Pejuang Move On

Pejuang Move On
Salah Paham


__ADS_3

"Kamu!!" Kaget annisa dengan menutup mulut nya yang sedikit terbuka.


Ray langsung loncat dari sofa dan menghampiri annisa.


Memutari tubuh annisa dan menelisik wajah nya. "Iya kau bidadari tak bersayap." Ucap antusias Ray.


Alis annisa berkerut bingung. "Bidadari tak bersayap? Siapa itu? Aku punya nama dan nama ku bukan itu." Ucap annisa lalu melanjutkan langkah nya kembali.


Mengikuti annisa. "Hey, itu nama kesayangan dari ku. Bukan kah imut, cocok untuk wanita yang cantik seperti mu." Rayu Ray.


Sementara egi yang sudah berdiri tidak jauh dari kedua nya memperhatikan setiap gerak gerik annisa dengan Ray.


Kenapa mereka terlihat akrab? sepertinya s Ray benar tidak main main dengan kata kata nya jika dia ingin mendekati s brandal. Tp kenapa aku merasa kesal dan dada ku panas melihat mereka akrab begitu.


Annisa duduk di atas karpet dekat ranjang yang dimana laptop nya berada.


Dan Ray ikutan duduk di atas karpet di hadapan annisa dengan berpangku dagu dengan sebelah tangan kanan nya menatap lamat lamat wajah annisa.


Egi memperhatikan tatapan ray yang menatap annisa begitu intens.


Sedang apa s Ray di sana. Kenapa dia menatap s brandal seperti itu. Aku saja tidak pernah sampai segitu nya jika menatap s brandal.


Tangan egi mengepal sehingga tampak menonjol urat urat nya. Dan rahang egi mengeras.


"Ray." Teriak egi kesal.


Annisa dan Ray terperanjat dengan teriakan egi lalu menoleh ke arah egi yang tengah berjalan menghampiri kedua nya.


Berdiri di hadapan annisa dan ray dengan tangan di masukkan ke dalam saku celana.


"Sedang apa lo di sini? Bukannya lo datang kemari ingin menemui gue, kenapa lo malah duduk di meja ini!!" Tegas egi dengan tatapan tajam menatap Ray.


"gue sedang melihat bidadari tak bersayap ku. Dia gi yang pernah gue ceritakan ke lo jika dia adalah bidadari tak bersayap itu." Jelas Ray menunjuk annisa.


"Hey, aku tak mengerti maksud mu. yang ada kau adalah laki laki penipu yang meminta ganti rugi satu juta hanya karena ponsel lecet sedikit saja." Sanggah annisa tak menghiraukan egi di sana.


Ray tersenyum senang dan menatap annisa. "Kau masih ingat juga dengan hutang mu bidadari ku. Jadi gimana, kapan kau bayar ganti rugi nya?"


Berdecak pelan."Ck..Nggak mau aku ganti rugi. Ponsel mu baik baik saja minta ganti rugi."


"Hah jadi bidadari ku orang yang tidak bertanggung jawab yaah." Goda Ray dengan nada suara merayu.


"Hey, siapa yang di sebut bidadari mu. Aku punya nama dan nama ku bukan bidadari, laki laki penipu."


Egi sudah semakin mengepal kuat tangan nya dan menatap tajam Ray dan annisa secara bergantian.


"DIAAAM!!" Teriak egi membuat kedua nya terperanjat dan terdiam membisu menatap bengong ke egi.

__ADS_1


Egi menghela napas kasar lalu menatap Ray. "Lo Ray apa tujuan lo kemari cepat katakan?"


Beralih menatap annisa. "Dan kau diam jangan banyak bicara jangan banyak bergerak." Tegas nya.


Menuruti egi. Iya bocah lagian aku malas meladeni orang ini, apakah dia teman mu bocah?


"Ekhem.." dehem Ray.


"Tujuan gue sebenarnya sih pengen pinjem gitar lo, tapi setelah melihat bidadari tak bersayap ada di sini gue jadi lupa tujuan gue." Ucap Ray dan tersenyum manis ke arah annisa.


"Jangan ganggu dia. Dia mau mengajari gue di sini. Jadi lo pulang saja sana, ambil gitar di ruang musik dan pilih sesuka lo." Tegas egi.


"Mengajari maksud lo, dia siapa nya lo di sini." Heran Ray menatap annisa dan egi bergantian.


Annisa menatap egi berharap kata istri akan keluar dari mulut nya.


"Guru Les gue." Ucap Egi.


Seketika annisa menunduk dan mendesah kecewa.


Ternyata di mata nya aku hanyalah orang asing.


"Guru Les!! Pelajaran apa gi. Bukannya lo pintar dalam segala bidang kenapa perlu guru les segala?"


"Itu bukan urusan lo sudah sana lo keluar dari kamar gue dan ambil sendiri gitar nya ke ruang musik." Tegas egi sambil menarik sebelah lengan Ray agar bangkit dari duduk nya.


"Hey, gue belum minta nomor ponsel bidadari ku. Siapa nama kamu bidadari ku?" Teriak Ray menoleh ke belakang sambil menahan tarikan egi di lengan nya.


Annisa menatap bingung ke Ray dan egi tanpa menjawab ocehan Ray.


