
Di teras depan rumah Jhon. Tampak dua gadis cantik berdiri di teras dengan di temani oleh dua bodyguard di sekitarnya. Sementara Jhon tengah siap-siap untuk ke kantor dan Egi entah di bawa kemana oleh Ibu Lily dan Pak Kusuma.
Annisa merangkul bahu Rika dan memidai penampilan juga mengecek suhu tubuh dengan menempelkan punggung tangan di dahi. "Gimana keadaan mu? Aku khawatir banget saat denger kamu tak sadarkan diri dari kak Jhon."
Rika menurunkan tangan itu dari dahi nya. "Aku baik-baik saja, Nis. Dan makasih sudah mau di ajak kerja sama untuk berbohong, soalnya Mama pasti heboh dan marah besar kalo tahu aku nginap di rumah pria."
Annisa mengangguk kecil. "Iya aku tahu sifat Mama mu, sebagai imbalannya coba ceritain ada apa sebenarnya, dan bagaimana kejadiannya kamu bisa pingsan seperti itu?"
Seketika raut wajah Rika muram ia bungkam membisu, hanya memberi ulasan senyum yang terlihat pahit dan perih. Ia menundukkan pandangan tak mau bertatap langsung dengan sorot mata Annisa yang menatap menyelidik. Aku tidak bisa cerita soal Jojo yang memanfaatkan aku.
"Hah... baiklah, aku paham." Annisa menghembuskan napas pelan, mengusap bahu Rika. Kemudian berjalan menggiring gadis manis itu ke arah taman bunga yang terhubung ke taman belakang. "Tidak apa jika kamu tidak bisa ceritakan sekarang, aku mengerti." Dan sedikit aku sudah mendengarnya dari Egi.
Rika tersenyum menatap sayu. "Makasih Nis, aku hanya tidak mau mengingatnya lagi. Karena ketika mengetahui kebenaran itu dari orang lain, membuat hati ku seakan sesak dan nyeri... aku bodoh selama ini, dan aku...," tuturnya, rendah dengan mata mulai berkaca-kaca.
Annisa memeluk dan menempelkan kepalanya berdempet pada Rika yang kebetulan tinggi mereka sama. "Cup..cup jangan sedih lagi, meskipun aku tidak tahu masalah mu. Tapi ingat Rik, jangan mengambil kesimpulan hanya dari mulut orang lain, tanyakanlah pada yang bersangkutan dan pastikan kamu dengar jawaban dari nya. Baru kamu simpulkan kebenarannya."
Mengangguk kecil, Rika membalas pelukan Annisa dengan merangkul kan tangan ke pinggangnya.
Tanpa bertanya pun aku sudah yakin akan kebenaran yang ku dengar dari Ray dengan bukti foto-foto itu di kamarnya.
"Sayang." Egi, Ibu Lily dan Pak Kusuma yang baru keluar dari dalam.
Kedua nya menoleh ke asal suara dan melepaskan pelukan.
Egi melihat jam yang melekat di pergelangan tangannya. "Sudah jam setengah 9, berangkat sekarang? Jadwal check up sebentar lagi."
"Iya." Annisa mengangguk mengiyakan, kemudian menggenggam jemari gadis manis di sampingnya untuk mengajaknya ke arah teras lagi.
"Kamu mau check up, Nis?" Rika bertanya setengah berbisik.
Yang di balas anggukkan kepala. "Tadi nya mau netapin kamu sebagai bidan kandungan ku, tapi suami ku terlalu bersikeras menyerahkan ku pada dokter Ani."
Mendengar nama dokter yang di sebutkan. Sontak kedua mata Rika melebar berbinar takjub. "Dokter Ani yang terkenal itu?"
"Hemm." Mengiyakan dan tersenyum.
Rika menepuk punggung tangan Annisa yang tengah menggenggamnya. "Aku mendukung suami mu, ini kan kehamilan pertama jadi harus sama yang ahli nya buka sama bidan pemula seperti ku."
Annisa terkekeh geli, menyenggol pelan lengan Rika. "Kamu juga ahli, Rik. Kalau tidak ahli, tidak mungkin RS memperkerjakan mu." Dan tepat kedua nya telah berdiri di teras di hadapan mereka.
"Tante, Om. Kami pamit pulang dulu," ucap Egi menyalami tangan Ibu Lily dan Pak kusuma. Di susul oleh Annisa.
