersenyum meledek, Jhon meletakkan botol yang air nya tinggal seperempat. Dia merebahkan kepala juga punggungnya ke badan sofa.


"Aaargh akhirnya...," setelah minum banyak air, Egi ikut merebahkan kepala dengan sebelah tangan menjadi bantalan ke badan sofa samping Jhon.


Beberapa menit keheningan membentang menyelimuti mereka berdua, yang sibuk menenangkan pikiran dan perasaan.


"Wanita memang sangat mengerikan ketika sedang mengandung. Aku sampai tidak bisa mengenali Annisa ku yang dulu dengan yang sekarang." Egi menghembuskan napas kasar, memejamkan mata.


"Benar sangat mengerikan." Jhon mengiyakan dengan mengangguk pelan, dan dengan pandangan lurus ke depan. "Bahkan bagai hantu terus menggentayangi isi pikiran ku."


Mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan Jhon. Seketika kedua mata Egi terbuka, ia melirik ke arah samping dimana pria yang terlihat termenung. "Kau sudah membuka hati mu, Jhon?"


"Hah!" Terhenyak Jhon dari lamunannya, ia bangkit dari rebahan membenarkan posisi duduknya. "Tidak, hati saya masih milik Sanny." Sangkal Jhon mengalìhkan pandangan ke arah lain.


Egi ikut bangkit dari rebahannya, ia tersenyum dan menepuk sebelah bahu Jhon. "Kau berbohong. Aku bisa lihat dari sorot mata mu saat mengatakan tentang wanita yang terus menghantui pikiran mu itu. Terlihat jelas kau sangat merindukannya."


Huft... Jhon menunduk menghembuskan napas kasar. "Memang akhir-akhir ini otak saya selalu di hantui bayangannya. Mungkin karena dia mempunyai beberapa kesamaan dengan Sanny, jadi saya rasa ini bukan berarti saya telah membuka hati, namun lebih karena rindu akan sikap uniknya yang selalu bersikap bodoh, ceroboh dan ceria."


"Ah," manggut manggut. Egi melirik dan tersenyum tipis. "Kak Sanny wanita anggun, pendiam, dan pintar. Mana mungkin kau samakan dengan wanita yang mempunya sikap bodoh itu?"


"Memang dari sikap dan sifat mereka berdua sangatlah bertolak belakang. Namun kesukaannya pada boneka keropi, putih telur, sup tomyam, bahkan... panggilan dia terhadap ku secara tidak sadar sama seperti Sanny." Jhon masih menunduk menyanggah kening dengan sebelah tangan, terdengar hembusan napas keputusasaan dan kebimbangan. "Tapi...," lanjutnya tercekat tak mampu berkata lebih hanya mendesah berat.


Egi terdiam, menghela napas pelan. Padahal sudah tertarik oleh gadis itu tapi masih menyangkalnya.


Dia merangkul juga mengusap pelan bahu Jhon. "Kalau boleh tahu, siapa gadis bodoh itu sehingga bisa membuat mu kacau seperti ini, Jhon?"


"Sudah tak penting lagi untuk mengetahui gadis bodoh itu, karena sudah terlambat." Jhon tersenyum kecut yang pahit.


"Terlambat? Maksudnya?" tanya Egi penasaran.


Jhon melepaskan rangkulan tangan Egi di bahu nya. Lalu menegakkan punggung, menoleh, menatap lelah pada pria di sampingnya. "Dia akan menjadi milik orang lain."


Mata Egi sedikit menyipit mencerna kalimat yang di lontarkan Jhon. "Tapi itu masih akan menjadi milik kan? Bukan sudah menjadi milik. Berarti wanita itu hanya di lamar belum di miliki sepenuhnya?"


Jhon mengangguk mengiyakan. Ia meraih botol untuk di minum airnya. "Dia telah di jodohkan orang tua nya untuk di nikahkan dengan pria lain."


Egi terkekeh geli, menepuk pundak Jhon. "Kau bodoh sekali Jhon, sangat bodoh. Bahkan sepertinya yang pantas menjuluki kata bodoh itu adalah kau."


Alis Jhon tertaut bingung. "Kenapa?"


Plak.


Egi memukul keras pundak belakang Jhon sehingga pria tampan itu mengaduh mengusap bahu nya yang terasa panas berdenyut nyeri.


"Maksud dari pukulan ini, Apa?"


"Untuk menyadarkan mu, dan membangunkan pikiran bodoh mu."


"Hah, maksudnya?"


"Ck," Egi merangkul leher Jhon dan menundukkan untuk sejajar dengannya. "Dengarkan baik-baik Jhon yang bodoh. Sebelum janji suci di ikatkan pada gadis itu. Kau berhak merebut dia, dan berhak memperjuangkan perasaan kau terhadapnya. Bukan menyerah dan bahkan menjauhinya. Kau rela melepaskan dia untuk menyiksa perasaan mu yang kedua kali nya?"


Jhon menggelengkan kepala. "Tidak."


Plak.


Egi menepuk leher belakang dan mengusapnya pelan. "Jika kau tidak rela, maka kejar dia. Karena bagaimana pun seorang gadis kodrat nya menunggu untuk di perjuangkan bukan berjuang mengejar pria. Kau bodoh sekali, dengan kau diam saja pasrah menerima. Itu artinya kau melepaskan kesempatan untuk memiliki perasaan yang telah membuka kunci juga mengobati luka besar di hati mu."


Jhon tertegun dengan ucapan Egi. Dia terdiam mencerna tanpa menjawab penuturan itu.


Kriing... Kriing.


Suara ponsel berdering nyaring.


"Bertindaklah sebelum kau menyesal di kemudian hari. Karena penyesalan itu sangat menyiksa hingga tak ada obatnya. Ingat itu, Jhon." Egi tersenyum, menepuk beberapa kali pundak Jhon sebelum beranjak untuk mengangkat ponsel nya yang berdering.


Jhon semakin terpaku diam mendengar kalimat itu, terlihat jelas ia termenung bengong memikirkan ucapan yang di lontarkan Egi.


Dia benar...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...


__ADS_2