"Sudah sana lo, ganggu gue belajar aja!" Tegas egi lagi sambil menarik paksa lengan Ray untuk membawa nya ke pintu keluar.


Akhirnya Ray mengalah mengikuti langkah kaki egi karena tarikan egi begitu kuat.


Ray menoleh lagi ke belakang sambil mengedipkan sebelah mata ke annisa. "Lain kali ketemu lagi yah bidadari tak bersayap ku." Ucap Ray dan tersenyum manis.


Annisa terkikik geli melihat wajah Ray yang menurut nya lucu.


"Kunci ruang musik gue ambil ke bi ane." Ucap egi setelah membawa Ray keluar kamar.


Mengusap rambut nya. "Iya... iya gitu amat lo gi. Padahal gue pengen lama lama di sini." Ucap Ray.


"Gue harus belajar untuk UN Ray. Jangan ganggu gue."


"Oke lah nanti lain waktu gue ke sini lagi untuk menemui s bidadari." Ucap Ray.


Brakk.

__ADS_1


Egi langsung menutup pintu kamar dan mengunci nya.


Mengusap dada sambil menatap pintu di hadapan nya. "Dasar salegii. Dia mau belajar apa mau pacaran di kamar berdua dengan bidadari ku. Tp tenanglah Ray dia kan nggak bisa move on dari bu misa jadi jelas bidadari ku aman." Gumam Ray lalu berbalik meninggalkan lorong.


Sementara egi dan annisa di dalam kamar.


Egi menghampiri annisa yang masih duduk santai di atas karpet dengan jemari bergerak di atas keyboard laptop.


Dengan kasar egi menarik sebelah lengan annisa agar berdiri sehingga membuat annisa terlonjak kaget dengan perlakuan kasar egi.


"Hey bocah. Apa yang kau lakukan?" Tukas annisa heran.


Mencekal kuat lengan annisa dan menatap tajam. "Kenapa kau bisa kenal ray?"


Annisa melihat lengan nya yang dicekal yang sudah terasa panas dan perih karena egi mencekal nya kuat.


Meringis mengernyitkan alis karena merasakan panas di lengan. "A..aku pe..pernah menabrak nya saat berjalan." Jawab annisa menunduk dengan suara lemah.


"Kenapa dia memanggil mu bidadari Hah!! Dan kau tersenyum genit ketika dia memanggil mu seperti itu." Bentak egi.


Mendongak menatap egi yang tengah menatap nya tajam. "Aku tidak tahu egi. Dan aku tidak tersenyum genit seperti yang kau katakan." Ucap Annisa.


Semakin kuat mencekal lengan annisa sehingga membuat annisa merasakan mati rasa di lengan nya.


"Jangan mendekati teman ku, dia tidak pantas untuk wanita brandal gila seperti mu." Bentak egi lagi dengan suara menggeram karena emosi nya sudah tak terkendali.


Seketika tubuh annisa bergetar, air mata nya sudah tidak bisa di bendung lagi karena merasa tersinggung dan sakit dengan ucapan egi. Annisa menunduk tidak berani menatap egi lagi.


"Dimana salah ku egi. Kenapa kau selalu menyalahkan ku. Dan bahkan bersikap kasar seperti ini terhadap ku. Aku juga tidak tahu jika laki laki tadi adalah teman mu, aku tahu jika aku hanyalah seorang wanita brandalan kasar dan tidak mempunyai harta kekayaan seperti mu dan teman mu itu. Aku hanyalah wanita yang terlahir yatim piatu dan tinggal di panti asuhan yang mengemis meminta belas kasihan orang orang kaya seperti mu untuk berjuang hidup. Tapi meskipun begitu, aku masih punya harga diri egi. Jika saja kau ini bukan status nya sebagai suami ku sudah aku tinggalkan rumah ini tanpa memikirkan yang lain karena aku sudah sakit hati dengan ucapan dan sikap kasar mu...aku...aku..hiks..hiks." tutur annisa panjang dan tersendat karena di selingi tangisan nya.


Melihat annisa menangis tersedu dengan ucapan yang di keluarkan nya, cekalan tangan egi di lengan annisa melemas turun dan pandangan egi menunduk menatap sendu annisa yang tengah menangis terisak.


Egi hendak mengusap puncuk kepala annisa namun gerakan nya terhenti karena annisa mendongakkan kepala menatap egi.


Kedua mata annisa sudah di penuhi air mata yang beranak pinak, wajah nya memerah karena menangis.


"Egi.. izinkan aku. Untuk tinggal di asrama lagi. Karena selama ini aku di sini selalu membuat mu merasa terganggu dengan ke hadiran ku. Jadi... aku mohon tolong izinkan aku tinggal di asrama kampus lagi." Ucap annisa memelas.


Egi menatap dingin annisa dan terdiam tanpa berkata.


Melihat egi terdiam annisa menghela napas kasar. "Diam mu berarti iya. Aku..aku pamit pergi untuk berkemas egi. Assalamualaikum." Ucap annisa lemah.


Lalu annisa mengambil laptop nya dan berbalik melangkah gontai menuju pintu kamar mandi dimana ada koper dan barang barang nya di walk in closet.


BERSAMBUNG...


LIKE, VOTE dan RATING nya jika suka dengan cerita ini jangan lupa yah. Biar Author nya makin semangat nulis nya.

__ADS_1


__ADS_2