"Sayang, masuk mobil." Egi merangkul bahu Annisa untuk menggiringnya ke arah mobil.
"Rik, aku tunggu di mobil yah." Yang di balas anggukkan kepala dari Rika.
"Tan-"
"Ibu, panggil ibu. Nak Rika."
Rika tersenyum canggung, dan menyalami tangan Ibu Lily juga cipika cipiki. "Maaf saya merepotkan ibu."
Menepuk pelan bahu Rika. "Jangan sungkan, kamu kan calon mantu ibu."
"Hah!" Kaget Rika dengan mata melebar terbengong. Ca-calon mantu... ah iya aku lupa, sejak awal kenal mereka kan nyangka nya aku pacar si Jojo.
Rika tersenyum ramah yang di paksakan. "Ma-maksih bu."
Pak kusuma mengusap puncuk kepala gadis manis itu. "Seringlah mampir kemari yah Nak. Rumah ini selalu terbuka untuk mu."
"I-iya Pak."
"Sudah pamitannya, Ayah, Ibu. Setengah jam lagi aku ada rapat di kantor." Instruksi Jhon yang baru muncul dari dalam rumah. Ia mengulurkan tangan untuk salam pada sang Ibu.
"Jaga calon mantu ibu baik-baik, jangan buat dia menangis seperti kemarin lagi." Amanah Ibu Lily menerima salam dan mengecup kening juga mengusap pelan rambut anaknya dengan sayang.
"Aku kan sudah jelaskan, aku tidak membuatnya menangis. Dia hanya keujanan di jalan karena tidak bawa payung." Sangkal Jhon menyalami tangan sang Ayah.
Ibu Lily tersenyum kecil. "Iya, iya... Sudah sana pergi, dan hati-hati saat mengemudi." Menepuk pelan beberapa kali bahu anaknya.
Jhon dan Rika berbalik berjalan menuju garasi dekat taman rumahnya, yang disana telah ada mobil Egi terparkir di belakang mobil hitam.
Langkah kedua nya terhenti tepat di samping mobil, Rika hendak membuka pintu penumpang untuk naik, namun Jhon dengan sigap membuka kan pintu.
"Makasih, Pak." Ucap Rika hendak masuk.
"Sebentar." Cegah Jhon memegang sebelah bahu gadis manis itu, sehingga gerakannya terhenti.
Alisnya tertaut menatap tanya. "Ada apa, Pak Jhon?"
Jhon memakaikan mantel panjang berwarna cokelat kemerahan ke tubuh Rika. "Untuk menghindari kecurigaan orang tua mu, karena kau memakai pakaian pria."
"I-iya," gelagap Rika, yang pipi nya sudah merona merah dengan jantung berdebar kencang. Dia menundukkan kepala dan masuk ke dalam mobil.
Perlahan mobil putih yang membawa Rika melaju keluar area pekarangan rumah setelah membunyikan klakson, meninggalkan Jhon yang masih mematung memperhatikan.
"Pak Jhon?" gumamnya tersenyum miring kemudian Jhon berjalan ke arah mobilnya.
Hari ini dia memanggil ku dengan formal, di kemudian hari ku pastikan dia memanggil ku dengan mesra atas keinginannya.
-----------------------------------
Mobil putih yang di tumpangi Rika, kini telah terparkir di depan gerbang rumah minimalis berlantai dua.
"Sayang, aku tunggu di mobil aja." Egi berucap sambil membuka kan seat belt yang melingkari tubuh Annisa.
"Nggak sopan loh Egi, keluar dulu untuk menyapa."
"Sayang." Menatap melas dengan mengusap pipi putih kemerahan istrinya.
"Tidak apa lah Nis, lagian kamu juga akan check up kan." Sanggah Rika menengahi.
"Baiklah." Pasrah Annisa.
__ADS_1
Kemudian Rika keluar dari mobil di susul dengan Annisa. Kedua nya berjalan ke arah teras yang di mana di sana telah berdiri Ibu Asih menunggu dengan raut wajah cemas menatap anaknya.
"Assalamualaikum, Mama." Salam Rika berhambur memeluk Ibu Asih.
"Walaikumsalam, duh Neng bikin Mama cemas saja. Kenapa menginap nggak ngabari ke Mama dulu, untung Nak Annisa mengabari Mama kalau Neng nginap di tempatnya." Menangkup kedua sisi wajah Rika dan mencubit kedua pipinya dengan gemas.
"Maaf Mah, kemarin ponsel Ika mati lupa bawa powerbank. Terus ujan gede, dan kebetulan rumah Annisa lebih dekat di banding rumah kita jadi mampir bentar, eh malah keasyikan sampe nginap."
"Hemm, lain kali jangan bikin Mama khawatir setengah mati kayak gini Neng, kamu kan anak gadis Mama satu-satu nya kalo ilang bisa jadi yatim piatu dong Mama."
"Itu sih bahasa untuk Ika, kalau di buang Mama."
"Huus, kamu ini ngomongnya."
Annisa terkikik geli mendengar obrolan anak dan ibu yang melepas rindu bagai sudah lama tak jumpa.
"Eh, Nak Annisa." Ibu Asih tersenyum ramah menengok ke arah belakang tubuh anak gadisnya.
"Pagi tante." Annisa menyalami punggung tangan Ibu Asih.
"Pagi juga. Makasih loh sudah di repotin anak tante yang bandel ini. Masuk dulu yuk sayang, ke dalam. Tante baru selesai bikin kue kesukaan mu."
"Ah, tidak perlu tante. Annis mau langsung pamit lagi, soalnya mau check up kandungan, lagian suami Annis menunggu di mobil."
Ibu Asih meraih dan menggenggam kedua tangan Annisa. "Ooh iya, tante udah denger mengenai kehamilan mu. Sebentar lah mampir dulu, kan udah lama nggak kemari. Sekalian suruh suami mu keluar dulu untuk mampir."
Annisa tersenyum canggung. "Makasih loh tante. Jadi nggak enak."
"Jangan sungkan gitu, yaudah tante ke dalam dulu yah, sayang." Mengusap pipi halus Annisa, kemudian berbalik melangkah pergi ke arah pintu masuk rumah.
"Duduk dulu yuk, Nis." Ajak Rika ke kursi teras.
"Bentar, suami ku masih di mobil Rik." Annisa menoleh ke belakang yang kebetulan kaca mobilnya terbuka. Ia memberikan isyarat lambaian tangan agar Egi menghampirinya.
Egi yang berada di dalam mobil yang sedang mengamati istrinya sedari tadi. Segera menuruti isyarat itu, dan keluar mobil menghampiri Annisa dan Rika yang sudah duduk di kursi teras.
Pria tampan itu, mengecup puncuk kepala Annisa sebelum duduk di kursi samping istrinya. "Nunggu apa, sayang?"
Annisa tersenyum ceria. "Kue buatan tante Asih, tadi di tawarin dan kebayang pengen makan."
Bersamaan dengan itu. Ibu Asih keluar dengan membawa nampan berisi beberapa cangkir lemon tea di sertai sepiring cupcake cokelat dan vanila. Setelah berbasa basi karena melihat Egi, Ibu Asih kembali ke dalam rumah meninggalkan mereka bertiga.
"Dimakan Nis, kue nya." Ucap Rika sambil mengambil cangkir lemon tea dan menyesapnya.
Egi mengambilkan satu cupcake cokelat lalu menyodorkan ke mulut istrinya.
Annisa mengambil alih cupcake dan menggigitnya. "Wih, rasanya nggak berubah yah, Rik. Kue buatan tante selalu paling enak di lidah." Celotehnya di sela kunyahan.
Rika tertawa pelan. "Kalo gitu harus habisin semuanya."
"Sepertinya kamu sangat menyukainya, sayang." Egi kembali mengambil cupcake rasa vanila dan menyuapi Annisa. Lalu ia beralih menatap Rika. "Terima orderan?"
"Kadang-kadang terima sih, banyak ibu-ibu komplek sini juga yang order."
Egi menoleh dan tersenyum mengangguk kecil. Ia mengusap ujung bibir istrinya yang belepotan. "Apa pun itu, selama membuat mu tersenyum senang, aku akan menurutinya."
Rika kembali meneguk teh. "Boleh lah, nanti tak kasih bonus kalau ordernya banyak."
Dan pada saat sedang mengobrol asyik menikmati santai di depan rumah. Tiba-tiba...
Bruum..brum.
Suara mesin mobil berwarna merah yang berhenti tepat di belakang mobil putih. Seketika Annisa dan Rika melirikkan mata nya ke asal suara.
Ray...
Glek... Rika menelan kasar air dalam mulutnya. Mau apa dia kemari?
Terlihat pria tampan berjas setelan kantor yang rapih berwarna navy keluar dari mobil dan berjalan ke arah mereka bertiga.
Puk.
Pria tampan itu menepuk sebelah bahu Egi. "Hallo, bro. Tumben lo di mari. Kagak ngantor?" tanyanya, yang langsung mengambil kursi kosong samping Rika.
"Mau antar Annisa check up. Lo sendiri kagak ngantor atau ke kafe?" Egi balik bertanya sembari meniup air teh yang tengah di pegangnya agar tidak panas lalu menyodorkan cangkir itu ke Annisa.
"Nih mau ngantor." Sahut Ray, beralih menatap Rika yang menundukkan pandangan, dan menelisik penampilan gadis manis itu. Dia memakai pakaian si Jhon tua.
"Sejak kapan kantor lo pindah kemari?"
"Hah." Ray mengambil cangkir teh milik Egi yang masih utuh belum keminum. "Gue hanya lewat sekalian jenguk si Mak. Kemarin malem dia pulang ngibrit ujan-ujanan, gue kira nya sekarang dia lagi muriang di dalam kamar. Tau nya sehat bugar."
Rasanya agak canggung kalau mengingat kejadian kemarin malam. Rika masih diam menundukkan pandangan sembari menyesap teh nya sedikit demi sedikit dan sesekali melirik Ray.
Sedang Annisa asyik memakan kue hingga sudah cupcake kelima yang sekarang ia pegang.
"Kemarin yah?" Celetuk Egi, seketika tatapannya menjadi dingin menatap Ray.
Ray tertawa palsu memperlihatkan gigi rapihnya, lalu ia meletakkan cangkir teh. "Iya kemarin malam."
Eh, melihat tatapan tuan Egi. Aku merasa ada hawa dingin di sekeliling ku... Rika melirikkan bola mata nya ke kedua pria tampan itu secara bergantian.
Ting... ting.
Sebuah notifikasi dari ponsel Egi membuyarkan hawa yang mencekam di sekitar. Egi merogoh ponselnya dan membaca pesan yang baru masuk tersebut.
"Sayang, jadwal check up 15 menit lagi." Ucap Egi menatap Annisa.
Annisa meletakkan cupcake yang tinggal satu lagi ke piringnya. "Ah, ya sudah. Kita berangkat sekarang."
Melihat cupcake di piring habis oleh istrinya, Egi tersenyum mengusap lembut pipi Annisa. "Kamu begitu sangat menyukainya, sampai semua nya habis." Membuat Annisa tersipu malu.
"Hehe... so-sorry Rik. Kue nya habis semua oleh ku." Cengengesan merasa malu bercampur bersalah.
__ADS_1
"Masih ada satu lagi tuh, habisin aja Nis. Tanggung. Lagian masih banyak juga di dalam."
Annisa mengambil kembali cupcake yang sempat di letakkannya tadi. "Boleh juga, kebetulan aku masih kepengen."
Seketika membuat Rika dan yang lainnya terkekeh geli.
"Jangan kebanyakan makan yang manis, Nis." Celetuk Ray, merogoh ponselnya yang bergetar dari balik jas.
"Kenapa emang?"
Ray sekilas mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. "Nanti aku kena diabetes cinta mu... hahay." Membuat Annisa seketika tertawa.
"Ck, gombalan lo, semakin akut aja," timpal Rika yang di balas senyuman dan kedipan sebelah mata dari Ray.
"Biasa, efek kelamaan jomblo nyari mangsa kesana kemari tapi yang di mangsa kagak kena, jadi gue belok aja, buat embat istri orang." Sahut Ray santai sembari mengetik sesuatu di layar ponsel.
"Wih, Ray calon pelakor." Celetuk Annisa.
"Pebinor, Nis. Bukan pelakor." Rika menimpali.
Plakk.
Egi mengeplak kepala Ray dengan keras.
Ray terlonjak mengusap kepala nya yang terasa panas. "Sakit, bro. Napa gue di keplak dah? Apa salah gue?"
Egi mengibaskan tangannya. "Tangan gue keseleo." Ucapnya tenang, kemudian ia beralih mengusap puncuk kepala Annisa. "Kamu duluan ke mobil, aku ingin bicara dengan si Ray sebentar, tidak apa kan, sayang."
Annisa yang tengah memakan cupcake mengangguk kecil dan beranjak dari duduknya. "Jangan lama." Yang di balas anggukkan kepala.
"Rik, aku ke sana yah, sekali lagi makasih kue nya, aku jadi kenyang. Assalamualaikum." Pamit Annisa hendak berjalan ke arah mobil.
"Walaikumsalam." Sahut Rika menatap kepergian Annisa.
Sepeninggalan Annisa.
Egi memberikan tatapan dingin nan tajam pada Ray, yang tengah memainkan ponsel.
"Ray." Suara dingin dan berat terdengar serius.
"Hemm. Napa?" Sahut Ray tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
Kreet.
Suara decitan yang berasal dari kursi yang di duduki Rika. "Gu-gue ke dalam dulu yah, ma-mau ambil kue lagi." Gagap Rika yang sudah berdiri.
Egi menghembuskan napas pelan. Aku lupa jika di sini masih ada temannya Annisa. Kemudian ia bangkit dari duduknya. "Tidak perlu, Nona Rika. Saya juga akan pergi." Ucapnya, membuat Rika berdiri mematung.
"Ah, i-ya."
"Napa, Gi? Bukannya lo mau ngomong sesuatu ke gue. Ngomong soal apa?" Ray memasukkan ponselnya ke balik jas dan mendongak menatap ke Egi.
Egi keluar dari lingkaran meja. Ia melangkah dan berdiri tepat di samping kursi Ray.
Puk.
Dia menepuk keras sebelah pundak Ray, menundukkan kepala ke dekat telinga lawan bicaranya. "Gue tak memaksa hati seseorang, tapi setidaknya lo tau arti menghargai, gue berharap lo adil untuk menyurutkan hujan yang belum reda di rumah Ayah." tuturnya, lalu berlalu pergi ke arah pagar.
Mendengar penuturan Egi, seketika Ray terpaku diam bengong. Hingga seperkian detik keheningan menyelimuti sekitar.
Rika yang mendengar meskipun sedikit samar karena jaraknya cukup jauh. Alisnya menyatu menatap tanya pada pria tampan yang terbengong itu.
Pasti soal Asyila. Sebaiknya aku juga sedikit menjauh dari si Ray, agar tidak menciptakan kesalah pahaman.
Tin... tin.
Suara klakson dari arah mobil Egi juga lambaian tangan dari Annisa menyadarkan Ray dan Rika untuk memberikan senyuman juga lambaian tangan ke arah mobil putih yang kini sudah melaju pergi.
Rika membereskan cangkir-cangkir kosong ke atas nampan. "Lo nggak ke kantor, udah cukup siang loh."
"Bentar lagi, energi gue masih belum penuh." Menatap lekat wajah Rika.
"Emang lo belum sarapan?"
"Nih lagi sarapan."
Rika melirik Ray sehingga tatapan keduanya bertemu. "Ekhem... gu-gue mau istirahat, lo... lo cepatlah ke kantor." Gagap Rika menegakkan punggungnya dan memegang nampan hendak melangkah ke arah pintu.
"Mak." Panggil Ray, beranjak dari duduknya.
"Napa?" Sahut Rika tanpa membalikkan badan.
"Jangan ngehindar dari gue. Dan maaf soal kemarin mal-"
"Jangan bahas soal kemarin malam." Sanggah Rika cepat memotong ucapan Ray. "Dan sebaiknya kita jangan terlalu akrab, mengingat Asyila sangat menyukai lo, gue gak mau menimbulkan kesalah pahaman di antara kita yang membuat lo dan Asyila jadi bermusuhan."
"Tapi-"
"Gue ke dalam. Lo hati-hati kalo mau pulang, dan jangan lupa selotin lagi pagarnya." Ucap Rika sambil lalu masuk ke dalam rumah.
"Mak, tunggu. Gue belum selesai ngomong." Seru Ray, melangkah ke arah pintu. Dan...
Brak.
Rika menutup pintu rumah dengan kasar.
Dugh.
"Aww." Pekik Ray yang keningnya kejedot pintu. "Sss... benjol dah pala gue." Gerutunya mengusap keningnya yang memerah dan terasa berdenyut nyeri.
BERSAMBUNG...
Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...
__ADS_1